Thursday, March 06, 2003

Peperangan yang tidak perlu saya menangkan
Akhirnya saya benar benar yakin kalau sebenarnya anak lebih sering jadi BUKTI buat orang tuanya kalau mereka adalah manusia yang baik dan benar dimata manusia lainnya, juga Tuhannya.

Sejak lahir, ada banyak anak yang lahir dengan keinginan keinginan orang tuanya akan mereka..bukan keinginan anak itu sendiri. Dan keinginan-keinginan orang tua inilah yang kemudian menyertai si anak hingga dia besar dan dewasa terlepas apakah keinginan si anak sendiri akhirnya berhasil dia capai atau tidak, keinginan orang tua juga mesti tetap dipenuhi bagaimanapun caranya.

Saya sempat berkelahi dengan ibu saya beberapa waktu lalu tentang adik perempuan saya. Saya tidak mengerti bagaimana ibu saya merasa malu kalau adik perempuan saya pergi ke acara pernikahan tidak memakai pakaian yang biasa dia kenakan saat menghadiri seperti itu. Ibu saya mengeluh mulai dari sepatunya yang dia ganti sandal, roknya yang dia ganti kain dan lain sebagainya. Saya sangat tidak mengerti bagaimana cara berpakaian seseorang (terlepas dia masih berumur 8 tahun ya!) bisa mengakibatkan rasa malu kepada orang tuanya? Memangnya ada yang akan menanyakan pada adikku itu, siapa orang tuanya? Nggak mungkin!

Saya makin tidak mengerti saat suatu malam ibu saya mengatakan kalau cara berpakaian saya memalukan suaminya, dan dia sangat tidak nyaman dengan rambut saya yang selalu tidak disisir akhir akhir ini kalau sehabis keramas! Saya lalu bertanya tanya apakah kemudian saya mesti mencela potongan rambut dan gaya berpakaian ibu saya juga?!
Namun sebelum melakukan hal yang sama padanya, lalu saya sadar kalau... saya tidak peduli! Saya tidak pernah benar benar peduli potongan rambut atau gaya berpakaian ibu saya selama dia merasa nyaman dengan itu semua. Dan tentu saja bukan berarti saya tidak sayang dengan dia, tapi cara saya menyayanginya bukan seperti itu!

Saya ingat pembicaraan saya dengan ibu saya beberapa waktu lalu dimana sebenarnya mereka merasa malu pada sanak saudaranya karena merasa tidak mampu mendidik anak anaknya yang hingga hari ini tidak kunjung mapan dan menikah! Hehehe! Saya ingin sekali bilang pada orang tua saya, kalau bukankah lebih baik saya dibiarkan pergi dari rumah dan mereka tidak mengenali saya lagi sebagai anaknya daripada mesti menanggung malu seperti itu? Toh saya tidak merasa membuat malu untuk menjadi diri saya sendiri hari ini.

Dan apakah saya juga butuh orang lain datang dan mengatakan hal itu di depan muka saya? Oh, tidak! Terima kasih banyak. Saya sudah cukup bersyukur hidup dengan keadaan saya hari ini yang sangat jauh lebih beruntung daripada banyak orang lainnya di dunia dan saya tidak butuh sebuah kritik tidak masuk akal seperti itu.

Tapi kenapa orang tua saya seringkali meminta saya menuruti mereka agar supaya mereka bahagia (katanya)? Mereka bahagia hanya karena saya berpakaian seperti yang mereka inginkan, begitu? Ah, alangkah mudahnya membuat orang bahagia! Namun alangkah menyebalkannya bagi yang melakukannya! Kenapa tidak bisa kita berdua bahagia tanpa salah satu mesti nyeri? Kompromi!
Nggak! Saya muak berkompromi! Sudah terlalu lama saya melakukannya! Sudah cukup! Sekarang saya hanya ingin mengatakan apa yang saya rasakan di depan muka orang tua saya, terserah bagaimana mereka mau menanggapinya. Terserah kalaupun mereka mau mengusir saya dari rumah mereka sekalipun! Bukannya saya tidak peduli, tapi saya peduli! Dan masalah dengan orang tua rasanya tidak lagi adalah tentang nyali, tapi harga diri, buat saya!

Masak saya mau dihargai sebatas cara berpakaian saya? Sebatas apakah saya menyapa tante om saya saat mereka berkunjung ke rumah saya? Sebatas apakah saya menabung untuk masa depan saya? Sebatas apakah saya....anak mereka atau tidak bila saya melakukan itu semua?!

Banyak orang yang mengenal saya (dekat ataupun tidak dekat sekalipun!) yakin saya pasti akan melawan pada orang tua saya untuk banyak hal dalam hidup saya...SALAH BESAR! Karena selama masih ada satu hal diantara saya dan orang tua saya, maka saya tidak akan punya keinginan cukup besar untuk memenangkan peperangan itu.

Buat apa? Saya bukan Tuhan.

Vain (Vain@doityourself.com)


DIMANAPUN KAU BERDIRI, BUATLAH PERUBAHAN !!
Oleh : D. B. M .
Apa tujuan utama dari semua aksi buruh yang pernah terjadi di seluruh dunia ? Apa cita-cita Green Peace ? Apa orientasi filosofis Karl Marx dalam semua literaturnya ? Apa sebenarnya yang diperjuangkan oleh mahasiswa Indonesia ? Apa yang membuat D.B.M menulis, dan apa yang membuat teman-teman membaca ? ‘SEBUAH DUNIA YANG LEBIH BAIK’ adalah jawaban yang pasti direstui semua orang. Karena sampai kapanpun juga, segala bentuk usaha pembebasan serta resistansi menentang ketidakadilan, pasti mengarah ke sana. Dan perubahan adalah kendaraan satu-satunya menuju dunia yang lebih baik itu, tidak peduli apakah ia berupa mobil berkecepatan subsonic dengan mesin jet bernama revolusi, ataukah hanya sebuah sampan yang dengan satu dayung bernama reformasi, itulah perubahan. Sekarang lihatlah 360 derajat sekeliling kalian, lalu aktifkanlah otak. Seperti apakah kendaraan kita menuju dunia yang lebih baik ?

Hanya si tolol yang percaya kalau perubahan harus dimulai dengan merubah ideologi politik. Hanya si tolol pula yang menganggap perubahan bersifat top-down. Lebih tolol dari si tolol, jika ada yang mengira perubahan bisa dihentikan. Dan silahkan beri julukan bagi orang yang tidak melakukan usaha apapun untuk perubahan padahal dia masih hidup !

“tiada yang kekal selain perubahan”

Tapi apakah semua perubahan itu didasari oleh niat baik ? Lalu melahirkan kehidupan yang lebih baik ? Apakah jika Gus Dur jatuh, kehidupan akan lebih baik ? Dan kalau dia tetap presiden Indonesia, apakah kehidupan akan lebih baik ? Untuk itu perubahan yang baik seharusnya memiliki beberapa fase dan ciri.

Yang pertama kali harus kita lakukan ialah mengenali diri sendiri dahulu. Contoh : Tidaklah mungkin kita menyebarkan pamflet tentang anti rasialisme di jalanan, jika belum bisa memastikan apakah kita sendiri rasialis atau tidak. Jelas, bukan ? Dan juga jangan dulu demonstrasi menuntut agar para koruptor dihukum mati, kalau belum bisa memastikan apakah kalian nanti tidak akan korupsi (kalau punya jabatan).

Kedua, mengenali dunia. Tidak ada pemenang perang yang tidak menguasai medan tempurnya. Tapi teman-teman jangan terjebak dengan ‘dunia’ dengan arti luas saja. Tempat kalian bekerja adalah sebuah dunia. Sekolah atau kampus kalian adalah dunia. Rumah kalian pun adalah sebuah dunia. Ribuan mahasiswa UNXYZ berdemonstrasi, minta diturunkannya biaya SPP di UNABC, padahal mahasiswa UNABC sendiri santai saja ! Contoh fiktif itu adalah contoh paling kasar tentang kesalahan mengenali dunia.

Dan ketiga, kenali pegangan kita. Belakangan ini kita sering melihat demonstrasi yang kontradiktif berlangsung dalam saat yang bersamaan. Massa pro dan massa kontra sama-sama turun, dan jika mereka bertemu lalu melakukan tukar pikiran sehingga akhirnya mengeluarkan satu tuntutan baru yang lebih baik, itu pasti bukan di Indonesia ! Untuk itu kita harus mengenali apa sasaran jangka pendek dari usaha perubahan yang kita lakukan, dan atas dasar apa kita melakukannya. Misalkan saja kalian berhasil menjatuhkan kepala sekolah kalian, karena dia sering melecehkan siswi-siswinya. Artinya kalian berpegang pada kesetaraan gender sebagai dasar pemikiran dari perubahan di sekolah kalian. Atau, kalian berhasil menciptakan sebuah mesin pembajak sawah yang biaya operasionalnya lebih murah dari harga rumput makanan kerbau (!), dan menyewakannya kepada para petani dengan harga sewa yang lebih murah dari harga sewa traktor umumnya, artinya tindakan kalian mengarah pada perbaikan nasib kaum tani. Tentunya kita bisa menarik sebuah kesimpulan :‘Dasar pemikiran yang ideal dari usaha mengadakan perubahan ialah keadilan sosial dan persamaan antar manusia’. Dunia yang lebih baik harus punya dua hal tersebut.

Kebenaran ? Memang betul jika ‘kebenaran’ adalah alasan yang paling tepat untuk sebuah perubahan, namun sejarah membuktikan kalau manusia ternyata tidak akan mampu untuk memastikan berapa sisi yang dimiliki oleh kebenaran itu. Manusia hanya akan mampu memandang kebenaran dari satu sisi saja, yaitu sisinya sendiri.

Kalau suatu hari nanti ada orang yang mengatakan agama kalian itu salah (dengan bukti-buktinya), orang itu jangan langsung dibakar, mungkin dia hanya memperlihatkan sisi lain kebenaran yang dia lihat. Kalau D.B.M (sampai hari ini) cukup yakin Tuhan itu pasti ada, namun agama apapun belumlah tentu kebenarannya, atau setidaknya agama harus rela direvisi agar tidak sekedar jadi pelengkap identitas manusia. Walaupun agama memang datang dari Tuhan, tapi manusialah yang melakukan sosialisasinya. Kita semua tahu yang namanya kesalahan dan kekeliruan (penyalahgunaan ?) selalu menghantui sejarah manusia... mungkin D.B.M akan membahasnya suatu hari nanti.

Jadi, apa inti dari essai ini ?

Pertama : Perubahan harus dimulai dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri. Karena Islam tidak akan menjadi agama yang besar jika Muhammad tidak melakukan apa yang dia sendiri ajarkan ! Kedua : Merubah dan berubah, itulah kehidupan manusia. Tinggalkan yang namanya fanatisme, keyakinan buta yang membatu pada apa saja, sehingga kita bisa dan selalu siap untuk berubah, atau setidaknya agar kita mampu menerima ide-ide yang bertentangan dengan yang kita yakini tanpa perlu emosi, iri hati, dendam, dan simbol-simbol kedunguan lainnya. Dulu D.B.M yakin kalau punkrock adalah musik paling radikal di seluruh semesta, namun setelah melihat realita, sekarang D.B.M yakin kalau punkrock adalah musik yang paling cerdas di seluruh dunia !

Akhirnya, sekarang kita semua bisa menemukan apa yang menjadi penyebab berlarutnya masalah sosial politik di Indonesia. Terjadinya konflik horizontal rakyat, disebabkan karena fanatisme semu pada satu kelompok atau orang masih lekat menempel di otak rakyat kita. Dan sifat itu dicontohkan dengan sempurna oleh para pemimpin kita yang dengan batu dalam kepala mereka, saling sodok-menyodok, saling menjelekkan, sembari terus menjual kata ‘kebenaran’ dan ‘rakyat’, padahal kita tidaklah lagi sebodoh kemarin, sekarang kita bisa lihat jelas apa sebenarnya orientasi dari para pemimpin kita dalam setiap manuver politriks mereka. Dan apakah masih ada dari teman-teman yang berharap orang-orang seperti mereka untuk memimpin kita ??? Kita semua, generasi baru Indonesia, ternyata lebih cerdas dari mereka !!! Bahkan semakin kita cerdas, semakin kita yakin bahwa kita tidak butuh yang namanya penguasa !!! Karena kita telah menyimpulkan :

>>DUNIA YANG LEBIH BAIK ADALAH DUNIA TANPA NEGARA !!<<

Siapapun kalian, buatlah perubahan ! Dimanapun kalian, buatlah perubahan! Hanya dia yang bisa mengantar kita menuju dunia yang lebih baik. Dan karena D.B.M sudah tidak sabar, buatlah mobil yang berkecepatan subsonic, jangan buat sampan ...

Stratosfer, 6 Februari 01,

DEBU BINTANG MERAH (tikus_dapur@angelfire.com)

CHE TELAH MATI

Mari kawan coba lihat aktifis-itu...
Begitu revolusioner-nya dia dengan kaos che-nya itu..
Mari kawan coba lihat mahasiswi itu...
Begitu indah pin bulat yang bergambar che-di tas
hitam-nya itu...

Che-dimana jiwamu sekarang...
Masih dapatkah kau bersuara lantang dialam sana...
Che-andaikan bisa,terbanglah jiwa-mu di negeriku-ini...
Kisah-mu dan wajahmu telah menjadi ikon hari
ini,Sayang...

Aku tertawa,dan ingin membakar semua tentang dirimu...
Disaat dirimu,kini diciptakan dan diambil alih
oleh musuhmu,Kapitalis!...

Aku tertawa,dan ingin membakar foto-fotomu itu...
Disaat wajah-mu terpajang diantara baju-baju anak
muda jaman sekarang...

Aku punya buku-buku tentang diri-mu...
Tetapi,aku tidak memajang postermu di tembok putih itu..
Akupun punya kaos merah bergambar dirimu...
Tetapi,`kan kupakai disaat teman-teman sebayaku
melupakan dirimu,dan menemukan tuhan mereka,yang mereka
agungkan itu..

Anasthasia

We love it, because it’s a girl!
Apa bedanya zine yang dibuat sama cewek atau cowok? Apa bedanya album yang dikeluarkan oleh band yang personilnya cewek semua dengan yang cowok semua? Apa bedanya personal web atau e-zine yang dibikin sama cewek dengan yang dibikin sama cowok?

Bedanya, yang dibikin sama cewek jadi terdengar LEBIH MENARIK. Kenapa lebih menarik? KARENA YANG BIKIN CEWEK. Hahaha! Ribet ya? Tapi betul kan saling berhubungan!

Iya, mestinya memang tidak begitu karena memang tidak ada yang membuat semuanya jadi lebih istimewa hanya karena gender atau jenis kelamin pembuatnya, namun mengapa hal tersebut tetap menjadi daya tarik dan bahkan kemudian cenderung jadi sesuatu yang layak jual?

Perempuan adalah uang. Karena perempuan adalah .......... (isi titik titik di samping dengan jawaban paling subyektif kamu sendiri!)

Lucu ya! Jadi perempuan ternyata artinya kita lebih bisa mendatangkan uang bagi diri kita sendiri ataupun orang lain di kehidupan kita (padahal kenyataannya lelaki yang tekanannya lebih besar untuk jadi pencari nafkah daripada perempuan). Jadi, apakah lelaki lalu lebih sulit untuk mencari uang? Mestinya tidak, karena lelaki juga punya sama banyaknya hal yang layak jual seperti perempuan. Otak, tubuh dan kelaki lakian mereka sendiri! Buktiin sendiri deh!

Oke, sekarang kalau kamu bertanya padaku kenapa sebuah zine yang dibuat sama cewek lebih menarik buatku, jawabannya: karena masih sedikit zine yang dibikin sama cewek! Itu aja. Iya, memang jadi berarti banget buatku karena aku merasa masih sedikit sekali cewek yang bikin zine padahal aku percaya semua orang bisa membuat zine. Rasanya bangga! Rasanya beda!

Tapi pernah juga aku kecewa waktu seorang teman bercerita saat dia menawarkan newsletterku pada beberapa orang cewek yang ada di sebuah konser, yang terjadi adalah newsletterku tidak cukup dipercaya kalau yang membuatnya adalah seorang cewek juga. Tapi selain itu ada hal lainnya yang mengecewakan buatku dari kejadian ini.

Pertama, kenapa temanku mesti mengatakan pada mereka kalau yang membuatnya adalah perempuan?

Kedua, kenapa mereka tidak percaya kalau ada cewek yang bisa membuat zine juga? Apakah sebegitu rendahnya perempuan menghargai kemampuan perempuan lainnya? Mungkin pada kejadian ini memang begitu, namun buat hal yang lainnya belum tentu.

Jadi, kesimpulanku adalah kalau dalam hal hal yang mayoritasnya masih lebih banyak dibuat oleh cowok, cewek akan jadi jauh lebih menarik. Karena ini jadi sesuatu yang baru, bikin penasaran, mengundang kontroversi, dan masih banyak lagi hal lainnya yang tiba tiba membuat cewek jadi lebih istimewa daripada cowok.

Wah! Kok bisa ya! Bukankah selama ini kita lebih banyak melihat kalau posisi cewek adalah kedua setelah cowok? Bukankah katanya selama patriarki ada cowok akan selalu jadi Raja? Kenyataannya? Nggak selalu seperti itukan?

Makanya, aku pengen banget suatu hari nanti semakin banyak cewek yang bikin zine, bikin band, bikin web,bikin apapun yang selama ini belum banyak bahkan belum pernah ada cewek yang melakukannya sekalipun. Bukan untuk pembuktian diri mereka semata, tapi lebih karena pilihan-pilihan hidup kita yang ada di kehidupan ini tidak mesti jadi sedikit karena gender kita sendiri. Pilihan-pilihan hidup seorang cewek mestinya akan sama banyaknya dengan seorang cowok. Ini keinginanku ya!

Yah, toh jadi seorang cewek atau cowok memang bukan pilihan..tapi semata keputusan Tuhan. Iya kan?

V (viciousvagina@yahoo.com)

IKLAN TIDAK SELALU TERLIHAT SEPERTI IKLAN,SAYANG….

Kalau kamu melihat sebuah iklan televisi, pernah nggak kamu merasa serasa seperti menonton potongan film dari keseharian kamu sendiri? Begitu mirip hingga kamu takjub dengan cara mereka menangkap kebiasaaan, karakter orang-orangnya, hingga kamu sempat terkejut saat di akhir film iklan ini ada slogan sebuah produk yang menutupnya. Ooh, ternyata iklan! Pernah? Atau misalnya saat kamu lagi naik mobil tiba-tiba ada iklan radio yang persis sama merekam potongan sebuah kejadian sehari-hari begitu bagusnya hingga emosi kamu bisa langsung merasakan kejadian tersebut tanpa perlu melihat langsung dengan mata kamu sendiri. Kamu bisa tertawa, jengkel, sedih hingga tersenyum. Nah, itu namanya craftmanship iklan-nya bagus.

Craftmanship adalah teknik memoles, membentuk serta mengemas sebuah iklan agar nampak begitu natural sebagaimana aslinya. Craftmanship umumnya paling mudah kita lihat di iklan-iklan yang memang mengangkat latar belakang atau kejadian di kehidupan sehari-hari. Semakin mirip iklan tersebut dengan kejadian aslinya, semakin hebat pembuatnya, dan semakin sulitlah kamu keluar dari pengaruh iklan ini. Setuju?

Oke, sekarang kalau kamu tanya sama orang tua atau saudara-saudara kamu di rumah tentang iklan favorit mereka, jawaban mereka apa? Yang paling lucu? Yang paling bagus musiknya? Yang paling asik ceritanya? Yang paling keren gaya filmnya? Yang mana? Tapi umumnya pasti setuju kalau mereka semua menyukai iklan yang begitu tepat menggambarkan perasaan mereka, hingga mereka bisa melihat produk tersebut sebagai kebutuhan yang masuk akal, dan bukan lagi barang pelengkap yang memupuk nafsu konsumerisme mereka. Iya-kan?

Tahukah kamu kalau pembuatan sebuah kampanye iklan dibuat berdasarkan sebuah proses riset yang mahal dan detail dari keadaan masyarakat, khususnya target pasar produk tersebut? Setiap bulannya berbagai metode riset diadakan untuk mendapatkan masukan-masukan dan fakta-fakta terakhir tentang keadaan masyarakat, termasuk besar jumlah uang belanja bulanan,berapa kali rekreasi keluarga diadakan setiap bulanannya, bahkan cara berbicara, kebiasaan menonton televisi serta mendengarkan radio mereka setiap harinya. Bisa! Semua ini bisa didapatkan dengan mudahnya dari biro-biro riset afiliasi dari luar negeri itu. Ada uang, ada barang, Ha!

Nah, semua data dan fakta inilah yang menjadi dasar craftmanship sebuah iklan agar terlihat begitu natural hingga secara tak sadar kamu atau aku mempercayai bahwa produk itu memang sesuatu yang sudah semestinya mulai menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Gocha! Kamu pun terpengaruh untuk mulai lirik sana lirik sini begitu ke mal. Mulai buka buka majalah dan ngobrol tanya kanan kiri cari obral atau potongan harga. Barangkali aja produk itu jadi lebih murah harganya…pokoknya perlu banget deh buat punya produk itu! Hehehee!

Sekali lagi, itu hanyalah iklan, sayang. Iklan. Supaya kamu membeli produk itu dan jadi seperti itu, supaya ibu kamu bisa dibicarakan sama tetangga-tetangga di komplek rumahnya, supaya adik kamu tidak dikucilkan oleh teman-teman di sekolahnya. Dan macam-macam kepercayaan yang bisa dibuat oleh tehnik craftmanship ini tadi kepada para penontonnya yang notabene memang bukan orang iklan (seperti aku) serta semata akan jadi korban saja. Nggak mau-kan?

Disini, aku hanya ingin berbagi, hingga kamu bisa lebih berhati-hati saat mulai tertakjub-takjub dengan lihainya sebuah perusahaan dalam mengiklankan berbagai produknya. Jangan langsung ke supermarket begitu merasa ‘Wah, bener juga sih! Tau aja!’ begitu sebuah slogan iklan kamu baca atau dengar di radio. Jangan buru-buru ingin membelikan pacar kamu sesuatu yang kamu percaya akan membuatnya makin cakep hanya karena model iklan itu gayanya asik banget menurut kamu. Itu cuman iklan, sayang.Sekali lagi, iklan. Pikir dua kali sebelum membeli hari gini. Ngerti-kan?

Dan kembali ke craftmanship maupun tehnik-tehnik pembuatan iklan yang lainnya, aku sebagai pembuat naskah iklan cuma ingin kamu, kalian, juga mestinya diriku sendiri, untuk tetap melihatnya semata sebagai taktik dagang kapitalis untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Nggak ada tujuan lainnya kok, bahkan saat bagiku itu semata sebagai tempat pelampiasan ide ide kreatifku yang nggak ada habisnya ini. Aku tetap tidak akan membiarkan mereka seenaknya melakukan cara-cara untuk memanipulasi kamu, aku, juga teman-teman dan keluargaku bila aku masih bisa mencegahnya. Selama aku masih berada di dalam jalur komunikasi mereka yang penuh tipu daya itu.

Fuck advertising, fuck television, fuck image.

-Dedicated to all advertising people with consciousness-

V (vicious.V@lycos.com)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?