Saturday, September 07, 2002
DENGAN INI, SAYA MENGUNDURKAN DIRI DARI SCENE...!
Ucapan ini mungkin telah saya dengar beberapa kali, jauh sebelum
saya mulai melakukan berbagai macam hal di dalamnya untuk bersenang
senang sendirian maupun bersama teman teman saya disana.
Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang wajar sekali laksana melihat
seorang bayi yang baru lahir setiap saat. Kehidupan berjalan, berganti
dan beregenerasi...Eh, tunggu dulu! REGENERASI? SCENE INI? Kita
bicarakan itu nanti, sekarang mari kita bicara tentang..
Pernyataan pengunduran diri diatas tadi. Apa alasannya, Teman? Kekecewaan
yang berlarut-larut, Sayang...Ah, ternyata! Kekecewaan terhadap
apa? saya bertanya lagi penuh selidik. Terhadap diri kamu sendiri
sebagai yang berada di dalam scene? Atau kekecewaan kamu terhadap scene itu sendiri?
Sejauh ini kebanyakan jawaban yang saya temui dari mereka-mereka
yang sudah berada lebih dari sepuluh tahuh (!) didalamnya adalah:
kekecewaan mereka terhadap scene!
Berarti, kita tidak akan bicara tentang kekecewaan kita pada diri
kita sendiri yang berada di dalam scene, karena saya yakin kita
semua pasti pernah mengalaminya, Teman...atau mungkin saya hanya
terlalu sok tahu? Mohon maaf kalau begitu...J
Oke, sekarang kalau saya tanyakan kepada kamu semua yang membaca
tulisan ini, Apa ukuran suksesnya sebuah scene menurut kamu? Okelah,
kita ambil misalnya scene Punknya saja. Punk yang memang kita dapat
dari luar rumah kita sendiri yaitu Inggris dan Amirika mengalami
proses yang memang luar biasa hingga hari ini. Dan kalau sekarang
banyak yang bilang scene Punk dunia pun mengalami kemunduran yang
gila gilaan dari awalnya mereka muncul, lalu kenapa?
Apakah lalu kita mesti tersugesti kalau semua hal yang kita lakukan
di scene Punk disini memang pada akhirnya tidak akan membawa kita
ke keadaan yang lebih baik? Dan kita akan mengalami hal yang persis
sama seperti mereka? Belum tentu, karena mereka bukan kita. Kita bukan mereka.
Kita tahu apa rasanya membuat sebuah konser disini hanya dengan
modal alat alat pinjaman dan listrik colongan, mereka? Mungkin juga
begitu, tapi prosesnya? Beda. Pasti berbeda. Kalau Punk di Malaysia
mesti sembunyi sembunyi hanya untuk sebuah konser yang kadang selesai
hanya dalam waktu sejam....kita bisa bikin konser yang lamanya 4
sampai 8 jam tanpa ada yang mengganggu kita (kecuali teman teman
kita sendiri mungkin! Hehehe!). Iya kan?
Itu tadi kemajuan, bukan? Kalau di sebuah negara di luar negeri
sebuah zine pun susahnya minta ampun ditemui di distro, bagaimana
dengan kita disini? Banyak, bukan? Nah, sebuah kemajuan yang menyenangkan
tapi tidak cukup membanggakan untuk membuat kita lalu besar kepala.
Kita juga tidak perlu membiarkan beberapa gelintir orang di scene
ini merusak semangat dan kepercayaan kita akan scene hanya karena
mereka yang telah berada begitu lama di dalamnya pun memilih mundur
pada akhirnya! Itu cuman pilihan, pilihan mereka. Bukan lalu mesti jadi pilihan kita.
Mundur belum tentu berarti menyerah! Karena masih banyak cara yang
bisa kita lakukan untuk tetap berada di dalam scene namun tidak
dengan cara yang selama ini kita lakukan. Masih banyak pekerjaan
yang bila memang harus kita lakukan namun kita tetap bisa mengetahui
keadaan scene ini, walaupun kita tidak lagi mesti selalu datang
ke setiap konser atau nongkrong berjam-jam bersama teman-teman kita,
termasuk memaksa band kita supaya tidak bubar padahal kitanya sudah
mau muntah tiap kali mendengar namanya saja.
Aku memang mulai bosan luar biasa dengan riuh rendahnya tudingan,
tuntutan dan luapan luapan ungkapan kekecewaan tentang scene ini
yang seolah berebutan diteriakan oleh berbagai macam orang di berbagai
kota, sementara kita tampaknya tidak lagi peduli dengan setiap kemajuan
maupun hal baru kecil besar yang muncul di dalam scene ini. Berilah
pengadilan yang adil tentang scene kita! Lupakan scene di luar sana,
lupakan dulu semua tumpukan keinginan keinginan kita yang tak kunjung
jadi kenyataan di scene ini...lupakan dulu sebentar dan lihatlah berkeliling!
Apa yang sudah kamu bagi dengan teman-teman baru yang lebih muda
usia atau memang baru datang ke tempat tongkrongan kamu? Apa yang
sudah kamu beri tahu pada mereka tentang scene disitu beberapa tahun
lalu sebelum mereka datang? Ceritakan tentang semua konser yang
batal dan hancur, serta masih ingin kalian buat disana hingga hari
ini. Tunjukkan zine zine lama yang tidak lagi bisa mereka temui
di distro sekarang, ajak diskusi tentang keadaan scene sekarang
sekarang ini, atau mungkin ajak bikin band bersama kalau memang
kamu muak dengan band kamu sekarang.
Disini dan kali ini, saya mungkin hanya sekedar jadi orang yang
punya kepercayaan lebih pada scene disini, namun saya tidak pernah
mau meletakkan definisi atau batasan kebanggaan dan kekecewaan saya
tentang scene ini pada orang lain, apalagi scene di negara lain!
Saya yang merasakan semua jatuh bangun saya di scene ini! Saya yang
sakit kalau teman perempuan saya dilecehkan di mosh pit, saya yang
kecewa kalau band teman saya dilecehkan karena bandnya belum terkenal
dan sering manggung, saya yang menangis kalau teman saya dipukuli
anak metal hanya karena dia seorang Punk, tapi saya juga yang akan
tersenyum lebar kalau suatu hari semua keinginan saya di scene ini
menjadi kenyataan walaupun tidak pernah persis sama seperti yang saya bayangkan.
Tapi jangan lalu berpikiran saya melakukan semua yang saya tulis
diatas,ya! Karena saya selalu percaya, semua pilihan dan cara yang
saya lakukan di dalamnya adalah resiko saya sendiri! Karenanya berhenti
mengatakan kepada pada para patron di scene ini untuk merusak image
mereka kalau mereka bahkan tidak tahu dan tidak peduli dengan image
itu, berhenti meletakkan kemajuan dan kemunduran scene di tempat kamu
pada beberapa gelintir orang, berhenti hanya melakukan hal yang
itu itu saja di dalam scene ini!
Terus kamu pikir saya akan selalu ada di scene ini sampai mati?
Belum tentu. Tidak ada yang tidak berubah di hidup ini bukan? Tapi
apakah lalu kalian peduli kalau saya masih ada atau tidak di scene ini? Tidak
juga kan? Makanya jangan gampang terpengaruh sama beberapa orang penulis
terkenal di scene ini, jadilah penulis buat diri kamu sendiri! Buat media sendiri
dan berceritalah dengan sebanyak-banyaknya orang baik di dalam maupun di
luar scene.
Satu lagi, kalau kalian pikir anonimitas itu segalanya di scene ini, lihat lagi!
Karena bisa jadi itu hanya sebuah dalih belaka agar kita semua selamat dari penghakiman membabi buta di dalam scene ini yang semakin persis sama dengan dunia mainstream di luar sana. Eits, ini pengalaman pribadi saya, makanya jangan pernah berpikir saya akan berubah pikiran tentang yang satu ini, Teman! Paling tidak, tidak sekarang.
Dan bukankah hanya karena kamu sudah merasa terlalu lelah dan jenuh
dengan keadaan taman bermain kamu sekarang, bukan berarti kamu tidak
bisa meminjamkan bola kamu pada mereka yang baru datang-kan?....
-Dedicated to you, that has been giving your heart and soul for
the scene for too bloody long!-
Totsy Spiky (punkposeur@eudoramail.com)
Ucapan ini mungkin telah saya dengar beberapa kali, jauh sebelum
saya mulai melakukan berbagai macam hal di dalamnya untuk bersenang
senang sendirian maupun bersama teman teman saya disana.
Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang wajar sekali laksana melihat
seorang bayi yang baru lahir setiap saat. Kehidupan berjalan, berganti
dan beregenerasi...Eh, tunggu dulu! REGENERASI? SCENE INI? Kita
bicarakan itu nanti, sekarang mari kita bicara tentang..
Pernyataan pengunduran diri diatas tadi. Apa alasannya, Teman? Kekecewaan
yang berlarut-larut, Sayang...Ah, ternyata! Kekecewaan terhadap
apa? saya bertanya lagi penuh selidik. Terhadap diri kamu sendiri
sebagai yang berada di dalam scene? Atau kekecewaan kamu terhadap scene itu sendiri?
Sejauh ini kebanyakan jawaban yang saya temui dari mereka-mereka
yang sudah berada lebih dari sepuluh tahuh (!) didalamnya adalah:
kekecewaan mereka terhadap scene!
Berarti, kita tidak akan bicara tentang kekecewaan kita pada diri
kita sendiri yang berada di dalam scene, karena saya yakin kita
semua pasti pernah mengalaminya, Teman...atau mungkin saya hanya
terlalu sok tahu? Mohon maaf kalau begitu...J
Oke, sekarang kalau saya tanyakan kepada kamu semua yang membaca
tulisan ini, Apa ukuran suksesnya sebuah scene menurut kamu? Okelah,
kita ambil misalnya scene Punknya saja. Punk yang memang kita dapat
dari luar rumah kita sendiri yaitu Inggris dan Amirika mengalami
proses yang memang luar biasa hingga hari ini. Dan kalau sekarang
banyak yang bilang scene Punk dunia pun mengalami kemunduran yang
gila gilaan dari awalnya mereka muncul, lalu kenapa?
Apakah lalu kita mesti tersugesti kalau semua hal yang kita lakukan
di scene Punk disini memang pada akhirnya tidak akan membawa kita
ke keadaan yang lebih baik? Dan kita akan mengalami hal yang persis
sama seperti mereka? Belum tentu, karena mereka bukan kita. Kita bukan mereka.
Kita tahu apa rasanya membuat sebuah konser disini hanya dengan
modal alat alat pinjaman dan listrik colongan, mereka? Mungkin juga
begitu, tapi prosesnya? Beda. Pasti berbeda. Kalau Punk di Malaysia
mesti sembunyi sembunyi hanya untuk sebuah konser yang kadang selesai
hanya dalam waktu sejam....kita bisa bikin konser yang lamanya 4
sampai 8 jam tanpa ada yang mengganggu kita (kecuali teman teman
kita sendiri mungkin! Hehehe!). Iya kan?
Itu tadi kemajuan, bukan? Kalau di sebuah negara di luar negeri
sebuah zine pun susahnya minta ampun ditemui di distro, bagaimana
dengan kita disini? Banyak, bukan? Nah, sebuah kemajuan yang menyenangkan
tapi tidak cukup membanggakan untuk membuat kita lalu besar kepala.
Kita juga tidak perlu membiarkan beberapa gelintir orang di scene
ini merusak semangat dan kepercayaan kita akan scene hanya karena
mereka yang telah berada begitu lama di dalamnya pun memilih mundur
pada akhirnya! Itu cuman pilihan, pilihan mereka. Bukan lalu mesti jadi pilihan kita.
Mundur belum tentu berarti menyerah! Karena masih banyak cara yang
bisa kita lakukan untuk tetap berada di dalam scene namun tidak
dengan cara yang selama ini kita lakukan. Masih banyak pekerjaan
yang bila memang harus kita lakukan namun kita tetap bisa mengetahui
keadaan scene ini, walaupun kita tidak lagi mesti selalu datang
ke setiap konser atau nongkrong berjam-jam bersama teman-teman kita,
termasuk memaksa band kita supaya tidak bubar padahal kitanya sudah
mau muntah tiap kali mendengar namanya saja.
Aku memang mulai bosan luar biasa dengan riuh rendahnya tudingan,
tuntutan dan luapan luapan ungkapan kekecewaan tentang scene ini
yang seolah berebutan diteriakan oleh berbagai macam orang di berbagai
kota, sementara kita tampaknya tidak lagi peduli dengan setiap kemajuan
maupun hal baru kecil besar yang muncul di dalam scene ini. Berilah
pengadilan yang adil tentang scene kita! Lupakan scene di luar sana,
lupakan dulu semua tumpukan keinginan keinginan kita yang tak kunjung
jadi kenyataan di scene ini...lupakan dulu sebentar dan lihatlah berkeliling!
Apa yang sudah kamu bagi dengan teman-teman baru yang lebih muda
usia atau memang baru datang ke tempat tongkrongan kamu? Apa yang
sudah kamu beri tahu pada mereka tentang scene disitu beberapa tahun
lalu sebelum mereka datang? Ceritakan tentang semua konser yang
batal dan hancur, serta masih ingin kalian buat disana hingga hari
ini. Tunjukkan zine zine lama yang tidak lagi bisa mereka temui
di distro sekarang, ajak diskusi tentang keadaan scene sekarang
sekarang ini, atau mungkin ajak bikin band bersama kalau memang
kamu muak dengan band kamu sekarang.
Disini dan kali ini, saya mungkin hanya sekedar jadi orang yang
punya kepercayaan lebih pada scene disini, namun saya tidak pernah
mau meletakkan definisi atau batasan kebanggaan dan kekecewaan saya
tentang scene ini pada orang lain, apalagi scene di negara lain!
Saya yang merasakan semua jatuh bangun saya di scene ini! Saya yang
sakit kalau teman perempuan saya dilecehkan di mosh pit, saya yang
kecewa kalau band teman saya dilecehkan karena bandnya belum terkenal
dan sering manggung, saya yang menangis kalau teman saya dipukuli
anak metal hanya karena dia seorang Punk, tapi saya juga yang akan
tersenyum lebar kalau suatu hari semua keinginan saya di scene ini
menjadi kenyataan walaupun tidak pernah persis sama seperti yang saya bayangkan.
Tapi jangan lalu berpikiran saya melakukan semua yang saya tulis
diatas,ya! Karena saya selalu percaya, semua pilihan dan cara yang
saya lakukan di dalamnya adalah resiko saya sendiri! Karenanya berhenti
mengatakan kepada pada para patron di scene ini untuk merusak image
mereka kalau mereka bahkan tidak tahu dan tidak peduli dengan image
itu, berhenti meletakkan kemajuan dan kemunduran scene di tempat kamu
pada beberapa gelintir orang, berhenti hanya melakukan hal yang
itu itu saja di dalam scene ini!
Terus kamu pikir saya akan selalu ada di scene ini sampai mati?
Belum tentu. Tidak ada yang tidak berubah di hidup ini bukan? Tapi
apakah lalu kalian peduli kalau saya masih ada atau tidak di scene ini? Tidak
juga kan? Makanya jangan gampang terpengaruh sama beberapa orang penulis
terkenal di scene ini, jadilah penulis buat diri kamu sendiri! Buat media sendiri
dan berceritalah dengan sebanyak-banyaknya orang baik di dalam maupun di
luar scene.
Satu lagi, kalau kalian pikir anonimitas itu segalanya di scene ini, lihat lagi!
Karena bisa jadi itu hanya sebuah dalih belaka agar kita semua selamat dari penghakiman membabi buta di dalam scene ini yang semakin persis sama dengan dunia mainstream di luar sana. Eits, ini pengalaman pribadi saya, makanya jangan pernah berpikir saya akan berubah pikiran tentang yang satu ini, Teman! Paling tidak, tidak sekarang.
Dan bukankah hanya karena kamu sudah merasa terlalu lelah dan jenuh
dengan keadaan taman bermain kamu sekarang, bukan berarti kamu tidak
bisa meminjamkan bola kamu pada mereka yang baru datang-kan?....
-Dedicated to you, that has been giving your heart and soul for
the scene for too bloody long!-
Totsy Spiky (punkposeur@eudoramail.com)
HARUSKAH?
Hai...!!!
Aku tidak perlu memperkenalkan diri,tapi yg pasti aku adalah satu dari sekian banyak manusia yang merasa tertindas. Aku lahir dan besar di lingkungan keluarga yang OTORITER,yang banyak aturan atau tradisi kuno,yang memaksakan kehendak dimana aku harus menjadi...seperti yang diinginkan oleh mereka atau ORANG TUA-ku. Aku kehilangan jati diriku sendiri,mereka membuatku merasa terkekang,membuat jiwa PEMBERONTAK-ku bergolak!!!
Aku ingin hidup bebas. Bebas menentukan mana yg terbaik untukku, tanpa ada larangan yang sifatnya memaksa! Aku ingin melakukan semua sesuai keinginanku, aku mau mencari arti kehidupanku sendiri.
Aku tidak ingin dijajah oleh makhluk apapun yang ada dimuka bumi ini. Karena...aku rasa tidak ada satu manusiapun yg ingin hak asasinya dirampas atau diinjak-injak. Karena itu aku mencoba untuk Bangkit dan Melawan segala bentuk Penindasan,tapi...aku nggak ingin ada kekerasan. Karena kekerasan itu menuju pada tindak kejahatan, dan kejahatan merupakan pelanggaran terhadap orang lain,dan berarti...bertentangan dengan paham Anarkis yang mulai melekat di jiwaku. Aku ingin kebebasan itu berlaku bagi semua orang, untuk itu kita tidak boleh hanya banyak mengeluarkan kata-kata,mengaku bahwa aku seorang Anarkis...tapi realitanya hanya diam tanpa perbuatan atau tindakan. Jadi kita atau kaum anarkis ada harus bersatu, bergerak, berjuang dan melawan semua sistem PENINDASAN."Lets grow up!"
Terlebih bagi kaum wanita dimanapun kalian berada, kita tidak boleh membiarkan...kita dijajah terus-menerus baik dari ORTU yang selalu mengekang dengan alasan shit bahwa kita adalah makhluk yg lemah. Ingat...! itu salah guys! TUHAN menciptakan kita sama dengan kaum adam, kita nggak dibeda-bedain ama DIA kok! Makanya kita ada, kita harus kuat, kita bersatu buat berjuang membangun kesadaran kaum wanita bahwa wanita itu sederajat dengan pria.
Sekarang ini aku lihat banyak terjadi pelecehan-pelecehan seksual (di dalam atau luar scene) terhadap kaum wanita yg dilakukan oleh orang-orang yg tidak bertanggung jawab. Jadi,itu artinya Penindasan terhadap kaum wanita sampe sekarang masih terus berlangsung.
Untuk itu,kita kaum wanita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi terus-menerus. Kita harus melawannya karena jika kita terus berdiam diri berarti kita membiarkan diri kita terus ditindas, dan itu berarti dengan berani aku bisa menyebut bahwa kaum wanita itu bodoh. Kita harus belajar menjadi seorang "LADY ANARCHY" sejati, yang menginginkan kemerdekaan atau kebebasan hidup, yang berani melawan segala bentuk penindasan. Karena wanita punya hak untuk hidup bebas dan merdeka. Aku yakin apabila kebebasan di semua lingkup kehidupan tercipta bisa menjadikan seluruh manusia hidup dalam kondisi yg lebih baik. Akan tetapi kebebasan dalam arti kata...bukan bebas melakukan kejahatan yang merugikan orang lain. Sekali lagi aku ingin berteriak di depan muka...Bangun!..Hai, jiwa-jiwa pemberontak! Mari kita sama-sama Bersatu!
Bangkit...
Lawan...
Bergerak…
dan
Berjuang
Untuk menghapuskan segala penindasan yg selalu melanggar hak-hak asasi manusia, agar kita bisa hidup tenang tanpa ada lagi penindasan. Sekali lagi...ingat, kita ada,kita kuat,kita bersatu untuk berjuang membangun kesadaran kaum tertindas,dengan...pilihan yang dijalani yakni sebagai cewek Anarki.
Well, if you have any fuckin’ suggestions and fuckin’ critics!
Welcome to: Virapentakasih@yahoo.com
Hai...!!!
Aku tidak perlu memperkenalkan diri,tapi yg pasti aku adalah satu dari sekian banyak manusia yang merasa tertindas. Aku lahir dan besar di lingkungan keluarga yang OTORITER,yang banyak aturan atau tradisi kuno,yang memaksakan kehendak dimana aku harus menjadi...seperti yang diinginkan oleh mereka atau ORANG TUA-ku. Aku kehilangan jati diriku sendiri,mereka membuatku merasa terkekang,membuat jiwa PEMBERONTAK-ku bergolak!!!
Aku ingin hidup bebas. Bebas menentukan mana yg terbaik untukku, tanpa ada larangan yang sifatnya memaksa! Aku ingin melakukan semua sesuai keinginanku, aku mau mencari arti kehidupanku sendiri.
Aku tidak ingin dijajah oleh makhluk apapun yang ada dimuka bumi ini. Karena...aku rasa tidak ada satu manusiapun yg ingin hak asasinya dirampas atau diinjak-injak. Karena itu aku mencoba untuk Bangkit dan Melawan segala bentuk Penindasan,tapi...aku nggak ingin ada kekerasan. Karena kekerasan itu menuju pada tindak kejahatan, dan kejahatan merupakan pelanggaran terhadap orang lain,dan berarti...bertentangan dengan paham Anarkis yang mulai melekat di jiwaku. Aku ingin kebebasan itu berlaku bagi semua orang, untuk itu kita tidak boleh hanya banyak mengeluarkan kata-kata,mengaku bahwa aku seorang Anarkis...tapi realitanya hanya diam tanpa perbuatan atau tindakan. Jadi kita atau kaum anarkis ada harus bersatu, bergerak, berjuang dan melawan semua sistem PENINDASAN."Lets grow up!"
Terlebih bagi kaum wanita dimanapun kalian berada, kita tidak boleh membiarkan...kita dijajah terus-menerus baik dari ORTU yang selalu mengekang dengan alasan shit bahwa kita adalah makhluk yg lemah. Ingat...! itu salah guys! TUHAN menciptakan kita sama dengan kaum adam, kita nggak dibeda-bedain ama DIA kok! Makanya kita ada, kita harus kuat, kita bersatu buat berjuang membangun kesadaran kaum wanita bahwa wanita itu sederajat dengan pria.
Sekarang ini aku lihat banyak terjadi pelecehan-pelecehan seksual (di dalam atau luar scene) terhadap kaum wanita yg dilakukan oleh orang-orang yg tidak bertanggung jawab. Jadi,itu artinya Penindasan terhadap kaum wanita sampe sekarang masih terus berlangsung.
Untuk itu,kita kaum wanita tidak boleh membiarkan hal ini terjadi terus-menerus. Kita harus melawannya karena jika kita terus berdiam diri berarti kita membiarkan diri kita terus ditindas, dan itu berarti dengan berani aku bisa menyebut bahwa kaum wanita itu bodoh. Kita harus belajar menjadi seorang "LADY ANARCHY" sejati, yang menginginkan kemerdekaan atau kebebasan hidup, yang berani melawan segala bentuk penindasan. Karena wanita punya hak untuk hidup bebas dan merdeka. Aku yakin apabila kebebasan di semua lingkup kehidupan tercipta bisa menjadikan seluruh manusia hidup dalam kondisi yg lebih baik. Akan tetapi kebebasan dalam arti kata...bukan bebas melakukan kejahatan yang merugikan orang lain. Sekali lagi aku ingin berteriak di depan muka...Bangun!..Hai, jiwa-jiwa pemberontak! Mari kita sama-sama Bersatu!
Bangkit...
Lawan...
Bergerak…
dan
Berjuang
Untuk menghapuskan segala penindasan yg selalu melanggar hak-hak asasi manusia, agar kita bisa hidup tenang tanpa ada lagi penindasan. Sekali lagi...ingat, kita ada,kita kuat,kita bersatu untuk berjuang membangun kesadaran kaum tertindas,dengan...pilihan yang dijalani yakni sebagai cewek Anarki.
Well, if you have any fuckin’ suggestions and fuckin’ critics!
Welcome to: Virapentakasih@yahoo.com
ANTI FEMINISME
aku perempuan
ingin dihargai, karena tubuhku indah.
aku perempuan
ingin dihargai, karena aku ada untuk dinikmati.
***
ini payudaraku.
dua onggokan daging berputing di balik kulit tanpa cela.
mereka tak bisa bernafas di balik baju.
mereka bilang, di sini sepi. tak ada yang memuji kecantikan kami.
maka, ini payudaraku—yang penuh, kenyal, dan putingnya mencuat.
pegang. remas. dan lahap dengan matamu.
lalu ini kelaminku.
lubang kecil di balik rambut-rambut yang melingkar.
dia tak bisa dibungkam di balik celana.
dia bilang, di sini kosong. tak ada yang merasakan kehangatanku.
maka, ini kelaminku—yang lembab, lentur, dan berbulu.
jilat. cicipi. dan jelajahi dengan jarimu.
***
aku perempuan
ingin dihargai, karena tubuhku indah.
aku perempuan
ingin dihargai, karena aku ada untuk dinikmati.
***
jadi, telanjangi aku. maini aku. gagahi aku.
karena di bawah ancamanmu
aku merasa sangat perempuan.
karena di bawah cercamu
aku merasa sangat perempuan.
karena di bawah selangkangmu
aku merasa sangat perempuan.
***
aku perempuan.
hidup untukmu untuk menjadi hidup.
25mei2002
Violet Eye
aku perempuan
ingin dihargai, karena tubuhku indah.
aku perempuan
ingin dihargai, karena aku ada untuk dinikmati.
***
ini payudaraku.
dua onggokan daging berputing di balik kulit tanpa cela.
mereka tak bisa bernafas di balik baju.
mereka bilang, di sini sepi. tak ada yang memuji kecantikan kami.
maka, ini payudaraku—yang penuh, kenyal, dan putingnya mencuat.
pegang. remas. dan lahap dengan matamu.
lalu ini kelaminku.
lubang kecil di balik rambut-rambut yang melingkar.
dia tak bisa dibungkam di balik celana.
dia bilang, di sini kosong. tak ada yang merasakan kehangatanku.
maka, ini kelaminku—yang lembab, lentur, dan berbulu.
jilat. cicipi. dan jelajahi dengan jarimu.
***
aku perempuan
ingin dihargai, karena tubuhku indah.
aku perempuan
ingin dihargai, karena aku ada untuk dinikmati.
***
jadi, telanjangi aku. maini aku. gagahi aku.
karena di bawah ancamanmu
aku merasa sangat perempuan.
karena di bawah cercamu
aku merasa sangat perempuan.
karena di bawah selangkangmu
aku merasa sangat perempuan.
***
aku perempuan.
hidup untukmu untuk menjadi hidup.
25mei2002
Violet Eye
MANIFESTO: SENI ITU MURAH MERIAH!
ORANG ORANG SUDAH TERLALU LAMA BERPIKIRAN BAHWA SENI ADALAH HAK MILIK MUSEM-MUSEUM DAN ORANG ORANG KAYA SAJA. SENI BUKANLAH UNTUK DIPERJUAL BELIKAN!
SENI BUKANLAH MILIK BANK ATAU INVESTOR-INVESTOR FLAMBOYAN.
SENI ADALAH MAKANAN.
KAMU TIDAK BISA MEMAKANNYA, TAPI DIA BISA MEMBERI MAKAN KAMU.
SENI HARUSLAH MURAH DAN TERSEDIA BUAT SEMUA ORANG.
SENI HARUS ADA DIMANA MANA KARENA ITU ADALAH BAGIAN DALAM DARI DUNIA.
SENI ITU MENYEMBUHKAN LUKA!
SENI ITU MEMBANGUNKAN PARA PENIDUR!
SENI ITU BERPERANG MELAWAN PERANG DAN KEBODOHAN!
SENI ITU MENYANYIKAN HALELUYA!
SENI ADALAH UNTUK DI DAPUR!
SENI ADALAH LAYAKNYA ROTI YANG HANGAT LEZAT!
SENI ADALAH SEPERTI PEPOHONAN YANG HIJAU RIMBUN!
SENI ADALAH SEPERTI AWAN BIRU DI LANGIT!
SENI ITU MURAH!
HORREEEEE!
Bread & Puppet Glover, Vermont, Canada, 1984
ORANG ORANG SUDAH TERLALU LAMA BERPIKIRAN BAHWA SENI ADALAH HAK MILIK MUSEM-MUSEUM DAN ORANG ORANG KAYA SAJA. SENI BUKANLAH UNTUK DIPERJUAL BELIKAN!
SENI BUKANLAH MILIK BANK ATAU INVESTOR-INVESTOR FLAMBOYAN.
SENI ADALAH MAKANAN.
KAMU TIDAK BISA MEMAKANNYA, TAPI DIA BISA MEMBERI MAKAN KAMU.
SENI HARUSLAH MURAH DAN TERSEDIA BUAT SEMUA ORANG.
SENI HARUS ADA DIMANA MANA KARENA ITU ADALAH BAGIAN DALAM DARI DUNIA.
SENI ITU MENYEMBUHKAN LUKA!
SENI ITU MEMBANGUNKAN PARA PENIDUR!
SENI ITU BERPERANG MELAWAN PERANG DAN KEBODOHAN!
SENI ITU MENYANYIKAN HALELUYA!
SENI ADALAH UNTUK DI DAPUR!
SENI ADALAH LAYAKNYA ROTI YANG HANGAT LEZAT!
SENI ADALAH SEPERTI PEPOHONAN YANG HIJAU RIMBUN!
SENI ADALAH SEPERTI AWAN BIRU DI LANGIT!
SENI ITU MURAH!
HORREEEEE!
Bread & Puppet Glover, Vermont, Canada, 1984
SELAMANYA POSER !
Rasanya seperti tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi swasta terjelek. Seperti tidak mampu memenuhi syarat untuk layak hidup sebagai apa yang aku inginkan. Aku berambut keriting, dan aku ingin menjadi seorang punk. Hey, kalian semua diam saja dan setuju sajalah, punk adalah style ! Dan aku berambut keriting ! Jadi pilihannya hanyalah dua :
1. Menjadi skinhead.
2. Memakai kupluk.
Pilihan pertama tak masuk akal buatku, I hate sport, I hate patriotism, dan aku benci Tatoo ttg kebencian terhadap orang asia yang justru tergambar di lengan orang asia. Skinhead Against Racial Prejudice ? No way, man ! Mereka memukuli para anarkis yang membakar bendera Amerika dalam sebuah aksi di jalan. Red Anarchist Skinhead ? Sebuah sekte dimana kita harus mendaftar dan mengisi formulir terlebih dahulu ? Setelah itu berdiskusi tentang bagaimana membakar kultur primordial ? Eyuks ! Jangan bikin aku muntah, kawan. Pilihan pertama sudah jatuh, satu-satunya alternatif adalah pilihan kedua.
Maka aku memakai kupluk. Awalnya terasa aman dan lepas dari masalah. Namun aku tak merasakan rasa yang seharusnya dirasakan setiap punk, yaitu bebas dan nyaman dengan pilihanku sendiri. Terlebih sialnya lagi, aku paling benci membotakkan rambutku. Akhirnya kuputuskan untuk membiarkan saja semuanya apa adanya. Bila ada kupluk, aku memakainya, bila tidak, Persetan !
Aku ingin seperti mereka yang bila jaketnya tersobek karena perkelahian atau apapun, mereka membiarkan saja sobekan itu. Itulah punk ! Disitulah kerennya menjadi punk, dan punk yang asli akan tahu persis yang mana sobekan yang true dan yang mana sobekan yang dibuat-buat. Makanya aku tak berani mencoba merobek pakaianku sendiri, sebab aku bukan tipikal punk yang suka mencari gara-gara hanya agar pakaianku tersobek dan aku resmi menjadi seorang punk.
Alkohol, Pil, dan Hemp, adalah kurikulum seorang punk. Aku segera menjalaninya dengan ikhlas. Walaupun kata pak dokter setahun yang lalu fungsi leverku tinggal 30%, aku tetap saja minum nyaris setiap malam, yang bahkan dimulai dari pagi hari. Pil...8 tahun yang lalu, gigiku rontok karena mereka, tapi sekarang aku menelan mereka kembali, tapi tidak seperti yang orang-orang lain sarankan, aku tak mengunyahnya...aku menelannya langsung. Aku belum mau kehabisan gigi di umur 24.
"ABOLISH GOD !", katanya, jadi aku mencoba untuk melakukannya juga. Tapi gimana yah, kepada siapa aku akan membagi rasa bila egoku terpuaskan ? Egoku adalah aku yang teramat sangat aku, jadi bila egoku mengalami rasa senang, maka manusia bukanlah pilihan yang baik untuk berbagi. Namun setiap kali aku mengalami kesulitan atau kesusahan, aku sudah biasa untuk menikmatinya sendirian. Sedihku tak perlu untuk kubagi dengan siapapun dan apapun. So ? Apakah aku tak percaya eksistensi tUHAN hanya bila aku mengalami kesedihan atau kesusahan ? Atau yang seperti para tokoh punk itu bilang, Kalian adalah tUHAN kalian sendiri ? Mungkin itu benar, setiap orang butuh pegangan bila mengalami guncangan yang lebih besar dari daya tahannya. Egoku cukup kuat. Maka egoku adalah tUHAN ku. Ada masalah ?
Punk adalah politik, dan matilah punk apolitik. Itu konklusi yang kubangun dari semua literatur, zines, pamflet, dan apapun juga yang pernah kubaca. Kalimat itu jugalah yang mengakibatkan perkelahian antar sesama punk, yang membuktikan secara jelas untukku bahwa kita belum keluar dari kultur yang sangat purba dan merusak : Pengkotak-kotakan. Seorang punk kepalanya terbelah dibacok oleh punk lainnya, karena yang pertama mematahkan jari kelingking kiri seorang gitaris punk politis (kelingking kiri seorang gitaris adalah nyawa, kawan). Si gitaris, katanya pernah memaki dan menantang semua orang yg berada dibawah panggung, dan terpancinglah seorang punk yang kemudian melakukan pematahan jari kelingking itu. Sedangkan yang membacoknya ? Ia melakukannya karena dua alasan :
1. Ia juga seorang punk politis, dan membenci punk apolitis.
2. Sebagai seorang punk, maka ia harus solider terhadap sesama (Right or wrong, this is my friend ?).
Aku mulai bingung, mau kuarahkan kemana cerita ini, jadi maaf saja kalau cerita ini aneh atau bahkan jelek buat kalian. Sampai dimana kita tadi ? Oh, iya… sampai politis vs apolitis itu yah ? Dalam kebingunganku terhadap budaya counter culture yang ternyata tidak meng-counter apa-apa, dalam kebingungan melihat pertempuran horizontal oleh sekelompok orang yang sama sama dibenci publik (padahal para punk politik ini berjuang untuk kepentingan publik mayoritas, katanya), aku pernah mengklaim diriku sebagai punk apotik ! Mengapa bisa begitu ? Karena aku selalu membawa kapas dan alkohol 70% dalam ranselku, jadi aku selalu siap untuk mengobati para mohawk atau botak yang tolol-tolol ini.
Aku sudah mendatangi terlalu banyak kota untuk mengamati dan menganalisa tentang apa yang disebut ‘scene’. Dan ada satu kota yang paling lucu, sebab disana ada keributan (aku menyebutnya tragedi) yang mereka sebut sebagai Street Punks VS Political Punks. Jadi disana, apakah seorang street punk tidak boleh demonstrasi ? Dan apakah para political punk nya tidak berhak nyetrit ? Atau, tak adakah street punk yang boleh berpikir politis ? Kasihan... Polemik itu tidak hanya terjadi di jalanan, namun juga di dalam lirik-lirik lagu mereka ! Transedental conflict, dan keduanya mengakibatkan dendam yang selalu menghasilkan luka dan darah. Sebenarnya, cukup dengan fakta itu saja aku sudah layak untuk menghentikan niatku menjadi punk lalu membuka apotik saja. Paham kan ? Kalau tidak, buka jaket kulit kalian dan kembalilah ke sekolah, tolol !
Kemudian, aku ajak kalian kembali ke akarnya punk di Indonesia, yaitu musik dan fashion. Kalau boleh meminjam slogannya si Karl Marx, maka aku punya sebuah slogan baru : "BERSATULAH BAND PUNK KAMPUS SEDUNIA !", buatlah acara kalian di lingkungan kalian sendiri, dan jadilah punk intelek. Slogan kedua : "BERSATULAH PUNK PEMAKAI CLOTHING PALSU/ MURAHAN SEDUNIA !", lalu rusaklah acara-acara para punk kampusan dan intelek itu ! Kalau kalian buta huruf, tentu saja kalian tidak mampu menangkap konflik apa yang kuceritakan diatas.
Sudah kan ? Sudah cukup banyak kan kebobrokan dan ketololan yang kuangkat dari realita punks N’ Skins ini ? Padahal masih banyak yang lainnya, tapi kalian lebih tahulah...yang jelas, aku masih ingin menjadi seorang punk. Namun istilah "PUNK APOTIK" itu terlalu original untuk komunitas (yang katanya anti patriarki) pembenci originalitas dengan slogannya : ANTI COPYRIGHT. Jadi, apakah aku bisa menjadi punk tanpa image dan label ? Tidak mungkin ! Sejak lahir kita sudah diberi barcode, jadi lupakan saja apa yang pernah kalian baca tentang anti label dan image. Aku harus mencari satu kata dibelakang kata "punk", jika suatu saat aku ditanya "Elu punk apaan ?".
Kebosanan tak pernah membosankan. Kemuakkan meredakan rasa muak. Jadi aku mengklaim diriku sebagai POSER ! Punk poser, poseur, abal-abal, wannabe, trendy wanker, terserah darimana kalian memandangnya, itulah aku...! Poser is dead ? ha ha ha ha ha...apakah Johnny Rotten ketika lahir sudah mendapatkan ide untuk menempelkan peniti di bibir ratu Inggris ? Apakah kaki kalian hanya mau bergoyang untuk lagunya Cocksparrer,Crass, atau Los Crudos ? Tidak untuk GreenDay, Offspring, atau Noin Bullet ? Jangan-jangan kalianlah yang poser. Sudah sedemikian parahnya kalian di wanted oleh polisi dan seribu spy-nya,eh...ternyata kalian masih poser ! Kalau aku sih, memang poser, jadi apapun kebodohan yg kulakukan, akan sangat gampang untuk dibenarkan. Apologi adalah tUHAN ! Dan kalau kalian suatu saat bertemu aku, coba tanya "sejak kapan jadi punk ?", maka dengan sangat arogan dan muka melecehkan aku pasti menjawab,"mulai besok !"
Poser adalah proses, itu adalah aksioma. Sama saja seperti Punk adalah protes ! Seperti apapun kehidupan, jenis musik, ideologi dan bla bla bla lainnya, jika kalian adalah punk atau skin, maka hidup kalian akan penuh dengan protes ! Jadi setelah membaca tulisan ini (aku sendiri bingung, ini cerpen atau artikel), segeralah protes ke :
theChloroplast@yahoo.com
Nb : Seandainya rambutku tidak keriting, mungkin aku sudah kecemplung ke dalam kebodohan yang sama seperti apa yang kalian lakukan. Terprovokasi keyakinan sendiri ! Ego yang tolol ! Berkumpullah kalian semua, saling bergandengan tangan, satukan rasa dan jiwa, lalu berteriaklah bersamaan sekeras-kerasnya :
" FUCK UNITY !!! "
Apakah yang akan kalian rasakan ?
Choloroplast
Rasanya seperti tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi swasta terjelek. Seperti tidak mampu memenuhi syarat untuk layak hidup sebagai apa yang aku inginkan. Aku berambut keriting, dan aku ingin menjadi seorang punk. Hey, kalian semua diam saja dan setuju sajalah, punk adalah style ! Dan aku berambut keriting ! Jadi pilihannya hanyalah dua :
1. Menjadi skinhead.
2. Memakai kupluk.
Pilihan pertama tak masuk akal buatku, I hate sport, I hate patriotism, dan aku benci Tatoo ttg kebencian terhadap orang asia yang justru tergambar di lengan orang asia. Skinhead Against Racial Prejudice ? No way, man ! Mereka memukuli para anarkis yang membakar bendera Amerika dalam sebuah aksi di jalan. Red Anarchist Skinhead ? Sebuah sekte dimana kita harus mendaftar dan mengisi formulir terlebih dahulu ? Setelah itu berdiskusi tentang bagaimana membakar kultur primordial ? Eyuks ! Jangan bikin aku muntah, kawan. Pilihan pertama sudah jatuh, satu-satunya alternatif adalah pilihan kedua.
Maka aku memakai kupluk. Awalnya terasa aman dan lepas dari masalah. Namun aku tak merasakan rasa yang seharusnya dirasakan setiap punk, yaitu bebas dan nyaman dengan pilihanku sendiri. Terlebih sialnya lagi, aku paling benci membotakkan rambutku. Akhirnya kuputuskan untuk membiarkan saja semuanya apa adanya. Bila ada kupluk, aku memakainya, bila tidak, Persetan !
Aku ingin seperti mereka yang bila jaketnya tersobek karena perkelahian atau apapun, mereka membiarkan saja sobekan itu. Itulah punk ! Disitulah kerennya menjadi punk, dan punk yang asli akan tahu persis yang mana sobekan yang true dan yang mana sobekan yang dibuat-buat. Makanya aku tak berani mencoba merobek pakaianku sendiri, sebab aku bukan tipikal punk yang suka mencari gara-gara hanya agar pakaianku tersobek dan aku resmi menjadi seorang punk.
Alkohol, Pil, dan Hemp, adalah kurikulum seorang punk. Aku segera menjalaninya dengan ikhlas. Walaupun kata pak dokter setahun yang lalu fungsi leverku tinggal 30%, aku tetap saja minum nyaris setiap malam, yang bahkan dimulai dari pagi hari. Pil...8 tahun yang lalu, gigiku rontok karena mereka, tapi sekarang aku menelan mereka kembali, tapi tidak seperti yang orang-orang lain sarankan, aku tak mengunyahnya...aku menelannya langsung. Aku belum mau kehabisan gigi di umur 24.
"ABOLISH GOD !", katanya, jadi aku mencoba untuk melakukannya juga. Tapi gimana yah, kepada siapa aku akan membagi rasa bila egoku terpuaskan ? Egoku adalah aku yang teramat sangat aku, jadi bila egoku mengalami rasa senang, maka manusia bukanlah pilihan yang baik untuk berbagi. Namun setiap kali aku mengalami kesulitan atau kesusahan, aku sudah biasa untuk menikmatinya sendirian. Sedihku tak perlu untuk kubagi dengan siapapun dan apapun. So ? Apakah aku tak percaya eksistensi tUHAN hanya bila aku mengalami kesedihan atau kesusahan ? Atau yang seperti para tokoh punk itu bilang, Kalian adalah tUHAN kalian sendiri ? Mungkin itu benar, setiap orang butuh pegangan bila mengalami guncangan yang lebih besar dari daya tahannya. Egoku cukup kuat. Maka egoku adalah tUHAN ku. Ada masalah ?
Punk adalah politik, dan matilah punk apolitik. Itu konklusi yang kubangun dari semua literatur, zines, pamflet, dan apapun juga yang pernah kubaca. Kalimat itu jugalah yang mengakibatkan perkelahian antar sesama punk, yang membuktikan secara jelas untukku bahwa kita belum keluar dari kultur yang sangat purba dan merusak : Pengkotak-kotakan. Seorang punk kepalanya terbelah dibacok oleh punk lainnya, karena yang pertama mematahkan jari kelingking kiri seorang gitaris punk politis (kelingking kiri seorang gitaris adalah nyawa, kawan). Si gitaris, katanya pernah memaki dan menantang semua orang yg berada dibawah panggung, dan terpancinglah seorang punk yang kemudian melakukan pematahan jari kelingking itu. Sedangkan yang membacoknya ? Ia melakukannya karena dua alasan :
1. Ia juga seorang punk politis, dan membenci punk apolitis.
2. Sebagai seorang punk, maka ia harus solider terhadap sesama (Right or wrong, this is my friend ?).
Aku mulai bingung, mau kuarahkan kemana cerita ini, jadi maaf saja kalau cerita ini aneh atau bahkan jelek buat kalian. Sampai dimana kita tadi ? Oh, iya… sampai politis vs apolitis itu yah ? Dalam kebingunganku terhadap budaya counter culture yang ternyata tidak meng-counter apa-apa, dalam kebingungan melihat pertempuran horizontal oleh sekelompok orang yang sama sama dibenci publik (padahal para punk politik ini berjuang untuk kepentingan publik mayoritas, katanya), aku pernah mengklaim diriku sebagai punk apotik ! Mengapa bisa begitu ? Karena aku selalu membawa kapas dan alkohol 70% dalam ranselku, jadi aku selalu siap untuk mengobati para mohawk atau botak yang tolol-tolol ini.
Aku sudah mendatangi terlalu banyak kota untuk mengamati dan menganalisa tentang apa yang disebut ‘scene’. Dan ada satu kota yang paling lucu, sebab disana ada keributan (aku menyebutnya tragedi) yang mereka sebut sebagai Street Punks VS Political Punks. Jadi disana, apakah seorang street punk tidak boleh demonstrasi ? Dan apakah para political punk nya tidak berhak nyetrit ? Atau, tak adakah street punk yang boleh berpikir politis ? Kasihan... Polemik itu tidak hanya terjadi di jalanan, namun juga di dalam lirik-lirik lagu mereka ! Transedental conflict, dan keduanya mengakibatkan dendam yang selalu menghasilkan luka dan darah. Sebenarnya, cukup dengan fakta itu saja aku sudah layak untuk menghentikan niatku menjadi punk lalu membuka apotik saja. Paham kan ? Kalau tidak, buka jaket kulit kalian dan kembalilah ke sekolah, tolol !
Kemudian, aku ajak kalian kembali ke akarnya punk di Indonesia, yaitu musik dan fashion. Kalau boleh meminjam slogannya si Karl Marx, maka aku punya sebuah slogan baru : "BERSATULAH BAND PUNK KAMPUS SEDUNIA !", buatlah acara kalian di lingkungan kalian sendiri, dan jadilah punk intelek. Slogan kedua : "BERSATULAH PUNK PEMAKAI CLOTHING PALSU/ MURAHAN SEDUNIA !", lalu rusaklah acara-acara para punk kampusan dan intelek itu ! Kalau kalian buta huruf, tentu saja kalian tidak mampu menangkap konflik apa yang kuceritakan diatas.
Sudah kan ? Sudah cukup banyak kan kebobrokan dan ketololan yang kuangkat dari realita punks N’ Skins ini ? Padahal masih banyak yang lainnya, tapi kalian lebih tahulah...yang jelas, aku masih ingin menjadi seorang punk. Namun istilah "PUNK APOTIK" itu terlalu original untuk komunitas (yang katanya anti patriarki) pembenci originalitas dengan slogannya : ANTI COPYRIGHT. Jadi, apakah aku bisa menjadi punk tanpa image dan label ? Tidak mungkin ! Sejak lahir kita sudah diberi barcode, jadi lupakan saja apa yang pernah kalian baca tentang anti label dan image. Aku harus mencari satu kata dibelakang kata "punk", jika suatu saat aku ditanya "Elu punk apaan ?".
Kebosanan tak pernah membosankan. Kemuakkan meredakan rasa muak. Jadi aku mengklaim diriku sebagai POSER ! Punk poser, poseur, abal-abal, wannabe, trendy wanker, terserah darimana kalian memandangnya, itulah aku...! Poser is dead ? ha ha ha ha ha...apakah Johnny Rotten ketika lahir sudah mendapatkan ide untuk menempelkan peniti di bibir ratu Inggris ? Apakah kaki kalian hanya mau bergoyang untuk lagunya Cocksparrer,Crass, atau Los Crudos ? Tidak untuk GreenDay, Offspring, atau Noin Bullet ? Jangan-jangan kalianlah yang poser. Sudah sedemikian parahnya kalian di wanted oleh polisi dan seribu spy-nya,eh...ternyata kalian masih poser ! Kalau aku sih, memang poser, jadi apapun kebodohan yg kulakukan, akan sangat gampang untuk dibenarkan. Apologi adalah tUHAN ! Dan kalau kalian suatu saat bertemu aku, coba tanya "sejak kapan jadi punk ?", maka dengan sangat arogan dan muka melecehkan aku pasti menjawab,"mulai besok !"
Poser adalah proses, itu adalah aksioma. Sama saja seperti Punk adalah protes ! Seperti apapun kehidupan, jenis musik, ideologi dan bla bla bla lainnya, jika kalian adalah punk atau skin, maka hidup kalian akan penuh dengan protes ! Jadi setelah membaca tulisan ini (aku sendiri bingung, ini cerpen atau artikel), segeralah protes ke :
theChloroplast@yahoo.com
Nb : Seandainya rambutku tidak keriting, mungkin aku sudah kecemplung ke dalam kebodohan yang sama seperti apa yang kalian lakukan. Terprovokasi keyakinan sendiri ! Ego yang tolol ! Berkumpullah kalian semua, saling bergandengan tangan, satukan rasa dan jiwa, lalu berteriaklah bersamaan sekeras-kerasnya :
" FUCK UNITY !!! "
Apakah yang akan kalian rasakan ?
Choloroplast
EKSPLOITASI
Eksploitasi, telah identik dengan makna yang destruktif, pengrusakan
lingkungan alam, bahkan manusia. Pada intinya identifikasi tersebut
tidaklah salah, namun tidak juga sepenuhnya benar. Karena tidak
semua eksploitasi berujung sama dengan apa yang selama ini kita bayangkan.
Eksploitasi kurang lebih berarti perekrutan material dari suatu
sumber daya yang digunakan untuk keperluan dan tujuan tertentu.
Baik secara fisik maupun yang immateri. Objek eksploitasi tidak
melulu sumber daya alam, manusia pun dapat dikatakan sebagai sasaran
eksploitasi. Bahkan material-material yang abstrak seperti daya
pesona atau keindahan, bahkan aura dan daya erotis seorang perempuan
pun lelaki juga sumber eksploitasi.
Ilmu ekologi membagi dua eksploitasi: ekstraktif dan non ekstraktif.
Ekstraktif yakni eksploitasi dengan mengandalkan sumberdaya fisik,
seperti ikan pada laut, kayu pada hutan. Sedangkan non ekstraktif
yakni selain dari pada yang disebutkan diatas, yakni berupa non
materi. Seperti keindahan pegunungan yang dijadikan obyek wisata,
atau pemandangan bawah laut yang menjadi situs penyelaman. Bahkan
dapat berupa replika atau cinderamata, seperti kaus bergambar paus
biru untuk souvenir pada atraksi Blue Whale Watching, lukisan pemandangan
hutan yang dijual sekitar lokasi. Intinya tidak mengambil sumberdaya
yang bersangkutan, tetapi memanfaatkan dengan pengalihan materi dari fisik ke non fisik.
Berarti sangat salah bila hanya karena tuntutan ekonomi, orang lantas
serta merta menguras isi bumi yang mengakibatkan goyahnya keseimbangan
ekosistem. Karena dengan pemanfaatan non ekstraktif, ternyata nominalnya
jauh lebih besar dari sekedar pemanfaatan ekstraktif. Seperti pada
situs-situs selam di dunia, dimana terumbu karang sebagai objek
utamanya, dikelilingi ikan-ikan karang. Jika dibandingkan antara
ikan-ikan tersebut yang ditangkap dan kemudian dijual, dengan ikan-ikan
alami yang masih lestari di sekitar terumbu karang tersebut, nilai
jualnya sangat jauh lebih mahal pada ikan-ikan pada ekosistem terumbu tersebut!!
Jadi tak ada lagi lasan perut untuk merusak ekosistem, ‘kan?
Pinko Pinko (Uravnilovka@lycos.com)
Eksploitasi, telah identik dengan makna yang destruktif, pengrusakan
lingkungan alam, bahkan manusia. Pada intinya identifikasi tersebut
tidaklah salah, namun tidak juga sepenuhnya benar. Karena tidak
semua eksploitasi berujung sama dengan apa yang selama ini kita bayangkan.
Eksploitasi kurang lebih berarti perekrutan material dari suatu
sumber daya yang digunakan untuk keperluan dan tujuan tertentu.
Baik secara fisik maupun yang immateri. Objek eksploitasi tidak
melulu sumber daya alam, manusia pun dapat dikatakan sebagai sasaran
eksploitasi. Bahkan material-material yang abstrak seperti daya
pesona atau keindahan, bahkan aura dan daya erotis seorang perempuan
pun lelaki juga sumber eksploitasi.
Ilmu ekologi membagi dua eksploitasi: ekstraktif dan non ekstraktif.
Ekstraktif yakni eksploitasi dengan mengandalkan sumberdaya fisik,
seperti ikan pada laut, kayu pada hutan. Sedangkan non ekstraktif
yakni selain dari pada yang disebutkan diatas, yakni berupa non
materi. Seperti keindahan pegunungan yang dijadikan obyek wisata,
atau pemandangan bawah laut yang menjadi situs penyelaman. Bahkan
dapat berupa replika atau cinderamata, seperti kaus bergambar paus
biru untuk souvenir pada atraksi Blue Whale Watching, lukisan pemandangan
hutan yang dijual sekitar lokasi. Intinya tidak mengambil sumberdaya
yang bersangkutan, tetapi memanfaatkan dengan pengalihan materi dari fisik ke non fisik.
Berarti sangat salah bila hanya karena tuntutan ekonomi, orang lantas
serta merta menguras isi bumi yang mengakibatkan goyahnya keseimbangan
ekosistem. Karena dengan pemanfaatan non ekstraktif, ternyata nominalnya
jauh lebih besar dari sekedar pemanfaatan ekstraktif. Seperti pada
situs-situs selam di dunia, dimana terumbu karang sebagai objek
utamanya, dikelilingi ikan-ikan karang. Jika dibandingkan antara
ikan-ikan tersebut yang ditangkap dan kemudian dijual, dengan ikan-ikan
alami yang masih lestari di sekitar terumbu karang tersebut, nilai
jualnya sangat jauh lebih mahal pada ikan-ikan pada ekosistem terumbu tersebut!!
Jadi tak ada lagi lasan perut untuk merusak ekosistem, ‘kan?
Pinko Pinko (Uravnilovka@lycos.com)
AKU BUKAN PUNK!
Padahal, aku punya lebih banyak bacaan punk (setelah aku kenal dengan punk tentunya---thank’s Ka) disbanding bacaan lainnya.Malah sekarang aku kebanyakan nongkong sama anak-anak punk, atau sobatan sama punk, dibanding anak metal yang jadi imejku karena news letter yang kutulis itu melulu metal isinya. Aku bukan tidak suka punk mentah-mentah, juga suka punk mentah-mentah.
Terus terang, dulu aku memang tidak suka yang segala yang berbau punk, meskipun aku sudah mengenal musik underground sudah lama. Alasanku, karena gaya dan dandanan anak punk yang aku nilai rese banget, musiknya tidak karu-karuan. Tidak seperti anak metal yang mungkin dandanannya serem, tapi adem-ayem aja. Mabok juga nggak pernah ribut. Ini…ini dari yang aku
kenal.
Jadi anak punk nya norak dan rese, anak death metalnya keren. Meskipun musiknya juga hingar bingar. Tapi lebih cocok di telingaku ketimbang musik punk. Sampai sekarang pun aku jarang sekali dengar lagu punk. Paling dengar kalau teman-teman punk ku manggung.
Sejauh ini band punk yang aku tahu hanya Rancid dan Bad Religion. Aku dengar Bad Religion waktu temanku bawa kaset itu ke rumahku. Rancid? Aku sama sekali tidak pernah dengar Rancid. Aku cuma punya baju merah hadiah dari temanku yang gambarnya Rancid.
Yang kutahu juga kalau punk itu identik dengan politik. Sesuatu yang tidak aku sukai. Ha…mesti banyak yang protes. Tapi aku berhak donk menyatakan kalau aku tidak suka politik. Kendati hidup itu sendiri politik. Politik ku cuma sampai segitu. Secara kasar aku tidak suka politik karena politik yang kutahu harus kotor dan licik. Aku tidak suka. Itu saja….
Trus ada teman yang ngenalin aku sama punk, dan bilang kalau punk bukan hanya sekedar punk yang aku sering lihat. Dia bilang memang punk pertama dari fashionnya dulu, trus ke musik, trus ke ideologinya. Bener juga sih, aku tidak yakin semua anak punk yang taunya mohawk mengerti ideologi punk sebenarnya. Tapi arahnya pasti kesitu. ( Cukup sederhana kan?)
Lalu aku mulai berpikir untuk mengenal punk lebih dalam. Untung saja, ada yang mau berteman dengan aku. Mulanya sih, aku mau cari bahan buat newsletter ku. Sekalian curi ilmu.Ternyata…punk yang kuingin dekati memang seperti punk
yang kuinginkan. Karena meskipun aku dulu anti punk, tapi tetap aja berharap punk tidak seperti yang kuduga. Alasannya punk, metal dan kawan-kawannya masihlah tetap satu komuniti underground yang sampai sekarang masih ku puja.
Tau tidak? Sejak McDonalds ada, aku memang tidak suka.Karena aku pikir harganya terlalu mahal untuk ayam sekeras itu. Lagian makan di tempat junkfood kaya’ gitu hanya untuk borju-borju sok. Lalu setelah kenalan dengan punk, setidaknya aku punya alasan kenapa aku tidak suka McD dan tambah tidak suka McDonalds. Meskipun aku tidak menganggapnya propaganda. Toh hampir setiap temanku dari kalangan mainstream yang tau alasanku juga ikut-ikutan tidak makan di McDonalds, tidak minum Coca-Cola dan anti Amerika. Hi..hi…hi!
Yang membuatku takjub, apa yang seorang punk perjuangkan, kurang lebih sama dengan apa yang kuperjuangkan. Aku tidak suka apa aja yang tidak adil dan tidak manusiawi. Sejak kecil. Sampai Bapak dan guru sekolah dulu menyebutku pemberontak. Trus aku bisa dibilang punk donk! Ah..tunggu dulu. Justru karena aku terkagum-kagum dengan pandangan hidup punk dan segala perjuangannya itu. Aku malah makin takut jadi punk.
Untuk menjadi punk aku rasa butuh tanggung jawab yang besar. Bukan hanya meneriakkan ketidak puasan kita kemana-mana, ikut demo, sebar flyer. Ikut-ikutan nyetreet. Tapi lebih jauhnya lagi harus mempertanggung jawabkan punk itu sendiri terhadap diri kita sendiri.
Sepunk apa kita untuk berteriak-teriak kalau kita punk. Sepeka apa kita pada diri sendiri dan lingkungan terdekat untuk mengklaim diri kalau kita begitu peduli. Untuk apa berteriak-teriak menganjurkan kiri kanan untuk mencegah polusi udara, sementara kita sendiri masih merokok. Membuat polusi dalam badan kita sendiri. Bagaimana mungkin memikirkan kelestarian lingkungan hidup dunia. Masih nonton televisi, memakai kendaraan, mana bisa begitu berteriak-teriak menentang kapitalisme. Bergantung pada orang tua yang pegawai negeri, pantas tidak berkoar-koar menjatuhkan pemerintahan, etc..etc... (sok tau ya..). Memang pemikiranku senaif itu.
Bukannya juga aku berharap seorang punk begitu sempurna. Aku tau seorang punk memiliki pandangan tentang punk itu sendiri. Mempunyai cara untuk membuat punk tetap ada. Seperti halnya aku. Aku memiliki pandangan sederhana, dan mengagumi.
Tentu saja aku belum bisa menerapkan punk dalam hidup dan pandangan hidupku. Sungguhpun sebagian besar kehidupan punk cocok dengan kehidupanku, utamanya dengan etos kerja D.I.Y. yang kental banget. Sementara aku masih seperti kebanyakan cewek lainnya. Berdandan manis, ikut acara keluarga. Kerja di industri kapitalis. Membuat komplotan cewek yang ingin menguasai dunia. Semua itu masih aku butuhkan dan belum bisa aku tinggalkan. Mana berani pake jins ketat, jaket kulit dan rambut di mohawk. Itu kan bisa merusak rambut. Ha..ha..ha.. (meskipun sampe sekarang aku masih berambisi untuk bertato). Aku lebih nyaman memakai jins atau celana kargo, kaos dan cardigan item kesayanganku. Aku harus merasa nyaman dengan apa yang kupakai dan apa yang kuinginkan. Bukan apa yang orang lain liat dan orang lain pikirkan. Aku masih lebih suka kalau hidupku tipikal bahagia dan berkecukupan. Just like that simple!
Kalau aku kagum sama punk. Aku hanya bisa setuju kalau punk itu harus menentang otoriter yang ada.Memperjuangkan nasib rakyat kecil, buruh, perempuan dan petani. Menentang dwi fungsi TNI. Peduli sama lingkungan. Mendukung pelestarian hewan. Aku setuju…setuju banget, lebihnya lagi mendukung dengan segala kemampuan yang aku punya. Walau kemampuan itu tidak maksimal aku gunakan.Yang aku lakukan hanya sekecil-kecil yang dapat aku lakukan. Ya itu tadi. Hanya sebatas berjuang untuk diriku sendiri. Belum untuk orang banyak. Yang kuyakinkan sampai sekarang adalah. Bila suatu saat semua musuh tak dapat aku lawan dan makin menglobal, barangkali aku yang akan menglobal dan memanfaatkan musuh untuk kemenanganku. Aku tidak pernah menganggap diriku dieksploitasi oleh orang-orang yang kalian sebut kapitalis, moralis, dll…., tetapi aku yang akan menggunakan mereka untuk kepentinganku. Sekali lagi…kepentinganku…keinginanku!
Kalau aku tidak memakai produk yang menggunakan animal test, artinya bukan aku peduli sekali sama binatang yang dijadikan percobaan itu. Tapi aku lebih peduli pada diriku sendiri yang tidak mau jadi konsumen benda-benda menjijikkan itu.
Kalau aku tidak suka buang sampah sembarangan juga bukan berarti peduli banget dengan ozon yang bocor dan pencemaran lingkungan yang sangat parah akhir-akhir ini. Lebihnya, mataku memang tidak suka sesuatu yang ‘berantakan’.
Kalau aku tidak suka TNI, bukan juga karena peduli pada nasib orang yang ditindas oleh TNI. Aku lebih suka beralasan kalau orang-orang TNI yang aku kenal itu semua sok jago dan suka memandang enteng perempuan.
Kalau aku suka nyetreet, ya karena aku kebetulan hobi nongkrong di jalan sejak kuliah dan memulai hidup mandiri 7 tahun lalu. Sekarang sih agak-agak repot karena ketimbang dingin-dinginan di luar, aku lebih suka diam membaca di kamar.
Kalau aku suka membaca bacaan punk, sama halnya aku suka membaca News Letter dan Zine metal, Femina, Hai, Tabloid Rock, Kariage, Kobo Chan, Kungfu Boy… Semua aku baca untuk memperluas pengetahuan dan wawasanku selain aku menganggap membaca itu hiburan utamaku.
Aku memang bukan punk, tapi aku peduli. Aku tidak perlu jadi punk agar dapat bertahan dengan pandangan-pandangan dan keyakinanku. Tak perlu jadi punk untuk belajar tentang punk. Tak usah jadi punk untuk ikut acara-acara yang dipenuhi sama anak punk.
Aku percaya, tidak akan ada ruginya menjadi aku. Tak perlu juga memikirkan tujuan yang muluk-muluk untuk menjadi aku.
Itulah sebabnya aku kurang suka berdebat dan mengeluarkan pendapatku. Karena apa yang jalani lebih baik kalau tidak diikuti. Orang seperti aku kurang memiliki kepekaan selain keinginan untuk terus bertahan hidup di dunia keparat ini. Jadi apa-apa yang jadi keinginanku, aku tidak merasa orang lain harus setuju. Sebaliknya aku berusaha menghargai pendapat orang. Kalau aku tidak setuju, setidak-tidaknya aku tidak harus mengikuti kan?
Aku bukan punk. Meski aku merasa bukan anak metal. Aku tidak terlalu keberatan dipanggil metal. Aku memang suka segala sesuatu yang berbau musik metal karena hobby. Tapi sebaiknya jangan yaa… Panggil saja namaku.UNI…..
Setuju atau tidak, aku tidak suka memberi label pada diriku. Kalau aku ikutan milis, ikutan diskusi, doyan menyimak setting demo, melahap bacaan-bacaan punk dan suka sama ideologi punk, berteman dengan kalian semua, tidak salah juga kan?
Aku menghargai semua itu. Kalau bisa, ingin rasanya terjun kedalamnya. Pengen ikut demo panas-panasan dan berorasi. Hafal semua band punk dan nyanyi sama-sama di bibir panggung. Sayangnya keterbatasanku tidak memungkinkan untuk itu. Lebih baik tidak daripada ikut-ikutan tapi tidak mampu. Masih banyak yang ingin aku ketahui, selain punk atau underground. Masih banyak hal di dunia ini yang belum kujamah. Sangat kompleks memang!
Juga tidak fokus.Tapi bisa jadi dengan begini malah tidak membebani.Kalau nantinya ada yang bilang aku poser karena sikap apatis yang kontradiktif sama sikap simpatiku. Ya terserah saja… Aku bisa bilang, aku memang bukan punk. Tapi kalo ditanya tentang punk, aku juga tidak bego-bego amat, hihihi!
Aku bukan punk. Tapi tetap simpati sama punk. Tetap cayang sama semua teman punk ku. Luv yaa….
Nique……still bleeding!!!! (indignasi@yahoo.com)
Padahal, aku punya lebih banyak bacaan punk (setelah aku kenal dengan punk tentunya---thank’s Ka) disbanding bacaan lainnya.Malah sekarang aku kebanyakan nongkong sama anak-anak punk, atau sobatan sama punk, dibanding anak metal yang jadi imejku karena news letter yang kutulis itu melulu metal isinya. Aku bukan tidak suka punk mentah-mentah, juga suka punk mentah-mentah.
Terus terang, dulu aku memang tidak suka yang segala yang berbau punk, meskipun aku sudah mengenal musik underground sudah lama. Alasanku, karena gaya dan dandanan anak punk yang aku nilai rese banget, musiknya tidak karu-karuan. Tidak seperti anak metal yang mungkin dandanannya serem, tapi adem-ayem aja. Mabok juga nggak pernah ribut. Ini…ini dari yang aku
kenal.
Jadi anak punk nya norak dan rese, anak death metalnya keren. Meskipun musiknya juga hingar bingar. Tapi lebih cocok di telingaku ketimbang musik punk. Sampai sekarang pun aku jarang sekali dengar lagu punk. Paling dengar kalau teman-teman punk ku manggung.
Sejauh ini band punk yang aku tahu hanya Rancid dan Bad Religion. Aku dengar Bad Religion waktu temanku bawa kaset itu ke rumahku. Rancid? Aku sama sekali tidak pernah dengar Rancid. Aku cuma punya baju merah hadiah dari temanku yang gambarnya Rancid.
Yang kutahu juga kalau punk itu identik dengan politik. Sesuatu yang tidak aku sukai. Ha…mesti banyak yang protes. Tapi aku berhak donk menyatakan kalau aku tidak suka politik. Kendati hidup itu sendiri politik. Politik ku cuma sampai segitu. Secara kasar aku tidak suka politik karena politik yang kutahu harus kotor dan licik. Aku tidak suka. Itu saja….
Trus ada teman yang ngenalin aku sama punk, dan bilang kalau punk bukan hanya sekedar punk yang aku sering lihat. Dia bilang memang punk pertama dari fashionnya dulu, trus ke musik, trus ke ideologinya. Bener juga sih, aku tidak yakin semua anak punk yang taunya mohawk mengerti ideologi punk sebenarnya. Tapi arahnya pasti kesitu. ( Cukup sederhana kan?)
Lalu aku mulai berpikir untuk mengenal punk lebih dalam. Untung saja, ada yang mau berteman dengan aku. Mulanya sih, aku mau cari bahan buat newsletter ku. Sekalian curi ilmu.Ternyata…punk yang kuingin dekati memang seperti punk
yang kuinginkan. Karena meskipun aku dulu anti punk, tapi tetap aja berharap punk tidak seperti yang kuduga. Alasannya punk, metal dan kawan-kawannya masihlah tetap satu komuniti underground yang sampai sekarang masih ku puja.
Tau tidak? Sejak McDonalds ada, aku memang tidak suka.Karena aku pikir harganya terlalu mahal untuk ayam sekeras itu. Lagian makan di tempat junkfood kaya’ gitu hanya untuk borju-borju sok. Lalu setelah kenalan dengan punk, setidaknya aku punya alasan kenapa aku tidak suka McD dan tambah tidak suka McDonalds. Meskipun aku tidak menganggapnya propaganda. Toh hampir setiap temanku dari kalangan mainstream yang tau alasanku juga ikut-ikutan tidak makan di McDonalds, tidak minum Coca-Cola dan anti Amerika. Hi..hi…hi!
Yang membuatku takjub, apa yang seorang punk perjuangkan, kurang lebih sama dengan apa yang kuperjuangkan. Aku tidak suka apa aja yang tidak adil dan tidak manusiawi. Sejak kecil. Sampai Bapak dan guru sekolah dulu menyebutku pemberontak. Trus aku bisa dibilang punk donk! Ah..tunggu dulu. Justru karena aku terkagum-kagum dengan pandangan hidup punk dan segala perjuangannya itu. Aku malah makin takut jadi punk.
Untuk menjadi punk aku rasa butuh tanggung jawab yang besar. Bukan hanya meneriakkan ketidak puasan kita kemana-mana, ikut demo, sebar flyer. Ikut-ikutan nyetreet. Tapi lebih jauhnya lagi harus mempertanggung jawabkan punk itu sendiri terhadap diri kita sendiri.
Sepunk apa kita untuk berteriak-teriak kalau kita punk. Sepeka apa kita pada diri sendiri dan lingkungan terdekat untuk mengklaim diri kalau kita begitu peduli. Untuk apa berteriak-teriak menganjurkan kiri kanan untuk mencegah polusi udara, sementara kita sendiri masih merokok. Membuat polusi dalam badan kita sendiri. Bagaimana mungkin memikirkan kelestarian lingkungan hidup dunia. Masih nonton televisi, memakai kendaraan, mana bisa begitu berteriak-teriak menentang kapitalisme. Bergantung pada orang tua yang pegawai negeri, pantas tidak berkoar-koar menjatuhkan pemerintahan, etc..etc... (sok tau ya..). Memang pemikiranku senaif itu.
Bukannya juga aku berharap seorang punk begitu sempurna. Aku tau seorang punk memiliki pandangan tentang punk itu sendiri. Mempunyai cara untuk membuat punk tetap ada. Seperti halnya aku. Aku memiliki pandangan sederhana, dan mengagumi.
Tentu saja aku belum bisa menerapkan punk dalam hidup dan pandangan hidupku. Sungguhpun sebagian besar kehidupan punk cocok dengan kehidupanku, utamanya dengan etos kerja D.I.Y. yang kental banget. Sementara aku masih seperti kebanyakan cewek lainnya. Berdandan manis, ikut acara keluarga. Kerja di industri kapitalis. Membuat komplotan cewek yang ingin menguasai dunia. Semua itu masih aku butuhkan dan belum bisa aku tinggalkan. Mana berani pake jins ketat, jaket kulit dan rambut di mohawk. Itu kan bisa merusak rambut. Ha..ha..ha.. (meskipun sampe sekarang aku masih berambisi untuk bertato). Aku lebih nyaman memakai jins atau celana kargo, kaos dan cardigan item kesayanganku. Aku harus merasa nyaman dengan apa yang kupakai dan apa yang kuinginkan. Bukan apa yang orang lain liat dan orang lain pikirkan. Aku masih lebih suka kalau hidupku tipikal bahagia dan berkecukupan. Just like that simple!
Kalau aku kagum sama punk. Aku hanya bisa setuju kalau punk itu harus menentang otoriter yang ada.Memperjuangkan nasib rakyat kecil, buruh, perempuan dan petani. Menentang dwi fungsi TNI. Peduli sama lingkungan. Mendukung pelestarian hewan. Aku setuju…setuju banget, lebihnya lagi mendukung dengan segala kemampuan yang aku punya. Walau kemampuan itu tidak maksimal aku gunakan.Yang aku lakukan hanya sekecil-kecil yang dapat aku lakukan. Ya itu tadi. Hanya sebatas berjuang untuk diriku sendiri. Belum untuk orang banyak. Yang kuyakinkan sampai sekarang adalah. Bila suatu saat semua musuh tak dapat aku lawan dan makin menglobal, barangkali aku yang akan menglobal dan memanfaatkan musuh untuk kemenanganku. Aku tidak pernah menganggap diriku dieksploitasi oleh orang-orang yang kalian sebut kapitalis, moralis, dll…., tetapi aku yang akan menggunakan mereka untuk kepentinganku. Sekali lagi…kepentinganku…keinginanku!
Kalau aku tidak memakai produk yang menggunakan animal test, artinya bukan aku peduli sekali sama binatang yang dijadikan percobaan itu. Tapi aku lebih peduli pada diriku sendiri yang tidak mau jadi konsumen benda-benda menjijikkan itu.
Kalau aku tidak suka buang sampah sembarangan juga bukan berarti peduli banget dengan ozon yang bocor dan pencemaran lingkungan yang sangat parah akhir-akhir ini. Lebihnya, mataku memang tidak suka sesuatu yang ‘berantakan’.
Kalau aku tidak suka TNI, bukan juga karena peduli pada nasib orang yang ditindas oleh TNI. Aku lebih suka beralasan kalau orang-orang TNI yang aku kenal itu semua sok jago dan suka memandang enteng perempuan.
Kalau aku suka nyetreet, ya karena aku kebetulan hobi nongkrong di jalan sejak kuliah dan memulai hidup mandiri 7 tahun lalu. Sekarang sih agak-agak repot karena ketimbang dingin-dinginan di luar, aku lebih suka diam membaca di kamar.
Kalau aku suka membaca bacaan punk, sama halnya aku suka membaca News Letter dan Zine metal, Femina, Hai, Tabloid Rock, Kariage, Kobo Chan, Kungfu Boy… Semua aku baca untuk memperluas pengetahuan dan wawasanku selain aku menganggap membaca itu hiburan utamaku.
Aku memang bukan punk, tapi aku peduli. Aku tidak perlu jadi punk agar dapat bertahan dengan pandangan-pandangan dan keyakinanku. Tak perlu jadi punk untuk belajar tentang punk. Tak usah jadi punk untuk ikut acara-acara yang dipenuhi sama anak punk.
Aku percaya, tidak akan ada ruginya menjadi aku. Tak perlu juga memikirkan tujuan yang muluk-muluk untuk menjadi aku.
Itulah sebabnya aku kurang suka berdebat dan mengeluarkan pendapatku. Karena apa yang jalani lebih baik kalau tidak diikuti. Orang seperti aku kurang memiliki kepekaan selain keinginan untuk terus bertahan hidup di dunia keparat ini. Jadi apa-apa yang jadi keinginanku, aku tidak merasa orang lain harus setuju. Sebaliknya aku berusaha menghargai pendapat orang. Kalau aku tidak setuju, setidak-tidaknya aku tidak harus mengikuti kan?
Aku bukan punk. Meski aku merasa bukan anak metal. Aku tidak terlalu keberatan dipanggil metal. Aku memang suka segala sesuatu yang berbau musik metal karena hobby. Tapi sebaiknya jangan yaa… Panggil saja namaku.UNI…..
Setuju atau tidak, aku tidak suka memberi label pada diriku. Kalau aku ikutan milis, ikutan diskusi, doyan menyimak setting demo, melahap bacaan-bacaan punk dan suka sama ideologi punk, berteman dengan kalian semua, tidak salah juga kan?
Aku menghargai semua itu. Kalau bisa, ingin rasanya terjun kedalamnya. Pengen ikut demo panas-panasan dan berorasi. Hafal semua band punk dan nyanyi sama-sama di bibir panggung. Sayangnya keterbatasanku tidak memungkinkan untuk itu. Lebih baik tidak daripada ikut-ikutan tapi tidak mampu. Masih banyak yang ingin aku ketahui, selain punk atau underground. Masih banyak hal di dunia ini yang belum kujamah. Sangat kompleks memang!
Juga tidak fokus.Tapi bisa jadi dengan begini malah tidak membebani.Kalau nantinya ada yang bilang aku poser karena sikap apatis yang kontradiktif sama sikap simpatiku. Ya terserah saja… Aku bisa bilang, aku memang bukan punk. Tapi kalo ditanya tentang punk, aku juga tidak bego-bego amat, hihihi!
Aku bukan punk. Tapi tetap simpati sama punk. Tetap cayang sama semua teman punk ku. Luv yaa….
Nique……still bleeding!!!! (indignasi@yahoo.com)
PERAGU
Diam dibisukan
Tak percaya segala hal
Berpandangan sempit dan metodis
Meyakini yang diyakini
Meyakini yang tak diyakini
Tapi bukan yang tak punya keyakinan
Kebisingan dalam kebisuanku
Kulewati diam terpenjara
Kuterjebak ketakutan ciptaanku
Belenggu jiwa
Penjara batin
Pecahkan otakku,
Aku hanya sedang ragu
Dalam keraguan ini ku ingin berontak
Menghentikannya dan pertajam diri
Meraih pemahaman yang lebih jauh
-Demoralis-
Diam dibisukan
Tak percaya segala hal
Berpandangan sempit dan metodis
Meyakini yang diyakini
Meyakini yang tak diyakini
Tapi bukan yang tak punya keyakinan
Kebisingan dalam kebisuanku
Kulewati diam terpenjara
Kuterjebak ketakutan ciptaanku
Belenggu jiwa
Penjara batin
Pecahkan otakku,
Aku hanya sedang ragu
Dalam keraguan ini ku ingin berontak
Menghentikannya dan pertajam diri
Meraih pemahaman yang lebih jauh
-Demoralis-
ORANG-ORANG ANEH, ITULAH KALIAN!
orang-orang aneh dan menarik diri dari masyarakat
selalu tak pernah punya tempat. mereka selalu pada
akhirnya menjadi sendiri, apatis dan cenderung
individualis, bahkan menjadi narcis karena kelukaannya
terhadap rejeksi dan eksploitasi eksistensinya yang
diklaim 'menyimpang'. pada akhirnya orang-orang aneh
lebih suka menyepi dan bermonolog. lalu timbullah
kecenderungan menjadi lebih idealis dengan
filsafat-filsafat keterasingannya. mungkin sebab
itulah orang-orang aneh pada umumnya agak fucking
idealis.
aku sebagai orang aneh, telah jauh tersepak dan
tersingkir dari kebudayaan mainstream. dari kebudayaan
konservatif timur yang alot. kebudayaan tuhan yang
mengakarkan kasta-kasta, diferensiasi dan
startifikasi... antara si normal dan abnormal. adapun
pengertian normal dan abnormal itu hanya taksa belaka.
ya.. aku memang benci bangsa kita! masyarakat yang
hipokrit, kapitalis dan patriarkhis. masyarakat
religius dengan laskar jihadnya yang mengacau.
pemimpin-pemimpin hedonis. daerah-daerah aristokrasi
kultuis seperti jogja dan bali. republik kita sampah!
demokrasi kita omong kosong! negara kita RACUN!!!
ibarat sudah jatuh, ketiban tangga pula. itulah
persisnya orang aneh yang berdomisili di bumi pertiwi
republik indonesia ini. itulah persisnya diriku. sudah
terasing dari mainstream sebagai cewek punk, terasing
pula dalam komunitas lesbianku sebagai andro (yang
agak bisex) kata mereka, aku orang yang plin-plan
karena tak bisa menempatkan diri dengan konsekuen.
ah.. aku bosan untuk menetapkan status genderku. aku
bosan untuk menetapkan posisiku. maka bacalah puisiku
ini!!
KHUNTA #1
aku ingin pensiun jadi perempuan!
jadi yang terbelenggu!
aku ingin keluar!
aku ingin melompat!
menerjang barikade satu persatu!
sampai tiada satupun benteng!
sampai luas seluas bimasakti!
aku ingin beridentitas!
aku ingin memperkosa!
aku ingin menguasai malam!
aku ingin seangkuh patriarkhy!
AKU TIDAK SEBAGAI PEREMPUAN APALAGI LAKI-LAKI!
akhirnya aku beraliansi menjadi yang berbahagia
sebagai terejeksi. apatis sedikit tak apalah.
senangnya aku jadi yang tersepak keluar kandang. dapat
kartu merah. untunglah aku keluar dari lingkaran
eksekusi konservatif perempuan. diameternya cuma 4 cm.
terlalu sempit untuk bergerak. aku keluar dari
lingkaran itu. aku menjadi banci. tak berjenis
kelamin. maka dengarlah puisiku ini untuk para banci!
KHUNTA #2
satu hapusan gincu darah meluapkan egonya yang
terbalik bersamar geram
dia melangkah ke dalam genangan kaca lalu terpantul
serat-serat maskul yang ngilu
satu tak kan bisa direpetisi lagi
rahangnya sudah terpaku ke torax
dia tak butuh penekanan makna
linen basah dan satin lembab ditolaknya ke tepian
keranjang yang kadang terlompatlah keluar secercah dua
cercah noda tepat di ujung segitiga penghabisan
satu satin telah putus dan longgar
dua linen sudah tercarut
dunianya ada sepasang
dunianya terbagi dua
kenyataannya tak bisa diobjeksi lagi
pada mata dia adalah amerika
pada hati dia adalah rusia
pada matahati keduanya berperang
selain aneh, keinginan orang-orang aneh ternyata jauh
lebih aneh bahkan tidak relevan dengan jaman kapitalis
yang serba birokrat. tapi prinsipnya tetap tak
terkalahkan dan tak kan pernah berubah...
yaitu, "CUEK BABE!!!!
AND WHO THE HELL ARE YOU ANYWAY!!!!!!
VIVA WEIRD PEOPLE"
(punxanthipe@yahoo.com)
orang-orang aneh dan menarik diri dari masyarakat
selalu tak pernah punya tempat. mereka selalu pada
akhirnya menjadi sendiri, apatis dan cenderung
individualis, bahkan menjadi narcis karena kelukaannya
terhadap rejeksi dan eksploitasi eksistensinya yang
diklaim 'menyimpang'. pada akhirnya orang-orang aneh
lebih suka menyepi dan bermonolog. lalu timbullah
kecenderungan menjadi lebih idealis dengan
filsafat-filsafat keterasingannya. mungkin sebab
itulah orang-orang aneh pada umumnya agak fucking
idealis.
aku sebagai orang aneh, telah jauh tersepak dan
tersingkir dari kebudayaan mainstream. dari kebudayaan
konservatif timur yang alot. kebudayaan tuhan yang
mengakarkan kasta-kasta, diferensiasi dan
startifikasi... antara si normal dan abnormal. adapun
pengertian normal dan abnormal itu hanya taksa belaka.
ya.. aku memang benci bangsa kita! masyarakat yang
hipokrit, kapitalis dan patriarkhis. masyarakat
religius dengan laskar jihadnya yang mengacau.
pemimpin-pemimpin hedonis. daerah-daerah aristokrasi
kultuis seperti jogja dan bali. republik kita sampah!
demokrasi kita omong kosong! negara kita RACUN!!!
ibarat sudah jatuh, ketiban tangga pula. itulah
persisnya orang aneh yang berdomisili di bumi pertiwi
republik indonesia ini. itulah persisnya diriku. sudah
terasing dari mainstream sebagai cewek punk, terasing
pula dalam komunitas lesbianku sebagai andro (yang
agak bisex) kata mereka, aku orang yang plin-plan
karena tak bisa menempatkan diri dengan konsekuen.
ah.. aku bosan untuk menetapkan status genderku. aku
bosan untuk menetapkan posisiku. maka bacalah puisiku
ini!!
KHUNTA #1
aku ingin pensiun jadi perempuan!
jadi yang terbelenggu!
aku ingin keluar!
aku ingin melompat!
menerjang barikade satu persatu!
sampai tiada satupun benteng!
sampai luas seluas bimasakti!
aku ingin beridentitas!
aku ingin memperkosa!
aku ingin menguasai malam!
aku ingin seangkuh patriarkhy!
AKU TIDAK SEBAGAI PEREMPUAN APALAGI LAKI-LAKI!
akhirnya aku beraliansi menjadi yang berbahagia
sebagai terejeksi. apatis sedikit tak apalah.
senangnya aku jadi yang tersepak keluar kandang. dapat
kartu merah. untunglah aku keluar dari lingkaran
eksekusi konservatif perempuan. diameternya cuma 4 cm.
terlalu sempit untuk bergerak. aku keluar dari
lingkaran itu. aku menjadi banci. tak berjenis
kelamin. maka dengarlah puisiku ini untuk para banci!
KHUNTA #2
satu hapusan gincu darah meluapkan egonya yang
terbalik bersamar geram
dia melangkah ke dalam genangan kaca lalu terpantul
serat-serat maskul yang ngilu
satu tak kan bisa direpetisi lagi
rahangnya sudah terpaku ke torax
dia tak butuh penekanan makna
linen basah dan satin lembab ditolaknya ke tepian
keranjang yang kadang terlompatlah keluar secercah dua
cercah noda tepat di ujung segitiga penghabisan
satu satin telah putus dan longgar
dua linen sudah tercarut
dunianya ada sepasang
dunianya terbagi dua
kenyataannya tak bisa diobjeksi lagi
pada mata dia adalah amerika
pada hati dia adalah rusia
pada matahati keduanya berperang
selain aneh, keinginan orang-orang aneh ternyata jauh
lebih aneh bahkan tidak relevan dengan jaman kapitalis
yang serba birokrat. tapi prinsipnya tetap tak
terkalahkan dan tak kan pernah berubah...
yaitu, "CUEK BABE!!!!
AND WHO THE HELL ARE YOU ANYWAY!!!!!!
VIVA WEIRD PEOPLE"
(punxanthipe@yahoo.com)
BEING FASHIONABLE IS NOT A CRIME, GIRL!
berhentilah mencapai titik ideal feminin! gunakanlah
dirimu apa adanya dan banggalah menjadi perempuan!
fashion stereotip kita adalah feminine. seperti apa
rupa feminin itu aku pun tak tau. yang jelas
tante-tante aktivis feminis dimana pun mereka berada
menentang pengeksploitasian perempuan dalam fashion.
menjadi perempuan selalu tak pernah lepas dari
tuntutan femininitas baik dalam berprilaku atau
berpenampilan. terlalu ortodoks memang. tapi
patriarkhis selalu menang dan egois.
patriarkhis selalu terpedaya akan kekuatan seksualitas
perempuan. oleh karena itu fashion pun selalu
tereksplorasi untuk mentransparansi kekuatan
tersembunyi tersebut. seperti misalnya busana-busana
minimalis yang selalu menjadi trend. akibatnya
perempuan hanya jadi korban komoditi fashion dan kaum
patriarkhis hanya semakin puas bermain dengan
libidonya sendiri.
namun bukan lantas kita harus membenci tubuh kita
sendiri. sebaliknya, cintailah tubuh kita dan
hargailah mereka. biarkan mereka berbicara dan
berekspresi seperti apa adanya mereka. apapun! aku
mungkin satu-satunya orang yang TIDAK menentang daya
pikat seksualitas peerempuan. dan aku BUKAN penentang
fashion-fashion minimalis yang seksis. hanya saja aku
mengutuk trend fashion yang membutakan perempuan.
terseret kesana kemari. terombang-ambing oleh
stereotip patriarkhis akan tuntutan untuk menjadi
feminin yang tak berkesudahan.
memandang fashion dengan lugas sekaligus vulgar adalah
memang kekuatan perempuan. percaya atau tidak, tak ada
kekuatan yang lebih atas daripada itu yang mampu
mengalahkannya. ada ataupun tidak. sadar ataupun
tidak. perempuan sudah bergerak menyadari eksistensi
dirinya. bukan dengan kekuasaan! tidak dengan verbal,
propaganda maupun orasi-orasi! cukup dengan fashion!
independen bukan?!
berpakaian minim dan simpel tak kan pernah merugikan.
bahaya laten seksisme hanyalah sugesti. seperti hantu.
seperti dongeng ibu bapakmu. seperti mitos tuhanmu.
ketakutan yang tak beralasan.
struktur tubuh perempuan memang indah. ukuran susu,
pinggang, pinggul dan pantat. semuanya begitu
artistik. membutakan laki-laki (jangankan laki-laki,
aku saja sudah sangat dibuat buta oleh keindahan
perempuan). dan kita sudah pun menang! kita telah
merdeka! kita sudah setara! setara dalam sedikit
perbedaan fisik. kalau mau sombong mungkin kita sudah
setingkat diatas kepala laki-laki yang hanya
tergantung pada seksualitas perempuan. tapi tak
perlulah terlalu angkuh dan besar kepala. lama-lama
kepala itu bisa pecah juga saking besarnya. cukup
hanya untuk disadari bahwa kita tetap setara dan eksis
dengan makhluk apapun dimuka bumi ini saudari-saudari!
kita ternyata masih menginjakkan kaki di bumi dengan
kebebasan ber fashion dan dipuja oleh laki-laki! coba
bayangkan kalau trend fashion berikutnya malah
'telanjang'? apa laki-laki itu jadi bersembah sujud,
bertekuk lutut atau bahkan menjilati kaki kita?! kalau
begitu mereka sama saja dengan gali lubang terperosok
sendiri. termakan sendiri dengan tuntutan femininitas
gila mereka. saat tak satu pun perempuan di dunia ini
yang mampu dikuasai, dicekoki nilai-nilai budaya
otoriter patriarkhy. maka tak perlulah kita membenci
britney spears atau christina aguilera. kita bisa
belajar dari cara mereka menyadari eksistensi mereka
dengan berfashion (tentu saja tidak harus berfashion
seperti mereka) mereka mencintai tubuh mereka. kenapa
kita tidak?!?!?! kenalilah diri kita dan marilah berfashion!!
nb: tulisan ini sedikit subjektif karena aku memang
perempuan yang sangat fashion sekali:p
(punxanthipe@yahoo.com)
berhentilah mencapai titik ideal feminin! gunakanlah
dirimu apa adanya dan banggalah menjadi perempuan!
fashion stereotip kita adalah feminine. seperti apa
rupa feminin itu aku pun tak tau. yang jelas
tante-tante aktivis feminis dimana pun mereka berada
menentang pengeksploitasian perempuan dalam fashion.
menjadi perempuan selalu tak pernah lepas dari
tuntutan femininitas baik dalam berprilaku atau
berpenampilan. terlalu ortodoks memang. tapi
patriarkhis selalu menang dan egois.
patriarkhis selalu terpedaya akan kekuatan seksualitas
perempuan. oleh karena itu fashion pun selalu
tereksplorasi untuk mentransparansi kekuatan
tersembunyi tersebut. seperti misalnya busana-busana
minimalis yang selalu menjadi trend. akibatnya
perempuan hanya jadi korban komoditi fashion dan kaum
patriarkhis hanya semakin puas bermain dengan
libidonya sendiri.
namun bukan lantas kita harus membenci tubuh kita
sendiri. sebaliknya, cintailah tubuh kita dan
hargailah mereka. biarkan mereka berbicara dan
berekspresi seperti apa adanya mereka. apapun! aku
mungkin satu-satunya orang yang TIDAK menentang daya
pikat seksualitas peerempuan. dan aku BUKAN penentang
fashion-fashion minimalis yang seksis. hanya saja aku
mengutuk trend fashion yang membutakan perempuan.
terseret kesana kemari. terombang-ambing oleh
stereotip patriarkhis akan tuntutan untuk menjadi
feminin yang tak berkesudahan.
memandang fashion dengan lugas sekaligus vulgar adalah
memang kekuatan perempuan. percaya atau tidak, tak ada
kekuatan yang lebih atas daripada itu yang mampu
mengalahkannya. ada ataupun tidak. sadar ataupun
tidak. perempuan sudah bergerak menyadari eksistensi
dirinya. bukan dengan kekuasaan! tidak dengan verbal,
propaganda maupun orasi-orasi! cukup dengan fashion!
independen bukan?!
berpakaian minim dan simpel tak kan pernah merugikan.
bahaya laten seksisme hanyalah sugesti. seperti hantu.
seperti dongeng ibu bapakmu. seperti mitos tuhanmu.
ketakutan yang tak beralasan.
struktur tubuh perempuan memang indah. ukuran susu,
pinggang, pinggul dan pantat. semuanya begitu
artistik. membutakan laki-laki (jangankan laki-laki,
aku saja sudah sangat dibuat buta oleh keindahan
perempuan). dan kita sudah pun menang! kita telah
merdeka! kita sudah setara! setara dalam sedikit
perbedaan fisik. kalau mau sombong mungkin kita sudah
setingkat diatas kepala laki-laki yang hanya
tergantung pada seksualitas perempuan. tapi tak
perlulah terlalu angkuh dan besar kepala. lama-lama
kepala itu bisa pecah juga saking besarnya. cukup
hanya untuk disadari bahwa kita tetap setara dan eksis
dengan makhluk apapun dimuka bumi ini saudari-saudari!
kita ternyata masih menginjakkan kaki di bumi dengan
kebebasan ber fashion dan dipuja oleh laki-laki! coba
bayangkan kalau trend fashion berikutnya malah
'telanjang'? apa laki-laki itu jadi bersembah sujud,
bertekuk lutut atau bahkan menjilati kaki kita?! kalau
begitu mereka sama saja dengan gali lubang terperosok
sendiri. termakan sendiri dengan tuntutan femininitas
gila mereka. saat tak satu pun perempuan di dunia ini
yang mampu dikuasai, dicekoki nilai-nilai budaya
otoriter patriarkhy. maka tak perlulah kita membenci
britney spears atau christina aguilera. kita bisa
belajar dari cara mereka menyadari eksistensi mereka
dengan berfashion (tentu saja tidak harus berfashion
seperti mereka) mereka mencintai tubuh mereka. kenapa
kita tidak?!?!?! kenalilah diri kita dan marilah berfashion!!
nb: tulisan ini sedikit subjektif karena aku memang
perempuan yang sangat fashion sekali:p
(punxanthipe@yahoo.com)
URBAN:ZINE SAMPAH!
Itu kata Gareng, salah satu editor zine Urban dari Jakarta. Masih banyak lagi ceritanya tentang zine yang hingga hari ini ternyata sudah mencapai nomor 14! (Salut!-V-) ini. Tapi disini, Gareng memang tidak mewakili kedua editor Urban lainnya yaitu Deefrac dan Terong, melainkan dari pengalamannya pribadi. Oke? Mulai!
Kenapa namanya Urban?
Oh... nama Urban itu dipake’ karena... dari segi nama panjangnya ‘Untuk Rakyat Bawah Tanah’, ya lebih cocok aja dengan tujuan awal pembentukan media bacaan ini, sebagai media komunikasi, bagi-bagi informasi, serta media belajar bersama tentang tema-tema seputar punk dan politik bagi kawan-kawan ‘bawah tanah’. Ehm, pada sekitar akhir tahun 1999, kalau nggak salah,... khususnya di Jakarta, memang lagi belum berkembang, media bacaan yang fokusnya ada pada masalah bawah tanah sekaligus dengan masalah belajar politik. Terus... kalau dari segi singkatannya ‘Urban’... ya, enak aja, dan cukup mudah diinget !
Isinya apa aja ?
Fokus isunya ada pada masalah budaya bawah tanah (khususnya punk) dan politik. Gue rasa dua masalah ini memang menarik dan... saling berkaitan satu dengan lainnya. Di satu sisi, budaya bawah tanah bisa dipahami sebagai bentuk reaksi dari adanya kehidupan sosial dan politik yang ‘tidak nyaman’... dan, di sisi lainnya rasanya cukup kreatif apabila kita bisa menggunakan apa yang ada di dalam budaya bawah tanah, seperti musik, untuk media belajar politik. Coba, kalau belajar politik hanya dengan baca buku yang isinya tulisan semua, halamannya tebal, wah pasti suntuk dan membosankan...
Distribusinya kemana aja ?
Distribusi... yang gue tau pasti sudah sampai Aceh, Jakarta, Bandung, Blitar, Kebumen, Jember, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan... Malaysia dan Amerika. Kolektif yang banyak ngebantu penyebarluasannya, Berontak Distro (Jakarta), Kolektif Kontra Kultura (Bandung), Sayap Kolektif (Yogyakarta... nggak tau nih, yang ini masih aktif, apa nggak !) dan No System Distro (Blitar)...
Siapa aja editornya?
‘Personil’-nya ada... Gareng, Deefrac, Terong. Untuk tulisan-tulisan tentang lingkungan, biasanya yang nulis si Royan (tinggal di Kalimantan Timur)... terus, kadang-kadang dalam penyediaan materi, juga sering dibantu sama Haram Jadah !
Bentuknya apa aja, selain cetak?
Hanya cetakkk... uh, jantungku ber-cetakkk dengan kerasnya... ups...
Bagaimana cara bikinnya?
Langkah-langkahnya... baca buku, belajar, cari dan denger berita yang menarik, ngelamun, bengong, ngobrol sana-sini, minum kopi, tidur, nulis, gambar, buat cut ‘n paste (kolase !), periksa dulu, apa masih ada yang kurang ?... dan, photokopi... taa daa... selesai, Urban keluar !
Bagaimana cara ndapetin Urban?
Cara ngedapetin Urban... ha, hubungi alamat-alamat distro yang sudah gue sebutin di atas... atau langsung aja ketemu dengan gue, e-mail dulu akan sangat membantu transaksi kita sayang... ehm, kalau yang langsung ketemu sama gue, bisa gratis (kalau gue lagi baik hati !) atau tukeran atau photokopi sendiri...
Udah ada berapa edisi?
Sampai tulisan wawancara ini di buat, Urban sudah sampai # 14...
Ada edisi spesial atau yang paling susah atau gampang membuatnya?
Yang paling sulit... yang # 14, karena halamannya lebih tebal dari yang biasanya. Dan, kalau yang paling ‘wow keren !’... rasanya, nggak ada tuh ! Nggak dari satu nomerpun Urban yang pantas mendapat gelar ‘keren’... semuanya sampah...
Kenapa bikin zine ini ?
Alasan gue buat zine... ini ada hubungannya dengan awal pembentukan Urban... seperti yang gue udah ceritain di awal wawancara ini. Yaitu, ada keinginan gue dan beberapa orang kawan dari AFRA (Aksi Anti Fasisme / Rasisme) untuk memenuhi kebutuhan bagi ‘kekosongan’ media bacaan yang menyediakan informasi, sekaligus sebagai media belajar bersama mengenai masalah budaya bawah tanah dan politik. Tahun 1999 di Jakarta masih sepi tuh, kehadiran media bacaan bawah tanah... kalaupun ada, itu lebih memfokuskan pada masalah ‘musik’ bawah tanahnya saja.
Pesen buat yang pengen bikin zine ?
Pesan gue... baca buku, belajar, cari dan denger berita yang menarik, ngelamun, bengong, ngobrol sana-sini, tidur, mulai menulis... jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru, jangan takut untuk membuat zine elu sendiri !
Urban zine (pacultani@hotmail.com)
Itu kata Gareng, salah satu editor zine Urban dari Jakarta. Masih banyak lagi ceritanya tentang zine yang hingga hari ini ternyata sudah mencapai nomor 14! (Salut!-V-) ini. Tapi disini, Gareng memang tidak mewakili kedua editor Urban lainnya yaitu Deefrac dan Terong, melainkan dari pengalamannya pribadi. Oke? Mulai!
Kenapa namanya Urban?
Oh... nama Urban itu dipake’ karena... dari segi nama panjangnya ‘Untuk Rakyat Bawah Tanah’, ya lebih cocok aja dengan tujuan awal pembentukan media bacaan ini, sebagai media komunikasi, bagi-bagi informasi, serta media belajar bersama tentang tema-tema seputar punk dan politik bagi kawan-kawan ‘bawah tanah’. Ehm, pada sekitar akhir tahun 1999, kalau nggak salah,... khususnya di Jakarta, memang lagi belum berkembang, media bacaan yang fokusnya ada pada masalah bawah tanah sekaligus dengan masalah belajar politik. Terus... kalau dari segi singkatannya ‘Urban’... ya, enak aja, dan cukup mudah diinget !
Isinya apa aja ?
Fokus isunya ada pada masalah budaya bawah tanah (khususnya punk) dan politik. Gue rasa dua masalah ini memang menarik dan... saling berkaitan satu dengan lainnya. Di satu sisi, budaya bawah tanah bisa dipahami sebagai bentuk reaksi dari adanya kehidupan sosial dan politik yang ‘tidak nyaman’... dan, di sisi lainnya rasanya cukup kreatif apabila kita bisa menggunakan apa yang ada di dalam budaya bawah tanah, seperti musik, untuk media belajar politik. Coba, kalau belajar politik hanya dengan baca buku yang isinya tulisan semua, halamannya tebal, wah pasti suntuk dan membosankan...
Distribusinya kemana aja ?
Distribusi... yang gue tau pasti sudah sampai Aceh, Jakarta, Bandung, Blitar, Kebumen, Jember, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Bali, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan... Malaysia dan Amerika. Kolektif yang banyak ngebantu penyebarluasannya, Berontak Distro (Jakarta), Kolektif Kontra Kultura (Bandung), Sayap Kolektif (Yogyakarta... nggak tau nih, yang ini masih aktif, apa nggak !) dan No System Distro (Blitar)...
Siapa aja editornya?
‘Personil’-nya ada... Gareng, Deefrac, Terong. Untuk tulisan-tulisan tentang lingkungan, biasanya yang nulis si Royan (tinggal di Kalimantan Timur)... terus, kadang-kadang dalam penyediaan materi, juga sering dibantu sama Haram Jadah !
Bentuknya apa aja, selain cetak?
Hanya cetakkk... uh, jantungku ber-cetakkk dengan kerasnya... ups...
Bagaimana cara bikinnya?
Langkah-langkahnya... baca buku, belajar, cari dan denger berita yang menarik, ngelamun, bengong, ngobrol sana-sini, minum kopi, tidur, nulis, gambar, buat cut ‘n paste (kolase !), periksa dulu, apa masih ada yang kurang ?... dan, photokopi... taa daa... selesai, Urban keluar !
Bagaimana cara ndapetin Urban?
Cara ngedapetin Urban... ha, hubungi alamat-alamat distro yang sudah gue sebutin di atas... atau langsung aja ketemu dengan gue, e-mail dulu akan sangat membantu transaksi kita sayang... ehm, kalau yang langsung ketemu sama gue, bisa gratis (kalau gue lagi baik hati !) atau tukeran atau photokopi sendiri...
Udah ada berapa edisi?
Sampai tulisan wawancara ini di buat, Urban sudah sampai # 14...
Ada edisi spesial atau yang paling susah atau gampang membuatnya?
Yang paling sulit... yang # 14, karena halamannya lebih tebal dari yang biasanya. Dan, kalau yang paling ‘wow keren !’... rasanya, nggak ada tuh ! Nggak dari satu nomerpun Urban yang pantas mendapat gelar ‘keren’... semuanya sampah...
Kenapa bikin zine ini ?
Alasan gue buat zine... ini ada hubungannya dengan awal pembentukan Urban... seperti yang gue udah ceritain di awal wawancara ini. Yaitu, ada keinginan gue dan beberapa orang kawan dari AFRA (Aksi Anti Fasisme / Rasisme) untuk memenuhi kebutuhan bagi ‘kekosongan’ media bacaan yang menyediakan informasi, sekaligus sebagai media belajar bersama mengenai masalah budaya bawah tanah dan politik. Tahun 1999 di Jakarta masih sepi tuh, kehadiran media bacaan bawah tanah... kalaupun ada, itu lebih memfokuskan pada masalah ‘musik’ bawah tanahnya saja.
Pesen buat yang pengen bikin zine ?
Pesan gue... baca buku, belajar, cari dan denger berita yang menarik, ngelamun, bengong, ngobrol sana-sini, tidur, mulai menulis... jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru, jangan takut untuk membuat zine elu sendiri !
Urban zine (pacultani@hotmail.com)
KOMUNISME ATAU KONSUMERISME?
24 Desember 2000.
Salah satu televisi swasta kita menyajikan sebuah liputan tentang aktivitas penduduk dari berbagai belahan dunia dalam menyambut hari Natal. Saya menyaksikan wajah-wajah yang penuh kebahagiaan mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari Natal. Sebenarnya saya pun saat itu merasakan kebahagiaan yang relatif sama dengan mereka , karena dua hari setelah hari Natal adalah hari Lebaran. Semula saya memprediksikan suasana di Indonesia akan penuh rasa bahagia dan kemeriahan, ketika hampir semua rakyatnya merayakan hari rayanya pada waktu yang nyaris bersamaan ini. Namun sayangnya ( agar lebih sopan : BANGSATNYA !) bangsa kita tidak dikelola dengan baik oleh negara kita !
Oke, tahan dulu maki-makian pada aparat kita, sebab bukan itu yang ingin saya telaah dalam essai ini. Kita kembali pada cerita saya tadi. Semakin dalam saya menyimak liputan itu, semakin terbuka otak ini. Apa yang saya lihat di TV saya, menstimulasi otak untuk membentuk sebuah opini, yang akan saya coba paparkan dalam essai ini.
Saya melihat perbedaan-perbedaan substansial yang sangat nyata pada penduduk negara-negara yang ditayangkan tersebut dalam mempersiapkan keperluan Natalnya. Hal inilah yang ingin saya diskusikan dengan teman-teman. Perhatikan baik-baik :
* Di Inggris dan Amerika Serikat, aktivitas yang paling dominan dilakukan oleh penduduk setempat adalah menyerbu toko-toko obralan, membeli barang-barang yang diobral habis habisan oleh si pemilik toko/mall tersebut. Barang-barang itulah yang lalu saling diberikan pada sesama teman, keluarga, dan kerabat sebagai hadiah Natal. Dan bagi karyawan toko/mall yang bersedia lembur pada hari-hari itu mendapatkan bonus. Lalu bagi yang mau bekerja di hari Natal, akan mendapat bonus yang lebih tinggi lagi. Dan bagi para pemilik usaha ? Teman-teman jelas mampu menjawab sendiri. Kesimpulan yang bisa ditarik : Di negara-negara kapitalistik, profit telah mengganti posisi Tuhan !
* Di Kuba, sama sekali tidak terlihat hal-hal seperti diatas. Saya saksikan, penduduk kota Havana menikmati hari-hari pra Natal dengan berjalan-jalan, menikmati suasana yang berbeda. Tak ada orang yang tergesa-gesa, sangat sedikit mobil yang terlihat berseliweran di jalan. Mereka juga bebelanja memenuhi segala kebutuhan untuk Natal nanti, tapi setelah segala keperluan sudah dibeli, mereka membawanya pulang, dan melanjutkan jalan-jalannya. Tak terlihat kecenderungan untuk membeli barang yang tidak direncanakan sebelumnya. Terekam di kamera, sepasang suami istri berusia senja membeli tiga kuntum bunga (entah bunga apa) dari seorang anak perempuan kecil penjual bunga, lalu bunga-bunga itu dibagi tiga oleh si bapak, satu untuknya, satu untuk istrinya, dan satu untuk si penjual bunga. Kesimpulan : Walaupun tidak memiliki tingkat kemakmuran yang tinggi, Kuba mampu membangun dan meratakan nilai-nilai kemanusiaan kepada rakyatnya.
· Di RRC, walaupun perayaan hari Natal dibatasi dan diawasi oleh pemerintah (melalui sebuah badan
sejenis politbiro), namun pemerintah juga mengharuskan semua aktivitas perekonomian di seluruh
negara agar berhenti pada tanggal 25 Desember. Semua buruh diliburkan, tanpa mengalami
pemotongan upah, apapun agamanya. Sebuah bukti penghormatan terhadap kaum religius di Cina.
Kesimpulan : RRC mencoba memberikan rasa keadilan bagi semua manusia penghuninya.
Tiga sampel yang dibuat oleh 90% subjektifisme, dan 10% anti kapitalisme ?
Saya akui, paparan di atas terasa unfair. Tesis yang hanya dari satu perspektif saja. Tapi itulah yang tergambar dan terdengar dari TV saya ! Saya tak bisa disalahkan. Tampaknya stasiun televisi yang memproduksi tayangan tersebut sengaja bersikap subjektif. Aneh, tapi menggembirakan.
Akan tetapi kita semua sadar bahwa sebelum kita beropini atau bahkan membangun konklusi , kita harus mengamati tiga sampel diatas secara lebih objektif, itu adalah keharusan. Sebab opini yang objektif adalah akal sehat, sedangkan opini yang subjektif adalah emosi dan fanatisme.
Fase berikutnya adalah menggulirkan suatu diskursus dialektik tentang tiga sampel di atas, dan dengan menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang ada saat penulisan ini untuk bisa diajak bertukar pendapat, maka proses dialektikapun bergulir di dalam kepala saya sendiri. Proses dialektika berbentuk renungan berbasis rasio empirik pun berlangsung. Dan setelah beberapa saat, saya sampai pada tiga antitesis berikut :
· Apa salahnya jika konsumen di AS membeli sebuah boneka (misalnya,) yang selama ini dijual dengan harga 30 $, tapi khusus satu minggu sebelum natal harganya turun menjadi hanya 15 $ ? Apa salahnya jika karyawan mendapat bonus tinggi bekerja di hari Natal, karena hari apapun namanya, konsumen tetap saja perlu pelayanan. Lagipula, karyawan-karyawan yang mau bekerja di hari Natal tersebut sudah tak merasa ada yang istimewa lagi pada hari Natal itu. Sama saja dengan hari biasa. Anda tahu Amerika, bukan ? Pokoknya, selama semua pihak merasa diuntungkan dan senang, kehidupan akan terus berjalan. This is American freedom !
· Penduduk di Kuba, hanya kelihatannya saja tidak tertarik pada kehidupan glamour penuh foya-foya ala tetangganya, AS. Mereka membeli barang-barang hanya seperlunya, karena mereka tidak punya uang ! Mereka telah begitu dalam dibodohi oleh Fidel Castro tentang kehidupan sosialis semi komunis ala Guevara, hingga semua dibagi rata. Contoh : suami istri tua itu !
* RRC ? Kasus itu yang termudah jawabannya. Penguasa disana sengaja mengeluarkan
kebijakan double standard, agar citra penguasa menjadi semakin dipuja-puji oleh
rakyatnya dari semua kelompok. Kaum religius, kaum pekerja, pemilik modal, semua akan
bertepuk tangan. Dan ke mata internasional, imej RRC yang dulu kelabu akan menjadi
terang benderang. Ingat ! RRC akan merubah sistem perekonomiannya menjadi
perekonomian liberalis. Dan pola ekonomi semacam itu sangat bergantung pada mata
internasional melihat negara mereka. Mudah saja bukan ?
Suatu antitesa yang realistis dan hebat ! Suatu bantahan yang menyiratkan bahwa sistem kapitalistik tak selalu bersalah. Sebagian teman-teman mungkin tidak butuh waktu lama untuk menemukan bantahannya kembali, tetapi di mata orang awam, antitesa ini sangat realistis, bahkan mampu membuat seorang pro kiri pun tertarik untuk “membelot”.
Tak ada yang kekal di alam semesta kecuali perubahan. Dan asumsikan saja kalau ternyata tiga antitesis itulah yang benar dibandingkan tiga tesis pertama. Tetapi kita adalah generasi baru Indonesia yang berhaluan kiri, bukan ? Dan kita semua tahu mengapa sejarah mencatat tokoh-tokoh kiri dunia sebagai orang yang kritis dan selalu melangkah di depan ? Karena kaum kiri tidak pernah puas terhadap satu penjelasan, selalu mencari kebenaran baru di manapun ia bersembunyi, walau akhirnya dibantah lagi. Terus terang, saya sendiri mengalami kesulitan untuk menciptakan sintesa dari tiga opini mengenai kasus-kasus di atas. Dan lucunya, opini-opini tersebut lahir dari otak saya sendiri !
Tampaknya, otak saya yang berkemampuan ‘sedang’ ini membutuhkan waktu lagi untuk berdialektika, mengkaji, mencari data yang akurat untuk bisa menjatuhkan tiga buah antitesa diatas. Dan ada baiknya sebelum essai sambungan selesai disusun, teman-teman pun mencoba (sedikit memaksa) untuk berdialektika, dalam bentuk diskusi ataupun perenungan yang rasionil empirik. Semoga bila essai lanjutannya saya berikan, teman-teman akan tertawa dan berteriak :
“kamu terlambat…!”
Essai ini saya rencanakan untuk bersifat serial/ berkesinambungan, mengangkat issu dan topik apa saja di alam semesta ini, dengan sebuah misi utama, yaitu menciptakan revolusi pola pikir di otak pembacanya, dengan kadar agitasi seminimal mungkin. Jadi andaikata teman-teman yang membaca essai ini (dan essai-essai yang akan datang) tak kunjung mengalami revolusi pola pikir (walau sudah dipaksa), minimal dia harus mampu untuk membuat terjadinya revolusi pola pikir saya sendiri. Terima kasih atas kesediaan teman-teman mempelototi essai sederhana, yang ‘ semua orang pasti bisa membuatnya’ ini.
Debu Bintang Merah (tikus_dapur@angelfire.com)
24 Desember 2000.
Salah satu televisi swasta kita menyajikan sebuah liputan tentang aktivitas penduduk dari berbagai belahan dunia dalam menyambut hari Natal. Saya menyaksikan wajah-wajah yang penuh kebahagiaan mempersiapkan segala sesuatunya untuk hari Natal. Sebenarnya saya pun saat itu merasakan kebahagiaan yang relatif sama dengan mereka , karena dua hari setelah hari Natal adalah hari Lebaran. Semula saya memprediksikan suasana di Indonesia akan penuh rasa bahagia dan kemeriahan, ketika hampir semua rakyatnya merayakan hari rayanya pada waktu yang nyaris bersamaan ini. Namun sayangnya ( agar lebih sopan : BANGSATNYA !) bangsa kita tidak dikelola dengan baik oleh negara kita !
Oke, tahan dulu maki-makian pada aparat kita, sebab bukan itu yang ingin saya telaah dalam essai ini. Kita kembali pada cerita saya tadi. Semakin dalam saya menyimak liputan itu, semakin terbuka otak ini. Apa yang saya lihat di TV saya, menstimulasi otak untuk membentuk sebuah opini, yang akan saya coba paparkan dalam essai ini.
Saya melihat perbedaan-perbedaan substansial yang sangat nyata pada penduduk negara-negara yang ditayangkan tersebut dalam mempersiapkan keperluan Natalnya. Hal inilah yang ingin saya diskusikan dengan teman-teman. Perhatikan baik-baik :
* Di Inggris dan Amerika Serikat, aktivitas yang paling dominan dilakukan oleh penduduk setempat adalah menyerbu toko-toko obralan, membeli barang-barang yang diobral habis habisan oleh si pemilik toko/mall tersebut. Barang-barang itulah yang lalu saling diberikan pada sesama teman, keluarga, dan kerabat sebagai hadiah Natal. Dan bagi karyawan toko/mall yang bersedia lembur pada hari-hari itu mendapatkan bonus. Lalu bagi yang mau bekerja di hari Natal, akan mendapat bonus yang lebih tinggi lagi. Dan bagi para pemilik usaha ? Teman-teman jelas mampu menjawab sendiri. Kesimpulan yang bisa ditarik : Di negara-negara kapitalistik, profit telah mengganti posisi Tuhan !
* Di Kuba, sama sekali tidak terlihat hal-hal seperti diatas. Saya saksikan, penduduk kota Havana menikmati hari-hari pra Natal dengan berjalan-jalan, menikmati suasana yang berbeda. Tak ada orang yang tergesa-gesa, sangat sedikit mobil yang terlihat berseliweran di jalan. Mereka juga bebelanja memenuhi segala kebutuhan untuk Natal nanti, tapi setelah segala keperluan sudah dibeli, mereka membawanya pulang, dan melanjutkan jalan-jalannya. Tak terlihat kecenderungan untuk membeli barang yang tidak direncanakan sebelumnya. Terekam di kamera, sepasang suami istri berusia senja membeli tiga kuntum bunga (entah bunga apa) dari seorang anak perempuan kecil penjual bunga, lalu bunga-bunga itu dibagi tiga oleh si bapak, satu untuknya, satu untuk istrinya, dan satu untuk si penjual bunga. Kesimpulan : Walaupun tidak memiliki tingkat kemakmuran yang tinggi, Kuba mampu membangun dan meratakan nilai-nilai kemanusiaan kepada rakyatnya.
· Di RRC, walaupun perayaan hari Natal dibatasi dan diawasi oleh pemerintah (melalui sebuah badan
sejenis politbiro), namun pemerintah juga mengharuskan semua aktivitas perekonomian di seluruh
negara agar berhenti pada tanggal 25 Desember. Semua buruh diliburkan, tanpa mengalami
pemotongan upah, apapun agamanya. Sebuah bukti penghormatan terhadap kaum religius di Cina.
Kesimpulan : RRC mencoba memberikan rasa keadilan bagi semua manusia penghuninya.
Tiga sampel yang dibuat oleh 90% subjektifisme, dan 10% anti kapitalisme ?
Saya akui, paparan di atas terasa unfair. Tesis yang hanya dari satu perspektif saja. Tapi itulah yang tergambar dan terdengar dari TV saya ! Saya tak bisa disalahkan. Tampaknya stasiun televisi yang memproduksi tayangan tersebut sengaja bersikap subjektif. Aneh, tapi menggembirakan.
Akan tetapi kita semua sadar bahwa sebelum kita beropini atau bahkan membangun konklusi , kita harus mengamati tiga sampel diatas secara lebih objektif, itu adalah keharusan. Sebab opini yang objektif adalah akal sehat, sedangkan opini yang subjektif adalah emosi dan fanatisme.
Fase berikutnya adalah menggulirkan suatu diskursus dialektik tentang tiga sampel di atas, dan dengan menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang ada saat penulisan ini untuk bisa diajak bertukar pendapat, maka proses dialektikapun bergulir di dalam kepala saya sendiri. Proses dialektika berbentuk renungan berbasis rasio empirik pun berlangsung. Dan setelah beberapa saat, saya sampai pada tiga antitesis berikut :
· Apa salahnya jika konsumen di AS membeli sebuah boneka (misalnya,) yang selama ini dijual dengan harga 30 $, tapi khusus satu minggu sebelum natal harganya turun menjadi hanya 15 $ ? Apa salahnya jika karyawan mendapat bonus tinggi bekerja di hari Natal, karena hari apapun namanya, konsumen tetap saja perlu pelayanan. Lagipula, karyawan-karyawan yang mau bekerja di hari Natal tersebut sudah tak merasa ada yang istimewa lagi pada hari Natal itu. Sama saja dengan hari biasa. Anda tahu Amerika, bukan ? Pokoknya, selama semua pihak merasa diuntungkan dan senang, kehidupan akan terus berjalan. This is American freedom !
· Penduduk di Kuba, hanya kelihatannya saja tidak tertarik pada kehidupan glamour penuh foya-foya ala tetangganya, AS. Mereka membeli barang-barang hanya seperlunya, karena mereka tidak punya uang ! Mereka telah begitu dalam dibodohi oleh Fidel Castro tentang kehidupan sosialis semi komunis ala Guevara, hingga semua dibagi rata. Contoh : suami istri tua itu !
* RRC ? Kasus itu yang termudah jawabannya. Penguasa disana sengaja mengeluarkan
kebijakan double standard, agar citra penguasa menjadi semakin dipuja-puji oleh
rakyatnya dari semua kelompok. Kaum religius, kaum pekerja, pemilik modal, semua akan
bertepuk tangan. Dan ke mata internasional, imej RRC yang dulu kelabu akan menjadi
terang benderang. Ingat ! RRC akan merubah sistem perekonomiannya menjadi
perekonomian liberalis. Dan pola ekonomi semacam itu sangat bergantung pada mata
internasional melihat negara mereka. Mudah saja bukan ?
Suatu antitesa yang realistis dan hebat ! Suatu bantahan yang menyiratkan bahwa sistem kapitalistik tak selalu bersalah. Sebagian teman-teman mungkin tidak butuh waktu lama untuk menemukan bantahannya kembali, tetapi di mata orang awam, antitesa ini sangat realistis, bahkan mampu membuat seorang pro kiri pun tertarik untuk “membelot”.
Tak ada yang kekal di alam semesta kecuali perubahan. Dan asumsikan saja kalau ternyata tiga antitesis itulah yang benar dibandingkan tiga tesis pertama. Tetapi kita adalah generasi baru Indonesia yang berhaluan kiri, bukan ? Dan kita semua tahu mengapa sejarah mencatat tokoh-tokoh kiri dunia sebagai orang yang kritis dan selalu melangkah di depan ? Karena kaum kiri tidak pernah puas terhadap satu penjelasan, selalu mencari kebenaran baru di manapun ia bersembunyi, walau akhirnya dibantah lagi. Terus terang, saya sendiri mengalami kesulitan untuk menciptakan sintesa dari tiga opini mengenai kasus-kasus di atas. Dan lucunya, opini-opini tersebut lahir dari otak saya sendiri !
Tampaknya, otak saya yang berkemampuan ‘sedang’ ini membutuhkan waktu lagi untuk berdialektika, mengkaji, mencari data yang akurat untuk bisa menjatuhkan tiga buah antitesa diatas. Dan ada baiknya sebelum essai sambungan selesai disusun, teman-teman pun mencoba (sedikit memaksa) untuk berdialektika, dalam bentuk diskusi ataupun perenungan yang rasionil empirik. Semoga bila essai lanjutannya saya berikan, teman-teman akan tertawa dan berteriak :
“kamu terlambat…!”
Essai ini saya rencanakan untuk bersifat serial/ berkesinambungan, mengangkat issu dan topik apa saja di alam semesta ini, dengan sebuah misi utama, yaitu menciptakan revolusi pola pikir di otak pembacanya, dengan kadar agitasi seminimal mungkin. Jadi andaikata teman-teman yang membaca essai ini (dan essai-essai yang akan datang) tak kunjung mengalami revolusi pola pikir (walau sudah dipaksa), minimal dia harus mampu untuk membuat terjadinya revolusi pola pikir saya sendiri. Terima kasih atas kesediaan teman-teman mempelototi essai sederhana, yang ‘ semua orang pasti bisa membuatnya’ ini.
Debu Bintang Merah (tikus_dapur@angelfire.com)
LESBIENZ? WHY NOT?!
Aku She, dan pacarku bernama Maree Nathasya. Dia 2 tahun lebih tua dariku, dan aku sudah pacaran 2 tahun dengan dia.Hampir setiap hari kita selalu bersama,namun 6 bulan belakangan ini aku nggak bisa bersama dia lagi karena mesti nerusin kuliahnya di negeri Paman Sam...kangen banget deh!!!
Hmm..pacarku itu itu baik banget,penuh rasa humor dan pengertian. Dia sangat mengerti aku, tapi selain itu.. dia juga memiliki payudara yang indah! Senyumnya,wajahnya dan semua tentang dia, buatku begitu indah..aku menyukainya!
Tapi kenapa ya? Setiap aku dan pacarku jalan berdua,bergandengan tangan,banyak mata yang tertuju ke arah kami?
Tadinya, aku pikir mungkin karena kecantikan wajahnya? Namun mata-mata yang menatap itu terkesan tidak bersahabat! Apalagi waktu aku mencium pipinya saat aku dan dia berada di suatu kafe yg cukup elit di kotaku.Kenapa sih mereka???
Apakah karena keindahan tubuhnya?? TIDAK!!!
Tapi karena aku dan dia dia sama sama wanita, atau sejenis..HuaHuaHua!
Aku juga sempat menangkap basah seseorang yang sedang melihat aku dan pacarku berciuman.Aku bertanya, 'Ada apa yah, Bung? ada yang salah?' Tapi dia dia tidak menjawab, namun hanya mencibir! Jijik kah dia? pikirku waktu itu.
Ah cuek, anjing!lalu aku kembali mencium pacarku...saat tapi tiba-tiba ada suara, "Hey Non! Ini bukan kafe untuk lesbian! Ini tempat orang normal! Dasar gila!!" tersembur dari mulut lelaki itu.
WAH!!aku langsung tersentak kaget,namun yang keluar mulutku cuma kata, 'Maaf..cuma Maaf'.Pacarku pun hanya diam, lalu bilang, 'Cuek, Punk! katanya.
Tapi kemudian aku melihat ke depanku. Ada 2 orang gadis belia berusia sekitar 15 tahunan memakai baju dan celana hingga pusar dan perutnya yg sedikit buncit itu kelihatan. Parahnya, belahan kancing bajunya cukup lebar hingga payudaranya yang engga seindah payudara pacarku
sedikit menyembul keluar! Hihihi!
Mereka duduk diantara 3 orang lelaki berusia sekitar 60 tahunan,mereka berpelukan, berciumaan, tapi mengapa tidak ditegur?! Bukankah mereka juga nggak normal??Gadis belia bermesraan dengan kakek kakek?! HuaHuaHuaHuaanjing!!!
Aku menyukai kekasihku dan aku kembali mencium dan melumat bibir pacarku... Persetan Anjing ama mereka yang melarangku berbuat apa yang disebut mereka dengan "Gila"! Toh mereka sendiri juga nggak tau arti "Gila" itu. Dan aku melakukan ini tidak dengan terpaksa,bukan seperti mereka [gadis belia dan kakek -kakek tersebut] yang cuma bisa menyiksa diri mereka sendiri dengan keterpaksaan. Aku juga sudah menjadi diriku yang sesungguhnya dan aku tidak merasa kecil dengan apa yang aku lakukan! I'm proud to BE ME!!
Aku seorang lesbian, dan aku menyukai sesama jenis, apa itu salah? Gila? Tidak normal? Aku bertanya dalam hati mengapa ada perbedaan?..Mengapa harus dibeda-bedakan yang normal, yang salah, yang gila, dan mengapa juga harus dibedakan Lesbian dan Gay??? supaya terlihat kesenjangan itu?? HuaHuaHua!!!!
PS: Mizz Ma IWannaBeYourVagina!
-Oi with Love-
She (shera@cowboy-from-hell.com)
Aku She, dan pacarku bernama Maree Nathasya. Dia 2 tahun lebih tua dariku, dan aku sudah pacaran 2 tahun dengan dia.Hampir setiap hari kita selalu bersama,namun 6 bulan belakangan ini aku nggak bisa bersama dia lagi karena mesti nerusin kuliahnya di negeri Paman Sam...kangen banget deh!!!
Hmm..pacarku itu itu baik banget,penuh rasa humor dan pengertian. Dia sangat mengerti aku, tapi selain itu.. dia juga memiliki payudara yang indah! Senyumnya,wajahnya dan semua tentang dia, buatku begitu indah..aku menyukainya!
Tapi kenapa ya? Setiap aku dan pacarku jalan berdua,bergandengan tangan,banyak mata yang tertuju ke arah kami?
Tadinya, aku pikir mungkin karena kecantikan wajahnya? Namun mata-mata yang menatap itu terkesan tidak bersahabat! Apalagi waktu aku mencium pipinya saat aku dan dia berada di suatu kafe yg cukup elit di kotaku.Kenapa sih mereka???
Apakah karena keindahan tubuhnya?? TIDAK!!!
Tapi karena aku dan dia dia sama sama wanita, atau sejenis..HuaHuaHua!
Aku juga sempat menangkap basah seseorang yang sedang melihat aku dan pacarku berciuman.Aku bertanya, 'Ada apa yah, Bung? ada yang salah?' Tapi dia dia tidak menjawab, namun hanya mencibir! Jijik kah dia? pikirku waktu itu.
Ah cuek, anjing!lalu aku kembali mencium pacarku...saat tapi tiba-tiba ada suara, "Hey Non! Ini bukan kafe untuk lesbian! Ini tempat orang normal! Dasar gila!!" tersembur dari mulut lelaki itu.
WAH!!aku langsung tersentak kaget,namun yang keluar mulutku cuma kata, 'Maaf..cuma Maaf'.Pacarku pun hanya diam, lalu bilang, 'Cuek, Punk! katanya.
Tapi kemudian aku melihat ke depanku. Ada 2 orang gadis belia berusia sekitar 15 tahunan memakai baju dan celana hingga pusar dan perutnya yg sedikit buncit itu kelihatan. Parahnya, belahan kancing bajunya cukup lebar hingga payudaranya yang engga seindah payudara pacarku
sedikit menyembul keluar! Hihihi!
Mereka duduk diantara 3 orang lelaki berusia sekitar 60 tahunan,mereka berpelukan, berciumaan, tapi mengapa tidak ditegur?! Bukankah mereka juga nggak normal??Gadis belia bermesraan dengan kakek kakek?! HuaHuaHuaHuaanjing!!!
Aku menyukai kekasihku dan aku kembali mencium dan melumat bibir pacarku... Persetan Anjing ama mereka yang melarangku berbuat apa yang disebut mereka dengan "Gila"! Toh mereka sendiri juga nggak tau arti "Gila" itu. Dan aku melakukan ini tidak dengan terpaksa,bukan seperti mereka [gadis belia dan kakek -kakek tersebut] yang cuma bisa menyiksa diri mereka sendiri dengan keterpaksaan. Aku juga sudah menjadi diriku yang sesungguhnya dan aku tidak merasa kecil dengan apa yang aku lakukan! I'm proud to BE ME!!
Aku seorang lesbian, dan aku menyukai sesama jenis, apa itu salah? Gila? Tidak normal? Aku bertanya dalam hati mengapa ada perbedaan?..Mengapa harus dibeda-bedakan yang normal, yang salah, yang gila, dan mengapa juga harus dibedakan Lesbian dan Gay??? supaya terlihat kesenjangan itu?? HuaHuaHua!!!!
PS: Mizz Ma IWannaBeYourVagina!
-Oi with Love-
She (shera@cowboy-from-hell.com)
SIAPA YANG MAU BIKIN MOSH PIT AMAN BUAT PEREMPUAN?
Nggak mungkin! Mana ada sebuah Mosh Pit yang aman?! Semua orang juga tahu kalau Mosh Pit itu adalah salah satu arena dimana hidup mati dan kesenangan cuman dipisahkan benang tipiiis banget di sebuah konser (underground atau bukan!) Terserah mau lelaki atau perempuan yang mau pogo atau stage dive sekalian di dalamnya! Iya-kan, kawan kawan?
Tapi sekarang kalau saya tanya ke kamu yang lelaki, saat kamu berlari menuju tengah tengah Mosh Pit, apa yang ada di otak kamu? Pernahkah nggak SEKALI AJA (¡) kamu berpikir begini nih, ‘Bagaimana ya caranya supaya dada saya nggak dipegang pegang penuh nafsu oleh lelaki-lelaki itu saat saya sedang pogo? Atau, ‘Gimana ya supaya saat Stage Dive, pantat saya nggak diremas sana sini oleh tangan tangan yang memang juga menyangga tubuh saya supaya nggak jatuh? Atau, yang paling sering saya dengar biasanya adalah pengakuan ini: ‘Sebenernya pengen sih nyoba pogo di mosh pit....tapiiii? Nggak deh!’
Nah, pengakuan yang terakhir itu adalah suara hati saya yang terakhir kali ke mosh pit dan berpogo, itupun karena saya melakukannya bersama 4 orang teman perempuan saya lainnya. Sumpah! Pogo itu serubangetsekalianjingpol! Ugh,kalau saja saya bisa pogo sesuka saya di tiap konser yang saya datangi...Iya, saya perempuan. Dan sekarang saya memilih berdiri dekat mosh pit dengan tetap menjaga jarak agar setiap kali saya ingin menjauh saat arena mosh pit mulai memanas...saya bisa langsung lari menepi. Hehehe! Rasanya kayak jadi bisul diatas permukaan kulit yang putih mulus...yaitu: berdosa!
Padahal saya kan cuman pengen bersenang-senang seperti teman lelaki saya! Kalau dia bisa melakukan segala macam hal dari mulai dari nongkrong bareng teman-temannya, buka lapak, barter fanzine, kaset atau ngeband, serta moshing dan pogo...SAYA JUGA MAU SEPERTI ITU!
Coba sekarang beri saya satu alasan yang masuk akal, kenapa saya nggak bisa melakukan semuanya itu ¿! Saya tahu saya bisa ketemu teman teman saya disana, saya bisa barter fanzine buatan saya, saya bisa membantu lapak teman saya atau bahkan membuka lapak saya sendiri, saya juga bisa ngeband dan manggung bersama band saya....TAPI KENAPA SAYA TETAP NGGAK BISA POGO ATAU STAGE DIVE DI MOSH PIT ¿!!
Saya tahu sebuah tulisan penuh umpatan dan curhatan seperti ini nggak akan terus membuat saya santai aja buat langsung berlari ke mosh pit untuk ikut pogo atau bahkan ber-stage dive keesokan harinya....tapi saya nggak tau lagi mesti gimana! Saya ngobrol ama temen temen saya yang perempuan juga mereka merasakan hal yang sama dan satu satunya bentuk nasehat yang saya dapat: cuek aja! Tapi iya masak cuek aja bisa membuat saya tidak diremas remas atau dipegang sana sini? Nggak kan?
Iya, saya tahu ada yang namanya All-Female Mosh Pit di Amerika sejak gerakan Riot Grrl mulai marak disana dan bahkan kalau nggak salah juga masih ada mosh pit seperti itu di Lilith Fair tahun lalu...tapi saya nggak mau moshing di mosh pit yang isinya perempuan semua! Kenapa juga mesti begitu? Kenapa mesti dibikin lagi eksklusifitas di dalam mosh pit berdasarkan gender? Nggak seru ah!
Karena berarti saya akan merasa asik kalau berada di sekitar perempuan saja karena saya perempuan, padahal saya tahu saya juga berhak merasa asik di sekitar lelaki manapun di dunia ini! Kenapa? Ya, karena saya dan dia sama sama manusia!
Yuk, bikin Mosh Pit yanga sama serunya buat laki laki dan perempuan! Mau nggak?
V (vicious.V@excite.com)
Nggak mungkin! Mana ada sebuah Mosh Pit yang aman?! Semua orang juga tahu kalau Mosh Pit itu adalah salah satu arena dimana hidup mati dan kesenangan cuman dipisahkan benang tipiiis banget di sebuah konser (underground atau bukan!) Terserah mau lelaki atau perempuan yang mau pogo atau stage dive sekalian di dalamnya! Iya-kan, kawan kawan?
Tapi sekarang kalau saya tanya ke kamu yang lelaki, saat kamu berlari menuju tengah tengah Mosh Pit, apa yang ada di otak kamu? Pernahkah nggak SEKALI AJA (¡) kamu berpikir begini nih, ‘Bagaimana ya caranya supaya dada saya nggak dipegang pegang penuh nafsu oleh lelaki-lelaki itu saat saya sedang pogo? Atau, ‘Gimana ya supaya saat Stage Dive, pantat saya nggak diremas sana sini oleh tangan tangan yang memang juga menyangga tubuh saya supaya nggak jatuh? Atau, yang paling sering saya dengar biasanya adalah pengakuan ini: ‘Sebenernya pengen sih nyoba pogo di mosh pit....tapiiii? Nggak deh!’
Nah, pengakuan yang terakhir itu adalah suara hati saya yang terakhir kali ke mosh pit dan berpogo, itupun karena saya melakukannya bersama 4 orang teman perempuan saya lainnya. Sumpah! Pogo itu serubangetsekalianjingpol! Ugh,kalau saja saya bisa pogo sesuka saya di tiap konser yang saya datangi...Iya, saya perempuan. Dan sekarang saya memilih berdiri dekat mosh pit dengan tetap menjaga jarak agar setiap kali saya ingin menjauh saat arena mosh pit mulai memanas...saya bisa langsung lari menepi. Hehehe! Rasanya kayak jadi bisul diatas permukaan kulit yang putih mulus...yaitu: berdosa!
Padahal saya kan cuman pengen bersenang-senang seperti teman lelaki saya! Kalau dia bisa melakukan segala macam hal dari mulai dari nongkrong bareng teman-temannya, buka lapak, barter fanzine, kaset atau ngeband, serta moshing dan pogo...SAYA JUGA MAU SEPERTI ITU!
Coba sekarang beri saya satu alasan yang masuk akal, kenapa saya nggak bisa melakukan semuanya itu ¿! Saya tahu saya bisa ketemu teman teman saya disana, saya bisa barter fanzine buatan saya, saya bisa membantu lapak teman saya atau bahkan membuka lapak saya sendiri, saya juga bisa ngeband dan manggung bersama band saya....TAPI KENAPA SAYA TETAP NGGAK BISA POGO ATAU STAGE DIVE DI MOSH PIT ¿!!
Saya tahu sebuah tulisan penuh umpatan dan curhatan seperti ini nggak akan terus membuat saya santai aja buat langsung berlari ke mosh pit untuk ikut pogo atau bahkan ber-stage dive keesokan harinya....tapi saya nggak tau lagi mesti gimana! Saya ngobrol ama temen temen saya yang perempuan juga mereka merasakan hal yang sama dan satu satunya bentuk nasehat yang saya dapat: cuek aja! Tapi iya masak cuek aja bisa membuat saya tidak diremas remas atau dipegang sana sini? Nggak kan?
Iya, saya tahu ada yang namanya All-Female Mosh Pit di Amerika sejak gerakan Riot Grrl mulai marak disana dan bahkan kalau nggak salah juga masih ada mosh pit seperti itu di Lilith Fair tahun lalu...tapi saya nggak mau moshing di mosh pit yang isinya perempuan semua! Kenapa juga mesti begitu? Kenapa mesti dibikin lagi eksklusifitas di dalam mosh pit berdasarkan gender? Nggak seru ah!
Karena berarti saya akan merasa asik kalau berada di sekitar perempuan saja karena saya perempuan, padahal saya tahu saya juga berhak merasa asik di sekitar lelaki manapun di dunia ini! Kenapa? Ya, karena saya dan dia sama sama manusia!
Yuk, bikin Mosh Pit yanga sama serunya buat laki laki dan perempuan! Mau nggak?
V (vicious.V@excite.com)
CEWEK BILANG, KALO CEWEK DI BAWAH TANAH ITU...
perempuan bawah tanah adalah bentuk dari hegemoni kaum
perempuan dalam fungsi sosial masyarakat yang
ada.Dengan mengklaim diri sebagai perempuan bawah
tanah maka dengan sendirinya perempuan meletakkan
dirinya pada sebuah kotak yang pada akhirnya membatasi
segala ruang dan gerak perempuan itu sendiri.Dan pada
akhirnya membentuk sebuah eksistensi namun tanpa
resistensi. Eksis namun tidak berdaya melakukan
perlawanan karena telah sibuk dengan pengotakan diri
dan pelabelan nama diri dan kemudian terjebak pada
aktifitas untuk bagaimana menjadi perempuan bawah
tanah "yang ideal" baik dan benar. Itu aja sih. Gue
gak setuju pengotakkan atau pelabelan kaum perempuan.
Kondisi masyarakat yang pluralis harus dimasuki dan di
jajaki oleh para perempuan2 (Renz-Jakarta)
mereka lebih independen,lebih kuat dari cewek biasa,apa adanya…(Ade-Bandung)
mereka biasa saja, kadang menyebalkan, kadang sangat menyebalkan (Bikini_Kill-Bandung)
mereka asik, lebih dihargai cowok,bebas, namun orang masih melihat mereka sebelah mata..(Ary-Bandung)
mereka terlalu gampang mengaku ngaku sebagai seorang cewek underground, padahal kadang itu lebih sering
cuman sekedar supaya dapet nama ‘cewek underground’ tapi bukan karena memang punya niatan untuk jadi
seorang cewek underground itu sendiri (Ira-Jakarta & Malaysia)
mereka akan selalu jadi cahaya yang ada diantara kegelapan, mestinya mereka jadi begitu dan
memang selalu jadi seperti itu..(Ina-Jogja)
Cewek yang dianggap dan menganggap dirinya anti-kemapanan yang tetap melawan dengan cinta dan keras
kepala (Unique-makassar)
Di Bali jarang banget! Nggak sampe 10%! Tapi seneng ngeliat cewek bawah tanah yang murni. Nggak cuman
ikut ikutan. (Didiet Decay-Bali)
Mereka belum dipandang setara dalam masyarakat kita, pikiran gendernya masih kuat bange. Banyak yang
meremehkan kalo cewek bawaha tanah itu sendiri terutama laki laki (Thia-Jakarta)
I have no clue now. (Ivy punktat-Jakarta)
Keberadaannya mesti diakui tanpa embel-embel yang cenderung meremehkan! (Melan-Jogja)
Mereka menakjubkan! Hanya ada satu ketakutan yang semestinya dilawan: YAITU KEADAAN
TAKUT MENJADI ANEH! (Memel-Bandung)
Cewek bawah tanah adalah cewek yang sadar dan ngerti dengan keperempuanannya, dan bangga dengan itu!
So, stay resist to exist is a must! (Nhuni-Jogja)
Cewek bawah tanah itu Great! Karena mereka berani menghadapi tantangan dalam komunitas dimana mereka
merupakan kelompok minoritas didalamnya (Rince-Jakarta)
perempuan bawah tanah adalah bentuk dari hegemoni kaum
perempuan dalam fungsi sosial masyarakat yang
ada.Dengan mengklaim diri sebagai perempuan bawah
tanah maka dengan sendirinya perempuan meletakkan
dirinya pada sebuah kotak yang pada akhirnya membatasi
segala ruang dan gerak perempuan itu sendiri.Dan pada
akhirnya membentuk sebuah eksistensi namun tanpa
resistensi. Eksis namun tidak berdaya melakukan
perlawanan karena telah sibuk dengan pengotakan diri
dan pelabelan nama diri dan kemudian terjebak pada
aktifitas untuk bagaimana menjadi perempuan bawah
tanah "yang ideal" baik dan benar. Itu aja sih. Gue
gak setuju pengotakkan atau pelabelan kaum perempuan.
Kondisi masyarakat yang pluralis harus dimasuki dan di
jajaki oleh para perempuan2 (Renz-Jakarta)
mereka lebih independen,lebih kuat dari cewek biasa,apa adanya…(Ade-Bandung)
mereka biasa saja, kadang menyebalkan, kadang sangat menyebalkan (Bikini_Kill-Bandung)
mereka asik, lebih dihargai cowok,bebas, namun orang masih melihat mereka sebelah mata..(Ary-Bandung)
mereka terlalu gampang mengaku ngaku sebagai seorang cewek underground, padahal kadang itu lebih sering
cuman sekedar supaya dapet nama ‘cewek underground’ tapi bukan karena memang punya niatan untuk jadi
seorang cewek underground itu sendiri (Ira-Jakarta & Malaysia)
mereka akan selalu jadi cahaya yang ada diantara kegelapan, mestinya mereka jadi begitu dan
memang selalu jadi seperti itu..(Ina-Jogja)
Cewek yang dianggap dan menganggap dirinya anti-kemapanan yang tetap melawan dengan cinta dan keras
kepala (Unique-makassar)
Di Bali jarang banget! Nggak sampe 10%! Tapi seneng ngeliat cewek bawah tanah yang murni. Nggak cuman
ikut ikutan. (Didiet Decay-Bali)
Mereka belum dipandang setara dalam masyarakat kita, pikiran gendernya masih kuat bange. Banyak yang
meremehkan kalo cewek bawaha tanah itu sendiri terutama laki laki (Thia-Jakarta)
I have no clue now. (Ivy punktat-Jakarta)
Keberadaannya mesti diakui tanpa embel-embel yang cenderung meremehkan! (Melan-Jogja)
Mereka menakjubkan! Hanya ada satu ketakutan yang semestinya dilawan: YAITU KEADAAN
TAKUT MENJADI ANEH! (Memel-Bandung)
Cewek bawah tanah adalah cewek yang sadar dan ngerti dengan keperempuanannya, dan bangga dengan itu!
So, stay resist to exist is a must! (Nhuni-Jogja)
Cewek bawah tanah itu Great! Karena mereka berani menghadapi tantangan dalam komunitas dimana mereka
merupakan kelompok minoritas didalamnya (Rince-Jakarta)
FAT! SO? FANZINE
Berikut ini sepotong wawancara sama editor FAT! SO? fanzine, Marylin Wann, perempuan berumur 30 tahun dari San Fransisco, Amerika Serikat. Fanzine yang membuat mereka yang gemuk merasa jadi begitu kuat dan penuh percaya diri ini memang dibuat dalam sebuah fanzine centil berwarna pink gonjreng dengan tulisan-tulisan yang gayanya asik-asik, plus disain yang cantik serta gaya yang keren banget!
Kapan kamu pertama kali menerbitkan zine kamu? Apa yang jadi inspirasi kamu?
Edisi pertama FAT? SO! Keluar pada bulan Juli 1994. Aku memulai membuat zine ini karena pada hari yang sama, cowok yang sedang dekat denganku mengatakan kalau dia malu memperkenalkan aku pada teman-temannya karena aku gemuk. Dan saat yang bersamaan aku juga menerima surat dari Blue Cross Callifornia yang menolak permohonan asuransi kesehatanku. Padahal aku sehat, beratku 125 kg, dan aku tidak merokok dan lucu seperti kancing baju! (Hehehe!-Ed-)Tapi aku juga gemuk. Jadi, dalam tingkatan personal dan institusional, aku tidak boleh ikut dalam permainan mereka. Seorang fatso pun lahir. Dan motto dari FAT! SO? adalah: Jangan pernah meminta maaf buat ukuran tubuhmu! Kamu terlalu besar, terlalu kecil, terlalu pendek, terlalu tinggi. Terlalu banyak disini, terlalu banyak disana. Terus? Terus kenapa! Ukuran adalah bullshit.
Kenapa bikin zine sih?
Aku sangat marah dengan dua kejadian diatas tadi hingga aku merasa bahwa kediamanku atau tutup mulut ku hanya akan memberi kesan seolah aku setuju diperlakukan begitu. Padahal aku sama sekali tidak menyetujui apalagi menyukainya. Aku adalah seorang penulis dengan banyak pengalaman di penerbitan, sehingga aku melakukan apa yang aku tahu.
Ada tips nggak buat mereka yang pengen bikin zine juga?
Pikirkan hal paling keren atau paling asik yang ingin kamu lakukan dan temukan cara untuk menjadikannya kenyataan. Akan selalu ada cara.
Apa yang kamu suka dari bikin zine?
Kaya dan terkenal (?-Ed-). Pergi ke kantor pos setiap hari dan menerima surat-surat dari yang orang-orang yang mengatakan betapa mereka menyukai FAT! SO? dan gimana fanzine itu membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri. Meninggalkan propaganda FAT! SO? dalam gulungan-gulungan kertas tissue yang dipasang dalam toilet-toilet umum di bandar udara, tempat-tempat praktek dokter, museum-museum kesenian, dan berbagai tempat lainnya yang memiliki jamban juga.
Isi titik-titik kalimat di bawah ini: Dalam bentuk kehidupan saya yang lain, saya adalah seorang…..
Penulis lepas.
Sebuah Surat dari Penggemar Buku FAT! SO?
Para pemrotes bertubuh sangat gemuk menghajar iklan sebuah pusat kebugaran
San Fransisco (Reuters)-Kira-kira 25 orang pemrotes bertubuh sangat gemuk menyerang sebuah pusat kebugaran di San Fransisco hari Senin untuk memprotes sebuah papan reklame baru bertulisan,SAAT MAHLUK RUANG ANGKASA AKHIRNYA SUNGGUHAN MENCULIK MANUSIA, MEREKA AKAN MEMANGSA YANG GEMUK LEBIH DULU.
“Aku nggak percaya kalau sebuah pusat kebugaran punya begitu sedikit kepedulian tentang kesehatan orang, kata pemimpin protes sekaligus penulis Marylin Mann, yang bukunya FAT! SO? bertujuan menantang stereotip masyarakat tentang kegemukan.
“Aku mewakili 97 juta orang Amerika yang gemuk. Kita adalah 55 persen dari populasi dan adalah sangat tidak semestinya untuk menempatkan kami sebagai mahluk asing karena kita bisa saja tiba-tiba menduduki tubuh seseorang tanpa sengaja”, kata Wann lagi pada Radio KCBS.
Para pemrotes marah pada sebuah pusat kebugaran 24 jam dengan papan reklame barunya yang dipasang diatas jalan tol tengah kota yang menampilkan gambar mahluk luar angkasa yang sedang melirik dengan sebuah pesan: SAAT MEREKA DATANG, MEREKA AKAN MEMANGSA YANG GEMUK DULUAN.
Namun juru bicara dari jaringan pusat kebugaran yang tersebar dari bagian barat Amerika hingga ke Asia dan Eropa ini mengatakan mereka tidak bermaksud menyinggung siapapun dengan iklan mereka ini.
“Kita semua tahu bagaimana sulitnya menurunkan berat badan, kata perusahaan ini dalam surat tertulisnya.”kadang humor dapat sedikit membuat beberapa hal menjadi lebih mudah dan bahkan menjadi penuh motivasi.”
(diterjemahkan dengan senang hati oleh V (vicious.V@excite.com))
Berikut ini sepotong wawancara sama editor FAT! SO? fanzine, Marylin Wann, perempuan berumur 30 tahun dari San Fransisco, Amerika Serikat. Fanzine yang membuat mereka yang gemuk merasa jadi begitu kuat dan penuh percaya diri ini memang dibuat dalam sebuah fanzine centil berwarna pink gonjreng dengan tulisan-tulisan yang gayanya asik-asik, plus disain yang cantik serta gaya yang keren banget!
Kapan kamu pertama kali menerbitkan zine kamu? Apa yang jadi inspirasi kamu?
Edisi pertama FAT? SO! Keluar pada bulan Juli 1994. Aku memulai membuat zine ini karena pada hari yang sama, cowok yang sedang dekat denganku mengatakan kalau dia malu memperkenalkan aku pada teman-temannya karena aku gemuk. Dan saat yang bersamaan aku juga menerima surat dari Blue Cross Callifornia yang menolak permohonan asuransi kesehatanku. Padahal aku sehat, beratku 125 kg, dan aku tidak merokok dan lucu seperti kancing baju! (Hehehe!-Ed-)Tapi aku juga gemuk. Jadi, dalam tingkatan personal dan institusional, aku tidak boleh ikut dalam permainan mereka. Seorang fatso pun lahir. Dan motto dari FAT! SO? adalah: Jangan pernah meminta maaf buat ukuran tubuhmu! Kamu terlalu besar, terlalu kecil, terlalu pendek, terlalu tinggi. Terlalu banyak disini, terlalu banyak disana. Terus? Terus kenapa! Ukuran adalah bullshit.
Kenapa bikin zine sih?
Aku sangat marah dengan dua kejadian diatas tadi hingga aku merasa bahwa kediamanku atau tutup mulut ku hanya akan memberi kesan seolah aku setuju diperlakukan begitu. Padahal aku sama sekali tidak menyetujui apalagi menyukainya. Aku adalah seorang penulis dengan banyak pengalaman di penerbitan, sehingga aku melakukan apa yang aku tahu.
Ada tips nggak buat mereka yang pengen bikin zine juga?
Pikirkan hal paling keren atau paling asik yang ingin kamu lakukan dan temukan cara untuk menjadikannya kenyataan. Akan selalu ada cara.
Apa yang kamu suka dari bikin zine?
Kaya dan terkenal (?-Ed-). Pergi ke kantor pos setiap hari dan menerima surat-surat dari yang orang-orang yang mengatakan betapa mereka menyukai FAT! SO? dan gimana fanzine itu membuat mereka merasa nyaman dan percaya diri. Meninggalkan propaganda FAT! SO? dalam gulungan-gulungan kertas tissue yang dipasang dalam toilet-toilet umum di bandar udara, tempat-tempat praktek dokter, museum-museum kesenian, dan berbagai tempat lainnya yang memiliki jamban juga.
Isi titik-titik kalimat di bawah ini: Dalam bentuk kehidupan saya yang lain, saya adalah seorang…..
Penulis lepas.
Sebuah Surat dari Penggemar Buku FAT! SO?
Para pemrotes bertubuh sangat gemuk menghajar iklan sebuah pusat kebugaran
San Fransisco (Reuters)-Kira-kira 25 orang pemrotes bertubuh sangat gemuk menyerang sebuah pusat kebugaran di San Fransisco hari Senin untuk memprotes sebuah papan reklame baru bertulisan,SAAT MAHLUK RUANG ANGKASA AKHIRNYA SUNGGUHAN MENCULIK MANUSIA, MEREKA AKAN MEMANGSA YANG GEMUK LEBIH DULU.
“Aku nggak percaya kalau sebuah pusat kebugaran punya begitu sedikit kepedulian tentang kesehatan orang, kata pemimpin protes sekaligus penulis Marylin Mann, yang bukunya FAT! SO? bertujuan menantang stereotip masyarakat tentang kegemukan.
“Aku mewakili 97 juta orang Amerika yang gemuk. Kita adalah 55 persen dari populasi dan adalah sangat tidak semestinya untuk menempatkan kami sebagai mahluk asing karena kita bisa saja tiba-tiba menduduki tubuh seseorang tanpa sengaja”, kata Wann lagi pada Radio KCBS.
Para pemrotes marah pada sebuah pusat kebugaran 24 jam dengan papan reklame barunya yang dipasang diatas jalan tol tengah kota yang menampilkan gambar mahluk luar angkasa yang sedang melirik dengan sebuah pesan: SAAT MEREKA DATANG, MEREKA AKAN MEMANGSA YANG GEMUK DULUAN.
Namun juru bicara dari jaringan pusat kebugaran yang tersebar dari bagian barat Amerika hingga ke Asia dan Eropa ini mengatakan mereka tidak bermaksud menyinggung siapapun dengan iklan mereka ini.
“Kita semua tahu bagaimana sulitnya menurunkan berat badan, kata perusahaan ini dalam surat tertulisnya.”kadang humor dapat sedikit membuat beberapa hal menjadi lebih mudah dan bahkan menjadi penuh motivasi.”
(diterjemahkan dengan senang hati oleh V (vicious.V@excite.com))
KENAPA MEREKA SELALU BICARA TENTANG PEREMPUAN?!
Perempuan??? Kayaknya sering banget yach, jadi bahan obrolan. Ada aja yang menarik untuk dibahas dari sosok perempuan.Entah itu dari segi penampilan,sifat ataupun yang lain.Pokoknya engga ada habisnya kalau ngomongin perempuan.Engga ada matinye....!!!Hidup Perempuan...!!!
Perempuan memang bahan obrolan yang menarik,entah dikalangan laki-laki,ataupun dikalangan perempuan itu sendiri.Iyakan...ayo ngaku!Kayaknya seru banget yach kalo perempuan-perempuan kumpul terus ngomongin diri mereka sendiri! Hihihi....rame,seru abis deh!Tapi kenapa sih kalo perempuan kumpul dan ngobrol,pasti ada aja yang bilang:"eh ngrumpi terus",atau "gosiip terus nih yeee...!"
Uuggghhh...nyebelin banget engga sih? Emang kalo perempuan kumpul pasti ngomongin orang? Padahal banyak juga kan laki-laki pada kumpul ngobrol,tapi kayaknya mereka engga pernah dibilangin kayak gitu.Sampai-sampai predikat "tukang gosip"jatuh ke sosok perempuan.It's jerk...hah!
By the way,dalam tulisan ini aku engga bakalan ngebahas ngrumpi itu apa,gosip itu apa. Aku disini cuman pingin ngobrolin tentang perempuan,yang sering banget jadi bahan obrolan menarik,sekaligus mencoba menjadi pembicara yang aktif.Dan dalam tulisan ini, aku mencoba menggabungkan keduanya.Berbicara tentang perempuan dan sebagai perempuan.Bukan sebagai wanita kosmopolis yang idealis,gadis konvensioanal yang lugu maupun seorang feminis.Terus terang aku kurang suka dengan istilah-istilah kayak gitu,kesannya perempuan engga bisa menbawa identitas dirinya masing-masing,yang pada akhirnya membuat mereka jadi engga berarti sama sekali.
Perempuan adalah manusia yang terlahir dengan ciri-ciri fisik tertentu,yang memang diciptakan Tuhan berbeda dengan laki-laki,dan otomatis berpengaruh dengan prilaku gendernya.Tapi jangan salah lho,perempuan itu memiliki kekuatan yang tak terbatas dalam jiwanya.Who said that women are powerless?!? Wouyy...salah wouyyy...!!!Perempuan tuh engga selemah yang kamu bayangkan, perempuan juga sama istimewanya sama laki-laki,yang mempunyai kelebihan dan kekurangan seperti kamu...laki-laki!!!
Pernah beberapa waktu yang lalu, ada seorang temanku bilang,katanya perempuan itu seperti uang kertas dan laki-laki seperti uang logam. Karena perempuan seperti uang kertas,jadi harus dijaga, engga boleh robek sama sekali.Nasehat itu dia dapetin dari nenek dan ibunya secara turun-temurun.Eeemmmm....so what do you think? Nasehat yang begitu dalam artinya, segala unsur budaya dan agama dan yang lainnya terkandung dalam nasehat itu.Memang terkadang faktor masyarakat,budaya,norma,agama sangat berpengaruh bagi pertumbuhan jiwa seorang perempuan,hingga mengakibatkan perempuan kadang tidak bisa bebas menentukan pilihan-pilihan untuk dirinya sendiri.Perempuan seharusnya bisa mendapatkan kebebasan itu, seperti halnya laki-laki.Biar perempuan bisa mengenal resiko dan konsekuensi, engga hanya selalu menerima hasil akhirnya aja!!
Tetapi itu semua balik ke diri kamu masing-masing, untuk menentukan kehidupan kamu.Dalam tulisan ini aku tidak bermaksud untuk memojokkan atau menggurui pihak manapun, ataupun komunitas tertentu. Aku hanya ingin berbagi tentang apa yang aku lihat,aku dengar,aku sentuh dan aku rasakan. Dan berusaha menerima segalanya dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing :)
(untuk semua saudara perempuanku yang membenci penindasan hingga akhir hayat,semua perempuan yang menyuarakan perlawanan,kemarahan dan protes bila dirinya teraniyaya.semua perempuan yang berani menentukan pilihan dan berani bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya)
FIGHT FOR FREE AND CLAIMINATION THAT WE ARE POWERLESS!!
-theothersin-
Perempuan??? Kayaknya sering banget yach, jadi bahan obrolan. Ada aja yang menarik untuk dibahas dari sosok perempuan.Entah itu dari segi penampilan,sifat ataupun yang lain.Pokoknya engga ada habisnya kalau ngomongin perempuan.Engga ada matinye....!!!Hidup Perempuan...!!!
Perempuan memang bahan obrolan yang menarik,entah dikalangan laki-laki,ataupun dikalangan perempuan itu sendiri.Iyakan...ayo ngaku!Kayaknya seru banget yach kalo perempuan-perempuan kumpul terus ngomongin diri mereka sendiri! Hihihi....rame,seru abis deh!Tapi kenapa sih kalo perempuan kumpul dan ngobrol,pasti ada aja yang bilang:"eh ngrumpi terus",atau "gosiip terus nih yeee...!"
Uuggghhh...nyebelin banget engga sih? Emang kalo perempuan kumpul pasti ngomongin orang? Padahal banyak juga kan laki-laki pada kumpul ngobrol,tapi kayaknya mereka engga pernah dibilangin kayak gitu.Sampai-sampai predikat "tukang gosip"jatuh ke sosok perempuan.It's jerk...hah!
By the way,dalam tulisan ini aku engga bakalan ngebahas ngrumpi itu apa,gosip itu apa. Aku disini cuman pingin ngobrolin tentang perempuan,yang sering banget jadi bahan obrolan menarik,sekaligus mencoba menjadi pembicara yang aktif.Dan dalam tulisan ini, aku mencoba menggabungkan keduanya.Berbicara tentang perempuan dan sebagai perempuan.Bukan sebagai wanita kosmopolis yang idealis,gadis konvensioanal yang lugu maupun seorang feminis.Terus terang aku kurang suka dengan istilah-istilah kayak gitu,kesannya perempuan engga bisa menbawa identitas dirinya masing-masing,yang pada akhirnya membuat mereka jadi engga berarti sama sekali.
Perempuan adalah manusia yang terlahir dengan ciri-ciri fisik tertentu,yang memang diciptakan Tuhan berbeda dengan laki-laki,dan otomatis berpengaruh dengan prilaku gendernya.Tapi jangan salah lho,perempuan itu memiliki kekuatan yang tak terbatas dalam jiwanya.Who said that women are powerless?!? Wouyy...salah wouyyy...!!!Perempuan tuh engga selemah yang kamu bayangkan, perempuan juga sama istimewanya sama laki-laki,yang mempunyai kelebihan dan kekurangan seperti kamu...laki-laki!!!
Pernah beberapa waktu yang lalu, ada seorang temanku bilang,katanya perempuan itu seperti uang kertas dan laki-laki seperti uang logam. Karena perempuan seperti uang kertas,jadi harus dijaga, engga boleh robek sama sekali.Nasehat itu dia dapetin dari nenek dan ibunya secara turun-temurun.Eeemmmm....so what do you think? Nasehat yang begitu dalam artinya, segala unsur budaya dan agama dan yang lainnya terkandung dalam nasehat itu.Memang terkadang faktor masyarakat,budaya,norma,agama sangat berpengaruh bagi pertumbuhan jiwa seorang perempuan,hingga mengakibatkan perempuan kadang tidak bisa bebas menentukan pilihan-pilihan untuk dirinya sendiri.Perempuan seharusnya bisa mendapatkan kebebasan itu, seperti halnya laki-laki.Biar perempuan bisa mengenal resiko dan konsekuensi, engga hanya selalu menerima hasil akhirnya aja!!
Tetapi itu semua balik ke diri kamu masing-masing, untuk menentukan kehidupan kamu.Dalam tulisan ini aku tidak bermaksud untuk memojokkan atau menggurui pihak manapun, ataupun komunitas tertentu. Aku hanya ingin berbagi tentang apa yang aku lihat,aku dengar,aku sentuh dan aku rasakan. Dan berusaha menerima segalanya dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing :)
(untuk semua saudara perempuanku yang membenci penindasan hingga akhir hayat,semua perempuan yang menyuarakan perlawanan,kemarahan dan protes bila dirinya teraniyaya.semua perempuan yang berani menentukan pilihan dan berani bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya)
FIGHT FOR FREE AND CLAIMINATION THAT WE ARE POWERLESS!!
-theothersin-
REPORTASE DARI LOKASI INTAI
Pagi.
Hujan tembaki tukang becak dan pengemis kecil.
Cuma satu warna yang kuasa: kelabu gelap.
Setuju.
Belum 6.30.
Aku mengintai.
Hawa penindasan sudah bertengger di bulu bulu hidungku.
Ada truk dicegat Polantas.
6.30 pas.
Hujan dingin tak mampu lagi buat kita berpura-pura.
Ketidak adilan tak pernah ada?
Masih 6.30.
Anak anak sekolah menunggu angkot.
Ratusan, cerdas dan malas sama saja.
Semua was was.
Hujan masih.
Kelabu masih.
Pagi masih.
Tak semenit ku mengintai.
Sudah 2 kasus korban peraturan.
Kalau tiap pagi dicegat, tabrak saja!
Kalau tiap pagi was was, bolos saja!
(theChloroplast@yahoo.com)
BEDANYA AKU
Aku beda dengan anak kecil
Yang tidak pernah terbebani oleh persoalan hidup
Aku beda dengan pengemis
Tapi, aku selalu iri pada pengemis
Yang tidak harus membeli pakaian bagus
Aku beda dengan Ibuku
Tapi, aku selalu iri pada Ibuku
Yang memiliki anak-anak manis
Aku beda dengan temanku
Tapi, aku selalu iri pada temanku
Yang mempunyai stereo set di kamarnya
Aku beda dengan artis di televisi
Tapi, aku selalu iri pada artis di televisi
Yang terkenal dan tersohor di seluruh negeri
Aku beda dengan laki-laki
Tapi, aku tidak pernah iri pada laki-laki
Karena laki-laki pun manusia, sama sepertiku
(bleedingones@yahoo.com)
Pagi.
Hujan tembaki tukang becak dan pengemis kecil.
Cuma satu warna yang kuasa: kelabu gelap.
Setuju.
Belum 6.30.
Aku mengintai.
Hawa penindasan sudah bertengger di bulu bulu hidungku.
Ada truk dicegat Polantas.
6.30 pas.
Hujan dingin tak mampu lagi buat kita berpura-pura.
Ketidak adilan tak pernah ada?
Masih 6.30.
Anak anak sekolah menunggu angkot.
Ratusan, cerdas dan malas sama saja.
Semua was was.
Hujan masih.
Kelabu masih.
Pagi masih.
Tak semenit ku mengintai.
Sudah 2 kasus korban peraturan.
Kalau tiap pagi dicegat, tabrak saja!
Kalau tiap pagi was was, bolos saja!
(theChloroplast@yahoo.com)
BEDANYA AKU
Aku beda dengan anak kecil
Yang tidak pernah terbebani oleh persoalan hidup
Aku beda dengan pengemis
Tapi, aku selalu iri pada pengemis
Yang tidak harus membeli pakaian bagus
Aku beda dengan Ibuku
Tapi, aku selalu iri pada Ibuku
Yang memiliki anak-anak manis
Aku beda dengan temanku
Tapi, aku selalu iri pada temanku
Yang mempunyai stereo set di kamarnya
Aku beda dengan artis di televisi
Tapi, aku selalu iri pada artis di televisi
Yang terkenal dan tersohor di seluruh negeri
Aku beda dengan laki-laki
Tapi, aku tidak pernah iri pada laki-laki
Karena laki-laki pun manusia, sama sepertiku
(bleedingones@yahoo.com)
SAYA KANGEN KAMU, EMMA!
banyak masyarakat kita menilai kalau kehidupan "lesbi" (sebutan bagi perempuan yang tertarik pada perempuan),adalah kehidupan yang tabu dan harus dihindari.lesbi merupakan suatu penyakit,perilaku yang tidak normal.kehidupan lesbi itu cuman semu, kedok, mereka munafik dan penuh kebohongan! it's so cruel, hah...!
tapi menurutku mereka tidak munafik.memang perempuan sudah kodratnya jadi pasangan laki-laki,Tuhan memang sudah menciptakan manusia seperti itu.tapi gimana kalau orang yang dicintai dengan tulus ternyata perempuan juga.gimana kalau kenyamanan dan kehangatan rasa cinta dan rasa sayang itu cuman bisa didapat dari seorang perempuan? kalau memang rasa cinta dan sayang itu memang asalnya dari Tuhan, lalu kenapa kita harus menolaknya??? itu anugrah kan?!?
kalau aku pikir engga ada masalah siapa yang kita cintai, sepanjang kita mencintainya dengan tulus dan jujur,jadi menurutku mereka engga munafik, karena mereka berani mengakui ketulusan cinta mereka meskipun sama sesama jenis.dibanding mereka berpura-pura mencintai lawan jenis tetapi berdasarkan harapan atau keinginan yang bukan dari dirinya sendiri, tapi malah lebih karena orang-orang sekitar yang menginginkannya.
masyarakat selalu memarjinalkan kehidupan lesbi.only because most people could't live with their differences! it's not fair...,aku pikir mereka tidak seharusnya mendapat perlakuan seperti itu, mereka juga manusia seperti kita, yang keberadaannya juga harus diakui.we can't keep seeing them as sick people,they're not sick, they're just different!
aku malah salut banget sama mereka yang berani mengakui kelesbianannya.karena aku pikir mereka sudah jujur dengan dirinya sendiri,mampu mengambil keputusan atas pilihan-pilihan hidup dan bertanggung jawab dengan keputusan itu.mereka lesbi,bukan karena salah didik atau salah asuhan dari orang tua mereka,ataupun untuk tuntutan zaman.mereka hanya "berbeda" dari kebanyakan orang.
seperti kata temanku yang ekopunk,kalau semua manusia yang tercipta di dunia ini pasti punya keistimewaan masing-masing, sehingga menjadikan mereka menarik, tidak terkecuali mereka-mereka yang memilih untuk hidup berbeda dari kebanyakan orang, begitupun dengan kehidupan lesbi.
-dedicated for my lovely friend (emma) in somewhere,thank you for every bits of your pain that shared with me....misssss you much!-
(theothersin@godisdead.com)
banyak masyarakat kita menilai kalau kehidupan "lesbi" (sebutan bagi perempuan yang tertarik pada perempuan),adalah kehidupan yang tabu dan harus dihindari.lesbi merupakan suatu penyakit,perilaku yang tidak normal.kehidupan lesbi itu cuman semu, kedok, mereka munafik dan penuh kebohongan! it's so cruel, hah...!
tapi menurutku mereka tidak munafik.memang perempuan sudah kodratnya jadi pasangan laki-laki,Tuhan memang sudah menciptakan manusia seperti itu.tapi gimana kalau orang yang dicintai dengan tulus ternyata perempuan juga.gimana kalau kenyamanan dan kehangatan rasa cinta dan rasa sayang itu cuman bisa didapat dari seorang perempuan? kalau memang rasa cinta dan sayang itu memang asalnya dari Tuhan, lalu kenapa kita harus menolaknya??? itu anugrah kan?!?
kalau aku pikir engga ada masalah siapa yang kita cintai, sepanjang kita mencintainya dengan tulus dan jujur,jadi menurutku mereka engga munafik, karena mereka berani mengakui ketulusan cinta mereka meskipun sama sesama jenis.dibanding mereka berpura-pura mencintai lawan jenis tetapi berdasarkan harapan atau keinginan yang bukan dari dirinya sendiri, tapi malah lebih karena orang-orang sekitar yang menginginkannya.
masyarakat selalu memarjinalkan kehidupan lesbi.only because most people could't live with their differences! it's not fair...,aku pikir mereka tidak seharusnya mendapat perlakuan seperti itu, mereka juga manusia seperti kita, yang keberadaannya juga harus diakui.we can't keep seeing them as sick people,they're not sick, they're just different!
aku malah salut banget sama mereka yang berani mengakui kelesbianannya.karena aku pikir mereka sudah jujur dengan dirinya sendiri,mampu mengambil keputusan atas pilihan-pilihan hidup dan bertanggung jawab dengan keputusan itu.mereka lesbi,bukan karena salah didik atau salah asuhan dari orang tua mereka,ataupun untuk tuntutan zaman.mereka hanya "berbeda" dari kebanyakan orang.
seperti kata temanku yang ekopunk,kalau semua manusia yang tercipta di dunia ini pasti punya keistimewaan masing-masing, sehingga menjadikan mereka menarik, tidak terkecuali mereka-mereka yang memilih untuk hidup berbeda dari kebanyakan orang, begitupun dengan kehidupan lesbi.
-dedicated for my lovely friend (emma) in somewhere,thank you for every bits of your pain that shared with me....misssss you much!-
(theothersin@godisdead.com)
IKLAN | Sebuah Penjajahan Hegemonis
Kita adalah korban iklan setiap harinya, yang entah
ada berapa jumlahnya. Dari hari ke hari iklan semakin
mendominasi ruang gerak dalam kehidupan kita. Mulai
dari billboard di jalanan, koran yang kita baca setiap
pagi, majalah politik yang kita beli di pinggir jalan,
televisi yang jadi sarana pelampiasan kebosanan kita,
radio yang kurang lebih berfungsi sama, ajakan Ronald
Mcdonald’s untuk membantu kontingen Indonesia di
Olimpiade, sampai minuman ringan Coca Cola yang
diminum para pembicara diskusi anti-globalisasi di
Universitas Nasional 12 September 2001 yang lalu,… dan
masih banyak lagi sampai-sampai kalau ditulis semuanya
pasti akan sangat membosankan dan berhubung juga masih
terbatasnya pengetahuan yang saya miliki.
Semua iklan-iklan itu membuat hidup kita menjadi
terasa hampa, usaha mereka cukup ampuh dalam
merangsang hati kita untuk mengidam-idamkan
produk-produk yang mereka iklankan, tapi bisa jadi
sangat menyakitkan hati kalau kita mau
mempertimbangkannya dengan arus perputaran uang yang
ada di dunia periklanan. Saya tidak ingin membebani
anda dengan angka-angka yang memusingkan kepala, tapi
coba kita bayangkan kalau semua uang itu digunakan
untuk kepentingan sosial maka tidak ada lagi kelaparan
di dunia ini. Sebagai contoh Nike yang membayar
Michael Jordan, untuk membintangi spot iklannya yang
hanya berdurasi beberapa detik supaya para konsumen
rela membayar ribuan persen lebih mahal dari ongkos
produksi sebenarnya sepatu Air Jordan itu, sebesar $20
juta pertahunnya. Padahal uang sebanyak itu bisa
digunakan untuk memenuhi tuntutan para buruh mereka di
Tanggerang dan Vietnam, yang mereka pekerjakan untuk
menghindari pajak biaya produksi di negaranya dan
menekan ongkos produksi seminimal mungkin dan menjual
produknya semahal mungkin, dengan bantuan iklan
tentunya.
Tapi masyarakat sekarang sudah terbuai dengan
pemberhalaan komoditas (fetish commodity) dan telah
melebur menjadi satu, dimana kekuatan massa rakyat
dinegasikan dengan jati diri rakyat yang baru dan
pasif di dalam piranti teknologi mutakhir yang canggih
dan mahal. Elegi darah, keringat dan pikiran para
pekerja sewaktu memproduksi suatu barang telah
dikaburkan dengan gengsi semu dan prestise romantis
dari barang itu sendiri. Seperti mereka yang dengan
bangganya, karena pengaruh iklan yang dibintangi
jagoan basket berprestasi cemerlang itu, memakai
sepatu Nike Air Jordan yang mahal itu tanpa
mempedulikan nasib buruh anak di Tanggerang. Lebih
parah lagi, ada sebagian dari mereka lebih memilih
untuk membeli sepatu asli yang diimpor dari negara
asalnya daripada rakitan lokal yang telah memakan
banyak korban yaitu para pekerjanya yang mayoritasnya
adalah perempuan dan anak-anak di bawah usia
produktif.
Kita hidup di sebuah dunia yang segala kelangsungannya
cuma berkutat pada masalah pembelian dan penjualan. Di
sinilah jalan yang harus kita tempuh, kita diwajibkan
untuk mengadaikan harga diri kita sendiri dan
kemampuan kita bekerja supaya dapat uang yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan pokok sebagai manusia dan
juga supaya kita bisa berpartisipasi di dalam
masyarakat modern yang memaksa semua individu
pembentuknya untuk hidup mapan.
Dan tentu saja kita tidak memiliki barang yang kita
buat, karena merekalah yang mengambil banyak
keuntungan darinya. Salah satu diantara banyak
kontradiksi-kontradiksi yang ada di dalam sistem
kapitalis adalah sementara para atasan kita di tempat
kerja selalu ingin menurunkan nilai gaji kita untuk
meningkatkan laba, mereka juga harus menjual lagi
barang-barang yang kita buat kepada kita sebagai
konsumen, dan karena mereka tidak membayar kita dengan
cukup untuk mengkonsumsi semua yang kita buat, mereka
harus bersaing satu sama lain.
Iklan Hidup
Seperti halnya transportasi, periklanan adalah bagian
dari tenaga kerja tidak produktif untuk membawa
barang-barang ke pasar dan menjualnya di sana supaya
keuntungan bisa direalisasikan. Sejarah periklanan
sering dihubungkan dengan perkembangan kapitalisme.
Agen periklanan pertama kali muncul tidak lama setelah
revolusi industri, pertama kali di Inggris tahun 1800.
Rakyat pada masa itu sudah tidak lagi mengalami
langsung proses produksi di masyarakat, jadi
iklan-iklan pada saat itu dibuat hanya untuk mencari
konsumen baru dari lapisan masyarakat tertentu yang
hanya peduli pada produk dimana mereka tidak mengalami
langsung proses pembuatannya.
Selanjutnya di tahun 1880an, pasar bagi barang-barang
konsumer muai berkembang, merek dan kompetisi antar
merek mulai bermunculan. Iklan pun mulai mencoba untuk
memanusiawikan produk yang diciptakannya dalam
lingkungan pabrik yang buruk. Kita lihat saja
bagaimana usaha McDonald’s dengan maskot Ronald
McDonald, badut menyebalkan yang berusaha untuk
menciptakan kesan ramah dan menyenangkan dibalik
kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan atau penyedia
jasa SLI 008 yang pernah mengedepankan karakter
super-heroik Saras 008 yang tidak ada hubungannya
dengan industri telekomunikasi.
Periklanan muncul dari kompetisi antar merek-merek
yang berbeda untuk memaksimalkan laba. Industri
periklanan tidaklah statis karena ia bukan
persengkokolan monolitik kelas kapitalis. Ia sendiri
terbagi lagi kedalam persaingan para agen-agen iklan
yang berusaha untuk meraih keuntungan. Kompetisi iklan
ini seringkali mengikuti perkembangan teknologi.
Periklanan lebih dari sekedar sebuah proses kompetisi
pasif antar merek. Dibawah monopoli kapitalisme, iklan
secara aktif digunakan oleh merek-merek besar untuk
menjauhkan para pesaingnya dari pasar. Umumnya para
eksekutif industri punya pertimbangan bahwa mustahil
bisa memulai produksi tanpa dana iklan yang besar.
Keterasingan kita dari proses kerja tidak hanya
menjelaskan kenapa para pemilik modal harus beriklan
tapi juga kenapa kita mudah terpengaruh pesan yang
disampaikan. Setiap harinya kita berhubungan secara
tidak langsung dengan ratusan orang dengan cara
menggunakan atau membeli produk hasil keringat mereka.
Kita tidak berhubungan secara manusiawi sebagai orang
yang bekerja sama untuk membentuk dunia, melainkan
kita saling berinteraksi satu sama lain sebagai
konsumen pasar atau melalui tingkatan-tingkatan proses
kerja (labour division). Salah satu tempat yang kita
cari sebagai pelarian dari pasar adalah kehidupan
pribadi kita. Tapi apakah yang membentuk kehidupan
ini? Keluarga adalah unit pusat pengkonsumsian di
dalam masyarakat, pasar dan hubungan produksi
kapitalis juga ikut membentuk keluarga. Hal ini
menimbulkan paradigma yang menyesatkan dan membuat
banyak orang menjadi tidak puas, dan juga menimbulkan
hubungan antar anggota keluarga menjadi tidak
berimbang.
Kita sering menjumpai kebutuhan manusiawi kita dengan
cara yang terdistorsi dimana seluruh rangkaian
produk-produk yang tidak perlu dan bahkan berbahaya
menjadikan patokan semu untuk menghargai diri sendiri,
seperti misalnya rokok dan alkohol. Hal inilah yang
mebuat kita mudah terpengaruh iklan. Sebuah proses
pemasaran yang dimulai dari makanan, perumahan dan
perlengkapan rumah tangga akan diakhiri dengan
ditawarkannya setiap aspek dari hasrat yang paling
pribadi untuk dijual. Kalau kita tidak bisa menghargai
diri sendiri di tempat kerja, keluarga atau didalam
lingkungan lainnya, maka mereka akan membujukmu untuk
membeli produknya atau setidaknya mencicipi ilusinya
dan menikmati sensasinya. Dan para kapitalis cukup
berhati-hati dengan proses ini. Iklan produk mahal
dari Guess dan Calvin Klein tidak hanya ditujukan
kepada anak-anak orang kaya yang manja yang tinggal di
Pondok Indah, tapi juga kepada remaja miskin di
pemukiman kumuh Bantargebang karena memang media
publik yang memungkinkan iklan bisa disebarluaskan itu
tidak bisa mengontrol atau menyeleksi orang yang
menyaksikannya.
Usaha Penghancuran Mitos
Tapi kita semua tidak sepenuhnya ada didalam buaian
iklan. Segala usaha percobaan untuk menjual produk dan
gaya hidup pada kita penuh kontradiksi dengan industri
periklanan. Dari sinilah iklan selalu menjauhi dunia
kerja dan mencari hubungan emosi positif, walaupun
dengan cara yang terdistorsi. Inilah juga sebabnya
daya tarik seksual perempuan selalu digunakan untuk
menjual segalanya mulai dari es krim sampai mobil
mewah, misalnya iklan mobil Baleno yang seolah-olah
membawa pesan: “Beli mobilnya dan dapatkan gadis
sexy-nya!” Tentunya hal ini bukanlah situasi tanpa
harapan dimana orang bisa ditipu seenaknya, kita tidak
sepenuhnya di tipu iklan. Perlawanan melawan
kapitalisme sering menemukan ekspresi yang
hiper-dramatis dalam mengutuk perusahaan-perusahaan
yang ingin melabelkan kehidupan kita. Contoh paling
spektakuler adalah protes JI8 di London dan aksi anti
WTO di Seattle, dimana di kedua tempat tersebut
McDonald’s menjadi sasaran amukan massa dan Nike
mendapat pengalaman ‘emosional’ yang sama sekali baru.
Tidak heran kalau pergerakan anti kapitalisme sekarang
ini sering berkaitan erat dengan usaha-usaha
memutarbalikkan pesan iklan dan membeberkan
kebohongan-kebohongan didalamnya, mereka menggunakan
taktik dan strategi yang lebih popular dengan sebutan
Adbusting dan Culture Jamming yang mana hasilnya
kemudian disebut sebagai Subvertisement. Mereka juga
banyak mempertanyakan fakta dimana banyak orang, yang
terkadang paling miskin dan paling tertindas oleh
sistem, membeli produk yang belum tentu dibutuhkan
hanya karena berdasarkan merek dan gengsinya saja. Hal
ini semakin membuktikan bahwa budaya industri
periklanan ini telah menipu rakyat banyak supaya
membeli barang-barang over-produksi dari sistem
kapitalis yang tidak berbudaya, tidak manusiawi dan
memboroskan itu.
Dalam bentuk yang kurang begitu spektakuler, culture
jamming telah digunakan oleh para pemrotes anti
kapitalis untuk memutarbalikkan pesan di dalam iklan.
Tapi fenomena ini tidaklah baru. Depresi besar yang
melanda Amerika pada tahun 1930an telah melahirkan
pergerakan besar dengan sasaran kemarahan pada iklan.
Hal ini adalah bagian dari keputusasaan hebat yang
melanda dan semakin menjamur di Amerika, termasuk
didalamnya pemberontakkan buruh, protes para petani
melawan perkongsian supermarket dan didirikannya
organisasi konsumen militan yang mencoba mengaitkan
isu konsumerisme dengan permasalahan lingkungan hidup
(Eco-Consumerism/Green Consumerism).
Adbuster, sebuah kolektif desainer anarkis yang telah
mengabdikan dirinya didalam culture jamming. Mereka
memfokuskan kemarahannya pada kemunafikan “mimpi-mimpi
pembangunan penuh janji”-nya orang Amerika (atau biasa
disebut dengan American Dreams, sebuah filosofi
hedonisme konsumer orang Amerika yang muncul seusai
perang dunia kedua sebagai stimulan semangat
nasionalis-patriotik) dengan menyebarkan agitasi dan
propagandanya melalui aksi vandalisme kulturalnya,
seperti pemutarbalikan pesan di dalam iklan dan
penghancuran nilai yang esensial dari papan baliho
(billboard). Hal yang serupa juga pernah dilakukan
oleh kelompok Billboard Liberation Front dalam bentuk
yang lebih ekstrim. Perlawanan ini ada karena
periklanan dan media yang ada sekarang tidak
menciptakan kenyataan kita. Coba lihat kecenderungan
diskriminasi seksual di iklan-iklan. Walaupun fakta
membuktikan: laki-laki dua kali lebih sering muncul di
televisi, tapi pengkomoditasan tubuh perempuan telah
menjadi salah satu tayangan yang paling lazim di semua
iklan. Kecenderungan seksis ini tidak semata hanya
diciptakan oleh iklan. Tapi iklan selalu mengikuti
kecenderungan yang telah diciptakan di mana saja, di
dalam peran yang kita mainkan di keluarga dan didalam
kenyataan dimana tubuh perempuan telah terbeli dan
dijual sebagai komoditas dunia nyata. Tentu saja dalam
melakukannya, iklan semakin memperkuat kecenderungan
itu.
Tapi para pengiklan juga sadar kalau perlawanan
terhadap kecenderungan semacam itu bisa mematikan
minat masyarakat terhadap produknya, dan oleh karena
itu mereka harus megadaptasi apa yang terjadi di
masyarakat. Para agen iklan juga mencoba mengikuti
perkembangan tren di masyarakat, seperti tim riset
yang dikirim ke masyarakat untuk mengetahui pendapat
khalayak umum mengenai produknya. Bahkan mereka juga
mencoba mengadaptasi tren anti kapitalis, contoh
paling gampang adalah munculnya gambar wajah Che
Guevera sebagai penghias kemasan kaleng minuman ringan
Revolution Soda dan merchandise band Rage Against the
Machine, dan juga iklan produk ponsel Nokia dengan
imej teknologi revolusioner.
Walau bagaimanapun juga, masalah terbesar bagi para
pengiklan adalah pengalaman kita di dunia nyata
bertentangan dengan imej yang mereka buat. Hal ini
dikarenakan perputaran uang jutaan dollar yang
dikeluarkan dana periklanan telah turut mendukung
pertumbuhan besar pergerakkan anti kapitalisme. Ia
bukan sebuah pergerakan yang terfokus pada periklanan,
tapi juga pada proses penghisapan yang timbul di dalam
produksi.
Pemberontakkan di Seattle bulan November ’99 tumbuh
dari ratusan perang dan penderitaan kecil:
pengangguran akibat PHK dari pabrik seperti Levi’s dan
Guess, anak-anak kecil yang ‘dipaksa’ -secara sangat
halus tentunya- untuk menggunakan barang bermerek
selama mereka bersekolah, penyiksaan binatang dalam
riset sebuah produk kosmetik (vivisection), makanan
yang termodifikasi secara genetis (bio-technology) dan
penggunaan ponsel yang semakin meluas dimasyarakat.
Semua adalah proses dimana perlawanan di arahkan
kepada aspek individual yang berusaha mendominasi
dengan mereknya, karena sitem kapitalis itu sendiri
yang melibatkannya. Yang membuat pemberontakan Seattle
itu menarik bukan semata karena papan iklan dari
McDonald’s, Niketown dan Coca Cola yang dihancurkan,
tapi berkumpulnya semua organ perlawanan yang
sebenarnya hanya sekelibat kekuatan kita untuk
menghancurkan tidak hanya imejnya tapi juga sistem
yang telah memberi imej itu kekuatan untuk
mempengaruhi kita semua. Thar she blows, it just the
tip of the iceberg!
D E S T R O Y T H E I R A D V E RT I S E M E N T ,
C R E A T E O U R O W N S U B V E R T I S E M E N T !
Referensi:
- No Logo by Naomi Klein (buku ini sangat
direkomendasikan untuk dibaca)
- Design and Conquer by Elane Heffernan, Socialist
Review # 244 September 2000
- Anarchy Design by The Adbusters
- Is This Real Life? by The Situationist International
- One Dimensional Man by Herbert Marcuse
- How do our kids get so caught up in consumerism? by
Brian Swimme, Ph. D.
- Situs-situs Clean the Surface, Billboard Liberation
Front, Indymedia, SideWalk Bubblegum, Z-Net,
Mid-Atlantic Infoshop,…
S a y a p I m a j i
Kita adalah korban iklan setiap harinya, yang entah
ada berapa jumlahnya. Dari hari ke hari iklan semakin
mendominasi ruang gerak dalam kehidupan kita. Mulai
dari billboard di jalanan, koran yang kita baca setiap
pagi, majalah politik yang kita beli di pinggir jalan,
televisi yang jadi sarana pelampiasan kebosanan kita,
radio yang kurang lebih berfungsi sama, ajakan Ronald
Mcdonald’s untuk membantu kontingen Indonesia di
Olimpiade, sampai minuman ringan Coca Cola yang
diminum para pembicara diskusi anti-globalisasi di
Universitas Nasional 12 September 2001 yang lalu,… dan
masih banyak lagi sampai-sampai kalau ditulis semuanya
pasti akan sangat membosankan dan berhubung juga masih
terbatasnya pengetahuan yang saya miliki.
Semua iklan-iklan itu membuat hidup kita menjadi
terasa hampa, usaha mereka cukup ampuh dalam
merangsang hati kita untuk mengidam-idamkan
produk-produk yang mereka iklankan, tapi bisa jadi
sangat menyakitkan hati kalau kita mau
mempertimbangkannya dengan arus perputaran uang yang
ada di dunia periklanan. Saya tidak ingin membebani
anda dengan angka-angka yang memusingkan kepala, tapi
coba kita bayangkan kalau semua uang itu digunakan
untuk kepentingan sosial maka tidak ada lagi kelaparan
di dunia ini. Sebagai contoh Nike yang membayar
Michael Jordan, untuk membintangi spot iklannya yang
hanya berdurasi beberapa detik supaya para konsumen
rela membayar ribuan persen lebih mahal dari ongkos
produksi sebenarnya sepatu Air Jordan itu, sebesar $20
juta pertahunnya. Padahal uang sebanyak itu bisa
digunakan untuk memenuhi tuntutan para buruh mereka di
Tanggerang dan Vietnam, yang mereka pekerjakan untuk
menghindari pajak biaya produksi di negaranya dan
menekan ongkos produksi seminimal mungkin dan menjual
produknya semahal mungkin, dengan bantuan iklan
tentunya.
Tapi masyarakat sekarang sudah terbuai dengan
pemberhalaan komoditas (fetish commodity) dan telah
melebur menjadi satu, dimana kekuatan massa rakyat
dinegasikan dengan jati diri rakyat yang baru dan
pasif di dalam piranti teknologi mutakhir yang canggih
dan mahal. Elegi darah, keringat dan pikiran para
pekerja sewaktu memproduksi suatu barang telah
dikaburkan dengan gengsi semu dan prestise romantis
dari barang itu sendiri. Seperti mereka yang dengan
bangganya, karena pengaruh iklan yang dibintangi
jagoan basket berprestasi cemerlang itu, memakai
sepatu Nike Air Jordan yang mahal itu tanpa
mempedulikan nasib buruh anak di Tanggerang. Lebih
parah lagi, ada sebagian dari mereka lebih memilih
untuk membeli sepatu asli yang diimpor dari negara
asalnya daripada rakitan lokal yang telah memakan
banyak korban yaitu para pekerjanya yang mayoritasnya
adalah perempuan dan anak-anak di bawah usia
produktif.
Kita hidup di sebuah dunia yang segala kelangsungannya
cuma berkutat pada masalah pembelian dan penjualan. Di
sinilah jalan yang harus kita tempuh, kita diwajibkan
untuk mengadaikan harga diri kita sendiri dan
kemampuan kita bekerja supaya dapat uang yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan pokok sebagai manusia dan
juga supaya kita bisa berpartisipasi di dalam
masyarakat modern yang memaksa semua individu
pembentuknya untuk hidup mapan.
Dan tentu saja kita tidak memiliki barang yang kita
buat, karena merekalah yang mengambil banyak
keuntungan darinya. Salah satu diantara banyak
kontradiksi-kontradiksi yang ada di dalam sistem
kapitalis adalah sementara para atasan kita di tempat
kerja selalu ingin menurunkan nilai gaji kita untuk
meningkatkan laba, mereka juga harus menjual lagi
barang-barang yang kita buat kepada kita sebagai
konsumen, dan karena mereka tidak membayar kita dengan
cukup untuk mengkonsumsi semua yang kita buat, mereka
harus bersaing satu sama lain.
Iklan Hidup
Seperti halnya transportasi, periklanan adalah bagian
dari tenaga kerja tidak produktif untuk membawa
barang-barang ke pasar dan menjualnya di sana supaya
keuntungan bisa direalisasikan. Sejarah periklanan
sering dihubungkan dengan perkembangan kapitalisme.
Agen periklanan pertama kali muncul tidak lama setelah
revolusi industri, pertama kali di Inggris tahun 1800.
Rakyat pada masa itu sudah tidak lagi mengalami
langsung proses produksi di masyarakat, jadi
iklan-iklan pada saat itu dibuat hanya untuk mencari
konsumen baru dari lapisan masyarakat tertentu yang
hanya peduli pada produk dimana mereka tidak mengalami
langsung proses pembuatannya.
Selanjutnya di tahun 1880an, pasar bagi barang-barang
konsumer muai berkembang, merek dan kompetisi antar
merek mulai bermunculan. Iklan pun mulai mencoba untuk
memanusiawikan produk yang diciptakannya dalam
lingkungan pabrik yang buruk. Kita lihat saja
bagaimana usaha McDonald’s dengan maskot Ronald
McDonald, badut menyebalkan yang berusaha untuk
menciptakan kesan ramah dan menyenangkan dibalik
kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan atau penyedia
jasa SLI 008 yang pernah mengedepankan karakter
super-heroik Saras 008 yang tidak ada hubungannya
dengan industri telekomunikasi.
Periklanan muncul dari kompetisi antar merek-merek
yang berbeda untuk memaksimalkan laba. Industri
periklanan tidaklah statis karena ia bukan
persengkokolan monolitik kelas kapitalis. Ia sendiri
terbagi lagi kedalam persaingan para agen-agen iklan
yang berusaha untuk meraih keuntungan. Kompetisi iklan
ini seringkali mengikuti perkembangan teknologi.
Periklanan lebih dari sekedar sebuah proses kompetisi
pasif antar merek. Dibawah monopoli kapitalisme, iklan
secara aktif digunakan oleh merek-merek besar untuk
menjauhkan para pesaingnya dari pasar. Umumnya para
eksekutif industri punya pertimbangan bahwa mustahil
bisa memulai produksi tanpa dana iklan yang besar.
Keterasingan kita dari proses kerja tidak hanya
menjelaskan kenapa para pemilik modal harus beriklan
tapi juga kenapa kita mudah terpengaruh pesan yang
disampaikan. Setiap harinya kita berhubungan secara
tidak langsung dengan ratusan orang dengan cara
menggunakan atau membeli produk hasil keringat mereka.
Kita tidak berhubungan secara manusiawi sebagai orang
yang bekerja sama untuk membentuk dunia, melainkan
kita saling berinteraksi satu sama lain sebagai
konsumen pasar atau melalui tingkatan-tingkatan proses
kerja (labour division). Salah satu tempat yang kita
cari sebagai pelarian dari pasar adalah kehidupan
pribadi kita. Tapi apakah yang membentuk kehidupan
ini? Keluarga adalah unit pusat pengkonsumsian di
dalam masyarakat, pasar dan hubungan produksi
kapitalis juga ikut membentuk keluarga. Hal ini
menimbulkan paradigma yang menyesatkan dan membuat
banyak orang menjadi tidak puas, dan juga menimbulkan
hubungan antar anggota keluarga menjadi tidak
berimbang.
Kita sering menjumpai kebutuhan manusiawi kita dengan
cara yang terdistorsi dimana seluruh rangkaian
produk-produk yang tidak perlu dan bahkan berbahaya
menjadikan patokan semu untuk menghargai diri sendiri,
seperti misalnya rokok dan alkohol. Hal inilah yang
mebuat kita mudah terpengaruh iklan. Sebuah proses
pemasaran yang dimulai dari makanan, perumahan dan
perlengkapan rumah tangga akan diakhiri dengan
ditawarkannya setiap aspek dari hasrat yang paling
pribadi untuk dijual. Kalau kita tidak bisa menghargai
diri sendiri di tempat kerja, keluarga atau didalam
lingkungan lainnya, maka mereka akan membujukmu untuk
membeli produknya atau setidaknya mencicipi ilusinya
dan menikmati sensasinya. Dan para kapitalis cukup
berhati-hati dengan proses ini. Iklan produk mahal
dari Guess dan Calvin Klein tidak hanya ditujukan
kepada anak-anak orang kaya yang manja yang tinggal di
Pondok Indah, tapi juga kepada remaja miskin di
pemukiman kumuh Bantargebang karena memang media
publik yang memungkinkan iklan bisa disebarluaskan itu
tidak bisa mengontrol atau menyeleksi orang yang
menyaksikannya.
Usaha Penghancuran Mitos
Tapi kita semua tidak sepenuhnya ada didalam buaian
iklan. Segala usaha percobaan untuk menjual produk dan
gaya hidup pada kita penuh kontradiksi dengan industri
periklanan. Dari sinilah iklan selalu menjauhi dunia
kerja dan mencari hubungan emosi positif, walaupun
dengan cara yang terdistorsi. Inilah juga sebabnya
daya tarik seksual perempuan selalu digunakan untuk
menjual segalanya mulai dari es krim sampai mobil
mewah, misalnya iklan mobil Baleno yang seolah-olah
membawa pesan: “Beli mobilnya dan dapatkan gadis
sexy-nya!” Tentunya hal ini bukanlah situasi tanpa
harapan dimana orang bisa ditipu seenaknya, kita tidak
sepenuhnya di tipu iklan. Perlawanan melawan
kapitalisme sering menemukan ekspresi yang
hiper-dramatis dalam mengutuk perusahaan-perusahaan
yang ingin melabelkan kehidupan kita. Contoh paling
spektakuler adalah protes JI8 di London dan aksi anti
WTO di Seattle, dimana di kedua tempat tersebut
McDonald’s menjadi sasaran amukan massa dan Nike
mendapat pengalaman ‘emosional’ yang sama sekali baru.
Tidak heran kalau pergerakan anti kapitalisme sekarang
ini sering berkaitan erat dengan usaha-usaha
memutarbalikkan pesan iklan dan membeberkan
kebohongan-kebohongan didalamnya, mereka menggunakan
taktik dan strategi yang lebih popular dengan sebutan
Adbusting dan Culture Jamming yang mana hasilnya
kemudian disebut sebagai Subvertisement. Mereka juga
banyak mempertanyakan fakta dimana banyak orang, yang
terkadang paling miskin dan paling tertindas oleh
sistem, membeli produk yang belum tentu dibutuhkan
hanya karena berdasarkan merek dan gengsinya saja. Hal
ini semakin membuktikan bahwa budaya industri
periklanan ini telah menipu rakyat banyak supaya
membeli barang-barang over-produksi dari sistem
kapitalis yang tidak berbudaya, tidak manusiawi dan
memboroskan itu.
Dalam bentuk yang kurang begitu spektakuler, culture
jamming telah digunakan oleh para pemrotes anti
kapitalis untuk memutarbalikkan pesan di dalam iklan.
Tapi fenomena ini tidaklah baru. Depresi besar yang
melanda Amerika pada tahun 1930an telah melahirkan
pergerakan besar dengan sasaran kemarahan pada iklan.
Hal ini adalah bagian dari keputusasaan hebat yang
melanda dan semakin menjamur di Amerika, termasuk
didalamnya pemberontakkan buruh, protes para petani
melawan perkongsian supermarket dan didirikannya
organisasi konsumen militan yang mencoba mengaitkan
isu konsumerisme dengan permasalahan lingkungan hidup
(Eco-Consumerism/Green Consumerism).
Adbuster, sebuah kolektif desainer anarkis yang telah
mengabdikan dirinya didalam culture jamming. Mereka
memfokuskan kemarahannya pada kemunafikan “mimpi-mimpi
pembangunan penuh janji”-nya orang Amerika (atau biasa
disebut dengan American Dreams, sebuah filosofi
hedonisme konsumer orang Amerika yang muncul seusai
perang dunia kedua sebagai stimulan semangat
nasionalis-patriotik) dengan menyebarkan agitasi dan
propagandanya melalui aksi vandalisme kulturalnya,
seperti pemutarbalikan pesan di dalam iklan dan
penghancuran nilai yang esensial dari papan baliho
(billboard). Hal yang serupa juga pernah dilakukan
oleh kelompok Billboard Liberation Front dalam bentuk
yang lebih ekstrim. Perlawanan ini ada karena
periklanan dan media yang ada sekarang tidak
menciptakan kenyataan kita. Coba lihat kecenderungan
diskriminasi seksual di iklan-iklan. Walaupun fakta
membuktikan: laki-laki dua kali lebih sering muncul di
televisi, tapi pengkomoditasan tubuh perempuan telah
menjadi salah satu tayangan yang paling lazim di semua
iklan. Kecenderungan seksis ini tidak semata hanya
diciptakan oleh iklan. Tapi iklan selalu mengikuti
kecenderungan yang telah diciptakan di mana saja, di
dalam peran yang kita mainkan di keluarga dan didalam
kenyataan dimana tubuh perempuan telah terbeli dan
dijual sebagai komoditas dunia nyata. Tentu saja dalam
melakukannya, iklan semakin memperkuat kecenderungan
itu.
Tapi para pengiklan juga sadar kalau perlawanan
terhadap kecenderungan semacam itu bisa mematikan
minat masyarakat terhadap produknya, dan oleh karena
itu mereka harus megadaptasi apa yang terjadi di
masyarakat. Para agen iklan juga mencoba mengikuti
perkembangan tren di masyarakat, seperti tim riset
yang dikirim ke masyarakat untuk mengetahui pendapat
khalayak umum mengenai produknya. Bahkan mereka juga
mencoba mengadaptasi tren anti kapitalis, contoh
paling gampang adalah munculnya gambar wajah Che
Guevera sebagai penghias kemasan kaleng minuman ringan
Revolution Soda dan merchandise band Rage Against the
Machine, dan juga iklan produk ponsel Nokia dengan
imej teknologi revolusioner.
Walau bagaimanapun juga, masalah terbesar bagi para
pengiklan adalah pengalaman kita di dunia nyata
bertentangan dengan imej yang mereka buat. Hal ini
dikarenakan perputaran uang jutaan dollar yang
dikeluarkan dana periklanan telah turut mendukung
pertumbuhan besar pergerakkan anti kapitalisme. Ia
bukan sebuah pergerakan yang terfokus pada periklanan,
tapi juga pada proses penghisapan yang timbul di dalam
produksi.
Pemberontakkan di Seattle bulan November ’99 tumbuh
dari ratusan perang dan penderitaan kecil:
pengangguran akibat PHK dari pabrik seperti Levi’s dan
Guess, anak-anak kecil yang ‘dipaksa’ -secara sangat
halus tentunya- untuk menggunakan barang bermerek
selama mereka bersekolah, penyiksaan binatang dalam
riset sebuah produk kosmetik (vivisection), makanan
yang termodifikasi secara genetis (bio-technology) dan
penggunaan ponsel yang semakin meluas dimasyarakat.
Semua adalah proses dimana perlawanan di arahkan
kepada aspek individual yang berusaha mendominasi
dengan mereknya, karena sitem kapitalis itu sendiri
yang melibatkannya. Yang membuat pemberontakan Seattle
itu menarik bukan semata karena papan iklan dari
McDonald’s, Niketown dan Coca Cola yang dihancurkan,
tapi berkumpulnya semua organ perlawanan yang
sebenarnya hanya sekelibat kekuatan kita untuk
menghancurkan tidak hanya imejnya tapi juga sistem
yang telah memberi imej itu kekuatan untuk
mempengaruhi kita semua. Thar she blows, it just the
tip of the iceberg!
D E S T R O Y T H E I R A D V E RT I S E M E N T ,
C R E A T E O U R O W N S U B V E R T I S E M E N T !
Referensi:
- No Logo by Naomi Klein (buku ini sangat
direkomendasikan untuk dibaca)
- Design and Conquer by Elane Heffernan, Socialist
Review # 244 September 2000
- Anarchy Design by The Adbusters
- Is This Real Life? by The Situationist International
- One Dimensional Man by Herbert Marcuse
- How do our kids get so caught up in consumerism? by
Brian Swimme, Ph. D.
- Situs-situs Clean the Surface, Billboard Liberation
Front, Indymedia, SideWalk Bubblegum, Z-Net,
Mid-Atlantic Infoshop,…
S a y a p I m a j i
PERTANYAAN-PERTANYAAN SEORANG VIRGIN SUICIDE!
Apakah tubuh perempuan harus langsing, ramping dan singset untuk mencirikan feminitasnya?
Apakah perempuan "dewasa" berarti harus menggunakan lipstik, slop/sepatu berhak tinggi?
Anak perempuan dituntut menjadi pribadi yg sesuai dgn harapan masyarakat dan ortunya, yaitu menjadi perempuan yg penyayang, patuh, lembut dan berpenampilan menarik (bagi lawan jenisnya)?
Semua ini tidak terlepas dari seksisme, kapitalisme, dan lookism..yang menilai seseorang berdasarkan penampilan mereka baik fisik maupun tingkah laku/sikap diri..ini menyebabkan perempuan menjadi kritis terhadap tubuhnya sendiri dan depresi yg memunculkan perasaan tidak nyaman terhadap tubuhnya sendiri.
Disamping itu peranan media yg selalu menampilkan gambaran perempuan yg diinginkan.. seperti tubuh kurus sangat kurus, berkaki panjang dan wajah cantik, maka tidak heran banyak perempuan yang dengan berbagai cara untuk bisa menjadi seperti perempuan-perempuan buatan media. Pada akhirnya membunuh kepribadian mereka dan mengikuti simbol-simbol itu. Mereka menyadari bahwa satu-satunya cara untuk dapat bertahan dan diakui oleh lingkungan atau memiliki kekuatan adalah dengan tubuh mereka, semua itu merupakan tuntutan maskulin yang menjadikan DUNIA TIDAK RAMAH PEREMPUAN.
Contoh kasus: Perkosaan.
Sering kali masyarakat/pengadilan menyalahkan korban dengan menyebutkan bahwa si korban "mengundang" kejadian itu sendiri. Misalnya: karena si korban pakai rok pendek dan jalan sendirian malam-malam dan lain-lain...yang jadi pertanyaan: kenapa kita masih harus menyalahkan korban? karena sudah saatnya laki-laki untuk menjaga nafsu dan ke-seksisan kalian, karena siapapun memiliki hak untuk mendapatkan rasa aman dimanapun dan bagaimanapun keadaan mereka.
Kesimpulannya..Disini kita bisa ngeliat, konstruksi sosial berperan penting dalam membentuk sikap perempuan sedemikian rupa, sehingga perempuan-perempuan berusaha untuk mendapat "citra baik" untuk tumbuh menjadi perempuan yg feminin, langsing, menikah dengan laki-laki, melahirkan, mengasuh anaknya, melayani suami sekaligus menjadi tumpuan anak-anak dan suaminya..dan seandainya tidak ada lagi konstruksi sosial yg membebani perempuan dengan berbagai cara yang harus mereka tampilkan, siapkah kita menerima perempuan tidak feminin, tidak langsing, tidak cantik, tidak menikah atau memutuskan untuk tidak punya anak?
Virgin Suicide (sista_peti@yahoo.com)
Apakah tubuh perempuan harus langsing, ramping dan singset untuk mencirikan feminitasnya?
Apakah perempuan "dewasa" berarti harus menggunakan lipstik, slop/sepatu berhak tinggi?
Anak perempuan dituntut menjadi pribadi yg sesuai dgn harapan masyarakat dan ortunya, yaitu menjadi perempuan yg penyayang, patuh, lembut dan berpenampilan menarik (bagi lawan jenisnya)?
Semua ini tidak terlepas dari seksisme, kapitalisme, dan lookism..yang menilai seseorang berdasarkan penampilan mereka baik fisik maupun tingkah laku/sikap diri..ini menyebabkan perempuan menjadi kritis terhadap tubuhnya sendiri dan depresi yg memunculkan perasaan tidak nyaman terhadap tubuhnya sendiri.
Disamping itu peranan media yg selalu menampilkan gambaran perempuan yg diinginkan.. seperti tubuh kurus sangat kurus, berkaki panjang dan wajah cantik, maka tidak heran banyak perempuan yang dengan berbagai cara untuk bisa menjadi seperti perempuan-perempuan buatan media. Pada akhirnya membunuh kepribadian mereka dan mengikuti simbol-simbol itu. Mereka menyadari bahwa satu-satunya cara untuk dapat bertahan dan diakui oleh lingkungan atau memiliki kekuatan adalah dengan tubuh mereka, semua itu merupakan tuntutan maskulin yang menjadikan DUNIA TIDAK RAMAH PEREMPUAN.
Contoh kasus: Perkosaan.
Sering kali masyarakat/pengadilan menyalahkan korban dengan menyebutkan bahwa si korban "mengundang" kejadian itu sendiri. Misalnya: karena si korban pakai rok pendek dan jalan sendirian malam-malam dan lain-lain...yang jadi pertanyaan: kenapa kita masih harus menyalahkan korban? karena sudah saatnya laki-laki untuk menjaga nafsu dan ke-seksisan kalian, karena siapapun memiliki hak untuk mendapatkan rasa aman dimanapun dan bagaimanapun keadaan mereka.
Kesimpulannya..Disini kita bisa ngeliat, konstruksi sosial berperan penting dalam membentuk sikap perempuan sedemikian rupa, sehingga perempuan-perempuan berusaha untuk mendapat "citra baik" untuk tumbuh menjadi perempuan yg feminin, langsing, menikah dengan laki-laki, melahirkan, mengasuh anaknya, melayani suami sekaligus menjadi tumpuan anak-anak dan suaminya..dan seandainya tidak ada lagi konstruksi sosial yg membebani perempuan dengan berbagai cara yang harus mereka tampilkan, siapkah kita menerima perempuan tidak feminin, tidak langsing, tidak cantik, tidak menikah atau memutuskan untuk tidak punya anak?
Virgin Suicide (sista_peti@yahoo.com)
NYE-TREET EMANG NGGAK ADA MATINYA!
Suka Nye-treet (baca: Nyetrit)? Ini ada teman perempuan dari Bandung mau bagi bagi opini dan tips tentang nye-treet ini.Nye-treet itu nongkrong berjam-jam di pinggir jalan rame-rame bahkan tidur sekalian disitu. Ada yang mau bagi-bagi lagi cerita nye-treetnya? Kirim ke vicious.V@lycos.com ya!
Yang asik:
1.Bisa ketemu teman-teman (berbagi, nongkrong sama teman-teman )
2.Nggak harus pulang dan susah-susah nyari angkot.
Yang nggak asik:
1.Badan bisa pegal-pegal
2.Tidur kurang nyenyak
3.Bahaya laten Seksisme!
TIPS:
1.Semakin banyak teman-teman yang ikut nyetrit semakin ramai.
2.Pakai baju yang FREE TO MOVE (nyaman dan aman, khususnya dari dingin) seperti celana
panjang, jaket, sepatu (boot…mungkin, kalo ada yg ganggu tinggal tendang..Jeger!)
3.Jangan kebanyakan minum, REPOT PIPIS!! kalo kebelet sebaiknya cari WC terdekat dan kalo bisa
gratisan..BASEMENT atau Toilet mal bisa diandalkan, biasanya buka 24 jam.
4.Untuk keamanan, selalu waspada pada keadaan sekitar (SELF CONTROL) itu yang penting.
5.Nggak ada salahnya ngajak temen yang bisa diandalkan, karena (sekali lagi) SEKSISME masih bikin
kita ngerasa kurang aman.
6.Kalo nye-treet bareng pacar, jangan lupa teman sekitar kita...hehehe!
Virgin Suicide (sista_peti@yahoo.com)
Suka Nye-treet (baca: Nyetrit)? Ini ada teman perempuan dari Bandung mau bagi bagi opini dan tips tentang nye-treet ini.Nye-treet itu nongkrong berjam-jam di pinggir jalan rame-rame bahkan tidur sekalian disitu. Ada yang mau bagi-bagi lagi cerita nye-treetnya? Kirim ke vicious.V@lycos.com ya!
Yang asik:
1.Bisa ketemu teman-teman (berbagi, nongkrong sama teman-teman )
2.Nggak harus pulang dan susah-susah nyari angkot.
Yang nggak asik:
1.Badan bisa pegal-pegal
2.Tidur kurang nyenyak
3.Bahaya laten Seksisme!
TIPS:
1.Semakin banyak teman-teman yang ikut nyetrit semakin ramai.
2.Pakai baju yang FREE TO MOVE (nyaman dan aman, khususnya dari dingin) seperti celana
panjang, jaket, sepatu (boot…mungkin, kalo ada yg ganggu tinggal tendang..Jeger!)
3.Jangan kebanyakan minum, REPOT PIPIS!! kalo kebelet sebaiknya cari WC terdekat dan kalo bisa
gratisan..BASEMENT atau Toilet mal bisa diandalkan, biasanya buka 24 jam.
4.Untuk keamanan, selalu waspada pada keadaan sekitar (SELF CONTROL) itu yang penting.
5.Nggak ada salahnya ngajak temen yang bisa diandalkan, karena (sekali lagi) SEKSISME masih bikin
kita ngerasa kurang aman.
6.Kalo nye-treet bareng pacar, jangan lupa teman sekitar kita...hehehe!
Virgin Suicide (sista_peti@yahoo.com)
BERHENTI BERPIKIR DETIK INI JUGA!
Kami menyerukan agar semua Teoris (mereka-mereka yang menamakan dirinya pencipta teori) menyiramkan kopi ke dalam otak mereka dan berhenti berpikir!!
Pemikiran adalah sebuah virus yang disebarkan oleh kaum elit guna menciptakan target pasar besar bagi bangkai-bangkai busuk dagangan para kaum intelektual seperti buku, filsafat, film, seni, sekolah, dan lain sebagainya.
Intelektualitas adalah sebuah kebohongan atau penipuan kaum borjuis untuk menjustifikasi aktifitas-aktifitas mereka dengan kedok “sebuah logika tingkat tinggi”.
Sudah berapa lama kita diperbudak untuk mengabdi pada ideologi-ideologi yang dibuat oleh para intelektual tanpa minta pendapat kita?
Orang yang memproduksi ideologi selalu dianggap lebih tinggi dari kaum petani yang memproduksi makanan,padahal makanan merupakan bentuk produksi yang jauh lebih konkrit baik dilihat dari bentuk maupun manfaatnya.
Para intelektual yang cuma bisa memproduksi ideologi (yang notabene tidak bisa memproduksi apa apa) , boleh memakan ideologinya dan pergi sana ke neraka!
Penghancuran total dari budaya intelektual adalah salah satu langkah untuk membebaskan diri dari eksploitasi.
Hancurkan tradisi milik generasi yang sudah mati ini!
Kelahiran Ideologi
Apa jadinya dunia
Bila setiap makna memiliki warna?
Tentu saja tak terjadi apa apa
Karena tak ada lagi ‘makna’ di dunia
Tapi jika pertanyaannya adalah
Apa jadinya dunia
Bila setiap dusta memiliki warna?
Maka semesta akan menjadi ceria
Warna warni
Jangan pernah berhenti berdusta, Teman
Karena dari dustalah
Ideologi dilahirkan
(Puisi oleh LastBark)
Aku merasa tulisan diatas (yang aku ambil seenaknya dari Senyum zine) ada benarnya, dalam artian kita memang seringkali merasa pintar dan dianggap lebin tinggi di masyarakat karena ilmu pengetahuan yang kita dapat dari buku, film, seni dan produk-produk tersebut. Padahal kenyatannya apa yang disebut kepintaran tidak hanya didapat dari produk-produk tersebut, karena kehidupan lah sebenarnya yang menjadi guru dan tempat belajar gratis serta tidak akan habisnya bagi manusia. (V)
Kami menyerukan agar semua Teoris (mereka-mereka yang menamakan dirinya pencipta teori) menyiramkan kopi ke dalam otak mereka dan berhenti berpikir!!
Pemikiran adalah sebuah virus yang disebarkan oleh kaum elit guna menciptakan target pasar besar bagi bangkai-bangkai busuk dagangan para kaum intelektual seperti buku, filsafat, film, seni, sekolah, dan lain sebagainya.
Intelektualitas adalah sebuah kebohongan atau penipuan kaum borjuis untuk menjustifikasi aktifitas-aktifitas mereka dengan kedok “sebuah logika tingkat tinggi”.
Sudah berapa lama kita diperbudak untuk mengabdi pada ideologi-ideologi yang dibuat oleh para intelektual tanpa minta pendapat kita?
Orang yang memproduksi ideologi selalu dianggap lebih tinggi dari kaum petani yang memproduksi makanan,padahal makanan merupakan bentuk produksi yang jauh lebih konkrit baik dilihat dari bentuk maupun manfaatnya.
Para intelektual yang cuma bisa memproduksi ideologi (yang notabene tidak bisa memproduksi apa apa) , boleh memakan ideologinya dan pergi sana ke neraka!
Penghancuran total dari budaya intelektual adalah salah satu langkah untuk membebaskan diri dari eksploitasi.
Hancurkan tradisi milik generasi yang sudah mati ini!
Kelahiran Ideologi
Apa jadinya dunia
Bila setiap makna memiliki warna?
Tentu saja tak terjadi apa apa
Karena tak ada lagi ‘makna’ di dunia
Tapi jika pertanyaannya adalah
Apa jadinya dunia
Bila setiap dusta memiliki warna?
Maka semesta akan menjadi ceria
Warna warni
Jangan pernah berhenti berdusta, Teman
Karena dari dustalah
Ideologi dilahirkan
(Puisi oleh LastBark)
Aku merasa tulisan diatas (yang aku ambil seenaknya dari Senyum zine) ada benarnya, dalam artian kita memang seringkali merasa pintar dan dianggap lebin tinggi di masyarakat karena ilmu pengetahuan yang kita dapat dari buku, film, seni dan produk-produk tersebut. Padahal kenyatannya apa yang disebut kepintaran tidak hanya didapat dari produk-produk tersebut, karena kehidupan lah sebenarnya yang menjadi guru dan tempat belajar gratis serta tidak akan habisnya bagi manusia. (V)
Ibuku dalam Pigura
Sudah lama aku tak melihat ibuku menangis
Pada waktu itu Ia memelukku erat-erat
Berarti sudah lama Ibuku tak memelukku
Apakah itu berarti Ia tak cinta lagi padaku?
Anaknya,perempuan,satu satunya, yang pernah disuruhnya pergi
Bersama bapaknya yang sudah lama pergi.
Aku yang dicinta dan dilara
Aku tak ingin melihat ibuku menangis
Ia bukan popok untuk urin dan kotoranku
Rambut Ibuku hitam bergelombang.
Walaupun sering rontok,
Ia mengecat dan mengeritingnya berulang-ulang.
“Aku senang.”
Siapa yang tak ingin melihatmu bahagia.
Bapakku saja ingin.Kemudian lupa.
(Aku berharap dia mati)
Aku, ingin,tapi jarang.
(Bencikah kau padaku?)
Adikku, tak mampu.
Karena dia yang paling cinta pada Ibuku.
Awan-awan kecil keluar dari mulut Ibuku.
“Aku sedang berpikir.”
Aku memainkan jemari kakinya yang indah,
Berkuku cat merah dan bertumit pecah-pecah,
Suatu saat aku akan mengendusi dan menciuminya,
Sampai ia tertawa geli dan bilang, Ampun!.
Dan aku akan menyaksikan awan-awan kecil itu
Melingkari kepala Ibuku yang suci.
(Minerva)
ZINE itu apaan sih?!!
(Diambil seenaknya lalu diterjemhkan dari The Book of Zines)
Kebanyakan zines itu sucks! Dan memang nggak ada cara yang lebih halus buat bilang ini. Fakta ini dilontarkan oleh Theodore Sturgeon yang mengatakan bahwa 90% dari segalanya adalah sampah. Tapi banyak orang malah lupa sama sisa 10%-nya. Dan dia bilang itu dia yang layak buat dibela mati-matian.
Dan aku sudah sekarat nih! Zine (dibaca ‘zins’, dari kata ‘fanzines’) isinya adalah gambar-ganbar yang digunting-tempel, ‘maaf-telat-terbit’, majalah yang diterbitkan independen serta dibuat di Kinko’s atau dengan sembunyi-sembunyi di kantor dan disebar lewat mulut atau pos. Mereka menulis tentang seks, musik,politik, TV, film, kerja, makanan atau apapun lah. Mereka adalah para perusak daftar isi majalah yang baik, serta terobsesi oleh banyak obsesi. Mereka luar biasa, juga biasa saja. Mereka berisi keanehan-keanehan yang untungnya karena keanehan-keanehannya diluar sana makanya mereka lega. Kamu bisa tahu banyak tentang seseorang dari zine buatan mereka, yang memang lebih sering bersifat personal dan penuh keanehan daripada sekedar majalah-majalah mengkilap lain yang isinya selebriti-selebriti pujaan mereka yang terlalu sibuk berusaha menjadi terkenal.
Banyak sekali editor fanzine yang pasti masih ingat saat pertama kali mereka membaca Factsheet Five, zine yang mengulas tentang zine dan kemudian mereka bertanya pada diri mereka sendiri, lalu timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) ‘Apa saja yang sudah aku lakukan’? Atau, (2) ‘Aku bisa membuat itu! Terus, kenapa tidak membuatnya?’ Lalu semua orang langsung terburu-buru membersihkan meja dapur mereka (?) dan langsung bikin hitungan seperti ini: 10.000 zines,50.000 zines, sama dengan jutaan pembaca. Padahal tidak ada yang tahu jumlah tepatnya berapa. Toh sebuah zine mati, sebuah zine baru pun lahir. Bertahun-tahun sejak aku membuat edisi pertama Chip’s Closet Cleaner zine dan mengirimkan beberapa lembar kepada saudara-saudaraku yang kebingungan, aku sudah bertukar zines, surat, serta email ke ratusan penerbit bawah tanah dan menemukan kalau teryata kita berbagi keinginan yang sama,kebutuhan yang sama: untuk mencipta. Factsheet Five biasanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang licik: Kenapa diterbitkan? Dan selalu mendapatkan jawaban yang seru dan juga panjang-panjang dari yang ditanya.
Sebagian besar zines sucks! Tapi kamu sudah menemukan emas dalam 10 persen itu tadi dan terpantek mati disitu. Tolong sekarang Bantu aku menemukan bagian 10 persenku!-Chip Rowe-
(V)
(Diambil seenaknya lalu diterjemhkan dari The Book of Zines)
Kebanyakan zines itu sucks! Dan memang nggak ada cara yang lebih halus buat bilang ini. Fakta ini dilontarkan oleh Theodore Sturgeon yang mengatakan bahwa 90% dari segalanya adalah sampah. Tapi banyak orang malah lupa sama sisa 10%-nya. Dan dia bilang itu dia yang layak buat dibela mati-matian.
Dan aku sudah sekarat nih! Zine (dibaca ‘zins’, dari kata ‘fanzines’) isinya adalah gambar-ganbar yang digunting-tempel, ‘maaf-telat-terbit’, majalah yang diterbitkan independen serta dibuat di Kinko’s atau dengan sembunyi-sembunyi di kantor dan disebar lewat mulut atau pos. Mereka menulis tentang seks, musik,politik, TV, film, kerja, makanan atau apapun lah. Mereka adalah para perusak daftar isi majalah yang baik, serta terobsesi oleh banyak obsesi. Mereka luar biasa, juga biasa saja. Mereka berisi keanehan-keanehan yang untungnya karena keanehan-keanehannya diluar sana makanya mereka lega. Kamu bisa tahu banyak tentang seseorang dari zine buatan mereka, yang memang lebih sering bersifat personal dan penuh keanehan daripada sekedar majalah-majalah mengkilap lain yang isinya selebriti-selebriti pujaan mereka yang terlalu sibuk berusaha menjadi terkenal.
Banyak sekali editor fanzine yang pasti masih ingat saat pertama kali mereka membaca Factsheet Five, zine yang mengulas tentang zine dan kemudian mereka bertanya pada diri mereka sendiri, lalu timbul pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) ‘Apa saja yang sudah aku lakukan’? Atau, (2) ‘Aku bisa membuat itu! Terus, kenapa tidak membuatnya?’ Lalu semua orang langsung terburu-buru membersihkan meja dapur mereka (?) dan langsung bikin hitungan seperti ini: 10.000 zines,50.000 zines, sama dengan jutaan pembaca. Padahal tidak ada yang tahu jumlah tepatnya berapa. Toh sebuah zine mati, sebuah zine baru pun lahir. Bertahun-tahun sejak aku membuat edisi pertama Chip’s Closet Cleaner zine dan mengirimkan beberapa lembar kepada saudara-saudaraku yang kebingungan, aku sudah bertukar zines, surat, serta email ke ratusan penerbit bawah tanah dan menemukan kalau teryata kita berbagi keinginan yang sama,kebutuhan yang sama: untuk mencipta. Factsheet Five biasanya mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang licik: Kenapa diterbitkan? Dan selalu mendapatkan jawaban yang seru dan juga panjang-panjang dari yang ditanya.
Sebagian besar zines sucks! Tapi kamu sudah menemukan emas dalam 10 persen itu tadi dan terpantek mati disitu. Tolong sekarang Bantu aku menemukan bagian 10 persenku!-Chip Rowe-
(V)
Cowok bilang kalo Cewek di Bawah Tanah itu…
Wendi, Brainwashed zine
Bagus. Kalau Wendi perhatikan di Jakarta tahun 1990-an waktu band-band cewek mulai
bermunculan hingga sekarang, mereka memberi pemandangan baru di Dunia Bawah Tanah itu sendiri yang tadinya hanya didominasi cowok. Tapi Wendi juga ingin agar keberadaan para cewek di Bawah Tanah ini tidak terlalu dibesar-besarkan, karena toh sebenarnya sama saja. Jangan didiskriminasi juga, kata Wendi lagi.
Inal, RokumSakabelo Band
Bagus,soalnya sudah mulai ada kesetaraan disana. Banyak yang ngeband, bikin fanzine, tapi jangan cuman karena ikut-ikutan dong! Kalau bisa itu adalah pilihan pribadi dari dalam diri sendiri, bukan karena alasan-alasan seperti ingin cari cowok, ikut-ikutan pacar atau ingin kelihatan berbeda saja di dunia yang jarang ada ceweknya ini.
Rizal, AllNationDeath Band
Seneng banget! Karena bawah tanah bukanlah zona cowok aja, walaupun cowok yang sadar kalau cewek juga bisa dianggap sama di dunia ini tidak banyak jumlahnya. Rizal yang memang mengidolakan cewek bawah tanah ini juga ingin agar cewek itu sendiri bisa memperjuangkan diri mereka di dunia bawah tanah disini.
Rachman Kill, Ripple Mag
Semakin banyak yang sekarang berbuat sesuatu di situ, bikin fanzine and being bitchy!:)
Linggo, Bandung
Cewek di dunia bawah tanah masih hanya dijadikan komoditi. Mereka belum dilihat sebagai simbol anti-patriarki atau kesetararaan gender di dunia ini.
Jimbo, Parkinson Band-Malaysia
Very rare to find a serious girl to involve seriously in the idea and lifestyle of the underground itself.
Sayap Imaji, Jakarta
Banyak yang masih belum sadar kalau dunia bawah tanah ini bukan cuman sekedar tempat cari cowok aja misalnya, dan kenapa sih kalau cewek di bawah tanah penampilannya mesti tomboy dan hanya melakukan perlawanannya di luar rumah, sedangkan di dalam rumah mereka lebih banyak diam?
Yudo, Bali
Pendapatku tentang cewek di bawah tanah sama dengan pendapatku tentang cowok di bawah tanah, sama juga dengan pendapatku tentang cewek di atas tanah dan cowok di atas tanah.
Razor, Jakarta
Keren juga, asal jangan tanggung tanggung. Banzai.
Ucup, Lawan.org
Seperti cacing di dalam tanah.
Arian,13 zine
Kalau sekarang sama aja sama cowoknya, tapi yang lebih penting adalah passion mereka di dalam dunia bawah tanah itu sendiri.
Wendi, Brainwashed zine
Bagus. Kalau Wendi perhatikan di Jakarta tahun 1990-an waktu band-band cewek mulai
bermunculan hingga sekarang, mereka memberi pemandangan baru di Dunia Bawah Tanah itu sendiri yang tadinya hanya didominasi cowok. Tapi Wendi juga ingin agar keberadaan para cewek di Bawah Tanah ini tidak terlalu dibesar-besarkan, karena toh sebenarnya sama saja. Jangan didiskriminasi juga, kata Wendi lagi.
Inal, RokumSakabelo Band
Bagus,soalnya sudah mulai ada kesetaraan disana. Banyak yang ngeband, bikin fanzine, tapi jangan cuman karena ikut-ikutan dong! Kalau bisa itu adalah pilihan pribadi dari dalam diri sendiri, bukan karena alasan-alasan seperti ingin cari cowok, ikut-ikutan pacar atau ingin kelihatan berbeda saja di dunia yang jarang ada ceweknya ini.
Rizal, AllNationDeath Band
Seneng banget! Karena bawah tanah bukanlah zona cowok aja, walaupun cowok yang sadar kalau cewek juga bisa dianggap sama di dunia ini tidak banyak jumlahnya. Rizal yang memang mengidolakan cewek bawah tanah ini juga ingin agar cewek itu sendiri bisa memperjuangkan diri mereka di dunia bawah tanah disini.
Rachman Kill, Ripple Mag
Semakin banyak yang sekarang berbuat sesuatu di situ, bikin fanzine and being bitchy!:)
Linggo, Bandung
Cewek di dunia bawah tanah masih hanya dijadikan komoditi. Mereka belum dilihat sebagai simbol anti-patriarki atau kesetararaan gender di dunia ini.
Jimbo, Parkinson Band-Malaysia
Very rare to find a serious girl to involve seriously in the idea and lifestyle of the underground itself.
Sayap Imaji, Jakarta
Banyak yang masih belum sadar kalau dunia bawah tanah ini bukan cuman sekedar tempat cari cowok aja misalnya, dan kenapa sih kalau cewek di bawah tanah penampilannya mesti tomboy dan hanya melakukan perlawanannya di luar rumah, sedangkan di dalam rumah mereka lebih banyak diam?
Yudo, Bali
Pendapatku tentang cewek di bawah tanah sama dengan pendapatku tentang cowok di bawah tanah, sama juga dengan pendapatku tentang cewek di atas tanah dan cowok di atas tanah.
Razor, Jakarta
Keren juga, asal jangan tanggung tanggung. Banzai.
Ucup, Lawan.org
Seperti cacing di dalam tanah.
Arian,13 zine
Kalau sekarang sama aja sama cowoknya, tapi yang lebih penting adalah passion mereka di dalam dunia bawah tanah itu sendiri.
SELL YOUR IDEAS FOR FREE!
Ide. Apa yang ada di otak kamu saat mendengar kata Ide itu tadi? Sebuah bola lampu yang bercahaya seperti di film-film kartun? Atau seseorang dengan telunjuk menunjuk ke atas sambil berkata, Aha! Dengan mata yang terbelalak gembira? Apapun itu, tetap tak satupun dari keduanya yang menggambarkan dengan tepat apa itu Ide. Melainkan hanya momen saat Ide itu diterima oleh manusia. Betul, kan?
Nggak, aku nggak akan mendefinisikan apa itu Ide. Tapi yang lebih penting buatku adalah, tidak ada satu manusiapun yang bisa menjadi pencipta sebuah Ide bahkan saat dia bilang ke semua orang bahwa dia pemilik Ide tersebut. Kenapa? Karena memang bukan kita yang menciptakan Ide, namun menjadi penerima Ide tadi di kepala kita. Kita bahkan tidak bisa mengontrol saat datang dan perginya yang namanya Ide itu tadi, iya-kan? Coba, sekarang gambarkan sebuah bentuk untuk mendeskripsikan yang namanya Ide! Kalo bisa, kirim gambarnya atau apapun formatnya itu ke vicious.V@lycos.com sekarang juga! Ditunggu ya!
Dan ingat, nggak semua orang mau membuat Ide yang ada di kepalanya menjadi bentuk nyata! Ada yang memilih mendiamkannya saja hingga terlupakan, ada yang menceritakannya pada orang lain dan tetap tidak melakukan apa-apa mengenainya serta ada yang mencoba menjadikannya berbagai bentuk walaupun sulit dan kemudian gagal. Terserah. Cuma kamu yang tahu Ide yang ada di otak kamu, Sayang…makanya jangan pernah percaya juga dengan yang namanya Ide Orisinal! Beberapa orang bisa saja kok punya satu Ide yang sama, kenapa nggak? Karena itu kembali ke manusianya sendiri kan?
Nah, kalau yang mengaku sebagai pemilik Ide itu sendiri, bagaimana? Ah, kita dengan bangga mengaku sebagai pemilik Ide, biasanya kalau ternyata Ide tadi disukai banyak orang! Hehehe! Ngaku! Coba ada ide kita yang dibenci orang lain, dibilang jelek atau malah merusak, masih mau lantang kita bilang, ‘Ide gue tuh!’ Belum tentu. Dan kenapa saat kita mengaku sebagai pemilik sebuah Ide, itu membuat kita jadi merasa punya kuasa untuk menggunakan Ide itu sesuka kita termasuk mencantumkan harga atasnya? Cuih! Coba dengar dulu pengakuanku di bawah ini…
Aku bekerja di bidang yang menjual Ide sebagai sumber uang yang tiada habisnya! Dulu, aku seringkali ngotot sama yang namanya kepemilikan Ide untuk tidak diambil atau ditiru orang lain. Karena mereka selalu bilang, Ide itu mahal harganya!
Di kantorku juga, aku dimasukkan ke dalam Departemen Kreatif…artinya, aku orang yang bertugas untuk datang dengan berbagai macem Ide kreatif sesuai dengan kebutuhan klien atau kantorku itu tadi. Lalu, apa aku merasa menjadi sapi perahan disitu? Nggak juga! Kenapa? Karena itu tadi! Aku nggak merasa Ide-Ideku itu milikku, mereka saja yang merasa Ide-ideku berguna untuk kemudian membayarku dengan sejumlah uang dan segala fasilitas. padahal kenyataanya, aku hanyalah makhluk dengan dua tangan dan dua kaki serta sebuah otak yang menunggu datangnya Ide setiap hari, sambil chatting, browsing, telpon-telponan sama teman-teman sekaligus menulis tulisan-tulisan seperti ini! Hehehe! Apanya yang kreatif, coba? Dan mereka tetap tidak bisa mengontrol semua Ide di kepalaku untuk aku keluarkan bahkan bila itu untuk melawan mereka sekalipun! Iya-kan?
Sejak aku bikin newsletter sendiri, aku mulai mengerti yang namanya Anti Hak Cipta. Dan membiarkan semua orang mengkopi dan membagikan newsletterku pada orang lain tanpa sepengetahuanku sekalipun. Karena itu artinya, aku bisa semakin banyak mengobrol sama orang lain dan mendapat teman baru yang sebelumnya tidak pernah aku tahu. Jerih payahku menulis misalnya, sudah cukup terbayar, saat ada seseorang yang datang dan bertanya: Tulisan siapa ini? dan aku jawab, aku. Kejujuranku pada diriku sendiri sudah cukup untuk itu.
Aku juga tidak lagi menjaga atau menyeleksi semua Ide di kepalaku untuk apapun atau siapapun, termasuk pekerjaanku di kantor. Aku keluarkan saja sesukaku, aku bagi-bagi dan obrolkan dengan siapapun tanpa ketakutan mereka akan kemudian mengambilnya bahkan mengaku sebagai milik mereka sekalipun. Aku tidak lagi peduli! Aku melihat semua Ide yang ada di kepalaku sama nilainya, dan aku sudah cukup senang kalau ada satu dari Ide itu tadi yang disukai atau bermanfaat buat orang lain. Dan satu lagi, aku juga tidak peduli bila ada Ideku yang baru berlawanan dengan Ideku yang lama ya! So what?!
Sekali lagi, aku bukan pecipta ide. Aku hanya penerima. Eh, tapi jangan tanya ya Ide yang aku punya untuk diriku sendiri! Hihihi! Banyak banget, makanya kata orang aku bicaranya cepat sekali karena Ide-ide yang ada di kepalaku berebutan minta dikeluarkan! Hehehe!
Hey, aku juga percaya kalau ada satu-satunya yang boleh mengklaim dirinya sebagai pencipta Ide, itu adalah Tuhan. Ah, alangkah kreatifnya Tuhan kalau begitu ya! Dia bisa mengirimkan ribuan juta ide yang berbeda ke kepala setiap manusia setiap detiknya…Sayang Tuhan deh! Hahaha!
Anyway, aku selalu merasa menjadi diriku sendiri artinya juga saat aku mempunyai berbagai Ide yang ada di kepalaku lalu aku dengan rela bekerja keras untuk mewujudkannya, dengan senang hati membagi-bagikannya serta dengan ketakutan meredamnya bila sudah terasa begitu mengerikan untuk manusia lainnya serta kehidupanku sendiri. Me, my own ideas…my own life, and no one else.
V.
Ide. Apa yang ada di otak kamu saat mendengar kata Ide itu tadi? Sebuah bola lampu yang bercahaya seperti di film-film kartun? Atau seseorang dengan telunjuk menunjuk ke atas sambil berkata, Aha! Dengan mata yang terbelalak gembira? Apapun itu, tetap tak satupun dari keduanya yang menggambarkan dengan tepat apa itu Ide. Melainkan hanya momen saat Ide itu diterima oleh manusia. Betul, kan?
Nggak, aku nggak akan mendefinisikan apa itu Ide. Tapi yang lebih penting buatku adalah, tidak ada satu manusiapun yang bisa menjadi pencipta sebuah Ide bahkan saat dia bilang ke semua orang bahwa dia pemilik Ide tersebut. Kenapa? Karena memang bukan kita yang menciptakan Ide, namun menjadi penerima Ide tadi di kepala kita. Kita bahkan tidak bisa mengontrol saat datang dan perginya yang namanya Ide itu tadi, iya-kan? Coba, sekarang gambarkan sebuah bentuk untuk mendeskripsikan yang namanya Ide! Kalo bisa, kirim gambarnya atau apapun formatnya itu ke vicious.V@lycos.com sekarang juga! Ditunggu ya!
Dan ingat, nggak semua orang mau membuat Ide yang ada di kepalanya menjadi bentuk nyata! Ada yang memilih mendiamkannya saja hingga terlupakan, ada yang menceritakannya pada orang lain dan tetap tidak melakukan apa-apa mengenainya serta ada yang mencoba menjadikannya berbagai bentuk walaupun sulit dan kemudian gagal. Terserah. Cuma kamu yang tahu Ide yang ada di otak kamu, Sayang…makanya jangan pernah percaya juga dengan yang namanya Ide Orisinal! Beberapa orang bisa saja kok punya satu Ide yang sama, kenapa nggak? Karena itu kembali ke manusianya sendiri kan?
Nah, kalau yang mengaku sebagai pemilik Ide itu sendiri, bagaimana? Ah, kita dengan bangga mengaku sebagai pemilik Ide, biasanya kalau ternyata Ide tadi disukai banyak orang! Hehehe! Ngaku! Coba ada ide kita yang dibenci orang lain, dibilang jelek atau malah merusak, masih mau lantang kita bilang, ‘Ide gue tuh!’ Belum tentu. Dan kenapa saat kita mengaku sebagai pemilik sebuah Ide, itu membuat kita jadi merasa punya kuasa untuk menggunakan Ide itu sesuka kita termasuk mencantumkan harga atasnya? Cuih! Coba dengar dulu pengakuanku di bawah ini…
Aku bekerja di bidang yang menjual Ide sebagai sumber uang yang tiada habisnya! Dulu, aku seringkali ngotot sama yang namanya kepemilikan Ide untuk tidak diambil atau ditiru orang lain. Karena mereka selalu bilang, Ide itu mahal harganya!
Di kantorku juga, aku dimasukkan ke dalam Departemen Kreatif…artinya, aku orang yang bertugas untuk datang dengan berbagai macem Ide kreatif sesuai dengan kebutuhan klien atau kantorku itu tadi. Lalu, apa aku merasa menjadi sapi perahan disitu? Nggak juga! Kenapa? Karena itu tadi! Aku nggak merasa Ide-Ideku itu milikku, mereka saja yang merasa Ide-ideku berguna untuk kemudian membayarku dengan sejumlah uang dan segala fasilitas. padahal kenyataanya, aku hanyalah makhluk dengan dua tangan dan dua kaki serta sebuah otak yang menunggu datangnya Ide setiap hari, sambil chatting, browsing, telpon-telponan sama teman-teman sekaligus menulis tulisan-tulisan seperti ini! Hehehe! Apanya yang kreatif, coba? Dan mereka tetap tidak bisa mengontrol semua Ide di kepalaku untuk aku keluarkan bahkan bila itu untuk melawan mereka sekalipun! Iya-kan?
Sejak aku bikin newsletter sendiri, aku mulai mengerti yang namanya Anti Hak Cipta. Dan membiarkan semua orang mengkopi dan membagikan newsletterku pada orang lain tanpa sepengetahuanku sekalipun. Karena itu artinya, aku bisa semakin banyak mengobrol sama orang lain dan mendapat teman baru yang sebelumnya tidak pernah aku tahu. Jerih payahku menulis misalnya, sudah cukup terbayar, saat ada seseorang yang datang dan bertanya: Tulisan siapa ini? dan aku jawab, aku. Kejujuranku pada diriku sendiri sudah cukup untuk itu.
Aku juga tidak lagi menjaga atau menyeleksi semua Ide di kepalaku untuk apapun atau siapapun, termasuk pekerjaanku di kantor. Aku keluarkan saja sesukaku, aku bagi-bagi dan obrolkan dengan siapapun tanpa ketakutan mereka akan kemudian mengambilnya bahkan mengaku sebagai milik mereka sekalipun. Aku tidak lagi peduli! Aku melihat semua Ide yang ada di kepalaku sama nilainya, dan aku sudah cukup senang kalau ada satu dari Ide itu tadi yang disukai atau bermanfaat buat orang lain. Dan satu lagi, aku juga tidak peduli bila ada Ideku yang baru berlawanan dengan Ideku yang lama ya! So what?!
Sekali lagi, aku bukan pecipta ide. Aku hanya penerima. Eh, tapi jangan tanya ya Ide yang aku punya untuk diriku sendiri! Hihihi! Banyak banget, makanya kata orang aku bicaranya cepat sekali karena Ide-ide yang ada di kepalaku berebutan minta dikeluarkan! Hehehe!
Hey, aku juga percaya kalau ada satu-satunya yang boleh mengklaim dirinya sebagai pencipta Ide, itu adalah Tuhan. Ah, alangkah kreatifnya Tuhan kalau begitu ya! Dia bisa mengirimkan ribuan juta ide yang berbeda ke kepala setiap manusia setiap detiknya…Sayang Tuhan deh! Hahaha!
Anyway, aku selalu merasa menjadi diriku sendiri artinya juga saat aku mempunyai berbagai Ide yang ada di kepalaku lalu aku dengan rela bekerja keras untuk mewujudkannya, dengan senang hati membagi-bagikannya serta dengan ketakutan meredamnya bila sudah terasa begitu mengerikan untuk manusia lainnya serta kehidupanku sendiri. Me, my own ideas…my own life, and no one else.
V.
Ouch!
90% lelaki beranggapan memukul lelaki lainnya untuk membela diri adalah bisa diterima.
58% lelaki beranggapan memukul perempuan dalam situasi apapun tidak bisa diterima.
Aku nggak mengerti statistik dan tidak pernah percaya riset, tapi data diatas sungguhan membuatku memiliki pertanyaan-pertanyaan ini.
1. Kenapa cowok kalau bisa memenangkan perkelahian melawan cowok lainnya jadi merasa lebih gagah dan jantan setelahnya?
2. Kenapa kalau cowok berkelahi melawan cewek terus dia menang, dia tidak merasa jadi makin gagah dan jantan seperti dia menang dari cowok?
3. Kenapa cowok dibesarkan dengan wanti-wanti untuk tidak pernah boleh memukul cewek tapi boleh memukul cowok lainnya kalau terpaksa?
4. Kenapa ada anggapan kalau cowok berkelahi melawan cewek lalu dia kalah,
Dia merasa harga dirinya direndahkan dan egonya tergores?
Mari kita bicara dengan hal yang paling umum jadi jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas, yaitu perbedaan keadaan fisik cowok dan cewek. Cowok lebih kuat dari cewek, begitu? Tapi kalau ceweknya badannya lebih besar dan jago beladiri, bagaimana? Atau kalau cowoknya memang sedang sakit dan tubuhnya lemah, gimana? Atau…sudah, sudah! Tak perlu dibawa ke fakta lainnya dulu ya!
Kita bicara tentang fisik kan? Ada nggak manusia yang nggak merasa sakit kalau dipukul keras keras seperti dalam perkelahian? Tidak ada kan? Artinya, semua manusia akan merasa sakit kalau tubuhnya dipukul manusia lainnya (dengan atau tanpa alat). Setuju? Lalu mengapa pemukulan pun mesti mengenal jenis kelamin? Toh, semua cowok, cewek, besar , kecil, tua,muda akan merasa sakit kalau tubuh mereka dipukul. Iya-kan?
Senangnya saat mengetahui olahraga Tinju sudah memiliki jagoan-jagoan perempuan seperti olahraga lainnya yang sudah dimainkan oleh lelaki dan perempuan seperti Angkat Besi juga Binaraga. Tapi taruhan, cara kita memandang penampilan para atlet olahraga tersebut akan tetap berbeda pada lelaki dan perempuan. Iya-kan? Kita akan memandang penuh kagum pada para Binaragawan seperti Ade Rai, tapi kita tetap akan menatap ngeri pada para Binaragawati, sengetop apapun dia. Ngaku deh! Dan pandangan berbeda itu berlaku pada lelaki dan perempuan yang melihat para atlet itu. Kenapa ya?
Pernah ikut senam yang menggunakan angkat beban? Umumnya, perempuan akan ketakutan kalau ototnya kelihatan dan mengeras walaupun di luar negeri banyak artis perempuan terkenal yang rajin angkat beban dan badannya kelihatan lebih kekar daripada perempuan lainnya tapi tampaknya mereka percaya diri saja tuh! Betul, nggak? Pilih mana, badan kekar yang sehat atau badan lemah lembut tapi sakit sakitan? Jawabannya balik ke yang punya badan ya! Tapi kalau aku sih nggak dua duanya dulu sekarang! Hehehe!
Adik perempuanku selalu bilang dia tidak ingin kurus, tapi yang penting sehat. Aku setuju, setuju banget. Aku bisa membayangkan punya badan luar biasa sesuai dengan Kitab Bodi Yahud tapi sakit-sakitan. Bagaimana cara kita menikmati tubuh seperti itu kalau bangun dari tempat tidur juga jarang-jarang? Karena aku selalu percaya tubuh manusia akan menunjukkan tanda-tandanya sendiri bila dia sehat atau sakit tanpa tergantung dari bentuknya. Setuju kan? Pasti!
Balik lagi ke kasus pemukulan di atas tadi yuk! Sekarang kalau kita sering lihat anak kecil yang diajarkan orang tuanya untuk jangan memukul teman mainnya…perhatikan baik baik! Apakah dia menggunakan kata-kata seperti: ‘Eh, nggak boleh mukul anak perempuan!’ Atau yang bilang begini: ‘Lho! Temannya kok dipukul? Jangan dong, kan sakit!’ Nah, kelihatan kan mana orang tua yang dari kecil sudah mengajarkan anaknya untuk tidak memukul siapapun tanpa melihat jenis kelaminnya? Mau jadi orang tua yang mana? Orang tua kamu sendiri orang tua yang mana dari keduanya? Jawab sendiri lagi ya!
Kalau kamu bertanya pada penulis, anehnya…dia tidak bisa memukul keduanya. Sungguhan! Nggak perempuan, nggak lelaki. Tidak bisa. Sudah pernah dicoba bahkan ada yang mau mengajarkan secara cuma-cuma…semuanya ditolaknya. Kenapa? Karena memang dia tidak bisa saja melakukannya! Semarah atau setakut apapun dia! Kasihan ya? Hehehe! Eits, badannya tidak kecil dan pendek, serta pernah belajar karate dua tahun lebih lho! Dan dia tetap tidak bisa memukul orang sampe sekarang.
Tidak percaya? Tidak apa apa kok, dia juga tidak percaya kalau kamu mau bersusah payah menemuinya semata hanya untuk memukulnya keras keras cuma agar dia memukul kamu lagi….kan kamu tahu dipukul itu sakit, iya kan? Jangan ya!
-Dedicated to those cowards and chicken shit outside, but having a brave heart inside-
V (vicious.V@lycos.com
90% lelaki beranggapan memukul lelaki lainnya untuk membela diri adalah bisa diterima.
58% lelaki beranggapan memukul perempuan dalam situasi apapun tidak bisa diterima.
Aku nggak mengerti statistik dan tidak pernah percaya riset, tapi data diatas sungguhan membuatku memiliki pertanyaan-pertanyaan ini.
1. Kenapa cowok kalau bisa memenangkan perkelahian melawan cowok lainnya jadi merasa lebih gagah dan jantan setelahnya?
2. Kenapa kalau cowok berkelahi melawan cewek terus dia menang, dia tidak merasa jadi makin gagah dan jantan seperti dia menang dari cowok?
3. Kenapa cowok dibesarkan dengan wanti-wanti untuk tidak pernah boleh memukul cewek tapi boleh memukul cowok lainnya kalau terpaksa?
4. Kenapa ada anggapan kalau cowok berkelahi melawan cewek lalu dia kalah,
Dia merasa harga dirinya direndahkan dan egonya tergores?
Mari kita bicara dengan hal yang paling umum jadi jawaban pertanyaan-pertanyaan diatas, yaitu perbedaan keadaan fisik cowok dan cewek. Cowok lebih kuat dari cewek, begitu? Tapi kalau ceweknya badannya lebih besar dan jago beladiri, bagaimana? Atau kalau cowoknya memang sedang sakit dan tubuhnya lemah, gimana? Atau…sudah, sudah! Tak perlu dibawa ke fakta lainnya dulu ya!
Kita bicara tentang fisik kan? Ada nggak manusia yang nggak merasa sakit kalau dipukul keras keras seperti dalam perkelahian? Tidak ada kan? Artinya, semua manusia akan merasa sakit kalau tubuhnya dipukul manusia lainnya (dengan atau tanpa alat). Setuju? Lalu mengapa pemukulan pun mesti mengenal jenis kelamin? Toh, semua cowok, cewek, besar , kecil, tua,muda akan merasa sakit kalau tubuh mereka dipukul. Iya-kan?
Senangnya saat mengetahui olahraga Tinju sudah memiliki jagoan-jagoan perempuan seperti olahraga lainnya yang sudah dimainkan oleh lelaki dan perempuan seperti Angkat Besi juga Binaraga. Tapi taruhan, cara kita memandang penampilan para atlet olahraga tersebut akan tetap berbeda pada lelaki dan perempuan. Iya-kan? Kita akan memandang penuh kagum pada para Binaragawan seperti Ade Rai, tapi kita tetap akan menatap ngeri pada para Binaragawati, sengetop apapun dia. Ngaku deh! Dan pandangan berbeda itu berlaku pada lelaki dan perempuan yang melihat para atlet itu. Kenapa ya?
Pernah ikut senam yang menggunakan angkat beban? Umumnya, perempuan akan ketakutan kalau ototnya kelihatan dan mengeras walaupun di luar negeri banyak artis perempuan terkenal yang rajin angkat beban dan badannya kelihatan lebih kekar daripada perempuan lainnya tapi tampaknya mereka percaya diri saja tuh! Betul, nggak? Pilih mana, badan kekar yang sehat atau badan lemah lembut tapi sakit sakitan? Jawabannya balik ke yang punya badan ya! Tapi kalau aku sih nggak dua duanya dulu sekarang! Hehehe!
Adik perempuanku selalu bilang dia tidak ingin kurus, tapi yang penting sehat. Aku setuju, setuju banget. Aku bisa membayangkan punya badan luar biasa sesuai dengan Kitab Bodi Yahud tapi sakit-sakitan. Bagaimana cara kita menikmati tubuh seperti itu kalau bangun dari tempat tidur juga jarang-jarang? Karena aku selalu percaya tubuh manusia akan menunjukkan tanda-tandanya sendiri bila dia sehat atau sakit tanpa tergantung dari bentuknya. Setuju kan? Pasti!
Balik lagi ke kasus pemukulan di atas tadi yuk! Sekarang kalau kita sering lihat anak kecil yang diajarkan orang tuanya untuk jangan memukul teman mainnya…perhatikan baik baik! Apakah dia menggunakan kata-kata seperti: ‘Eh, nggak boleh mukul anak perempuan!’ Atau yang bilang begini: ‘Lho! Temannya kok dipukul? Jangan dong, kan sakit!’ Nah, kelihatan kan mana orang tua yang dari kecil sudah mengajarkan anaknya untuk tidak memukul siapapun tanpa melihat jenis kelaminnya? Mau jadi orang tua yang mana? Orang tua kamu sendiri orang tua yang mana dari keduanya? Jawab sendiri lagi ya!
Kalau kamu bertanya pada penulis, anehnya…dia tidak bisa memukul keduanya. Sungguhan! Nggak perempuan, nggak lelaki. Tidak bisa. Sudah pernah dicoba bahkan ada yang mau mengajarkan secara cuma-cuma…semuanya ditolaknya. Kenapa? Karena memang dia tidak bisa saja melakukannya! Semarah atau setakut apapun dia! Kasihan ya? Hehehe! Eits, badannya tidak kecil dan pendek, serta pernah belajar karate dua tahun lebih lho! Dan dia tetap tidak bisa memukul orang sampe sekarang.
Tidak percaya? Tidak apa apa kok, dia juga tidak percaya kalau kamu mau bersusah payah menemuinya semata hanya untuk memukulnya keras keras cuma agar dia memukul kamu lagi….kan kamu tahu dipukul itu sakit, iya kan? Jangan ya!
-Dedicated to those cowards and chicken shit outside, but having a brave heart inside-
V (vicious.V@lycos.com
Cari sendiri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kamu!
Ingat waktu kamu mencari jawaban dari pertanyaan ini: Apa itu seks? Hihihi! Sebelum kamu memutuskan menunda membaca tulisan ini untuk sebentar mengingat proses penemuan jawaban kamu atas pertanyaan itu…sekarang jawab pertanyaan ini dulu: Lebih suka menemukan jawaban tentang seks sendirian atau bersama teman? Hehehe!
Apapun jawaban kamu, kita semua tahu ada banyak cara mencari jawaban. Kita semua tahu banyaknya jawaban yang bahkan sebenarnya mungkin kita sudah tahu jawabannya dari buku, cerita orang maupun kitab suci mungkin. Tapi, kenapa kita tidak bisa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dengan cara kita sendiri? Siapa yang mau melarang kita mencarinya lebih lama atau lebih mudah sekalipun? Karena kita mau punya cerita dan pengalaman milik kita sendiri. Betul, nggak?
Pasti beda rasanya saat kamu nongkrong bersama-sama teman-teman dan saling berbagi cerita pengalaman tentang suatu hal, waktu ternyata cerita kamu sama dengan milik teman kamu. Ngaku! Pasti ada sedikit kekecewaan disitu karena tiba-tiba cerita yang tadinya kamu yakin akan lebih istimewa dari lainnya ternyata jadi terasa biasa-biasa saja. Sementara, ingat waktu kamu jadi satu-satunya punya pengalaman yang berbeda diantara sebegitu banyak orang? Mungkin tidak langsung membuat kamu merasa istimewa, tapi kamu pasti bangga karena CUMA kamu yang memiliki dan merasakan pengalaman itu diantara mereka. Iya-kan? (Plus tatapan kagum serta sirik dan pertanyaan-pertanyaan penasaran yang terdengar disana-sini, bisa bikin pengalaman buruk sekalipun tiba-tiba terasa menyenangkan! Hehehe!)
Sayangnya, kita sendiri memang dibesarkan dalam lingkungan yang bikin malas dan segan untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan kita sendiri tersebut. Orang tua, sekolah, lingkungan rumah ataupun kebiasaan yang diajarkan kepada kita dari kecil yang banyak sekali etika dan batasan-batasan seringkali membuat kita memilih untuk diam dan memendam keinginan mendapatkan jawaban-jawaban tersebut hingga hilang atau terlupakan dengan sendirinya. Iya-kan?
Oke, sekarang kalau tergantung dengan penting tidaknya jawaban pertanyaan yang kita ingin ketahui tadi deh! Berangkat dari sana, pasti ada yang kita yakin, kalau sampai mati pun kita tidak tahu jawabannya….kita akan baik-baik saja. Tapi, ada pertanyaan-pertanyaan yang kita memang HARUS tahu dan dapatkan jawabannya sekarang juga ataupun secepatnya…mau bikin kita jungkir balik tujuh hari tujuh malam nggak tidur sampai bangkrut sekalipun kita rela! Yah, kayak pertanyaan tentang seks itu tadi contohnya! Hahaha!
Anyway, dalam hidup manusia selalu punya pertanyaan-pertanyaan yang ingin, tidak mau dan mereka tidak peduli untuk menemukan jawabannya. Tapi, walaupun seluruh dunia sudah mengatakan jawabannya ITU, apa salahnya dengan melakukan proses pencarian jawaban dengan cara kita sendiri? Apa salahnya jatuh bangun tertawa menangis berhari-hari hanya untuk merasakan yang namanya PENEMUAN SEBUAH JAWABAN, Teman? Itulah hidup, kita berjalan, terjatuh, berlari, merangkak, mengintip termasuk terbunuh mungkin untuk menemukan jawaban-jawaban tadi.
Yup, penemuan jawaban sebuah pertanyaan di dalam hidup memang butuh nyali kok! So, mau mengasah keberanian kita dalam mencari jawaban dari sebuah pertanyaan? Kalau aku boleh kasih ide, coba di dunia maya dulu deh! Kenapa? Karena manusia lebih bisa bersembunyi dan aman disana daripada di dunia nyata. Dunia maya disini maksudnya bukan cuman internet atau chatting aja, tapi juga mungkin melalui surat menyurat misalnya. Buatku itu bukan dunia nyata yang langsung menjatuhkan vonis berat atau mengagetkan kita dengan jawabannya, karena secara fisik kita tidak saling terlihat. Mengerti nggak? Semoga.
Terus coba ajukan pertanyaan-pertanyaan yang kamu sendiri pun kalau ditanyakan pertanyaan-pertanyaan tadi belum tentu berani menjawabnya, dan juga belum tentu jujur menjawabnya. Seperti pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
- Kamu masih perawan/perjaka?
- Kapan pertama kali menggunakan obat atau minum?
- Pendapat kamu tentang homoseksual apa?
- Suka pake kondom nggak?
Hihihi! Muka kamu langsung berubah-ubah kan ekspresinya saat membaca pertanyaan-pertanyaan tadi? Apalagi menjawabnya! Hahaha! Tapi, semuanya mesti ada saat pertama kali kan? Karena itulah proses belajar berawal dan jangan pernah malas mencari jawaban sebuah pertanyaan hanya karena kamu perlu sedikit bergerak, menghabiskan uang atau menunggu…toh, kalau kamu mesti menyerah sebelum kamu menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, kamu akan berhenti dengan sendirinya. Setiap manusia punya ambang batas yang berbeda-beda-kan?
Sekarang bayangkan kalau semua orang mau mencari jawaban dengan caranya sendiri setiap hari, berapa banyak pengalaman dan cerita berharga yang mereka bisa bagi dan rasakan dalam hidupnya? Berapa banyak buku cerita yang bisa ditulis? Berapa banyak ide-ide baru datang ke otak mereka sehingga tidak perlu ada yang namanya Hak Cipta, karena sebenarnya semuanya ini hanyalah tentang keinginan pencarian jawaban saja kok!
Pertanyaan penutup: Bagaimana pendapat kamu tentang tulisan ini? Ditunggu jawabannya di vicious.V@lycos.com ya!
-Dedicated to those stubborn weirdos that always in search of answers in their lifes-
Ingat waktu kamu mencari jawaban dari pertanyaan ini: Apa itu seks? Hihihi! Sebelum kamu memutuskan menunda membaca tulisan ini untuk sebentar mengingat proses penemuan jawaban kamu atas pertanyaan itu…sekarang jawab pertanyaan ini dulu: Lebih suka menemukan jawaban tentang seks sendirian atau bersama teman? Hehehe!
Apapun jawaban kamu, kita semua tahu ada banyak cara mencari jawaban. Kita semua tahu banyaknya jawaban yang bahkan sebenarnya mungkin kita sudah tahu jawabannya dari buku, cerita orang maupun kitab suci mungkin. Tapi, kenapa kita tidak bisa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu dengan cara kita sendiri? Siapa yang mau melarang kita mencarinya lebih lama atau lebih mudah sekalipun? Karena kita mau punya cerita dan pengalaman milik kita sendiri. Betul, nggak?
Pasti beda rasanya saat kamu nongkrong bersama-sama teman-teman dan saling berbagi cerita pengalaman tentang suatu hal, waktu ternyata cerita kamu sama dengan milik teman kamu. Ngaku! Pasti ada sedikit kekecewaan disitu karena tiba-tiba cerita yang tadinya kamu yakin akan lebih istimewa dari lainnya ternyata jadi terasa biasa-biasa saja. Sementara, ingat waktu kamu jadi satu-satunya punya pengalaman yang berbeda diantara sebegitu banyak orang? Mungkin tidak langsung membuat kamu merasa istimewa, tapi kamu pasti bangga karena CUMA kamu yang memiliki dan merasakan pengalaman itu diantara mereka. Iya-kan? (Plus tatapan kagum serta sirik dan pertanyaan-pertanyaan penasaran yang terdengar disana-sini, bisa bikin pengalaman buruk sekalipun tiba-tiba terasa menyenangkan! Hehehe!)
Sayangnya, kita sendiri memang dibesarkan dalam lingkungan yang bikin malas dan segan untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan kita sendiri tersebut. Orang tua, sekolah, lingkungan rumah ataupun kebiasaan yang diajarkan kepada kita dari kecil yang banyak sekali etika dan batasan-batasan seringkali membuat kita memilih untuk diam dan memendam keinginan mendapatkan jawaban-jawaban tersebut hingga hilang atau terlupakan dengan sendirinya. Iya-kan?
Oke, sekarang kalau tergantung dengan penting tidaknya jawaban pertanyaan yang kita ingin ketahui tadi deh! Berangkat dari sana, pasti ada yang kita yakin, kalau sampai mati pun kita tidak tahu jawabannya….kita akan baik-baik saja. Tapi, ada pertanyaan-pertanyaan yang kita memang HARUS tahu dan dapatkan jawabannya sekarang juga ataupun secepatnya…mau bikin kita jungkir balik tujuh hari tujuh malam nggak tidur sampai bangkrut sekalipun kita rela! Yah, kayak pertanyaan tentang seks itu tadi contohnya! Hahaha!
Anyway, dalam hidup manusia selalu punya pertanyaan-pertanyaan yang ingin, tidak mau dan mereka tidak peduli untuk menemukan jawabannya. Tapi, walaupun seluruh dunia sudah mengatakan jawabannya ITU, apa salahnya dengan melakukan proses pencarian jawaban dengan cara kita sendiri? Apa salahnya jatuh bangun tertawa menangis berhari-hari hanya untuk merasakan yang namanya PENEMUAN SEBUAH JAWABAN, Teman? Itulah hidup, kita berjalan, terjatuh, berlari, merangkak, mengintip termasuk terbunuh mungkin untuk menemukan jawaban-jawaban tadi.
Yup, penemuan jawaban sebuah pertanyaan di dalam hidup memang butuh nyali kok! So, mau mengasah keberanian kita dalam mencari jawaban dari sebuah pertanyaan? Kalau aku boleh kasih ide, coba di dunia maya dulu deh! Kenapa? Karena manusia lebih bisa bersembunyi dan aman disana daripada di dunia nyata. Dunia maya disini maksudnya bukan cuman internet atau chatting aja, tapi juga mungkin melalui surat menyurat misalnya. Buatku itu bukan dunia nyata yang langsung menjatuhkan vonis berat atau mengagetkan kita dengan jawabannya, karena secara fisik kita tidak saling terlihat. Mengerti nggak? Semoga.
Terus coba ajukan pertanyaan-pertanyaan yang kamu sendiri pun kalau ditanyakan pertanyaan-pertanyaan tadi belum tentu berani menjawabnya, dan juga belum tentu jujur menjawabnya. Seperti pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
- Kamu masih perawan/perjaka?
- Kapan pertama kali menggunakan obat atau minum?
- Pendapat kamu tentang homoseksual apa?
- Suka pake kondom nggak?
Hihihi! Muka kamu langsung berubah-ubah kan ekspresinya saat membaca pertanyaan-pertanyaan tadi? Apalagi menjawabnya! Hahaha! Tapi, semuanya mesti ada saat pertama kali kan? Karena itulah proses belajar berawal dan jangan pernah malas mencari jawaban sebuah pertanyaan hanya karena kamu perlu sedikit bergerak, menghabiskan uang atau menunggu…toh, kalau kamu mesti menyerah sebelum kamu menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu, kamu akan berhenti dengan sendirinya. Setiap manusia punya ambang batas yang berbeda-beda-kan?
Sekarang bayangkan kalau semua orang mau mencari jawaban dengan caranya sendiri setiap hari, berapa banyak pengalaman dan cerita berharga yang mereka bisa bagi dan rasakan dalam hidupnya? Berapa banyak buku cerita yang bisa ditulis? Berapa banyak ide-ide baru datang ke otak mereka sehingga tidak perlu ada yang namanya Hak Cipta, karena sebenarnya semuanya ini hanyalah tentang keinginan pencarian jawaban saja kok!
Pertanyaan penutup: Bagaimana pendapat kamu tentang tulisan ini? Ditunggu jawabannya di vicious.V@lycos.com ya!
-Dedicated to those stubborn weirdos that always in search of answers in their lifes-
KITA: KONSUMEN YANG PLIN PLAN? (TERNYATA)
Suatu siang di sebuah tempat riset. Sekelompok ibu-ibu rumah tangga.
Sebuah produk sampo baru akan diluncurkan dengan keistimewaan tanpa pengunaan bahan kimia untuk membuat rambut lebih hitam dan berkilau. Dengan sebuah cerita film iklan dan demo sederhana, sampo baru ini bisa membuktikan bahwa produknya lebih aman daripada sampo lainnya karena tidak mengandung pewarna rambut kimia sama sekali. Hebat. Jujur, aku pun senang mengetahui bahwa ada sampo yang lebih alami akhirnya ada di pasaran sehingga konsumen punya satu lagi pilihan yang lebih aman. Namun saat ditanyakan pada ibu-ibu tersebut apa yang tidak disukai dari iklan sampo yang baru saja mereka lihat, jawaban mereka membuatku hampir saja terjatuh dari tempat dudukku.
‘Jangan menjelekkan produk lainnya seperti itu dong!’
‘Kalau bisa tidak perlu diperlihatkan produk sampo lainnya, kasihan produk itu...’
Hah?! Apa? Mereka mengasihani produk sampo yang mengandung pewarna kimia itu?! Sadarkah mereka akibat dari rasa belas kasihan mereka itu pada diri mereka sendiri sebagai konsumen yang mengeluarkan uang dan tubuhnya terkena bahan kimia tiap kali keramas? Ah, dasar masyarakat yang terlalu mengagung-agungkan etika!!
Di luar negeri, sebuah produk boleh mengkonfrontasi produk saingannya atau bahkan produk berbeda sekalipun untuk menjual produknya pada konsumen di iklan-iklan mereka. Lihat iklan Pepsi dan Coca Cola! Mereka begitu berani dan percaya diri dalam membandingkan produknya di iklan-iklannya karena mereka sadar hal tersebut adalah yang memang terjadi di pasaran. Iklan yang realistis. Toh pembeli setia mereka sepenuhnya sadar bahwa pilihan akan selalu kembali kepada mereka sendiri sebagai pemilik uang dan penikmat produk minuman tersebut. Salut. Perang yang adil demi kepuasan para pembeli mereka sendiri.
Sementara disini, etika selalu jadi seperti ujung pisau bermata dua di masyarakat kita tentang penilaian mereka pada iklan-iklan yang ada. Mereka bisa membuat sebuah iklan yang memperlihatkan seorang anak perempuan mengintip kolam renang tetangganya ditarik dari penayangannya, hanya karena mereka bilang iklan tersebut mengajarkan hal yang tidak baik pada anak-anak apalagi perempuan. Gila! Memangnya anak-anak saja yang suka mengintip? Bukankah semua orang memang suka mengintip, apalagi orang dewasa? Apakah mereka semua kemudian masuk penjara karena dituduh melanggar privasi orang lain? Ah, alangkah penuhnya penjara dengan para pengintip kalau memang seperti itu kejadiannya?!
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tampaknya memang menjalankan fungsinya dengan baik dan benar disini. Mereka memang bisa memprotes sebuah iklan yang dianggap menipu, memberi dampak tidak baik pada lingkungan dan masyarakat serta merugikan konsumen pada umumnya. Namun sekarang, bila sebuah iklan yang melecehkan perempuan dicaci maki tapi angka penjualan produknya naik gila-gilaan dalam waktu singkat, siapa yang jadi tertuduh disini? Konsumen dong! Bukan produsen, bukan juga pembuat iklannya semata.
Sering sekali (banget!) aku mendengar bahwa disini iklan selalu menjual gambar perempuan sebagai segumpalan paha dan dada montok saja, sehingga akibatnya terjadi pengeksploitasian perempuan sebagai bumbu penyedap iklan agar menarik bagi masyarakat sekaligus calon konsumennya. Sedangkan, efek internal bagi perempuannya sendiri adalah mereka menjadi tercuci otak bahwa perempuan sempurna adalah yang paha dan dadanya montok saja. Kalau tidak seperti itu, maka lelaki tidak akan tertarik. Betul begitu, bapak-bapak? Ibu-ibu dan remaja putri sekalian? Para penonton televisi dan konsumen yang budiman? Ah,alangkah bodohnya kita semua!
Sebagai pembuat iklan, aku percaya bahwa iklan yang baik adalah iklan yang realistis, jujur dan mampu mendidik serta memberi pengetahuan kepada masyarakat, khususnya konsumennya. Sayangnya, aku lebih sering bertengkar dengan klienku, si produsen pembuat iklan, bahwa iklan mereka semestinya tidak lagi menggunakan gambar-gambar paha dan dada montok karena masyarakat kita tidak sedungu itu! Sudah waktunya mereka melihat gambar yang berbeda sekaligus pesan yang disampaikan dengan lebih kreatif dan kaya informasi agar menjadi lebih pintar dari sekarang. Sayangnya, aku lebih sering kalah! Saat mereka menunjukkan hasil riset dan bagaimana iklan mereka yang sebelumnya juga menggunakan gambar dan pesan yang sama (paha dan dada montok dengan pesan seorang artis terkenal tentunya!) mencapai angka penjualan yang begitu memuaskan, aku tidak bisa bilang apa apa…menyerah? Tidak, tapi sedih sekali..
Karenanya tiap kali aku diminta berbicara tentang periklanan, aku selalu meminta bantuan semua peserta diskusi untuk berhenti hanya jadi penuding dan pengkritik, tapi juga ikut membantu para pembuat iklan agar mampu menunjukkan pada kliennya kalau masyarakat kita sudah sangat muak dengan iklan-iklan dungu pengeksploitir perempuan, lelaki, anak-anak juga kehidupan kita sendiri sehari-hari. Jadilah konsumen yang kritis namun tidak sewenang-wenang hanya karena semata ini uang mereka, namun juga tuntut sesuatu yang lebih kreatif dan bermanfaat bagi mereka sendiri selain hanya dijadikan pembeli semata. Bisa? Semoga.
Dari kedua kasus iklan sampo dan iklan dada paha montok diatas pula, terlihat kalau masyarakat kita sendiri sebagai konsumen ternyata memang bermuka dua! Diberi iklan yang jelas-jelas demi kebaikan mereka sendiri, akan bilang iklan itu tidak sopan, sedangkan kalau dibuatkan sebuah iklan yang jelas-jelas tidak sopan, mereka akan kegirangan! Nah sekarang, kamu yang membaca artikel ini mau jadi konsumen yang mana? Pilihannya memang ada di kamu sendiri, bahkan kalau kamu tidak peduli dan tidak mau menjadi keduanya sekalipun.
Aku sendiri? Hanyalah seorang pembuat iklan yang selalu menggunakan diriku sendiri sebagai penentu produk yang aku beli setiap harinya…bukan media, bukan merk, bukan citra yang aku dapat dari semua produk tersebut. Itu saja.
Dedicated to all advertising practitioner with conciousness!
V (viciousvagina@yahoo.com)
Suatu siang di sebuah tempat riset. Sekelompok ibu-ibu rumah tangga.
Sebuah produk sampo baru akan diluncurkan dengan keistimewaan tanpa pengunaan bahan kimia untuk membuat rambut lebih hitam dan berkilau. Dengan sebuah cerita film iklan dan demo sederhana, sampo baru ini bisa membuktikan bahwa produknya lebih aman daripada sampo lainnya karena tidak mengandung pewarna rambut kimia sama sekali. Hebat. Jujur, aku pun senang mengetahui bahwa ada sampo yang lebih alami akhirnya ada di pasaran sehingga konsumen punya satu lagi pilihan yang lebih aman. Namun saat ditanyakan pada ibu-ibu tersebut apa yang tidak disukai dari iklan sampo yang baru saja mereka lihat, jawaban mereka membuatku hampir saja terjatuh dari tempat dudukku.
‘Jangan menjelekkan produk lainnya seperti itu dong!’
‘Kalau bisa tidak perlu diperlihatkan produk sampo lainnya, kasihan produk itu...’
Hah?! Apa? Mereka mengasihani produk sampo yang mengandung pewarna kimia itu?! Sadarkah mereka akibat dari rasa belas kasihan mereka itu pada diri mereka sendiri sebagai konsumen yang mengeluarkan uang dan tubuhnya terkena bahan kimia tiap kali keramas? Ah, dasar masyarakat yang terlalu mengagung-agungkan etika!!
Di luar negeri, sebuah produk boleh mengkonfrontasi produk saingannya atau bahkan produk berbeda sekalipun untuk menjual produknya pada konsumen di iklan-iklan mereka. Lihat iklan Pepsi dan Coca Cola! Mereka begitu berani dan percaya diri dalam membandingkan produknya di iklan-iklannya karena mereka sadar hal tersebut adalah yang memang terjadi di pasaran. Iklan yang realistis. Toh pembeli setia mereka sepenuhnya sadar bahwa pilihan akan selalu kembali kepada mereka sendiri sebagai pemilik uang dan penikmat produk minuman tersebut. Salut. Perang yang adil demi kepuasan para pembeli mereka sendiri.
Sementara disini, etika selalu jadi seperti ujung pisau bermata dua di masyarakat kita tentang penilaian mereka pada iklan-iklan yang ada. Mereka bisa membuat sebuah iklan yang memperlihatkan seorang anak perempuan mengintip kolam renang tetangganya ditarik dari penayangannya, hanya karena mereka bilang iklan tersebut mengajarkan hal yang tidak baik pada anak-anak apalagi perempuan. Gila! Memangnya anak-anak saja yang suka mengintip? Bukankah semua orang memang suka mengintip, apalagi orang dewasa? Apakah mereka semua kemudian masuk penjara karena dituduh melanggar privasi orang lain? Ah, alangkah penuhnya penjara dengan para pengintip kalau memang seperti itu kejadiannya?!
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tampaknya memang menjalankan fungsinya dengan baik dan benar disini. Mereka memang bisa memprotes sebuah iklan yang dianggap menipu, memberi dampak tidak baik pada lingkungan dan masyarakat serta merugikan konsumen pada umumnya. Namun sekarang, bila sebuah iklan yang melecehkan perempuan dicaci maki tapi angka penjualan produknya naik gila-gilaan dalam waktu singkat, siapa yang jadi tertuduh disini? Konsumen dong! Bukan produsen, bukan juga pembuat iklannya semata.
Sering sekali (banget!) aku mendengar bahwa disini iklan selalu menjual gambar perempuan sebagai segumpalan paha dan dada montok saja, sehingga akibatnya terjadi pengeksploitasian perempuan sebagai bumbu penyedap iklan agar menarik bagi masyarakat sekaligus calon konsumennya. Sedangkan, efek internal bagi perempuannya sendiri adalah mereka menjadi tercuci otak bahwa perempuan sempurna adalah yang paha dan dadanya montok saja. Kalau tidak seperti itu, maka lelaki tidak akan tertarik. Betul begitu, bapak-bapak? Ibu-ibu dan remaja putri sekalian? Para penonton televisi dan konsumen yang budiman? Ah,alangkah bodohnya kita semua!
Sebagai pembuat iklan, aku percaya bahwa iklan yang baik adalah iklan yang realistis, jujur dan mampu mendidik serta memberi pengetahuan kepada masyarakat, khususnya konsumennya. Sayangnya, aku lebih sering bertengkar dengan klienku, si produsen pembuat iklan, bahwa iklan mereka semestinya tidak lagi menggunakan gambar-gambar paha dan dada montok karena masyarakat kita tidak sedungu itu! Sudah waktunya mereka melihat gambar yang berbeda sekaligus pesan yang disampaikan dengan lebih kreatif dan kaya informasi agar menjadi lebih pintar dari sekarang. Sayangnya, aku lebih sering kalah! Saat mereka menunjukkan hasil riset dan bagaimana iklan mereka yang sebelumnya juga menggunakan gambar dan pesan yang sama (paha dan dada montok dengan pesan seorang artis terkenal tentunya!) mencapai angka penjualan yang begitu memuaskan, aku tidak bisa bilang apa apa…menyerah? Tidak, tapi sedih sekali..
Karenanya tiap kali aku diminta berbicara tentang periklanan, aku selalu meminta bantuan semua peserta diskusi untuk berhenti hanya jadi penuding dan pengkritik, tapi juga ikut membantu para pembuat iklan agar mampu menunjukkan pada kliennya kalau masyarakat kita sudah sangat muak dengan iklan-iklan dungu pengeksploitir perempuan, lelaki, anak-anak juga kehidupan kita sendiri sehari-hari. Jadilah konsumen yang kritis namun tidak sewenang-wenang hanya karena semata ini uang mereka, namun juga tuntut sesuatu yang lebih kreatif dan bermanfaat bagi mereka sendiri selain hanya dijadikan pembeli semata. Bisa? Semoga.
Dari kedua kasus iklan sampo dan iklan dada paha montok diatas pula, terlihat kalau masyarakat kita sendiri sebagai konsumen ternyata memang bermuka dua! Diberi iklan yang jelas-jelas demi kebaikan mereka sendiri, akan bilang iklan itu tidak sopan, sedangkan kalau dibuatkan sebuah iklan yang jelas-jelas tidak sopan, mereka akan kegirangan! Nah sekarang, kamu yang membaca artikel ini mau jadi konsumen yang mana? Pilihannya memang ada di kamu sendiri, bahkan kalau kamu tidak peduli dan tidak mau menjadi keduanya sekalipun.
Aku sendiri? Hanyalah seorang pembuat iklan yang selalu menggunakan diriku sendiri sebagai penentu produk yang aku beli setiap harinya…bukan media, bukan merk, bukan citra yang aku dapat dari semua produk tersebut. Itu saja.
Dedicated to all advertising practitioner with conciousness!
V (viciousvagina@yahoo.com)
GOOD GIRL OR BAD GIRL?
‘Good girls go to heaven, Bad girls go everywhere’ tulisan di sticker favoritku.
Kalau membaca tulisan diatas, kamu pilih apa? Kalau aku, pilih jadi Good girl yang bisa kemana-mana, nggak cuma ke surga aja. Hehehe! Iya dong, kenapa mesti memilih yang dua itu kalau aku bisa membuat pilihanku sendiri. Iya-kan?
Oke, sekarang kalau aku bertanya, apa definisi kamu untuk Bad Girl? Good Girl? Kalau buat aku sendiri, begini definisinya. Sekali lagi, definisiku sendiri ya!
Bad Girl adalah perempuan yang suka menggunakan keperempuanannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Walaupun mungkin dengan segala kesadaran saat dia melakukan hal itu, namun sebenarnya saat yang bersamaan dia juga mengeksploitasi dirinya sendiri sehingga dia tidak bisa berharap akan dipandang setara di lingkungannya (bila memang ini yang dia inginkan ya!).
Ada beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari, yang secara tidak sadar (ataupun sadar) sebagai perempuan, kita menggunakan keperempuanan kita untuk mendapatkan yang kita mau.
Ingat waktu kita sengaja menangis di depan pacar kita supaya dia merasa bersalah, lalu buru- buru meminta maaf? Padahal mungkin saja sejujurnya kita yang salah. Tapi karena kita tahu beberapa lelaki paling tidak bisa melihat perempuan menangis (tidak tega katanya). Makanya kita gunakan kelemahan mereka untuk memperoleh kemenangan diri kita sendiri. Iya, aku tahu menangis juga bisa karena emosi, tapi aku yakin masih banyak kok perempuan yang menggunakan air mata untuk mendapatkan yang dia mau. Dan tidak cuma dari pacarnya tapi juga dari orang lain di sekitarnya. Sebuah jalan pintas yang kekanak-kanakan sekali. Kenapa tidak bisa bicara secara fair sih? Lonjakan emosi kan wajar, namanya juga manusia. Katanya kita juga punya otak dan mau dibilang sama berani dengan para lelaki? Bagaimana kalau sekarang tiba-tiba pacar kamu menangis saat sedang berargumen dengan kamu? Kesal, kaget, jijik? Jangan dong, kan kamu juga melakukan hal yang sama padanya? Wek!
Sekarang kalau aku bertanya, apakah kita masih mengharapkan semua orang membukakan pintu untuk kita bila masuk dalam sebuah ruangan? Membantu mengangkat barang bawaan kita? Memberikan kursi kosongnya? Membiarkan kita jalan lebih dulu di depan mereka? Boleh saja, namun bukan dengan alasan karena kita perempuan. Tapi semata karena kita hanya suka diperlakukan dengan baik dan dihargai, karena kitapun tahu kita bisa melakukan semua hal tersebut pada mereka. Tidak peduli mereka laki-laki atau perempuan. Artinya, kalau kamu sedang berada di dalam bus yang penuh sesak lalu ada seorang lelaki menawarkan kursinya, jangan langsung merasa dia memandang kamu lemah. Katakan terima kasih bila kamu menerima tawarannya, dan juga katakan terima kasih kalaupun kamu tidak menghendakinya. Kenapa? Karena itu hanyalah sebuah tawaran belaka. Belum tentu ada tujuan terselubung di baliknya-kan? Nggak perlu paranoid gitu ah!
Ada teman lelakiku pernah bilang begini, ‘Betapa beruntungnya perempuan! Mereka bisa dengan gampangnya terbebas dari segala masalah cuma dengan bermodal penampilan luar mereka saja. Karena bahkan seorang lelaki tampan sekalipun belum tentu bisa begitu mudahnya terlepas dari masalah semudah perempuan itu.’ Dan tepat sebelum aku mendelik sewot, aku tersadar…betapa banyak perempuan yang dicari disana sini setiap hari untuk berbagai lapangan pekerjaan, hanya dengan sebuah persyaratan: cantik. Atau istilah halusnya mereka biasanya menuliskan dengan: berpenampilan menarik. Yeah, right!
Di luar negeri, kalau sebuah iklan pencari kerja bertulisan mencari pekerja dengan deskripsi seperti diatas, kabarnya, bisa dianggap iklan tersebut seksis. Karena berarti perusahaan tersebut tidak membuka kesempatan yang fair bagi para pelamar yang membaca iklan mereka itu. Menarik, namun tampaknya belum bisa diterapkan disini. Aku sendiri memang beruntung karena bidang pekerjaanku memang yang tidak mementingkan penampilan, namun otak dan sifat. Aku bahkan tidak perlu bertemu klienku kalau aku tidak merasa perlu atau mereka bisa membayar waktuku itu. Ha! Semuanya memang di tanganku. And it does feel good, baby! Hehehe!
Sekarang mari kita membahas definisiku tentang Good Girl. Buatku, Good Girl adalah perempuan yang tahu dia tidak perlu menggunakan keperempuanannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Artinya, dia tahu kalau dengan semua yang dia miliki sebagai seorang perempuan baik itu secara fisik maupun mental bukan berarti dia harus menggunakan itu semua untuk mendapatkan yang dia inginkan di hidup ini.
Contohnya? Tidak, aku tak akan langsung mengatakan perempuan yang menggunakan otaknyalah yang lantas menjadi seorang Good Girl. Namun juga perempuan yang tidak perlu menggunakan segala sesuatu yang terlanjur melekat pada dirinya sekalipun, untuk menjadi alat dalam memperoleh apa yang dia mau di hidup ini. Seperti? Anak.
Yup! Anak. Sesuatu yang amat sangat lekat dengan yang namanya perempuan. Buktinya, berapa banyak setiap hari kita melihat para perempuan pengemis atau pemulung yang menggendong anak-anak kecil bahkan bayi yang terlihat sakit-sakitan dan kurang makan di jalan hanya untuk membuat kita berbelas kasihan? Terlepas dari mereka anak kandungnya atau bukan. Karena sekarang berapa besar perbandingannya dengan pengemis pria yang menggendong anak kecil juga? Hampir-hampir tidak ada. Nah, kenapa perempuan ini tidak sendirian saja mengemis kalau memang itu yang dia lakukan untuk mencari uang? Tidak perlu lah dia membawa-bawa anak kecil yang biasanya toh dia pinjam dengan membayar sejumlah uang pada orangtuanya, bukan anaknya sendiri. Walau, kalau mereka anak kandungnya sekalipun bukan berarti tindakannya jadi lebih bisa diterima.
Kenapa? Karena secara tidak sadar, hal ini akan menciptakan sebuah gambar pilihan bagi anak-anak tersebut akan cara mencari uang yang semudah dengan kelihatan mengibakan saja, yang akan mereka bawa hingga mereka dewasa. Lalu, kapan anak-anak itu bisa keluar dan besar dengan cara yang berbeda serta lebih baik dari hari ini? Kapan mereka bisa mulai menggunakan tenaga dan otaknya untuk belajar tentang hal yang lebih daripada sekedar mencari makan di jalan?
Pernah nonton film, Erin Brokovich? Aku suka karakter perempuan seperti Erin. Hanya karena dia punya tiga orang anak dari tiga orang mantan suami yang mesti dia hidupi, bukan berarti terus dia tidak berdandan, makan es krim di dapurnya tengah malam, dan mencari kerja sesuai dengan keahlian yang dia bisa tanpa perlu jadi peminta-minta. Ditambah ternyata dia memang tekun dan pintar, sehingga mampu membongkar kasus pencemaran lingkungan dengan tuntutan ganti rugi terbesar di Amerika, membuat Erin terlihat begitu realistis sekaligus langka. Dan ini kisah nyata ya, bukan fiksi. Nonton deh!
Bukan, aku bukannya sok tidak tahu dengan tuntutan dimana kita mesti makan dan bekerja supaya bisa hidup. Ini urusan perut! Iya, tapi sekarang mereka yang jadi pelacur pun sebenarnya tahu, itu bukanlah satu-satunya cara untuk bertahan hidup-kan? Pilihan. Pilihan-pilihan dalam hidup. Pilihan untuk perempuan mengeksploitasi dirinya, dieksploitasi atau tidak kedua-duanya. Karena dia bahkan bisa memilih untuk menciptakan sebuah pilihan berbeda untuk bertahan hidup kalau dia mau.
Nah, kembali ke pertanyaan aku diatas. Kamu Good Girl atau Bad Girl? Apa definisi kamu akan keduanya tadi? Apapun itu, ingatlah bahwa keduanya bukanlah pilihan mutlak di dunia ini. Buat pilihan kamu sendiri, ciptakan istilah kamu sendiri, pertanyakan semuanya yang lingkungan kamu beri kepada kamu dari kamu kecil hingga hari ini.
’Good girls go to heaven, Punk Girls go nowhere’ tulisan di sticker gitar temanku. Hehehe!
V (vicious.V@lycos.com)
‘Good girls go to heaven, Bad girls go everywhere’ tulisan di sticker favoritku.
Kalau membaca tulisan diatas, kamu pilih apa? Kalau aku, pilih jadi Good girl yang bisa kemana-mana, nggak cuma ke surga aja. Hehehe! Iya dong, kenapa mesti memilih yang dua itu kalau aku bisa membuat pilihanku sendiri. Iya-kan?
Oke, sekarang kalau aku bertanya, apa definisi kamu untuk Bad Girl? Good Girl? Kalau buat aku sendiri, begini definisinya. Sekali lagi, definisiku sendiri ya!
Bad Girl adalah perempuan yang suka menggunakan keperempuanannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Walaupun mungkin dengan segala kesadaran saat dia melakukan hal itu, namun sebenarnya saat yang bersamaan dia juga mengeksploitasi dirinya sendiri sehingga dia tidak bisa berharap akan dipandang setara di lingkungannya (bila memang ini yang dia inginkan ya!).
Ada beberapa contoh dalam kehidupan sehari-hari, yang secara tidak sadar (ataupun sadar) sebagai perempuan, kita menggunakan keperempuanan kita untuk mendapatkan yang kita mau.
Ingat waktu kita sengaja menangis di depan pacar kita supaya dia merasa bersalah, lalu buru- buru meminta maaf? Padahal mungkin saja sejujurnya kita yang salah. Tapi karena kita tahu beberapa lelaki paling tidak bisa melihat perempuan menangis (tidak tega katanya). Makanya kita gunakan kelemahan mereka untuk memperoleh kemenangan diri kita sendiri. Iya, aku tahu menangis juga bisa karena emosi, tapi aku yakin masih banyak kok perempuan yang menggunakan air mata untuk mendapatkan yang dia mau. Dan tidak cuma dari pacarnya tapi juga dari orang lain di sekitarnya. Sebuah jalan pintas yang kekanak-kanakan sekali. Kenapa tidak bisa bicara secara fair sih? Lonjakan emosi kan wajar, namanya juga manusia. Katanya kita juga punya otak dan mau dibilang sama berani dengan para lelaki? Bagaimana kalau sekarang tiba-tiba pacar kamu menangis saat sedang berargumen dengan kamu? Kesal, kaget, jijik? Jangan dong, kan kamu juga melakukan hal yang sama padanya? Wek!
Sekarang kalau aku bertanya, apakah kita masih mengharapkan semua orang membukakan pintu untuk kita bila masuk dalam sebuah ruangan? Membantu mengangkat barang bawaan kita? Memberikan kursi kosongnya? Membiarkan kita jalan lebih dulu di depan mereka? Boleh saja, namun bukan dengan alasan karena kita perempuan. Tapi semata karena kita hanya suka diperlakukan dengan baik dan dihargai, karena kitapun tahu kita bisa melakukan semua hal tersebut pada mereka. Tidak peduli mereka laki-laki atau perempuan. Artinya, kalau kamu sedang berada di dalam bus yang penuh sesak lalu ada seorang lelaki menawarkan kursinya, jangan langsung merasa dia memandang kamu lemah. Katakan terima kasih bila kamu menerima tawarannya, dan juga katakan terima kasih kalaupun kamu tidak menghendakinya. Kenapa? Karena itu hanyalah sebuah tawaran belaka. Belum tentu ada tujuan terselubung di baliknya-kan? Nggak perlu paranoid gitu ah!
Ada teman lelakiku pernah bilang begini, ‘Betapa beruntungnya perempuan! Mereka bisa dengan gampangnya terbebas dari segala masalah cuma dengan bermodal penampilan luar mereka saja. Karena bahkan seorang lelaki tampan sekalipun belum tentu bisa begitu mudahnya terlepas dari masalah semudah perempuan itu.’ Dan tepat sebelum aku mendelik sewot, aku tersadar…betapa banyak perempuan yang dicari disana sini setiap hari untuk berbagai lapangan pekerjaan, hanya dengan sebuah persyaratan: cantik. Atau istilah halusnya mereka biasanya menuliskan dengan: berpenampilan menarik. Yeah, right!
Di luar negeri, kalau sebuah iklan pencari kerja bertulisan mencari pekerja dengan deskripsi seperti diatas, kabarnya, bisa dianggap iklan tersebut seksis. Karena berarti perusahaan tersebut tidak membuka kesempatan yang fair bagi para pelamar yang membaca iklan mereka itu. Menarik, namun tampaknya belum bisa diterapkan disini. Aku sendiri memang beruntung karena bidang pekerjaanku memang yang tidak mementingkan penampilan, namun otak dan sifat. Aku bahkan tidak perlu bertemu klienku kalau aku tidak merasa perlu atau mereka bisa membayar waktuku itu. Ha! Semuanya memang di tanganku. And it does feel good, baby! Hehehe!
Sekarang mari kita membahas definisiku tentang Good Girl. Buatku, Good Girl adalah perempuan yang tahu dia tidak perlu menggunakan keperempuanannya untuk mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Artinya, dia tahu kalau dengan semua yang dia miliki sebagai seorang perempuan baik itu secara fisik maupun mental bukan berarti dia harus menggunakan itu semua untuk mendapatkan yang dia inginkan di hidup ini.
Contohnya? Tidak, aku tak akan langsung mengatakan perempuan yang menggunakan otaknyalah yang lantas menjadi seorang Good Girl. Namun juga perempuan yang tidak perlu menggunakan segala sesuatu yang terlanjur melekat pada dirinya sekalipun, untuk menjadi alat dalam memperoleh apa yang dia mau di hidup ini. Seperti? Anak.
Yup! Anak. Sesuatu yang amat sangat lekat dengan yang namanya perempuan. Buktinya, berapa banyak setiap hari kita melihat para perempuan pengemis atau pemulung yang menggendong anak-anak kecil bahkan bayi yang terlihat sakit-sakitan dan kurang makan di jalan hanya untuk membuat kita berbelas kasihan? Terlepas dari mereka anak kandungnya atau bukan. Karena sekarang berapa besar perbandingannya dengan pengemis pria yang menggendong anak kecil juga? Hampir-hampir tidak ada. Nah, kenapa perempuan ini tidak sendirian saja mengemis kalau memang itu yang dia lakukan untuk mencari uang? Tidak perlu lah dia membawa-bawa anak kecil yang biasanya toh dia pinjam dengan membayar sejumlah uang pada orangtuanya, bukan anaknya sendiri. Walau, kalau mereka anak kandungnya sekalipun bukan berarti tindakannya jadi lebih bisa diterima.
Kenapa? Karena secara tidak sadar, hal ini akan menciptakan sebuah gambar pilihan bagi anak-anak tersebut akan cara mencari uang yang semudah dengan kelihatan mengibakan saja, yang akan mereka bawa hingga mereka dewasa. Lalu, kapan anak-anak itu bisa keluar dan besar dengan cara yang berbeda serta lebih baik dari hari ini? Kapan mereka bisa mulai menggunakan tenaga dan otaknya untuk belajar tentang hal yang lebih daripada sekedar mencari makan di jalan?
Pernah nonton film, Erin Brokovich? Aku suka karakter perempuan seperti Erin. Hanya karena dia punya tiga orang anak dari tiga orang mantan suami yang mesti dia hidupi, bukan berarti terus dia tidak berdandan, makan es krim di dapurnya tengah malam, dan mencari kerja sesuai dengan keahlian yang dia bisa tanpa perlu jadi peminta-minta. Ditambah ternyata dia memang tekun dan pintar, sehingga mampu membongkar kasus pencemaran lingkungan dengan tuntutan ganti rugi terbesar di Amerika, membuat Erin terlihat begitu realistis sekaligus langka. Dan ini kisah nyata ya, bukan fiksi. Nonton deh!
Bukan, aku bukannya sok tidak tahu dengan tuntutan dimana kita mesti makan dan bekerja supaya bisa hidup. Ini urusan perut! Iya, tapi sekarang mereka yang jadi pelacur pun sebenarnya tahu, itu bukanlah satu-satunya cara untuk bertahan hidup-kan? Pilihan. Pilihan-pilihan dalam hidup. Pilihan untuk perempuan mengeksploitasi dirinya, dieksploitasi atau tidak kedua-duanya. Karena dia bahkan bisa memilih untuk menciptakan sebuah pilihan berbeda untuk bertahan hidup kalau dia mau.
Nah, kembali ke pertanyaan aku diatas. Kamu Good Girl atau Bad Girl? Apa definisi kamu akan keduanya tadi? Apapun itu, ingatlah bahwa keduanya bukanlah pilihan mutlak di dunia ini. Buat pilihan kamu sendiri, ciptakan istilah kamu sendiri, pertanyakan semuanya yang lingkungan kamu beri kepada kamu dari kamu kecil hingga hari ini.
’Good girls go to heaven, Punk Girls go nowhere’ tulisan di sticker gitar temanku. Hehehe!
V (vicious.V@lycos.com)
I HATE MY MOM
(wish I was her…)
Supaya waktu aku datang ke dia minta dikursuskan menari Jawa, aku tidak perlu kecewa saat mendengar alasannya melarangku semata hanyalah karena pakaian menarinya yang separuh terbuka di dada. Aku ingin belajar menari, aku bukan minta ijin jadi penari telanjang. I wish I was my mom...really.
Supaya waktu aku datang pergi dengan berbagai macam teman dengan umur yang berbeda pun, dia tidak perlu mengatakan supaya aku berhati hati bermain dengan teman yang lebih tua, seperti keluhannya saat teman-temanku dari SMA ternyata membosankannya. Aku berteman dengan siapa saja sesukaku, bukankah aku tidak pernah mengeluh dengan siapapun dia berteman? I wish I was my mom….really.
Supaya waktu aku berganti-ganti gaya berpakaian, dia tidak mesti mencoba memberiku pilihan lainnya yang semata untuk menyenangkan hatinya dan membuatnya merasa aman melihat anak perempuannya berjalan ke luar rumah. Andai saja dia tahu aku bahkan pernah mengalami pelecehan seksual dengan pakaian yang sangat disukainya itu…I wish I was my mom,really.
Supaya waktu aku minta rambutku dipotong pendek, dia tidak perlu membawaku ke salon jam sembilan malam setelah mendengar rengekanku selama setahun lebih. Rambutku bisa tumbuh lagi, rambutku adalah milikku dan aku ingin mengambil sebuah keputusan atas diriku sendiri. Kali ini. Walaupun kemudian aku memang menyesalinya…I wish I was my mom, really.
Supaya waktu aku mesti mendengar semua kemarahannya jam satu pagi itu karena aku tidak pernah di rumah akhir pekan maupun pulang cepat dari kantor di hari biasapun, aku bisa bilang bukankah ini yang membuatnya bangga saat pertemuan keluarga? Anaknya yang tertua sudah mandiri dan cari uang sendiri padahal umurnya belum dua puluh.I wish I was my mom….really.
Supaya waktu aku datang memperkenalkan teman-teman baruku yang notabene tidak terlihat ‘baik dan benar’ baginya, dia tidak perlu langsung memvonis mereka pasti menggunakan obat-obatan. Andai saja dia tahu salah satu teman baikku yang disukainya sudah nyabu selama dua tahun persahabatan kita. I wish I was my mom…really.
Supaya dia berhenti menghardik caraku duduk yang katanya ‘tidak perempuan’ itu, sementara banyak sekali aku melihat perempuan dengan cara duduk yang ‘begitu perempuan’ menurutnya, ternyata lelaki. Cara duduk bukanlah yang menjadikan perempuan berkurang atau bertambah keperempuanan-nya. I wish I was my mom…really.
Supaya dia berhenti mencoba menentukkan dimana aku mesti bekerja dan mengerti kenapa aku melakukan banyak pekerjaan lainnya tanpa dibayar. Aku toh akan selalu berusaha membayar semua uang yang aku pinjam darinya walaupun dia tidak menagihnya sekalipun. Aku toh sudah mengerti artinya uang sejak dari bangku sekolah dasar. I wish I was my mom, really.
Supaya dia berhenti melarangku menjemput kekasihku semata karena dia lelaki dan aku perempuan. Akankah dia biarkan aku menjemput kekasihku bila kekasihku perempuan juga? I wish I was my mom…really.
Supaya dia tidak perlu menunjukkan jalanku menuju Tuhan, karena itu sangatlah pribadi bahkan saat dia menemukan jalannyapun aku tidak pernah berkata apa apa yang menyatakan aku iri dengan itu.Aku percaya semua manusia punya jalannya sendiri-sendiri. I wish I was my mom…really.
Supaya dia berhenti menjadi juri untuk setiap kekasih yang ku perkenalkan padanya dan memutuskan apakah mereka cukup pantas untukku atau tidak. Aku yang berciuman dengan mereka, aku juga yang akan meniduri mereka suatu hari….bahkan saat yang dilihatnya hanya seberapa mapan mereka. Buatku, kemapanan hati jauh lebih penting daripada kemapanan materi.I wish I was my mom…really.
Supaya dia mau lebih berani mengakui dan menghadapi kenyataan betapa berbedanya kehidupan aku sekarang dan dia dulu. Supaya dia mau lebih mengerti usaha-usahaku untuk tetap hidup dan menjadi manusia yang aku inginkan, bukan yang dia inginkan. Aku adalah aku dan dia adalah dia, sejak lama….bukan cuma minggu lalu. I wish I was my mom….really.
Supaya waktu aku membiarkan dia menyatakan semua opininya, dia juga mesti mau mendengar opiniku sebelum kita mencari jalan tengah. Tidak semuanya dalam hidupku bisa sejalan dengan caranya, bahkan caraku berbicara dan tertawa. Mari berbicara dan berpikir seperti dua orang manusia….bukan selalu anak dan orangtua semata. Shit, I wish I was my mom…..really.
Supaya dia bisa melihat betapa lelahnya selama ini mencoba untuk membahagiakannya namun seringkali mesti menipu diriku sendiri. Betapa sebenarnya apapun keputusan yang dia ambil dalam hidupnya aku tidak pernah ambil pusing, namun dia ingin selalu berperan dalam semua keputusan di hidupku. I really, really wish I was my mom…..bahkan saat umurku sudah hampir tiga puluh tahun sekarang.
Sayang kamu, Bunda..:)
V (vicious.V@lycos.com)
(wish I was her…)
Supaya waktu aku datang ke dia minta dikursuskan menari Jawa, aku tidak perlu kecewa saat mendengar alasannya melarangku semata hanyalah karena pakaian menarinya yang separuh terbuka di dada. Aku ingin belajar menari, aku bukan minta ijin jadi penari telanjang. I wish I was my mom...really.
Supaya waktu aku datang pergi dengan berbagai macam teman dengan umur yang berbeda pun, dia tidak perlu mengatakan supaya aku berhati hati bermain dengan teman yang lebih tua, seperti keluhannya saat teman-temanku dari SMA ternyata membosankannya. Aku berteman dengan siapa saja sesukaku, bukankah aku tidak pernah mengeluh dengan siapapun dia berteman? I wish I was my mom….really.
Supaya waktu aku berganti-ganti gaya berpakaian, dia tidak mesti mencoba memberiku pilihan lainnya yang semata untuk menyenangkan hatinya dan membuatnya merasa aman melihat anak perempuannya berjalan ke luar rumah. Andai saja dia tahu aku bahkan pernah mengalami pelecehan seksual dengan pakaian yang sangat disukainya itu…I wish I was my mom,really.
Supaya waktu aku minta rambutku dipotong pendek, dia tidak perlu membawaku ke salon jam sembilan malam setelah mendengar rengekanku selama setahun lebih. Rambutku bisa tumbuh lagi, rambutku adalah milikku dan aku ingin mengambil sebuah keputusan atas diriku sendiri. Kali ini. Walaupun kemudian aku memang menyesalinya…I wish I was my mom, really.
Supaya waktu aku mesti mendengar semua kemarahannya jam satu pagi itu karena aku tidak pernah di rumah akhir pekan maupun pulang cepat dari kantor di hari biasapun, aku bisa bilang bukankah ini yang membuatnya bangga saat pertemuan keluarga? Anaknya yang tertua sudah mandiri dan cari uang sendiri padahal umurnya belum dua puluh.I wish I was my mom….really.
Supaya waktu aku datang memperkenalkan teman-teman baruku yang notabene tidak terlihat ‘baik dan benar’ baginya, dia tidak perlu langsung memvonis mereka pasti menggunakan obat-obatan. Andai saja dia tahu salah satu teman baikku yang disukainya sudah nyabu selama dua tahun persahabatan kita. I wish I was my mom…really.
Supaya dia berhenti menghardik caraku duduk yang katanya ‘tidak perempuan’ itu, sementara banyak sekali aku melihat perempuan dengan cara duduk yang ‘begitu perempuan’ menurutnya, ternyata lelaki. Cara duduk bukanlah yang menjadikan perempuan berkurang atau bertambah keperempuanan-nya. I wish I was my mom…really.
Supaya dia berhenti mencoba menentukkan dimana aku mesti bekerja dan mengerti kenapa aku melakukan banyak pekerjaan lainnya tanpa dibayar. Aku toh akan selalu berusaha membayar semua uang yang aku pinjam darinya walaupun dia tidak menagihnya sekalipun. Aku toh sudah mengerti artinya uang sejak dari bangku sekolah dasar. I wish I was my mom, really.
Supaya dia berhenti melarangku menjemput kekasihku semata karena dia lelaki dan aku perempuan. Akankah dia biarkan aku menjemput kekasihku bila kekasihku perempuan juga? I wish I was my mom…really.
Supaya dia tidak perlu menunjukkan jalanku menuju Tuhan, karena itu sangatlah pribadi bahkan saat dia menemukan jalannyapun aku tidak pernah berkata apa apa yang menyatakan aku iri dengan itu.Aku percaya semua manusia punya jalannya sendiri-sendiri. I wish I was my mom…really.
Supaya dia berhenti menjadi juri untuk setiap kekasih yang ku perkenalkan padanya dan memutuskan apakah mereka cukup pantas untukku atau tidak. Aku yang berciuman dengan mereka, aku juga yang akan meniduri mereka suatu hari….bahkan saat yang dilihatnya hanya seberapa mapan mereka. Buatku, kemapanan hati jauh lebih penting daripada kemapanan materi.I wish I was my mom…really.
Supaya dia mau lebih berani mengakui dan menghadapi kenyataan betapa berbedanya kehidupan aku sekarang dan dia dulu. Supaya dia mau lebih mengerti usaha-usahaku untuk tetap hidup dan menjadi manusia yang aku inginkan, bukan yang dia inginkan. Aku adalah aku dan dia adalah dia, sejak lama….bukan cuma minggu lalu. I wish I was my mom….really.
Supaya waktu aku membiarkan dia menyatakan semua opininya, dia juga mesti mau mendengar opiniku sebelum kita mencari jalan tengah. Tidak semuanya dalam hidupku bisa sejalan dengan caranya, bahkan caraku berbicara dan tertawa. Mari berbicara dan berpikir seperti dua orang manusia….bukan selalu anak dan orangtua semata. Shit, I wish I was my mom…..really.
Supaya dia bisa melihat betapa lelahnya selama ini mencoba untuk membahagiakannya namun seringkali mesti menipu diriku sendiri. Betapa sebenarnya apapun keputusan yang dia ambil dalam hidupnya aku tidak pernah ambil pusing, namun dia ingin selalu berperan dalam semua keputusan di hidupku. I really, really wish I was my mom…..bahkan saat umurku sudah hampir tiga puluh tahun sekarang.
Sayang kamu, Bunda..:)
V (vicious.V@lycos.com)
Something about this zine…
Semula hanya sebuah zine dengan konsep tong sampah karena berisi berbagai macam bentuk tulisan dengan berbagai pesan, namun kemudian aku memutuskan untuk lebih banyak berbicara tentang perempuan, kaum gay & lesbian serta iklan. Karena aku sadar sejak mulai menulis di Puncak Muak, tiga hal diatas sangat menarik perhatianku untuk tahu lebih banyak dan selalu ingin membicarakannya dengan teman-temanku. Iya, kamu yang membaca zine ini maksudku, Sayang!
Dan belum cukup banyak menurutku media bawah tanah atau alternatif seperti zine ini yang membahas mengenai tiga hal tersebut diatas walaupun secara umum, zine ini juga tentunya membahas tentang kehidupan secara personal maupun umum.
Sebagian besar artikel atau bentuk-bentuk ekspresi diri di dalam zine ini memang dibuat oleh perempuan dan tentang perempuan, tapi bukannya laki-laki tidak boleh menulis atau mengirimkan kontribusinya…karena aku selalu percaya semakin banyak sudut pandang yang kita punya, semakin kayalah hidup kita. Plus, sebagai seorang praktisi periklanan selama 5 tahun terakhir ini, aku sangat ingin mendengar semua kebencian, kecintaan dan pertanyaan-pertanyaan kamu tentang iklan agar usahaku untuk tidak membiarkan periklanan mengendalikan kehidupanku dapat terus kulakukan.
Untuk tulisan-tulisan yang cara penulisannya masih berbentuk seperti bahasa lisan atau menggunakan bahasa daerah yang terlalu sulit dimengerti, biasanya aku akan melakukan perbaikan sana sini dengan atau tanpa sepengetahuan penulisnya cuma agar bisa dibaca…tapi bukan pengeditan, sekali lagi BUKAN PENGEDITAN ya!
Zine ini juga mencari distributor-distributor individual di berbagai macam tempat dan kota di Indonesia, namun tentu saja distro-distro yang ada dan tertarik untuk menjadi distributor sangatlah aku harapkan juga keikutsertaannya. Silahkan difotokopi juga buat keluarga atau sahabat tersayang kamu ya!
Eh, pernah membayangkan seluruh keluarga kamu ikutan bikin zine? Coba deh! Tanya apa mereka punya pengalaman yang bisa mereka tulis dan masukkan dalam zine kamu sendiri atau zine teman kamu. Beritahu mereka hasilnya supaya mereka punya satu lagi cara mengekspresikan diri mereka karena aku percaya semua orang senang melihat tulisannya terpampang di sebuah media, sekaligus untuk memperkenalkan sebuah fakta bahwa media bukanlah cuma sebuah majalah atau koran/tabloid beroplah bereksemplar-eksemplar yang dibaca di seluruh Indonesia. Tapi ada media independen alternatif seperti ini. Bagaimana?
Buat dukungan, kritikan, makian, kontribusi dan rasa sayang bisa dikirim ke vicious.V@lycos.com.
Terima kasih banyak sekali lagi, teman-teman!
V.
(an ecopunk editor)
NB: Zine ini diusahakan ada di distro-distro atau distributor individual di kota kamu,
Namun bila kamu ingin langsung mengirim uang sebesar Rp 3500,- plus bonus
beberapa pamflet seru, bisa menghubungi:
Semula hanya sebuah zine dengan konsep tong sampah karena berisi berbagai macam bentuk tulisan dengan berbagai pesan, namun kemudian aku memutuskan untuk lebih banyak berbicara tentang perempuan, kaum gay & lesbian serta iklan. Karena aku sadar sejak mulai menulis di Puncak Muak, tiga hal diatas sangat menarik perhatianku untuk tahu lebih banyak dan selalu ingin membicarakannya dengan teman-temanku. Iya, kamu yang membaca zine ini maksudku, Sayang!
Dan belum cukup banyak menurutku media bawah tanah atau alternatif seperti zine ini yang membahas mengenai tiga hal tersebut diatas walaupun secara umum, zine ini juga tentunya membahas tentang kehidupan secara personal maupun umum.
Sebagian besar artikel atau bentuk-bentuk ekspresi diri di dalam zine ini memang dibuat oleh perempuan dan tentang perempuan, tapi bukannya laki-laki tidak boleh menulis atau mengirimkan kontribusinya…karena aku selalu percaya semakin banyak sudut pandang yang kita punya, semakin kayalah hidup kita. Plus, sebagai seorang praktisi periklanan selama 5 tahun terakhir ini, aku sangat ingin mendengar semua kebencian, kecintaan dan pertanyaan-pertanyaan kamu tentang iklan agar usahaku untuk tidak membiarkan periklanan mengendalikan kehidupanku dapat terus kulakukan.
Untuk tulisan-tulisan yang cara penulisannya masih berbentuk seperti bahasa lisan atau menggunakan bahasa daerah yang terlalu sulit dimengerti, biasanya aku akan melakukan perbaikan sana sini dengan atau tanpa sepengetahuan penulisnya cuma agar bisa dibaca…tapi bukan pengeditan, sekali lagi BUKAN PENGEDITAN ya!
Zine ini juga mencari distributor-distributor individual di berbagai macam tempat dan kota di Indonesia, namun tentu saja distro-distro yang ada dan tertarik untuk menjadi distributor sangatlah aku harapkan juga keikutsertaannya. Silahkan difotokopi juga buat keluarga atau sahabat tersayang kamu ya!
Eh, pernah membayangkan seluruh keluarga kamu ikutan bikin zine? Coba deh! Tanya apa mereka punya pengalaman yang bisa mereka tulis dan masukkan dalam zine kamu sendiri atau zine teman kamu. Beritahu mereka hasilnya supaya mereka punya satu lagi cara mengekspresikan diri mereka karena aku percaya semua orang senang melihat tulisannya terpampang di sebuah media, sekaligus untuk memperkenalkan sebuah fakta bahwa media bukanlah cuma sebuah majalah atau koran/tabloid beroplah bereksemplar-eksemplar yang dibaca di seluruh Indonesia. Tapi ada media independen alternatif seperti ini. Bagaimana?
Buat dukungan, kritikan, makian, kontribusi dan rasa sayang bisa dikirim ke vicious.V@lycos.com.
Terima kasih banyak sekali lagi, teman-teman!
V.
(an ecopunk editor)
NB: Zine ini diusahakan ada di distro-distro atau distributor individual di kota kamu,
Namun bila kamu ingin langsung mengirim uang sebesar Rp 3500,- plus bonus
beberapa pamflet seru, bisa menghubungi: