Wednesday, September 01, 2004

Kepedulian tai kucing!
Dua obrolan di dunia maya ini berlangsung sebelum (Part I) dan sesudah (Part II) acara konser Perempuan Berteriak yang diadakan di Bulungan, Jakarta pada tanggal 11 Oktober 2003 lalu. Konser yang menampilkan band-band yang ada anggota ceweknya ini juga bekerjasama dengan Kalyanamitra, salah satu LSM Perempuan, dalam hal diskusi dan pemutaran film gratis tentang kekerasan terhadap perempuan.

Walaupun diedit sedikit untuk kata kata yang disingkat dari bentuk awalnya, penggunaan bahasa inggris yang di-indonesiakan serta data personal orang yang sedang mengobrol di bawah ini, namun secara keseluruhan tak ada yang dipotong atau dirubah selain tentu saja tambahan tambahan penjelasan tentang nama-nama tempat dan band yang ada dalam percakapan ini karena acara ini berlangsung di Jakarta.

BAGIAN I (sebelum acara)
viciousvagina: gue ngelapak aja ya reev
viciousvagina: hari sabtu besok
reevestar : hihiihh
viciousvagina: nggak punya duit buat beli tiket:)
reevestar : terserah
viciousvagina: sip!
reevestar : kalau bisa loe ikutan diskusi vi
reevestar : masak sih?
viciousvagina: bayar nggak?
Reevestar : beli aja yang 10 ribu
Reevestar : yang nonton film sama diskusi nggak bayar
viciousvagina: gue ada diskusi di Oktagon jam 2-4 sore
viciousvagina: gue setelah itu baru kesana
viciousvagina: diskusinya tentang apa?
Reevestar : bayarnya pas jam 16:30
Reevestar : ooo
Reevestar : tentang kekerasan terhadap perempuan lah
Reevestar : gue lagi nyari pembicara lain nih
Reevestar : loe ada masukan gak
viciousvagina: siapa ya?
viciousvagina: nggak tau gue
viciousvagina: sponsor acara loe banyak ya
reevestar : ok
reevestar : eh?
Reevestar : media doang
viciousvagina: maksudnya?
Reevestar : nggak ada dana bener-bener
Reevestar : Mustang, MTV sama UFM khan? (ini nama
beberapa stasiun radio anak muda di
Jakarta-ed.)
Reevestar : yang kasih dana buat sponsor acara nggak
ada
Reevestar : IM3 kasih produk aja
viciousvagina: band bandnya dibayar kan?
Reevestar : bayar minimal
Reevestar : bener-bener dana paling gede kantor cewek
gue
Reevestar : itu JD
viciousvagina: Dreamer (band metal Jakarta yang
vokalisnya cewek-ed.) maen nggak?
viciousvagina: Democrazy (band HC Jakarta yang
vokalisnya cewek-ed)?
viciousvagina: Arigato (band ska Jakarta yang vokalisnya
cewek-ed.)?
viciousvagina: pemilihan bandnya berdasarkan
viciousvagina: apa?
Reevestar : Dreamer main
Reevestar : Democrazy engga
Reevestar : Arigato nggak
viciousvagina: kenapa enggak?
Reevestar : Democrazy minta dibayar
Reevestar : kita nggak ada dana lagi
viciousvagina: lho bukannya emang dibayar bandnya?
Reevestar : si fe sama temen cewenya sih mau
(fe adalah gitaris Democrazy-ed.)
Reevestar : cuma si ofa maunya bayarannya dengan
Step Forward (ofa adalah drummer
Democrazy- ed.)
Reevestar : kita nggak ada dana lagi buat bayar segitu
Reevestar : Heaven's Fire, Flip, Clover mau kok main
nggak dibayar
viciousvagina: oh nggak semua band dibayar ya?
Reevestar : iya
viciousvagina: bayarannya dilihat dari seberapa gede
bandnya ya?
viciousvagina: oohh:)
reevestar : kalaupun dibayar itu juga minimal, buat
transport
reevestar : kecuali yang emang susah dinegosiasinya
macam si kubil
viciousvagina: kubil? siapa? kubik maksudnya?
Reevestar : nggak underground banget sih vi,
Reevestar : mau gimana lagi, cewek gue bukan dari
kalangan itu
viciousvagina: :)
viciousvagina: kalo dibayar minimal
reevestar : dia takutlah investasi buat acara kalau
nggak balik modal, mana nggak dapat
sponsor
viciousvagina: oh:)
viciousvagina: oke deh:)
viciousvagina: now, I understand:)
viciousvagina: good luck ya reev ya!
viciousvagina: :)
reevestar : setidaknya gue sih pengen ada edukasi aja
buat anak-anak tentang kekerasan
reevestar : kurangnya apa nih vi? Kira kira?
viciousvagina: maksudnya?
viciousvagina: tujuan acara ini sebenarnya profit kan?
viciousvagina: cuman dikasi tempelan kepedulian tentang
perempuan kan?
Reevestar : iyalah
viciousvagina: makanya ada LSM perempuan, diskusi dan
pemutaran film kan?
Reevestar : tentang kepedulian emang harus
viciousvagina: ya udah, nggak apa apa
reevestar : soalnya itu ide gue
viciousvagina: udah banyak kok yang bikin kayak begitu:)
reevestar : tadinya gini
reevestar : tapi kalau mereka ingin nonton film dan
diskusi nggak bayar kok
reevestar : gratis
reevestar : kampanyenya gratis
reevestar : musiknya baru bayar
viciousvagina: iya
reevestar : soalnya kita kan nggak dapat sponsor
viciousvagina: karena ekspetasi untung paling besar dari
musik kan?
viciousvagina: iya
viciousvagina: ngerti kok ngerti
viciousvagina: pilihannya emang begitu kan
reevestar : kalau ada sponsor ya enak
reevestar : nggak mungkin cari untung dari diskusi
dong
reevestar : nggak mikir untung sih vi
reevestar : balik modal aja syukur
viciousvagina: iya
viciousvagina: good luck ya!
Reevestar : ketar ketir gue juga
viciousvagina: seneng ada yang bikin juga all girls band
ini:)
reevestar : tapi setidaknya gue pengen acara musik
bareng kampanye
reevestar : ngapain cewek-cewek underground gahar-
gahar dan sebagainya nggak tau apa yang
mereka harus lawan
viciousvagina: maksudnya?
Reevestar : gue pengen cewek-cewek underground jadi
sukarelawan masalah perempuan juga
dengan cara mereka sendiri
viciousvagina: dengan acara ini loe berharap mereka jadi
tau apa yang mereka mesti lawan, gitu?
Reevestar : kalau modelnya kayak loe setidaknya udah
paham lah
Reevestar : kalau yang lain khan belum tentu
viciousvagina: hehehee
viciousvagina: aneh deh
reevestar : kenapa
reevestar : gue emang aneh vi
viciousvagina: reevestar: gue pengen cewek-cewek underground
jadi volunteer masalah perempuan juga dengan
cara mereka sendiri:
ini maksudnya apa?
Reevestar : orang kadang salah kira gue seneng musik
apa
viciousvagina: kalo cara mereka sendiri mestinya mereka
akan bisa menemukan cara sendiri kan
viciousvagina: bukan caranya orang lain
viciousvagina: melawan kan setiap saat
viciousvagina: karena manusia hidup makanya mereka
melawan
viciousvagina: karena perempuan manusia makanya
mereka melawan
viciousvagina: iya kan?
Reevestar : caranya sendiri tapi kalau nggak nyadar
Reevestar : makanya dikasih tahu biar sadar
viciousvagina: ooo begitu:)
viciousvagina: menarik menarik
reevestar : loe terlalu umum vi
reevestar : emang paling gampang diskusi ke premis
umum yang nggak bisa nolak, iyalah
viciousvagina: maksudnya?
Reevestar : tentang masalah melawan itu
viciousvagina: paling gampang diskusi ke premis umum
yang nggak bisa nolak?
Reevestar : itu seperti loe bilang
Reevestar : perempuan manusia
Reevestar : manusia melawan untuk hidup
Reevestar : iyalah
Reevestar : ahahhaha
viciousvagina: hhmmm..
viciousvagina: ada Inner Struggle (band punk yang
vokalisnya cewek dari Jakarta-ed.) ya?
Reevestar : sudahlah, kalau bisa sih loe datang pas
diskusi
viciousvagina: nggak bisa
viciousvagina: gue ada diskusi
reevestar : kalau musiknya nggak perlu ya nggak apa
apa
viciousvagina: kan gue udah bilang
viciousvagina: heheheeheh
reevestar : hehehe
viciousvagina: gue akan save chattingan (obrolan di dunia
maya-ed.) ini ya
viciousvagina: dan nanti kita diskusi lagi
viciousvagina: okeh rocker?
Reevestar : ok
viciousvagina: sip!
viciousvagina: :)
reevestar : gue nggak mau di label rocker dong
reevestar : hehehhe
viciousvagina: maunya dilabel apa deh?
viciousvagina: heheh
reevestar : cukup nama gue aja
reevestar : banyak yg sangka gue anak rohislah
viciousvagina: okeh reev!
Reevestar : apalagi sekarang jenggotan
Reevestar : hehehe
Reevestar : kalau acara musiknya kurang underground
mohon maaflah
viciousvagina: kok mohon maaf?
viciousvagina: hehehe
reevestar : nanti kalau gue punya dana sendiri kita buat
ya vi
viciousvagina: udah jelas ini bukan acara underground
viciousvagina: heheheh
reevestar : bareng loe deh
viciousvagina: santai aja lagi reev:)
viciousvagina: hheheheeheh
viciousvagina: udah, mendingan mikirin acara loe besok
aja
reevestar : gue aneh emang vi
reevestar : selalu serius
viciousvagina: nanti nggak untung loe stres lagi
viciousvagina: kasian juga cewek loe kan?
Reevestar : anehnya gue selalu serius
Reevestar : bisa jadi bisa engga
viciousvagina: bebannya nambah nambah nanti
viciousvagina: kalo ada reportasenya
viciousvagina: boleh tuh dibagi
reevestar : makanya semoga balik modal lah
viciousvagina: amien
viciousvagina: amien:)
reevestar : setidaknya ada unsur edukasinya lah
viciousvagina: :)
reevestar : gak tujuannya profit
viciousvagina: hehhe
viciousvagina: iya iya
viciousvagina: iya reev iya
reevestar : mau gue kirim press releasenya?
Reevestar : sama poster final?

viciousvagina: boleh
reevestar : bentar
viciousvagina: terimakasih ya
reevestar : sama sama
reevestar : diskusi jam 3 sampai jam 4
reevestar : pengennya sih loe datang
reevestar : jadi bisalah kasih pendapat loe secara terbuka
tentang ini
viciousvagina: sayangnya nggak bisa reev
viciousvagina: lain waktu mungkin ya:)
reevestar : hehhe
reevestar : ok
reevestar : Rince Punktat (dari band cewek Punktat-
ed.) belum gue hubungi kemarin
reevestar : kalau bisa hardline nya datang pas diskusi
viciousvagina: hardline:)
viciousvagina: yang softline kayak apa?
viciousvagina: hehehe!
Reevestar : yang mau ngobrol sama gue
Reevestar : hahahahhaha
viciousvagina: hardline itu misalnya siapa sih?
Reevestar : Islam aja ada yang fundamentalis, radical
dan sebagainya
Reevestar : ya gue nggak tau, yang merasa aja
Reevestar : hehheeh
viciousvagina: :)
viciousvagina: gue sholat dulu ya
reevestar : gue cabs dulu mau kirim fax
viciousvagina: sip!
Reevestar : alhamdulillah, gue sampai sekarang nggak
sholat-sholat
Reevestar : doain gue yah
Reevestar : hehehhe


BAGIAN II (setelah acara)
Reevestar : ck ck ck
viciousvagina: ?
reevestar : itu status messagenya
viciousvagina: oh
viciousvagina: ;)
reevestar : kirim foto dong vi
viciousvagina: foto apaan?
viciousvagina: buat apaan?
Reevestar : kalau boleh
viciousvagina: buat apa?
viciousvagina: buat kamu?
viciousvagina: kenapa?
viciousvagina: bukannya udah ketemu kemaren?
viciousvagina: so how's the gig?
viciousvagina: success?
reevestar : iya udah lama kan nggak ketemu
viciousvagina: gue denger ada keributan pas step forward
ya?
Reevestar : entar kalau ketemu pas acara apa lagi?
Reevestar : iya ribut. kalau banyak berharap siap-siap
kecewa aja
viciousvagina: maksudnya?
viciousvagina: ketemu pas acara apa?
viciousvagina: nggak tau
reevestar : seperti gue berharap banyak anak-anak
underground or whatever called datang
pas diskusi lah yang gratis tapi nggak
datang,terus kalau mereka bisa saling
bantu pinjem- pinjeman alat sebelum
main tapi sebagian nggak mau..
viciousvagina: oh itu ekspetasi kamu ya
viciousvagina: hehehehe
viciousvagina: kirain ekspetasi nya penonton yang kamu
bicarain tadi
viciousvagina: kenapa mesti pinjem pinjeman alat?
viciousvagina: bukannya alatnya udah komplit di
panggung?
viciousvagina: nggak ya?
viciousvagina: maaf gue nggak tau soalnya gue nggak
masuk:)
reevestar : gue dari jaman dulu biasa kok begitu
reevestar : nggak apa apa
reevestar : pinjem-meminjem alat khan biasa
reevestar : loe kenapa gak masuk?
viciousvagina: ngak punya duit
viciousvagina: kan gue udah bilang
reevestar : ah masa?
viciousvagina: pinjem pinjeman alat mestinya biasa
viciousvagina: mestinya
viciousvagina: kenyataannya?
viciousvagina: :)
viciousvagina: iya, emangnya kenapa kalo gue ngak punya
uang?
viciousvagina: :D
reevestar : nggak apa apa
viciousvagina: makanya gue kesananya aja buat ngelapak
viciousvagina: dananya lumayan dapetnya malam itu
viciousvagina: buat jajan
viciousvagina: :)
reevestar : nggak punya untuk ke tempat yang nggak
menarik untuk vi
reevestar : oo
viciousvagina: kalo 15 ribu pasti ada uangnya
viciousvagina: cuman prioritasnya aja kali
viciousvagina: lagian juga acaranya emang nggak begitu
menarik sih
reevestar : nah itu
viciousvagina: secara keseluruhan buat gue
reevestar : hhehe
viciousvagina: pas nggak punya uang pula
viciousvagina: komplit!
viciousvagina: heheheh
reevestar : hahahaha
reevestar : seperti
reevestar : band-bandnya?
Reevestar : atau apa
viciousvagina: nggak
viciousvagina: nggak menarik aja
viciousvagina: semuanya nggak begitu menarik aja
viciousvagina: pas gue sampe sana
viciousvagina: yang gue liat
reevestar : yah pasti ada yang tidak membuatnya
menarik
viciousvagina: kan diskusi sama pemutaran filmnya yang
gratis
viciousvagina: gue udah nggak bisa dateng
viciousvagina: pas ke sana liat gignya
viciousvagina: amat sangat jauh dari bayangan gue
viciousvagina: dan tak lagi menarik pula
viciousvagina: selain gue mesti ngelapak dan tak punya
uang
viciousvagina: hehehehe
reevestar : bayangannya gimana
reevestar : ah balik lagi
reevestar : be honestlah
reevestar : kok lama
viciousvagina: saya lagi telponan
viciousvagina: lagi chating
viciousvagina: lagi nulis
viciousvagina: dan kerja
viciousvagina: makanya lama:)
reevestar : ooo
viciousvagina: banyangannya dalam ruangan
viciousvagina: banyak cewek-cewek di sana
viciousvagina: dandan
viciousvagina: keren keren
viciousvagina: kita ngobrol dan bercerita
reevestar : cewek emang berbakat bisa melakukan
banyak hal
reevestar : heheh
viciousvagina: cowok cowok banyak juga disana
viciousvagina: tapi kita tetep punya dunia kita sendiri
malam itu
viciousvagina: gue akan ketemu banyak temen cewek gue
disana
reevestar : gue juga pengennya gitu
viciousvagina: dan kita akan seneng seneng bareng
viciousvagina: tapi kenyataannya?
viciousvagina: :)
viciousvagina: ya sutra lah (ya sudahlah!-ed.)
viciousvagina: nggak apa apa
viciousvagina: ekspetasi kan biasa
viciousvagina: makanya kalo punya ekspetasi mesti siap
siap jatoh juga
viciousvagina: kalo ternyata nggak kayak begitu
viciousvagina: iya kan?
viciousvagina: cukup adil kan jadinya:)
reevestar : iyalah
reevestar : jadi tempat nih
viciousvagina: nggak gitu doang lah
reevestar : kalau misalnya gue adain di wizard loe
datang? (wizard adalah café indoor besar
di Jakarta-ed.)
viciousvagina: nggak
viciousvagina: :))
viciousvagina: come on!
viciousvagina: dari waktu gue ngobrol ama loe tentang
acara ini aja
viciousvagina: loe udah tau banyak hal yang gue
pertanyakan
reevestar : tapi anak-anak yang gue targetin datang
nanti nggak datang karena aksesnya susah
terutama yang kayak gue naik bis
viciousvagina: iya kan?
Reevestar : tentang anti barcode, komersialisme?
viciousvagina: tentang mencari uang dan perempuan
viciousvagina: tentang band bandnya
viciousvagina: tentang banyak hal lah
viciousvagina: secara keseluruhan gue nggak ngerasa asik
aja tentang konser itu
viciousvagina: dan gue juga ngobrol sama temen temen
cewek gue yang punya band
reevestar : hmm
viciousvagina: dan mereka juga punya beberapa keberatan
tentang gig itu
viciousvagina: pada akhirnya semua orang pasti punya
alasannya sendiri sendiri kan?
Reevestar : kenapa mereka bilang
Reevestar : misalnya
viciousvagina: kebetulan aja misalnya bentuknya
kebanyakan yang keberatan di
viciousvagina: temen temen gue dan gue sendiri
viciousvagina: begitu:)
reevestar : gue juga inginnya gratis sih
reevestar : cuma kita nggak dapat sponsor
viciousvagina: tapi kamu kan bikin acaranya aja
reevestar : seperti apa dong bisa di bicarakan
viciousvagina: di tempat yang kamu mesti bayar
viciousvagina: uang kan bukan turun dari langit
viciousvagina: :)
viciousvagina: kamu bikin acara kan butuh uang juga
reevestar : iya kita bayar cuma lebih murah
viciousvagina: gue ngerti
reevestar : itu bayar untuk kebersihan aja
viciousvagina: cuman gue ngerasa ada kerancuan aja
reevestar : sama keamanan
reevestar : kita nggak pake polisi-polisian
viciousvagina: antara acara konser biasa yang kebetulan
isinya
reevestar : rancunya dimana
viciousvagina:perempuan semua dan perempuan memang
menjual
viciousvagina: serta kepedulian sama perempuan
viciousvagina: yang buat gue terasa kepeduliannya cuma
tempelan
reevestar : kalau konser biasa loe datang?
viciousvagina: dateng kali kalo punya duit dan nggak ada
acara lain yang lebih menarik
viciousvagina: belum lagi cara perlakuan ke band band
yang maen
reevestar : ya melakukan sesuatu lah walau masih
dianggap kecil
viciousvagina: nggak fair banget cara bayarnya
viciousvagina: dan yang jadi acuan pasti
viciousvagina: karena band ini ngetop, jam terbang dan
dipercaya narik penonton
viciousvagina: kalo peduli perempuan dan semua band
ada perempuannya
viciousvagina: Democrazy nggak mau maen kan karena
perlakuan nggak adil itu?
Reevestar : kriterianya gitu khan
viciousvagina: gue bukannya bilang semua band yang ada
ceweknya mesti maen juga
viciousvagina: tapi waktu mereka didatangi untuk
diundang maen
viciousvagina: perlakuan yang mereka terima
viciousvagina: kayak begitu
viciousvagina: jadinya kayak ada
viciousvagina: first class female band, second class and no
class
viciousvagina: ini kata temen cewek gue ya
viciousvagina: yang bandnya ceweknya ada tiga
viciousvagina: dan dia nggak diundang tapi santai aja
reevestar : oo
viciousvagina: toh dia emang nggak suka ama konsep
acaranya kayaknya
viciousvagina: sekarang temen gue bilang
viciousvagina: mendingan bikin street gig band band
cewek temen temen sendiri aja
viciousvagina: kalo mau dimana semuanya gratis
reevestar : tapi semua keputusan bukan di gue saat itu
viciousvagina: see? seneng seneng bareng nggak bayar
viciousvagina: iya, gue juga tau
viciousvagina: tapi tetep aja kan?
viciousvagina: orang selalu punya alasan ketidak sukaan
disitu
viciousvagina: lebih dari sekedar uang doang misalnya
viciousvagina: atau band band yang nggak menarik
misalnya
reevestar : iya sih semenjak Democrazy nggak main
karena nggak ada dana lagi
reevestar : ofa minta uang transport sementara personil
yang lain engga
reevestar : kalau gue sih kalau ada ya dibayar, cuma
yang pegang semua keputusan khan yg
punya uang
viciousvagina: nah kan? uang kan?
viciousvagina: dan jadinya nggak adil kan?
viciousvagina: karena semua orang juga tau
viciousvagina: band band lainnya mereka pasti dapet lebih
dari
viciousvagina: sekedar uang transport dan tiket gartis
untuk teman temannya
viciousvagina: diluar mereka dihargai sebagai sebuah band
dengan uang
viciousvagina: mereka juga ngerasain lah perbedaan
perlakuan panitia
viciousvagina: sama band band mereka yang dianggap
'tidak seperti band band itu'
viciousvagina: ngerti lah maksud gue band band mana dan
band mana kan?
Reevestar : ok. akhirnya kita emang cari juga yang ada
massanya karena sudah terpaksa harus
begitu
reevestar : dan pada saat itu gue nggak di depan gate
reevestar : gue di panggung
reevestar : gue ngertilah
reevestar : kenapa step forward bisa dibayar kenapa
anak-anak yang baru punya demo nggak
bisa dan sebagainya
reevestar : gue juga dapat cerita dari nozsy begitu
viciousvagina: good:)

Disini gue cuman ngasi liat ketidak sukaan gue atas acara itu dalam berbagai macam sudut pandangnya. Gue tidak mengatas namakan band atau siapapun selain diri gue sendiri. Gue cuman ngerasa udah keseringan acara yang sebenarnya hanya sekedar mencari profit tapi karena diberi tempelan yang kesannya bagus dan baik jadi membuat citra acara itu menjadi sesuatu yang benar secara umum, namun akibatnya malah menyembunyikan tujuan acara itu sebenarnya. Dan seringkali gue merasa komunikasi dengan pihak penyelenggara itu sendiri apalagi kalau acaranya sebenarnya tidak menyenangkan buat penonton atau pesertanya misalnya ya, kita lebih sering malas untuk mendatangi mereka dan membicarakan mengenai opini dan ketidak sukaan kita tadi sehingga kalau acara-acara serupa terulang lagi kita hanya bisa membiarkannya begitu saja karena seolah sudah menjadi sebuah kebiasaan nantinya. Iya, gue nggak mau itu jadi kebiasaan diluar masalah tentang underground atau nggak underground.Buat gue kalau memang itu hanya semata untuk uang, ya bilang aja begitu. Toh kalau itu dibuat untuk semata bersenang senang aja mereka atau kita sendiri bisa membuat yang tidak perlu membayar band semahal itu atau semua band dibayar dengan tarif yang sama misalnya. Toh kita mau bersenang-senang, bukan cari uang. Iya kan?

V(antiani@yahoo.com)


Dan ini satu lagi opini tentang acara tersebut:

Sok tau sih, tapi gini nih aku!!

Aaah!!!Ini nih topik yang emang pengen diobrolin, thanx V., dibolehin ngomong.

Beberapa hari setelah acara Perempuan Berteriak, aku sempet
ketemu beberapa cewek vokalis yang bandnya main di acara itu. Aku
tanya gimana acaranya, karena emang aku pulang sebelum acara itu
dimulai, lalu beberapa dari mereka ada yang jawab, SUXS!!,
dan ada juga yang jawab,Uh!!Hitam!. See? Kelihatannya mereka
enggak enjoy banget main di acara itu.

Aku juga tanya apa alasan mereka tertarik main di acara itu, salah satunya jawab, ‘Abis!Kapan lagi gue main bareng band gede dan band daerah? Ini kesempatan bagus!!.Trus, aku juga dapet jawaban kaya
gini nih, ‘gue kira itu bakal jadi acara gede. Keren kan, maen
barengan cewek-cewek semua, kapan lagi gitu loh, jarang-jarang acara kaya gini!.’

Hah?? Aku agak-agak kaget juga sih dengernya. Aku takut aku bakal dapet pelajaran salah dari peristiwa ini. Berarti, orientasi mereka selama ini cuma sekedar main musik dan manggung aja donk?! Lho, berarti yang namanya PUNK/HXC IN MY BLOOD itu kemana? Ilang? Ketutup ego pengen maen barengan band gede and band daerah? Waduh!!Kok aku jadi tambah bingung yach?

Band aku juga sempet ditawarin main di acara ini. Jauh sebelum acara itu dimulai, Fe and Ofa ditelpon sama salah satu panitianya. Kita diundang main bareng Step Forward, Kubik, malah ada Mocca juga katanya. Ofa cerita ke aku, waktu itu dia tanya ke panitianya
apa visi dan misi acara itu. Mereka jawabnya sih kampanye perempuan,
tapi pas kita dikasih tau harga tiketnya yang nguras kocek itu,
langsung kita bisa tarik kesimpulan bahwa profitlah no.1, lebih
penting dari perempuan itu sendiri malah.(Duh, aku aja kalo nonton
band-band favoritku di Nirvana, tapi tiketnya 10 ribu, mending aku support dari luar aja, daripada enggak bisa pulang!)

Kenapa sih bisa ada acara kaya gini? Aku rasa, perempuan di lingkup Underground emang masih jadi satu hal yang menarik, jumlah mereka masih dikit, masih terkotak-kotak pula. Tapi khan, masih banyak cara buat menyatukan mereka. Okelah enggak dengan manggung, mungkin bisa dengan kumpul bareng, discuss, belajar, bikin zine, nge-rujak, atau mo arisan juga boleh!

Coba dengar! Acara Perempuan Berteriak menampilkan band-band underground yang beranggotakan perempuan. Kalo kamu mau lihat betapa mampunya mereka berteriak, kalian bisa nonton pertunjukan mereka dengan membayar Rp. 15.000; Dengan 15 ribu berarti kalian sudah mensuppport perempuan-perempuan underground tersebut!!!Ha..ha..haa!

Tuh khan cewek-cewek, coba buka mata hati kalian deh! Kalian tuh sedang dieksploitasi, Sayang!! Kalian dijual, dipersembahkan untuk ditonton, lalu panitia mengeruk keuntungan, abis itu kalian dibayar sesuai
harga yang telah disetujui kalian (temenku bandnya enggak dibayar! justru mereka masuk juga tanpa free-pass satupun,bayangin kalo personilnya 6 orang,jadinya 90 ribu dong!GILAAAA!!!)

Panitia,ehm..maaf, sebagai mucikari alias germo kayanya enggak sadar kalo mereka sedang merendahkan harga dirinya perempuan Underground, dan panitia juga lewat acara-acara semacam ini, sedang membunuh scene kita dengan sangat pelan-pelan sekali. Terus, kita musti gimana dong? Diem aja? Setuju-setuju aja?
Pemerintah aja kita demo terus gara-gara mereka ngebohongin rakyatnya, apalagi ini, yang hubungannya deket banget ama kita. Kawan-kawan seperjuangan kita lho yang lagi dibohongin! Sadar gak sih, Say?!

Tapi ya, ngak bisa disalahin juga sih mereka, kalo ternyata band-band perempuannya juga yang setuju dijual, demi langkah maju mereka menuju professionalisme, siapa tau juga lewat acara ini perempuan-perempuan itu bakal lebih terkenal! Dan mungkin bakal tambah banyak nerima order manggung dengan tarif yang makin naik?! Yah, selamat deh buat kalian.

Lalu, gimana nasib kita yang enggak sesukses mereka?
Tenang Guys, teman-temanku yg baik, kalian mengingat lagi deh arti underground buat kalian tuh apa, gimana semestinya kita ngejaga scene dan movement kita, mau dibawa kemana kalo cuma sekedar untuk menjadi band yang katanya professional?! Jangan jadikan ini senjata yg malah ngebunuh balik hidup kita dong!

Yah, tapi apalah dayaku! Aku cuma seorang greenhorn, poser pula.Tapi, buatku arti underground itu lebih dari cuma sekedar musik,
atau perform di atas stage. Aku sayang temen-temenku, aku sayang scene milik kita bersama ini. Ini mungkin cuma bualanku aja, yang sukur-sukur bisa dimengerti, nggak buat kamu, buat aku aja udah cukup.

Semoga setelah kalian baca ini, khususnya temen-temenku di Perempuan Berteriak nggak malah marahan ama aku. Kalau ada yang pengen ngomelin, ngeludahin, atau maafin aku, aku tunggu yah!!


Friday, July 02, 2004

Merebut Ruang Representasi yang Terkomodifikasi

Pameran foto yang sedang Anda saksikan ini barangkali akan membuat Anda meragukan tempat di mana Anda berada. Bahkan, jika Anda gay atau lesbian sekalipun, saya berani bertaruh, sebagian dari Anda akan terbelalak lebar, berdecak-decak, tak percaya. Anda tak percaya ada fotografer yang menyatakan identitas seksualnya melalui karya-karya yang dipamerkan di bawah tajuk “pameran foto gay/lesbian”. Anda tak percaya dengan mata Anda sendiri yang menatap manusia dan benda-benda dalam foto-foto yang dipamerkan itu. Anda sendiri, jika gay/lesbian, mungkin datang ke pameran ini diam-diam, sembunyi-sembunyi, ibaratnya, “daun-daun kering di sepanjang trotoar pun jangan sampai tahu.” Terserah, atur sajalah. Tapi, tentu saja, Anda harus tetap percaya bahwa kaki Anda masih berpijak di bumi bernama Indonesia. Dan, seandainya Anda jadi saya, setelah atau di tengah Anda menyaksikan foto-foto di pameran ini, Anda akan mulai berpikir tentang sebuah, katakanlah, Indonesia Baru.

Seandainya Anda jadi saya, Anda akan membayangkan bahwa bersama-sama dengan Dian Sastro, pemilihan presidan langsung, Inul, UU Hak Cipta dan mungkin Nurcholish Madjid, homoseksualitas –yang menjadi tema pameran foto ini- telah menjadi ikon, apa yang tadi sudah disebut, Indonesia Baru. Berlebihan? Ya sudah. Tapi, setidaknya, kali ini tanpa harus menjadi saya, dari pameran ini Anda bisa membaca, bahwa ada yang telah berubah, mungkin untuk selamanya…

Saya kira belum pernah wacana homoseksual mendapat representasi yang begitu besar di media massa di Indonesia seperti terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Tentu saja, tidak semua representasi itu merupakan perkembangan yang positif dan menggembirakan. Ada saja yang masih berputar-putar pada stereotip dan klise tertentu yang tak beranjak dari rumus komodifikasi media: homoseks itu “gaya hidup aneh”, sensasional, dan dengan demikian punya daya jual sebagai dagangan berita. Lihat saja, acara-acara laporan khusus dan talkshow televisi saat ini. Namanya bisa “Fenomena”, “Kupas Tuntas”, “Peristiwa”, atau bisa juga “Angin Malam”, “Miss Bantal”, “Kelambu”. Tapi, semuanya sama, menjadikan tema-tema homoseksual sebagai primadona, dalam berbagai variasi kemasannya. Dan, semuanya tak lebih hanya dagangan tontonan industri kapitalisme televisi yang licik. Tidak lebih, dan bahkan ujung-ujungnya hanya memicu kontroversi di tengah masyarakat. Lebih-lebih, jika “politik representasi” media tersebut tidak dibarengi dengan pemahaman yang proporsional dari para tenaga kreatif di belakangnya atas homoseksualitas.

Sebuah tabloid remaja yang baru terbit sebanyak 16 kali, dalam sebuah artikelnya menulis begini: …gay sekarang emang lagi marak. Udah go public malah. Gaya hidup impor yang aneh yang semula dianut oleh sekelompok laki-laki yang punya kelainan jiwa itu udah merebak bareng dengan arus modernisasi global. Duh, sedihnya, remaja di negeri ini mendapat bacaan dari tabloid yang dikelola oleh orang-orang yang otaknya masih tertinggal berpuluh tahun yang lalu.

Dalam konteks kekacauan epsitemologi semacam itulah, saya kira, letak arti paling penting, baik secara simbolik maupun konkret, dari pameran foto “Roman Homo(gen)” ini. Dengan kekuasaannya sendiri, karena memang mereprentasikan padangan dari kalangan homoseksual sendiri, foto-foto dalam pameran ini hadir untuk merebut ruang representasi bagi dirinya yang telah terkomodifikasi oleh otak kapitalistik industri media massa. Saya kira ini setara dengan sebuah kudeta, di mana foto-foto hasil karya 3 fotografer gay dan 3 fotografer lesbian ini –amatir atau profesional, pemula atau veteran, whatever-lah- menyimpan kekuatan perlawanan yang subversif. Terutama, tentu saja, perlawanan atas seksualitas yang dikodratkan, dibakukan, dilembagakan dan dikutubkan dalam biner yang dialamiahkan, dimapankan dan diresmkikan –bahkan oleh negara.

Sampai di sini, karena tulisan ini merupakan pengantar untuk sebuah pameran foto yang belum pernah digelar sebelumnya di negeri ini, saya kira saya harus mulai masuk ke wacana queer art, atau lebih konkretnya seni dan homoseksualitas. Ini bukan tema yang sederhana, lebih-lebih kalau harus ditarik ke dalam konteks Indonesia. Ini satu pokok bahasan yang berbahaya. Sensitif. Subversif. Tabu. Di negeri yang malas belajar ini, yang tak pernah benar-benar membuka diri dan selalu fobia dengan hal-hal baru yang sebenarnya tak benar-benar baru, yang tak henti-henti membanggakan diri sebagai penjunjung tinggi budaya Timur sejati, serta merasa lebih baik, lebih beradab dibandingkan dengan negara manapun di kolong langit, terutama mereka yang disebut Barat, apapun bisa menjadi kontroversi. Kondisi seperti itu membuat banyak hal “baru” tidak berkembang, termasuk salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah queer art.

Tanpa harus melakukan riset sampai suntuk, saya kira bohong belaka jika di Indonesia ini tidak ada pelukis, pematung, fotografer dan sastrawan gay atau lesbian. Tapi, hingga saat ini, tak pernah ada seniman yang maju ke depan dengan membusungkan dadanya sebagai seorang seniman gay/lesbian, dan mengibarkan karya-karya yang mewartakan aspirasi homoseksualitas. Aduh, belum apa-apa bisa mati berdiri dikecam sana-sini, sedangkan perempuan desa menyanyi dangdut dengan goyang bokong saja langsung dituduh merusak moral masyarakat. Hidup di negeri yang moralnya gampang rusak memang repot. Jadi, di mana kita mau menempatkan pameran foto yang tengah Anda saksikan ini, di tengah peta seni Indonesia yang tak -atau pakai saja kata 'belum', untuk sedikit menghibur diri- mengenal queer art?

Dalam hal ini, khasanah sastra kita selangkah lebih maju. Dalam 10 tahun terakhir, kita punya cukup banyak referensi karya yang mengolah wacana homoseksualitas, kendati sebagian baru menyentuh permukaannya saja. Yeah, tetap masih jauh panggang dari api untuk mengatakan bahwa gay literature mulai lahir di Indonesia. Tapi, setidaknya, ketika orang hendak bicara tentang sastra dan homosekualitas, ada satu-dua karya yang bisa disebut. Dari khasanah senirupa, saya belum pernah mendengar. Tapi, dari fotografi, salah satu fotografer yang tampil di pameran ini, John Badalu, pernah mengelar pameran foto bertajuk “Menscape” yang boleh jadi merupakan pameran foto pertama dari seorang fotografer yang terang-terangan mengaku gay dan tentu saja mengusung tema foto seputar homoseksualitas pula. Maka, tanpa ragu sedikit pun, saya berani menempatkan “Roman Homo)gen” sebagai pembuka jalan bagi lahirnya sebuah generasi baru fotografer Indonesia, yakni fotografer gay/lesbian. Kelak, para new generation photographer ini akan menggerakkan sebuah perkembangan baru pula dalam dunia fotografi di Tanah Air, yakni fotografi yang mengangkat tema-tema dari pengalaman kehidupan kaum homoseksual.

Jadi, kalau memang pameran foto ini harus menyampaikan pesan tertentu, maka saya kira yang terpenting bunyinya begini: Kami sudah memulai, kalian tunggu apa lagi?

(muji@staff.detik.com)

DIY bukan UG, dan UG bukan DIY

Kenapa judulnya mesti begitu, karena gue ngerasa orang masih sering rancu sama dua hal itu! Padahal sesuatu yang ada di Dunia Bawah Tanah atau Underground kenyataannya nggak selalu dilakukan dengan etos Do It Yourself, sama aja kayak segala sesuatu yang kita lakukan bisa aja tetap Do It Yourself tanpa mesti ada di dalam sebuah komunitas atau lingkungan apapun, termasuk komunitas HC/Punk itu sendiri.

Gue sendiri nggak pernah merasa segala sesuatu yang gue lakukan kalopun itu pake etos DIY misalnya,memang bukan karena banyak banget temen gue atau lingkungan gue (salah satu yang paling dekat) adalah komunitas Bawah Tanah atau HC/Punk itu tadi. Gue melakukan itu dengan cara Do It Yourself karena cara itulah yang paling masuk akal buat gue. Sekarang misalnya ya, kenapa gue mesti nunggu sampai gue bisa komputer grafis kalo gue mau bikin zine cetak? Gue bikin aja pake tangan lay outnya dan penggunaan komputer hanya sebatas yang gue bisa…dan Boom! Jadilah sebuah zine. Itu satu contoh. Contoh lainnya misalnya juga saat gue mesti mendistribusikan zine gue plus zine temen temen gue…ya gue melakukan dengan cara yang gue bisa dan mampu aja, sambil belajar juga sama yang udah duluan melakukannya. Gue tau gue bisa minta tolong temen-temen gue atau distro, tapi kenapa juga harus menunggu mereka kalau gue bisa melakukannya sendiri kalo gue mau? Dan jadilah gue melapak di konser-konser, distribusi langsung pas nongkrong maupun juga lewat kontak temen-temen gue sendiri di mana mana. Kenapa gue mesti melakukannya sendiri? Karena gue lebih percaya proses daripada hasil, karena gue percaya proses orang beda beda walaupun hasilnya bisa jadi sama. Karena juga gue memang pengen punya pengalaman gue sendiri saat melakukan itu semua yang bukan cuman hasil cerita orang lain doang. Begichu,cayang;)

Bukan, gue bukan bilang ini cara terbaik atau paling DIY, cuman gue pengen kasi tau kalo bentuk-bentuk DIY itu adalah yang seperti itu buat gue. Saat gue nggak perlu dan nggak mau menunggu untuk hal hal yang gue percaya bisa gue lakukan sendiri, maka gue akan menggunakan apapun yang gue miliki untuk bisa melakukan hal itu. Bukannya individualis juga, tapi gue lebih sering merasa apa yang gue inginkan dan caranya adalah sepenuhnya mestinya ada di tangan gue sendiri, bukan orang lain. Karena dengan begitu maka gue sendiri yang bisa bertanggung jawab, serta menikmati hasil serta kegagalannya. Terlalu idealis ya? Masak sih, bukannya memang cuma diri kita sendiri yang bisa tau persis apa yang kita mau? Bantuan dan dukungan sih boleh boleh aja, tapi selama itu tidak menganggu maksud dan tujuan gue sendiri…kenapa nggak? Toh hidup nggak sendirian:)

Tapi sekarang balik lagi ke etos DIY itu sendiri ya! Setiap orang pasti sering secara sadar maupun nggak sadar melakukannya, tapi kalo sekarang kita bicara hanya yang ada di komunitas HC/Punk atau Dunia Bawah Tanah disini aja kayaknya ini perlu dikembalikan dulu juga ke individunya deh! Sekarang misalnya mereka mau bikin konser yang isinya band-band temennya sendiri, dengan alat dan tempat yang juga dicari sendiri….bukankah berarti mereka semua MESTINYA punya etos DIY yang sama kuatnya? Karena ini juga tentang individu kan? Kalo individunya cukup keras kepala dan keras hati untuk melakukan semuanya SENDIRI, ya tentu saja etos DIY akan terasa banget juga di acara ini. Kalau nggak ya mereka akan mulai berkompromi dengan membiarkan pihak-pihak diluar mereka sendiri untuk ikut campur dan selain mendukung ternyata juga bisa menunggangi;) acara mereka ini tadi. Iya kan? Heheheeh!

Makanya itu juga selama individu-individunya sendiri bukan penganut etos DIY yang kadarnya kurang lebih sama, ya pastinya juga susah buat melakukan sesuatu dengan etos tersebut. Dan jujur saja, buat gue sendiri di Indonesia ini dari kecil kita nggak pernah dibentuk untuk jadi individu individu yang keras kepala dan keras hati dengan cara yang baik dan fair untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Kita lebih sering dibentuk sebagai pengikut ataupun sekedar anggota yang lebih suka menutup mulutnya kalau ada apa apa dalam komunitasnya sehingga susah buat jadi seorang penganut etos DIY ini tadi (apalagi jadi seorang DIY yang militan misalnya!) Hahahaha!

Jadi, kalo gue boleh meredefinisi ulang konsep atau etos DIY itu sendiri, gue akan bilang: Do It Yourself adalah saat kita nggak mau menunggu hanya untuk melakukan sesuatu. Titik. Kita nggak perlu menunggu bantuan, dukungan, ketrampilan, uang, bahkan waktu sekalipun kalau mau melakukan sesuatu yang kita ingin lakukan. Kalau loe maunya sekarang ya sekarang, kalau loe maunya nanti ya nanti. Semuanya ditangan loe sendiri. Wah, kok kayak slogannya Nike yang terkenal itu ya? Just Do It! Hehehe!Wudyathink, guys?

Oh tapi ada satu hal lagi yang gue selalu ngerasa bisa jadi menghancurkan semua usaha DIY yang kita lakukan, yaitu UANG. Iya, tuhan yang satu itu memang hebat. Dia bisa menghancurkan serta membangun plus mengaburkan apapun yang dilakukan manusia atas dasar apapun! Heheheh! Maksud gue gini, saat kita melakukan sesuatu dengan menggunakan niatan dan tenaga kita aja, tapi kita juga punya uang…maka uang adalah yang lebih sering jadi penentu hasil kerja kita di mata orang lain. Atau kebalikannya adalah, saat kita punya uang, kita juga bisa merasa yakin apapun yang kita ingin buat pasti tercapai. Lihat kan dua kekuatan uang yang berbeda disini?

Padahal buat gue sendiri, ada uang nggak ada uang selama kitanya sendiri yakin kita mesti berjalan dan melakukan sesuatu…mestinya kita akan tetap berjalan dan mencoba untuk melakukannnya (walaupun gagal sekalipun karena uang misalnya!). kenapa? Karena Do It Yourself bukan tentang nggak punya uang atau nggak pakai uang, tapi bagaimana kita tidak meletakkan uang (seperti faktor lainnya) jadi penentu langkah kita saat mau melakukan sesuatu itu tadi, Sayang! Jelas nggak maksud gue?

Eits, gue bukan mau bikin DIY yang baik dan benar disini ya! Gue cuman mau mbagi etos DIY ala gue doang, karena kalo ditanya DIY yang ideal itu seperti apa…mestinya balik ke individunya sendiri selain mestinya juga bisa memberi hasil yang baik buat lingkungan sekitarnya. Misalnya kalau kita bisa membuat sebuah proyek rilisan kompilasi yang betul-betul DIY dengan meminimalisasi campur tangan pihak luar termasuk uang, maka orang lain yang melihatnya pasti juga akan terinspirasi kan? Karena keyakinan mereka selama ini yang percaya kalau membuat sebuah rilisan itu butuh banyak uang misalnya, akan berubah saat kita bisa menunjukkan kalau sebenernya rilisan tersebut butuh lebih banyak waktu, tenaga, ketrampilan serta dukungan teman-teman kita sendiri. Uang memang penting, tapi membuat sampul kaset aja nggak mesti bisa komputer grafis dan ke percetakan kan? Bisa difotokopi dan di lay out sendiri, sama halnya seperti mengumpulkan band teman teman sendiri yang tertarik ikutan rilisan ini serta distribusinya juga antar teman-teman kita sendiri dulu sebelum ke lingkungan yang lebih luas lagi. Musiknya juga bukan yang sesuai dengan telinga banyak orang, selama kita yang bikin yakin semua musik bisa ikutan lalu kenapa nggak? Toh rilisan kita sendiri kan? Dan saat kita mendistribusikan rilisan tolong jangan pernah mengatasnamakan DIY juga buat memaksa orang lain atau teman sendiri beli rilisan itu karena itu sama aja dengan menggunakan istilah fuck work tapi kamu sendiri malakin orang! Ngerti dong ah maksudnya! Hihihi!

Makanya menurut gue, mengedukasi orang mengenai DIY perlu banget (nggak cuman di komunitas HC/Punk) supaya orang-orang bisa mulai memikirkan untuk MEMBUAT atau MELAKUKAN SEGALA SESUATUNYA SENDIRI daripada membeli dan membeli terus! Supaya uang nggak selalu jadi tuhan, supaya iklan-iklan jadi nggak mempan, supaya makin banyak pilihan cara dan barang serta kegiatan dari yang sudah ada sekarang serta tentu saja semua orang jadi makin HIDUP karena mereka mesti menciptakan semuanya sendiri dan tak hanya menerima dan menkonsumsi saja seperti hari ini. Wow! What a wonderful wonderful world!

Tapi berhubung gue orangnya nggak sabaran kayak udah gue bilang,makanya gue juga nggak butuh mesin waktu buat menciptakan sebuah komunitas beretos DIY. Gue bisa berusaha sesering mungkin dan berbagi sama orang orang supaya mereka juga bisa melihat kalau segala sesuatunya itu BISA DILAKUKAN SENDIRI. Pertanyaannya sebenarnya bukan BISA ATAU TIDAK, tapi MAU ATAU TIDAK? Karena gue percaya segala sesuatu itu bisa dipelajari selama kitanya sendiri mau belajar, kalau nggak tertarik ya susah untuk memulai karena pasti jadinya ada keterpaksaan. Males banget kan jadinya! So?

Dalam komunitas HC/Punk atau bukan, etos DIY mestinya bisa mulai dibiasakan dilakukan dari diri sendiri….bukan dari mereka, bukan dari dia ataupun orang lain yang kamu anggap hebat banget sekalipun:)

cyanide(@godisdead.com)
Untuk sebuah diskusi Media Indie di Malang bulan September lalu, aku membuat tulisan di bawah ini tentang zine yang kemudian aku kirimkan ke beberapa teman dan ada salah seorang teman yang memberikan opininya tentang tulisan aku itu. Bagus deh!

LEM, GUNTING, KERTAS DAN PINSIL
Cuma itu modal bikin zine setahu saya, dan rasanya nggak butuh lebih dari itu kecuali tambahan sejuta niatan dan sedikit uang untuk fotokopi.

Zine adalah non-komersial, non-profesional, majalah bersirkulasi kecil yang oleh pembuatnya dibuat, dicetak dan didistribusikan sendiri. Dibentuk oleh sejarah panjang media alternatif di Amerika, zine sebagai sebuah bentuk media lahir di tahun 1930-an. Pada waktu itu para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, melalui perkumpulan-perkumpulan yang mereka buat mulai membuat media yang mereka sebut fanzine sebagai cara untuk berbagi cerita-cerita fiksi ilmiah, opini serta berkomunikasi diantara mereka. Empat puluh tahun kemudian di pertengahan tahun 1970-an, pengaruh yang besar pada zine terjadi saat para fans musik punk rock dimana mereka jelas jelas tidak menghiraukan media media musik mainstream dengan mulai membuat zine tentang musik dan kultur mereka tersebut.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Sedangkan menurut saya sendiri, zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media diluar media yang ada selama ini. (Memang pada kenyataannya sekarang ada juga yang dinamakan e-zine atau elektronik zine, namun disini saya mau bicara tentang zine cetak aja ya Sayang ya!)

Tipikal isi zine diawali dengan personal editorial, kemudian artikel-artikel curhatan, kritik, opini, serta ulasan-ulasan mulai dari zine, buku, musik dan lain sebagainya. Diantara halaman-halamannya terdapat puisi, cerpen, potongan-potongan berita dari media massa plus komentar tentang berita tersebut, juga ilustrasi dan komik. Editor merupakan kontributor terbesar dari zinenya, namun dia biasanya juga akan mendapatkannya dari teman atau sesama pembuat zine lainnya. Cara yang lebih umum membuka penawaran untuk berkontribusi di dalam zinenya tadi. Isi juga bisa merupakan bajakan atau ‘pinjaman’ dari zine lainnya atau media mainstream sekalipun, bahkan terkadang diambil begitu saja tanpa ijin penulisnya. Dicetak diatas mesin fotokopi standar, direkatkan ditengah-tengah atau di pinggirnya, jumlah halamannya berkisar antara sepuluh hingga empat puluh halaman. Zine memang terlihat jadi seperti berada diantara surat personal dan majalah. Ada zine yang dicetak dalam jumlah besar seperti Slug & Lettuce, ada juga yang memiliki begitu banyak kontributor dan halaman seperti Maximum Rock’n Roll, namun zine kebanyakan memang dibuat dengan semangat Do It Yourself apapun bentuk dan isinya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Namun saya sendiri selalu menyukai bentuk-bentuk media yang diluar dari bentuk media yang sudah ada, termasuk zine itu sendiri. Semakin berbeda sebuah zine, maka akan semakin menarik buat saya, karena akan terlihat perayaan kebebasan berekspresi dalam zine tadi semakin maksimal tak hanya dalam topik dan disainnya, namun juga bentuk luarnya. Makin banyak juga kejutan dan makin inspiratif jadinya. Sayangnya lagi, disini masih terlalu banyak yang menggunakan ukuran standar A5 sebagai bentuk zinenya, dan masih terlalu sedikit yang mau bereksperimen dengan bentuk-bentuk lainnya. Bikin yang bentuknya misalnya siluet binatang atau logo lucu juga kayaknya ya? Heheeh!

Fanzines adalah kategori tertua dari zine sehingga mungkin saja banyak orang yang menganggap semua zine adalah fanzines. Secara sederhana fanzine adalah publikasi atau media untuk mendiskusikan nuansa berbagai macam kultur dalam sebuah media. Beberapa pengelompokan dalam fanzine ini adalah:

Zine fiksi ilmiah, musik,olahraga, televisi dan film,serta yang lainnya lagi diluar pengelompokan tadi.

Sedangkan zine politis lalu dibagi lagi dengan P besar dan P kecil, dimana di dalamnya terdapat personal zine personal atau perzine, zine scene, zine network, zine kultur horror dan luar angkasa, zine agama dan kepercayaan, zine seks, zine kesehatan, zine perjalanan, zine sastra, zine seni, serta banyak lagi pengelompokan zine yang lainnya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)


Sementara buat saya sendiri pengkategorian zine seperti itu memang perlu untuk menjelaskan tentang isi sebuah zine, namun sama sekali tak perlu untuk para pembuat zine itu sendiri. Karena pada akhirnya kebebasan yang dirayakan dalam bentuk media seperti ini malah menciptakan sebuah batasan-batasan tak perlu. Sayangnya, disini zine-zine yang saya temui masih terlalu banyak yang berkisar pada tema yang itu itu saja! Musik, punk, politik, scene serta komik, sehingga belum banyak hal yang bisa dikomunikasikan oleh para pembuat, juga untuk para pembaca zine itu sendiri. Kenapa nggak membuat zine tentang mimpi misalnya, atau tentang tato, tentang emblem, tentang anak-anak, tentang tanaman, tentang menjahit, tentang obat, tentang zine itu sendiri mungkin, serta masih ada puluhan topik lainnya yang belum disentuh hingga saat ini. Iya kan?

Orang orang aneh, kutu buku, kuper serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungannya adalah karakter orang-orang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang menyedihkan serta membuat segala hal tentang diri mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang lewat zine-zine mereka. Karenanya zine pertama kali ada diantara para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, dimana mereka memiliki kepandaian diatas rata-rata namun kemampuan untuk bersosialisasinya dibawah rata rata. Seperti halnya juga zine Punk yang pertama kali diterbitkan oleh Legs McNeill, yang di dalam zinenya menjelaskan Punk sebagai ‘apa yang sering dikatakan oleh guru-guru kita dari dulu…kalau kita tidak pernah cukup berharga untuk apapun di hidup ini’.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Dan disini walaupun memang awalnya adalah komunitas Dunia Bawah Tanah atau underground yang membuat media ini masuk ke dalam komunitas lainnya, sayangnya karena keterbatasan topik serta distribusi yang belum besar membuat zine seolah menjadi sebuah media eksklusif yang menuntut kualifikasi-kualifikasi tertentu untuk membuatnya. Padahal zine tidak pernah memiliki sebuah cara baku untuk membuatnya, isinya, apalagi pembuatnya. Semua orang bisa membuat zine karena zine adalah tentang semua orang. Punk bukan punk, anak underground atau bukan, anak kecil atau orang tua sekalipun, sendirian maupun beramai-ramai, zine bahkan tidak pernah menuntut pembuatnya untuk menjadi dirinya sendiri! Seseorang bisa saja menjadi seorang anak kecil, seorang perempuan Jepang, seekor anak beruang, bahkan sebuah topi di dalam zinenya tanpa seorangpun berhak menilainya penipu ataupun aneh, karena zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media cetak yang tak berbatas. Betul nggak?

Zine dinilai seharga biaya pos hingga beberapa dollar saja, namun barter atau saling bertukar zine adalah umum dilakukan dan merupakan bagian dari aturan yang sudah diketahui sesama para pembuat zine. Distribusi umumnya dilakukan dari satu orang ke orang lainnya melalui pos, dijual di toko-toko buku dan musik, dibagikan atau barter di konser-konser punk, pertemuan para penggila fiksi fiksi ilmiah dan sejenisnya.Mereka diiklankan melalui mulut-ke-mulut, melalui kolom ulasan zine di dalam zine lainnya, serta zine zine yang membahas mengenai zine itu sendiri seperti Factsheet Five, yang bertujuan memang untuk mengulas serta mempublikasi media media seperti ini.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Karenanya saya tidak pernah menyukai peletakkan zine di distro dalam arti dilihat sebagai produk, karena saya percaya zine adalah sesosok manusia dalam sebuah bentuk media cetak yang ingin sekali berkomunikasi dengan sebanyak-banyak orang di luar sana. Di dalam sebuah zine, khususnya zine-zine personal, akan terasa sekali istimewanya komunikasi serta pesan-pesan personal yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya walaupun dalam bentuk tulisan saduran sekalipun serta cara mendisain yang mungkin secara umum mirip. Walaupun memang distro bisa jadi salah satu tempat distribusi, namun rasanya sedih juga melihat jajaran zine-zine yang berdebu di dalam sebuah distro seolah melihat seseorang atau sekumpulan orang yang berteriak-teriak ingin mengobrol tapi tak kunjung ada seorangpun yang mau mengajak mereka bicara. Ciee! Emosional banget ya? Hehehe! Tapi coba kita dengar apa kata Mike Gunderloy dari zine Fachsheet Five tentang zine,

Zine dibuat bukan untuk uang, namun untuk Cinta. Cinta untuk berekspresi, cinta untuk berbagi, cinta untuk berkomunikasi. Dan sebagai salah satu bentuk protes terhadap sebuah budaya dan lingkungan yang menawarkan terlalu sedikit penghargaan atas hal-hal tadi, zine juga dibuat dari sebuah…Kemarahan! .-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

So, kapan nih saya bisa liat zine kamu? Barter yuk! (V)


Halo Vi, maaf, setelah agak lama, baru kali ini aku sempat menanggapi materi diskusi yang pernah kamu kirim. Ini pun aku baru bisa nanggapi tulisanmu tentang zine (yang tentang gay mungkin lain waktu kutanggapi).

Ini ada beberapa poin dari tulisanmu yang ingin kutanggapi:

* Zine itu non-profesional --> Kupikir ini nggak benar, Vi. Mungkin yang dimaksud adalah non-pola mainstream. Dalam pemahamanku, profesional berarti mengerjakan sesuatu dengan penuh ketekunan, sehingga makin meningkat kualitasnya kalau dilihat sejak pertama kali dia mengerjakannya,
sampai yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Misalnya, untuk zine, pada edisi pertama zine kita masih ada banyak kesalahan ketik. Kemudian, pada pengerjaan edisi-edisi berikutnya kita memperbaiki kesalahan itu, sehingga makin lama kesalahan ketik makin sedikit, sampai pada edisi ke sekian sudah tidak ada kesalahan ketik sama sekali. Nah, dalam pemahamanku, ini berarti makin lama kita makin profesional dalam mengerjakan zine kita. Kalau pola mainstream (ini tidak sama dengan
profesional) memang tidak perlu kita ikuti. Bahkan, kalau pola mainstream media itu cenderung ingin membakukan/memapankan sesuatu yang menurut
kita buruk, ya salah satu fungsi zine justru adalah mendobraknya.

* Zine dibuat, dicetak & didistribusikan sendiri --> Mungkin ya,
tapi kalau dibuat, dicetak dan didistribusikan (saling-mendistribusikan) dengan cara bekerjasama dengan orang/komunitas lain khan juga nggak apa-apa, bahkan mungkin lebih baik. Kupikir semangat DIY itu penting
agar kita punya mental mandiri, tidak menggantung pada orang lain, tetapi bukan agar kita jadi tertutup (tidak bisa/mau bekerjasama dengan orang lain). Ekspresi personal memang penting, tetapi bekerjasama antar-individu/antar-komunitas juga penting, karena tidak ada seorang manusia pun yang bisa hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya.

* Sedangkan menurut saya sendiri, zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media diluar media yang ada selama ini
--> Kupikir ini definisi yang lumayan bagus, Vi.

Nah, yang ini pendapatku:
Untuk zine individu, kalau muatannya terlalu subyektif/pribadi,
kupikir tidak perlu dibuat untuk dibagikan ke orang-orang lain, tetapi kalau ada yang melakukannya ya nggak apa-apa. Kalau nampaknya subyektif, tapi kenyataannya bisa saling dipertukarkan (share), berarti ini masih punya konteks sesuatu yang menjadi concern bersama (tidak terlalu subyektif).

Setiap orang punya filsafat dan kepentingannya sendiri, termasuk dalam kaitannya dg membuat zine. Juga kupikir ada kebutuhan yang mendasari seseorang/komunitas sampai merasa perlu untuk membuat zine. Kalau bukan kebutuhan, setidaknya keinginan (ini sebetulnya juga bisa disebut kebutuhan--kebutuhan untuk mewujudkan keinginan).

Mengenai sejarah zine yang disebutkan dimulai di Amerika pada era 1930-an dengan ciri-ciri tertentu, kupikir merujuk sejarah seperti itu memang penting, tapi bukan berarti harus terikat pada referensi itu. Mengapa tidak dimasukkan saja ke pengertian Media Alternatif-Independen secara luas (agar dengan demikian bulletin independen, newsletter independen, majalah independen, dll., juga bisa kita sebut zine)?

Oke Vi, ini dulu yang bisa kukomentari dari tulisanmu tentang zine.

Aku senang kalau bisa sering diskusi denganmu.

"A Better 'N More Human World Is Possible" :)

Binar Asa

Thursday, December 04, 2003

UNTUK KONTAK EMAIL MENGENAI SETARAMata
SEKARANG PINDAH KE:

setaramata@kesetaraan.org

TERIMAKASIH SAYANG YA!

(the bitchy editor)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?