Sunday, September 07, 2003

LEM, GUNTING, KERTAS DAN PINSIL
Cuma itu modal bikin zine setahu saya, dan rasanya nggak butuh lebih dari itu kecuali tambahan sejuta niatan dan sedikit uang untuk fotokopi.

Zine adalah non-komersial, non-profesional, majalah bersirkulasi kecil yang oleh pembuatnya dibuat, dicetak dan didistribusikan sendiri. Dibentuk oleh sejarah panjang media alternatif di Amerika, zine sebagai sebuah bentuk media lahir di tahun 1930-an. Pada waktu itu para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, melalui perkumpulan-perkumpulan yang mereka buat mulai membuat media yang mereka sebut fanzine sebagai cara untuk berbagi cerita-cerita fiksi ilmiah, opini serta berkomunikasi diantara mereka. Empat puluh tahun kemudian di pertengahan tahun 1970-an, pengaruh yang besar pada zine terjadi saat para fans musik punk rock dimana mereka jelas jelas tidak menghiraukan media media musik mainstream dengan mulai membuat zine tentang musik dan kultur mereka tersebut.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Sedangkan menurut saya sendiri, zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media diluar media yang ada selama ini. (Memang pada kenyataannya sekarang ada juga yang dinamakan e-zine atau elektronik zine, namun disini saya mau bicara tentang zine cetak aja ya Sayang ya!)

Tipikal isi zine diawali dengan personal editorial, kemudian artikel-artikel curhatan, kritik, opini, serta ulasan-ulasan mulai dari zine, buku, musik dan lain sebagainya. Diantara halaman-halamannya terdapat puisi, cerpen, potongan-potongan berita dari media massa plus komentar tentang berita tersebut, juga ilustrasi dan komik. Editor merupakan kontributor terbesar dari zinenya, namun dia biasanya juga akan mendapatkannya dari teman atau sesama pembuat zine lainnya. Cara yang lebih umum membuka penawaran untuk berkontribusi di dalam zinenya tadi. Isi juga bisa merupakan bajakan atau ‘pinjaman’ dari zine lainnya atau media mainstream sekalipun, bahkan terkadang diambil begitu saja tanpa ijin penulisnya. Dicetak diatas mesin fotokopi standar, direkatkan ditengah-tengah atau di pinggirnya, jumlah halamannya berkisar antara sepuluh hingga empat puluh halaman. Zine memang terlihat jadi seperti berada diantara surat personal dan majalah. Ada zine yang dicetak dalam jumlah besar seperti Slug & Lettuce, ada juga yang memiliki begitu banyak kontributor dan halaman seperti Maximum Rock’n Roll, namun zine kebanyakan memang dibuat dengan semangat Do It Yourself apapun bentuk dan isinya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Namun saya sendiri selalu menyukai bentuk-bentuk media yang diluar dari bentuk media yang sudah ada, termasuk zine itu sendiri. Semakin berbeda sebuah zine, maka akan semakin menarik buat saya, karena akan terlihat perayaan kebebasan berekspresi dalam zine tadi semakin maksimal tak hanya dalam topik dan disainnya, namun juga bentuk luarnya. Makin banyak juga kejutan dan makin inspiratif jadinya. Sayangnya lagi, disini masih terlalu banyak yang menggunakan ukuran standar A5 sebagai bentuk zinenya, dan masih terlalu sedikit yang mau bereksperimen dengan bentuk-bentuk lainnya. Bikin yang bentuknya misalnya siluet binatang atau logo lucu juga kayaknya ya? Heheeh!

Fanzines adalah kategori tertua dari zine sehingga mungkin saja banyak orang yang menganggap semua zine adalah fanzines. Secara sederhana fanzine adalah publikasi atau media untuk mendiskusikan nuansa berbagai macam kultur dalam sebuah media. Beberapa pengelompokan dalam fanzine ini adalah:

Zine fiksi ilmiah, musik,olahraga, televisi dan film,serta yang lainnya lagi diluar pengelompokan tadi.

Sedangkan zine politis lalu dibagi lagi dengan P besar dan P kecil, dimana di dalamnya terdapat personal zine personal atau perzine, zine scene, zine network, zine kultur horror dan luar angkasa, zine agama dan kepercayaan, zine seks, zine kesehatan, zine perjalanan, zine sastra, zine seni, serta banyak lagi pengelompokan zine yang lainnya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Sementara buat saya sendiri pengkategorian zine seperti itu memang perlu untuk menjelaskan tentang isi sebuah zine, namun sama sekali tak perlu untuk para pembuat zine itu sendiri. Karena pada akhirnya kebebasan yang dirayakan dalam bentuk media seperti ini malah menciptakan sebuah batasan-batasan tak perlu. Sayangnya, disini zine-zine yang saya temui masih terlalu banyak yang berkisar pada tema yang itu itu saja! Musik, punk, politik, scene serta komik, sehingga belum banyak hal yang bisa dikomunikasikan oleh para pembuat, juga untuk para pembaca zine itu sendiri. Kenapa nggak membuat zine tentang mimpi misalnya, atau tentang tato, tentang emblem, tentang anak-anak, tentang tanaman, tentang menjahit, tentang obat, tentang zine itu sendiri mungkin, serta masih ada puluhan topik lainnya yang belum disentuh hingga saat ini. Iya kan?

Orang orang aneh, kutu buku, kuper serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungannya adalah karakter orang-orang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang menyedihkan serta membuat segala hal tentang diri mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang lewat zine-zine mereka. Karenanya zine pertama kali ada diantara para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, dimana mereka memiliki kepandaian diatas rata-rata namun kemampuan untuk bersosialisasinya dibawah rata rata. Seperti halnya juga zine Punk yang pertama kali diterbitkan oleh Legs McNeill, yang di dalam zinenya menjelaskan Punk sebagai ‘apa yang sering dikatakan oleh guru-guru kita dari dulu…kalau kita tidak pernah cukup berharga untuk apapun di hidup ini’.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Dan disini walaupun memang awalnya adalah komunitas Dunia Bawah Tanah atau underground yang membuat media ini masuk ke dalam komunitas lainnya, sayangnya karena keterbatasan topik serta distribusi yang belum besar membuat zine seolah menjadi sebuah media eksklusif yang menuntut kualifikasi-kualifikasi tertentu untuk membuatnya. Padahal zine tidak pernah memiliki sebuah cara baku untuk membuatnya, isinya, apalagi pembuatnya. Semua orang bisa membuat zine karena zine adalah tentang semua orang. Punk bukan punk, anak underground atau bukan, anak kecil atau orang tua sekalipun, sendirian maupun beramai-ramai, zine bahkan tidak pernah menuntut pembuatnya untuk menjadi dirinya sendiri! Seseorang bisa saja menjadi seorang anak kecil, seorang perempuan Jepang, seekor anak beruang, bahkan sebuah topi di dalam zinenya tanpa seorangpun berhak menilainya penipu ataupun aneh, karena zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media cetak yang tak berbatas. Betul nggak?

Zine dinilai seharga biaya pos hingga beberapa dollar saja, namun barter atau saling bertukar zine adalah umum dilakukan dan merupakan bagian dari aturan yang sudah diketahui sesama para pembuat zine. Distribusi umumnya dilakukan dari satu orang ke orang lainnya melalui pos, dijual di toko-toko buku dan musik, dibagikan atau barter di konser-konser punk, pertemuan para penggila fiksi fiksi ilmiah dan sejenisnya.Mereka diiklankan melalui mulut-ke-mulut, melalui kolom ulasan zine di dalam zine lainnya, serta zine zine yang membahas mengenai zine itu sendiri seperti Factsheet Five, yang bertujuan memang untuk mengulas serta mempublikasi media media seperti ini.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Karenanya saya tidak pernah menyukai peletakkan zine di distro dalam arti dilihat sebagai produk, karena saya percaya zine adalah sesosok manusia dalam sebuah bentuk media cetak yang ingin sekali berkomunikasi dengan sebanyak-banyak orang di luar sana. Di dalam sebuah zine, khususnya zine-zine personal, akan terasa sekali istimewanya komunikasi serta pesan-pesan personal yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya walaupun dalam bentuk tulisan saduran sekalipun serta cara mendisain yang mungkin secara umum mirip. Walaupun memang distro bisa jadi salah satu tempat distribusi, namun rasanya sedih juga melihat jajaran zine-zine yang berdebu di dalam sebuah distro seolah melihat seseorang atau sekumpulan orang yang berteriak-teriak ingin mengobrol tapi tak kunjung ada seorangpun yang mau mengajak mereka bicara. Ciee! Emosional banget ya? Hehehe! Tapi coba kita dengar apa kata Mike Gunderloy dari zine Fachsheet Five tentang zine,

Zine dibuat bukan untuk uang, namun untuk Cinta. Cinta untuk berekspresi, cinta untuk berbagi, cinta untuk berkomunikasi. Dan sebagai salah satu bentuk protes terhadap sebuah budaya dan lingkungan yang menawarkan terlalu sedikit penghargaan atas hal-hal tadi, zine juga dibuat dari sebuah…Kemarahan!

So, kapan nih saya bisa liat zine kamu? Barter yuk!

V.

NB: Tulisan ini dibuat untuk diskusi Seni dan Gay di Jakarta, 27 September 2003









arteverygay
Gue bukan gay, gue bukan seniman, dan gue bukan gay yang seniman. Gue adalah seseorang yang suka seni dan suka sama gay. Buat gue, ada yang istimewa tapi ada juga yang biasa saja dari dua hal yang gue suka ini. Toh sesuatu yang biasa biasa saja pun bisa jadi istimewa kalau kita tahu bagaimana memperlakukannya kan?

Karena, kalau boleh membandingkan antara gay dan seniman…buat gue jadi gay jauh lebih istimewa daripada jadi seniman. Soalnya gue percaya semua orang bisa aja jadi seniman, tapi nggak semua orang bisa jadi gay. Seni adalah milik semua orang dan bisa dilakukan semua orang, tapi gay? Nggak kan, Sayang!

Coba sekarang, pernah nggak mendengar orang bunuh diri gara gara nggak boleh jadi seniman sama orang tuanya? Gue sih belom pernah, kecuali orang yang bunuh diri supaya dibilang seniman! Hahaha! Tapi pasti ada deh orang yang bunuh diri karena orang tua atau lingkungannya membuang mereka saat mereka mengaku adalah seorang gay. Nah! Lihat bedanya kan sekarang?

Iya, gue tau semua itu pilihan (walaupun sayangnya jadi laki laki dan perempuan itu bukan pilihan, tapi semata keputusan Tuhan).Jadi gay, jadi seniman, jadi gay yang seniman, jadi ibu rumah tangga, jadi ibu rumah tangga sekaligus seniman, jadi ibu rumah tangga yang seniman dan gay, serta ‘jadi’ ‘jadi’ lainnya di hidup ini. Tapi pertanyaan gue adalah, sudahkah lingkungan kita jadi tempat yang lebar-lega-lucu untuk tumbuh kembangnya semua pilihan-pilihan tadi?

Itu dia makanya gay jadi salah satu topik dalam media gue. Sebuah media cetak-lay-out-tangan-fotokopian yang terbitnya nggak jelas, tapi lumayan jelas buat isi, ukuran, warna sampul, serta harga distribusinya. Hehehe! Namanya SETARAMata. Karena gue mencoba membagi sudut pandang gue untuk melihat segala sesuatu dengan lebih SETARA ke orang lain. Artinya, nggak cuma dari satu mata aja atau beberapa mata yang sudah pernah gue atau orang-orang lain lihat melaluinya. Sehingga, kalau mau memberi penilaian apapun akan sesuatu nggak langsung hajar aja seperti yang sering gue alami dan rasakan dari orang orang di sekitar gue. Gue juga pengen semoga makin banyak orang bisa menghargai perbedaan dan nggak semudah melihat salah benar sesederhana warna hitam putih aja. Hidup kan warna warni, manusia juga begitu...lalu kenapa semuanya mesti dibikin sama kalau perbedaan adalah yang bikin hidup adalah sebuah pengalaman yang penuh kejutan dan menyenangkan? Rayakan perbedaan yuk, Sayang!

Ditambah lagi gue juga ngerasa kalau gay di Indonesia, apalagi yang usianya masih muda (dan lagi heboh-hebohnya mengalami perang dalam diri mereka plus lingkungan sekitar mereka sendiri) nggak pernah cukup dapat dukungan plus tempat yang lebar-lega-lucu itu tadi untuk membantu mereka menemukan orientasi seksual mereka sendiri. Orang mereka yang orientasi seksualnya standar aja masih dapat pertentangan sana sini karena masalah status, agama dan lain sebagainya; apalagi yang beda, coba?!

Lucunya, sejak gue mulai bikin SETARAMata ini beberapa orang bener-bener dateng ke gue dan tanya apakah gue lesbian? Hahahaa! Ternyata, banyak orang masih percaya kalau kita membela atau percaya akan sesuatu berarti kita memang juga melakukan hal tersebut. Padahal kan kepedulian juga bisa berawal dari saat kita mencoba memposisikan diri kita di orang lain untuk merasakan tekanan dan ketidakadilan yang mereka terima. Paling nggak itulah yang jadi modal awal buat gue melakukan sesuatu untuk temen-temen gay gue. Hal serupa juga pernah menimpa teman gue yang pro sama kaum gay sehingga dia pernah dibilang begini, ‘Kenapa kamu nggak kawin aja sama temen temen cowok kamu kalo kamu pro sama homoseksual?’ Hehehehe! Bodo banget kan opini yang dia terima itu!

Ada yang menyedihkan disitu, sekaligus bikin gue sekaligus sadar kalau usaha untuk membuat sebuah lingkungan yang lebar-lega-lucu buat temen-temen gay gue masih panjang jalannya, masih banyak yang mesti dilakukan supaya lingkungan ini akhirnya bisa bener-bener tercipta suatu hari nanti. Lagipula, kenapa cuma bisa bilang ‘Iya, gue peduli sama gay’ kalau sebenarnya kita tahu ada lebih banyak cara dan butuh lebih banyak usaha untuk menunjukkan kepedulian kita? Mau nyoba dari sekarang nggak, Sayang?

Sejauh ini beberapa temen lesbian yang memang menggunakan media gue buat tempat mereka curhat ataupun sekedar berbagi opini tentang pilihan mereka jadi lesbian atau biseksual sekalipun. Dan umumnya mereka berusia dibawah 25 tahun serta cukup diterima di lingkungan mereka yang dinamakan Dunia Bawah Tanah atau underground. Sedangkan gue sendiri masih berusaha menyebarkan media gue ke sebanyak-banyaknya orang, karena gue percaya hal-hal yang gue bicarakan di media gue adalah hal-hal yang juga dibicarakan oleh orang lainnya di luar sana. Saat mereka membaca media gue, mereka bisa aja terkejut, mengangguk, terpana, atau lalu bertanya-tanya...namun apapun itu reaksi mereka, setidaknya mereka sudah melihat melalui satu mata lagi mengenai semua topik di media gue termasuk gay, yaitu lewat mata gue dan temen temen gue di dalam SETARAMata.

Sedangkan untuk sesuatu yang bernama Seni itu sendiri, saat temen-temen gue yang lesbian menuliskan atau mengekspresikan diri mereka baik dalam bentuk tulisan, puisi, gambar ataupun lainnya…merekalah seniman seniman favorit gue! Merekalah yang dengan jujur dan berani menunjukkan kalau mereka hidup, berbeda dan tak mau hanya menjadi penonton saja dalam usaha untuk menciptakan sebuah lingkungan lebar-lega-lucu untuk diri mereka sendiri juga orang-orang yang serupa dengan mereka.

Ngerti kan sekarang maksud gue dengan Arteverygay? Yup! Semua gay bisa jadi seniman, seniman bisa aja gay, dan yang paling penting, semua orang bisa jadi seniman dan mendukung gay!

Toh, seni bisa aja jadi senjata, kalau kita tahu bagaimana menggunakannya. Iya kan? (Ciieee! Bukan, gue bukan seniman! Kan gue udah bilang di awal tulisan ini tadi! Hehehehe!)

v.


































‘Errr…kamu lesbian ya?’
Apa jawaban seorang bijak saat ia ditanya, ‘Bagaimana perasaan Anda ketika
Anda mendapatkan pencerahan?’
‘Saya ini orang bodoh’, jawabnya.

Jawaban yang sama ketika gua belajar mencari tahu dan memahami arti kata LESBI atau lesbian.

Ya, gua ini cewek yang suka sama cewek alias sesama jenis, dengan segenap
rasa. Gua juga ingin bersentuhan fisik dengan cewek. Rasa suka dengan orang yang jenis kelaminnya sama ama gua.

Ya itulah arti lesbi atau lesbian buat gua sekarang. Satu aspek hidup yang menyangkut orientasi seksual gua. Pemahaman baru ini gua dapet ketika akhirnya gua putuskan untuk berbagi rasa itu dengan ngobrol ke banyak temen-temen deket yang heteroseksual dan homoseksual, juga keluarga gua. (Nggak lupa juga menggosok gigi dan cuci kaki sebelum) membaca dan cari-cari tau informasi tentang lesbian atau homoseksual di buku-buku yang menurut gua sikap mereka lebih adil dan netral dibanding pemberitaan dan
penulisan di media-media yang seringkali ujung-ujungnya: "Harus dikembalikan ke jalan yang benar."Capek banget nggak sih!!! %%&&**##

Tapi dulu ada saatnya ketika menyadari gua lesbi,dan orang-orang mulai bergunjing gua
yang lesbian ini…gua jadi takut bukan main! Belum lagi malunya dipelototin segitu
rupa. Gimana nggak?! Gua dan masyarakat kita kebanyakan sedari kecil dicekokin
pengetahuan dan informasi mengerikan yang melulu mengutuk lesbi, menghakimi
mereka dengan pemikirran-pemikiran negatif lainnya yang membuat gua malah jadi merasa terkungkung, bersalah, atau seperti pesakitan dan harus "dikembalikan ke jalan yang benar".

Terus, kalo nggak bisa "dikembalika ke jalan yang benar", yah paling langsung masuk neraka dan
dimusnahkan dalam api-api penyucian. Dan semua hujatan itu menimpa gua tanpa gua sendiri diberi kesempatan untuk menjelaskan rasa yang ada di hati gua ini. Uuh menyebalkan! %%&&**##

Akhirnya, sebelum orang menghakimi gua, gua memilih untuk lebih dulu menghakimi diri sendiri biar lebih "aman". Caranya? Dengan menutup diri dan berpura-pura kalo gua juga suka ama cowok. Shit, ini malah makin menyebalkan lagi!!

Tapi itulah nilai-nilai dan norma-norma dari ajaran agama dan budaya yang kita telan bersama bulat-bulat dari masa kita tumbuh. Tanpa memikirkan dulu apa maksudnya, semua aturan itu ada dan berlaku buat kita semua. Jadi mau nggak mau rasa suka dan cinta gua terhadap sesama cewek gua kubur dalam-dalam meski rasa itu begitu nyata
dan tulus buat diri gua sendiri. Hiks…. Gue pikir, gila aja kali kalo gua terbuka dan membiarkan orang-orang itu menghakimi gua! Makanya yang paling aman gua kubur sajalah rasa itu. Dan itu adalah hal yang paling masuk akal buat gua lakukan waktu itu.

Sekarang, keadaan gua udah nggak setegang itu dimana gua mesti maen petak umpet melulu.Tapi memang membiarkan orang lain tahu akan orientasi seksual itu emang nggak gampang sih. Kenapa nggak gampang?

Ya karena itu tadi, pemahaman-pemahaman nilai dan norma yang terkandung dalam budaya dan ajaran agama kita masihlah sangat sempit dan dangkal. Tidak semua orang tentunya bisa dan mau diajak duduk bareng ngobrol tentang lesbian atau homoseksual atau apalah yang di luar kebiasaan yang sudah berabad-abad melekat
dan diyakini serta dijalani sebagai kebenaran tunggal.

Ada kelegaan tersendiri buat gua menjadi dan mengenali diri gua sendiri sebelum menaruh label apapun di kepala gua ini yang sempet mo pecah berkeping-keping sebelumnya! Hehehe!

I love womyn dan hanya ingin hidup berpasangan (bila ada yang mau ama gua ya:P) dengan cewek juga. Jadi ada benernya kali ya pepatah usang itu: Tak kenal maka tak sayang.

Imel (caranaparwata@yahoo.com)


SURAT DARI MARIYAH
Kepada: Saudara-saudaraku di Jakarta yang
berbahagia,

Aku selalu ikut bahagia mendengar kabar kalian di Jakarta yg
"berbahagia" masih bisa menonton Konser Krisdayanti, berbelanja di
mall-mall, makan minum setiap hari di cafi-cafi, atau bisa kuliah sampai
pasca sarjana. Kami mencoba merasakan kebahagian itu, kendati semua itu
hanya ada di "mimpi-mimpi" kami.

Aku juga ikut sedih kala saudara-saudaraku di Bali menjadi korban
bom, dan sekarang (kabarnya) juga kembali terjadi di Jakarta. Kami sangat
bisa merasakan kesedihan itu, karena kami SUDAH SERING kehilangan
orang-orang tercinta

Tapi, bisakah kalian MERASAKAN apa yang kami rasakan di Aceh saat
ini: setiap hari berlari di tengah desingan peluru dan roket/bom yang
berjatuhan, serta melihat lebih banyak mayat, darah, luka, kesedihan, dan
ketakutan?

BIASAKAH KALIAN MEMBAYANGKANNYA?

Aku bersama sejumlah janda yang dicari-cari oleh TNI/Polri, terpaksa
mengungsi/bersembunyi di dalam hutan. Anakku yang masih kecil kutitipkan
pada Ibu (neneknya) yang bersama warga kampungku telah mengungsi ke camp
pengungsi atas perintah TNI.

Kalian mungkin akan bertanya: Mengapa aku harus sembunyi? Apakah aku
punya salah? Ya. Pertanyaan ini selalu mengusik hatiku: APAKAH AKU
BENAR-BENAR BERSALAH?

Masalahnya adalah, aku tak bisa kuliah bahkan tak mampu menamatkan
Madrasah Aliyah, karena orangtuaku miskin. Rumah kami dibakar. Suamiku
mati ditembak semena-mena semasa Jeda Kemanusiaan (pada masa damai) tahun
2001 lalu. Salahkah kalau aku sakit hati?

Lalu aku mendengar ceramah tentang Negara Aceh yang dulu pernah
berdaulat selama empat abad. Bersama perempuan-perempuan dari desa lain,
kami mulai merajut MIMPI: Andai kami nanti merasakan kemerdekaan yang
sebenarnya, rakyat Aceh akan mengatur hidupnya sendiri dalam sebuah
negara kecil. Rakyat lebih cepat sejahtera dari hasil bumi yang ada.
Keadilan ditegakkan. Jika satu orang mati di sebuah kampung, "presiden
kami" ikut prihatin, dan "polisi kami" mengusutnya dengan sungguh-sungguh.

Andai merdeka nanti, Aku akan kuliah lagi. Aku bisa bekerja dengan
gaji lumayan, dan mampu membangun rumah yang layak untuk keluargaku. Aku
akan melihat kampung kami damai dan makmur. Tiap tahun, zakat yang kami
kumpulkan akan kami sumbang untuk saudara-saudara kami di Bengkulu,
Jambi, bahkan di Pulau Jawa.

APAKAH MIMPI ITU SALAH atau HARAM saudaraku?

Padahal Aku tak berzina, tak melakukan korupsi, dan tak mencuri. Kami
juga tak merampok tanah milik orang lain. Aku lahir dan besar di tanah
ini. Bukankah ini tanah kami? Aku juga tak pernah membunuh orang, karena
sebetulnya aku tak punya senjata.

TAPI, MENGAPA KAMI TERUS DIBURU TENTARA?

Kami sangat ketakutan. Setiap kali ada helikopter atau pesawat TNI
melintas di atas, kami harus berlari-lari bersembunyi menyelamatkan diri
agar terhindar dari bom dan roket yang dijatuhkan. Beberapa temanku telah
ditangkap, dan ada yang dibunuh.

Paman seorang temanku harus diamputasi kakinya akibat ditembak
tentara. UNTUNG dia masih hidup. Karena sudah terlalu banyak yang mati.
Sudah tak terhitung lagi. Ada yang tak ditemukan mayatnya. Ada pula yang
sempat disembahyangkan dan dikubur.

Di desa tetangga, ada anak SMP yang diperkosa tiga tentara, 23 Mei
2003 lalu. Rasa sakit dan vaginanya bernanah, masih bisa ditahan. Tapi,
sekarang, sudah dua bulan ia tak mendapat haid. Dia datang padaku dan
menangis, "Saya tak mau hamil! Saya mau sekolah lagi! Tolonglah saya!"
katanya, sambil terus menangis.

Saudaraku, KAMI HARUS MENGADU KEMANA?

Sudah hampir tiga bulan aku dan teman-temanku tak bisa keluar dari
hutan ini. Kami hanya makan nasi dan ikan asin sehari sekali. Kadang kami
mencari kelapa muda atau apa saja yang bisa dimakan. Tadi malam, bayi
temanku meninggal dalam pelukan ibunya akibat diare dan kekurangan gizi...

Sudah hampir tiga bulan kami tak pernah nonton teve lagi. Tempo hari,
aku sering menonton di teve, kalian di Jakarta berdemo menentang perang
Iraq. Ribuan orang turun ke jalan untuk memprotes perang Iraq. Mendukung
perdamaian. Adakah sekarang kalian juga turun ke jalan MENENTANG PERANG
di Aceh? Aku ingin sekali menontonnya!

Karena KAMI JUGA CINTA DAMAI seperti kalian. Kami ingin perang segera
berakhir... Aku rindu sekali pada anakku. Aku harus bekerja lagi di
sawah untuk memberi makan anakku..

Nisam, 5 Agustus 2003

Salam dari Aceh,

MARIYAH

Don’t call me, ‘ Mommy!’
Iya, gue baru sadar kalo ternyata gue suka ama anak anak, tapi gue nggak pengen punya anak. Asli! Sampe hari ini gue kagak nemu aja satu alasan kenapa punya anak itu nyenengin, misalnya! Soalnya gue emang nggak pernah menemukan mereka amatsangatseru kayak jalan jalan, nongkrong ampe pagi plus baca buku and maen gim misalnya. Anak anak ya anak anak, mereka emang bikin gemes, mereka itu lucu, imut plus nyebelin juga kalo berisik…tapi… ya udah getu looh! Nggak ada apa apa lagi yang bikin mereka jadi sesuatu yang ‘nendang’ ke tulang dan hati gue buat dipunyain (lagian, emangnya ada manusia yang boleh memiliki manusia lainnya?). Iya, mungkin emang belom aja gue kena ngidam pengen anak-nya kali, tapi tetep aja kalo gue rasionalisasi-in gitu yaa..punya anak sendiri sama aja kayak ngangkat anak! Bedanya dimana?

Ikatan emosionalnya? Tapi bukannya anak anak memang akan selalu membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang dewasa serta lingkungan sekitarnya untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan layak? Nggak, gue nggak mau bilang tumbuh dengan sehat, karena rasanya hampir nggak mungkin untuk membesarkan anak dalam keadaan dunia yang seperti hari ini! Busuk. Busuk dimana-mana! Udara,air,makanan,minuman, dan semuanya itu kita mesti bayar lagi! Nah, kalo udah kayak begini masih tega membiarkan seorang manusia baru untuk merasakan ini semua? Silahkan! Tapi yang jelas bukan gue aja orangnya! Hehehe!

Balik lagi ngomongin tentang ngangkat anak ya! Gue pernah sih ngebayangin kalo suatu hari nanti gue emang pengen punya anak, gue nggak merasa perlu aja punya anak sendiri atau anak kandung. Soalnya buat gue selain alasan lingkungan yang udah kadung hancur lebur di dunia ini, buat gue sendiri…anak adalah anak, titik. Nggak ada bedanya anak itu anaknya siapa kek, asalnya darimana kek, dia laki atau cewek kek! Dan buat gue sendiri, anak anak yang sekarang ada di sekitar gue jauh lebih butuh dukungan dan bantuan sesegera mungkin untuk bisa tumbuh berkembang daripada anak yang lahir dari rahim gue! Iya, gue sih realistis aja! Emo emo-an (bawa bawa Hati) kalo buat masalah ini gue kayaknya nggak bisa, karena emang gue nggak pernah pengen juga getu looh jadi orang tua! Heheheeh! Suer!

Selain itu, akhir akhir ini gue baru sadar manusia kalo jadi udah jadi orang tua, mereka kayaknya malah jadi nggak asik deh! Ini sih opini dari pengalaman gue plus ngeliat ortu temen temen gue ya! Mereka akan selalu punya ikatan emosional yang membuat mereka jadi punya kuasa dan kekuatan serta legalisasi buat melakukan apapun sama anak anaknya. Termasuk memaksakan kehendak dengan alasan buat kebahagiaan anak mereka, padahal sebenernya…buat kepuasan mereka sendiri. Kan nyebelin! Ortu gue kayaknya sebenernya orang orang yang menyenangkan kalo aja mereka nggak jadi orang tua, karena kadang buat gue mereka seolah selalu berada di posisi yang mengikat diri mereka sendiri dengan status itu! Anaknya mesti berpakaian begini, berperilaku begitu, masuk sekolah ini, kerja disitu, semuanya karena merasa mereka tau yang terbaik buat anak-anaknya itu tadi. Padahal kenyataannya lebih sering anaknya yang makan hati dan mereka yang berbangga hati! Hihihi!

Dan menurut gue, kayaknya mereka nggak akan menuntut yang lebih aneh aneh lagi kalo nggak ada ikatan emosional sebagai orang tua itu tadi. Iya, semua orang tua memang nggak mau anaknya celaka, tapi kenapa selalu caranya dengan MELARANG? Kenapa tidak dengan cara ngobrol seperti teman yang mungkin sifatnya berbagi opini atau sudut pandang? Orang tua gue juga awalnya memang seolah mereka mau mendengarkan opini anaknya, toh pada akhirnya tetap saja mereka melarang melarang juga! Hahaha! Iya kan?

Berarti kan pilihannya tetep aja di tangan orang tua, nggak di tangan anaknya sendiri! Terus kalo anaknya tetep aja nggak setuju atau nurut, langsung sangsi dijatuhkan! Durhaka lah, nggak tau berterima kasihlah, nyakitin hati orang tua lah..padahal emangnya seorang anak pernah punya sangsi buat orang tuanya kalau mereka menyakiti hati anaknya? Enggak pernah kan? Paling nggak gue nggak pernah lah berangkat mau diskusi atau ngobrolin sesuatu ama ortu gue terus gue udah punya rencana apa gitu untuk nyakitin orang tua gue kalo mereka ternyata nggak setuju sama keinginan gue. Walaupun memang gue menyiapkan berbagai macam cara pendekatan buat nyampein masalah gue misalnya, tapi hukuman atau sangsi? No way jo se!

Nah, kalo gue mesti belajar jadi orang tua mungkin gue nggak keberatan buat belajar melakukannya pada anak anak yang nggak ada hubungan darah serta secara fisik nggak deket sama gue….tapi gue tau mereka memang anak anak yang butuh bantuan dan dukungan untuk hidup. Gue juga mbantunya sebisanya aja lah! Tapi gue tau gue punya banyak cara buat membantu mereka dengan cara yang menyenangkan buat mereka juga gue sendiri! Bukan cuman dana ya, tapi gue biasanya lebih suka ngasi bantuan yang bentuknya barang barang yang mereka butuh atau suka seperti buku cerita, krayon, buku mewarnai, dan lain sebagainya. Dan masih ada satu lagi bentuk dukungan yang belum keturutan sampai sekarang yaitu membuat sebuah kegiatan buat anak-anak yang sifatnya interaktif, gratis dan sekaligus bisa membantu mereka belajar tanpa perlu seperti di sekolah-sekolah yang ada sekarang. Ada ide, nggak? Bagi dong! Kali kali aja kita bisa ngerjain bareng! Iya kan?

Selain itu mungkin juga karena gue memang lebih suka ngasi bantuan atau dukungan yang cara dan bentuknya bukan yang biasa aja, nggak tau kenapa…mungkin guenya aja sok kreatif karena gue pembosan!Hehehe! Tapi juga kan nggak ada poinnya melakukan sesuatu yang mesti menyenangkan buat orang laen tapi guenya sendiri nggak seneng, iya nggak sih? Nggak juga ya?! Hahaha!

Anyway, buat cewek cewek yang memutuskan untuk melahirkan anak-anak mereka karena mereka memang menginginkannya..salut buat kalian semua! Dan untuk cewek cewek yang melahirkan anak-anaknya karena terpaksa atau sekedar menuruti tuntutan suami, lingkungan ataupun orang tua mereka sendiri yang katanya pengen banget punya cucu…gue cuman berharap kalian tetap memelihara anak anak kalian sepenuh hati walaupun bukan sesuatu yang berawal dari kalian sendiri. Kenapa? Karena anak itu anugerah, dengan alasan apapun mereka lahir ke dunia ini!

Oh ya, sebuah pertanyaan: Kalau kamu cowok dan kamu ingin punya anak tapi kamu merasa nggak perlu menikah, apa yang akan kamu lakukan ?

Jawabannya ditunggu di cyanide@godisdead.com

Buat sepasang anak bungsu yang nggak suka anak anak…tulisan ini buat kalian! Luv ya both!

ujar ibu:
"sukhoi-sukhoi gwoi'
(suka-suka gw)


Setapa hening bertajuk kelabu
Mengalir bening hangat di muka
Malam...
Selimuti angkuhnya jiwamu
Sesal menggagahi hati sang ibu
Terperih sudah,
Mendapati onggokan rangka pesawat itu
PERANG,katanya!! SERANG,katanya!!

ibu kian membuang wajah di tangan kiri
Tak lagi dibelinya paras itu
Bagel,hatinya mengeras!
Di kuku jemari kaki ada bangkai bayi
Tepat di telapaknya sebuah jiwa mati
Salah satu bocah neg'ri mati di matanya
LAPAR,katanya!! SAKIT,katanya!!

-TAi lalat manis-
My Short Skirt
My short shirt
Is not an invitation?
A provocation
An indication
That I want it
Or give it
Or that I hook.

My short skirt
Is not begging for it
It does not want you
To rip it off me
Or pull it down.

My short skirt
Is not a legal reason
For raping me
Although it has been before
It will not hold up
In the new court.

My short skirt
Is about discovering
The power of my lower calves
About cool autumn air traveling
Up my inner thighs
About allowing everything I see
Or pass or feel to live inside.

My short skirt is not proof
That I am stupid
Or undecided
Or a malleable little girl.

My short skirt is happiness
I can feel myself on the ground
I am here. I am hot.

My short skirt is a liberation
Flag in the women’s army
I declare these streets, any streets
My vagina’s country.

My short skirt
Is a turquoise water
with swimming colored fish
a summer festival
in the starry dark
a bird calling
a train arriving in a foreign town
my short skirt is a wild spin
a full breath
a tango dip
my short skirt is
initiation
appreciation
excitation.

But mainly my short skirt
And everything under it
Is Mine.
Mine.
Mine.

-From Vagina Monologue


Valentine Kita
senin...kita ke danau sore-sore
rayakan valentine
selasa...twenty one’s sucks! di rumah saja nonton tom and jerry
kan valentine?
rabu...kita diskusi gorky dan sartre di taman kampus
untuk valentine lagi!
malam jumat kita kita ke pantai yah?
disana banyak pengamen, minta lagu cinta mungkin asyik, yah?....
sekali lagi untuk valentine...
jumat...ke warnet, yuk! kirim imel
salam valentine untuk kawan-kawan!
sabtu...ada pameran foto,
abis itu ke perpustakaan cari novel tua
tentang valentine
hari minggu?
di rumah saja!! orang rumah juga bikin sup ubi!
untuk valentine....

asyik ‘kan, valentine tiap hari?
karena kita beda dengan mereka!!

7 jan 2002, ipang (uravnilovka@lycos.com)
dari kacang polong, sistem sosial, hingga ke pergerakan homoseksual
sejuta lebih jenis hewan dan hampir setengah juta jenis adalah tumbuhan yang tersebar diseluruh penjuru dunia ini. tetapi jumlah itu hanyalah sebagian kecil dari kemampuan kehidupan untuk memunculkan sesuatu yang berbeda, sebab jutaan jenis hewan dan tumbuhan lain telah berevolusi, hidup subur, kemudian punah. darwin beranggapan bahwa semuanya berasal dari leluhur yang sama dan mendel menemukan bahwa hukumlah yang mengatur keturunan, bukan kekacauan yang berlangsung secara kebetulan.

evolusi ataupun hereditas, istilah baru pada awal abad 20 yang kemudian menjadi titik tonggak baru ilmu pengetahuan, atau bahkan rasionalisasi genocide pada laju abad tersebut. dari hitler ke bosnia-herzegovina, hingga nelson mandela ke malcom x. sentimen rasialis, hingga pergerakan revolusioner kaum proletar dalam mengintervensi gerak materi laju sejarah, ternyata digerakkan oleh hanya sepasang ‘lalat buah’ atau bahkan ‘kacang polong’ (dalam arti sebenarnya) dan (hey!) ‘monyet’ sang leluhur.

sepasang homoseks di jakarta pada dekade 90-an lalu melangsungkan pernikahannya, seketika itu pula sistem sosial kita yang masih teramat menabukan hal tersebut, dengan otomatis berontak. kasus yang sempat mewarnai pemberitaan media massa ini menjadi yang pertama kali di indonesia. penolakan atas bentuk-bentuk yang dijadikan dan divonis anomali atau bahkan abnormal. untuk melacak anomali atau tidak, abnormal atau bukan, mari kita masuk pada teritori/wilayah yang dapat ditolerir semua pihak. walau tanpa jaminan bebas nilai 100%, paling tidak ilmu dapat menjadi satu-satunya tools untuk membedah secara objektif dan rasional.

sama dengan darwin yang terdecak kagum oleh aneka macam bentuk-bentuk makhluk hidup, johan mendell pun masih terperangkap kebingungan ketika teori evolusi yang dilontarkan darwin belum mampu menuntaskan secara faktual keanekaragaman tersebut. maka teka-teki hereditas yang secara ilmiah lebih masuk akal bagi mendell dalam menjelaskan kepada awam tentang sebab musabab keragaman genetik itu mulai ditelusuri. kacang polong, ercis, dan lalat buah dikawinsilangkan berulangkali (multi-hybrid). kesimpulannya bahwa setiap perkawinan bertingkat berulangkali, ada pola tertentu yang terbentuk sebagai akibat kombinasi varietas atas induk-induk. ini adalah mutlak dan hukum alam.

apa artinya? bila satu diantara orangtua kita membawa ciri/sifat gen tertentu misalnya, ciri ini akan terbawa pada salah satu keturunannya dimana perbandingannya tergantung dari dominan atau resesifnya gen tersebut. pada mereka yang tergolong transeksual (waria) adalah ciri yang nyata bahwa sifat dan prilaku seksual adalah alamiah, bukan hal yang naas dan sial, seperti sistem sosial kita berbicara pada umumnya. termasuk pada kalangan homoseksual ataupun biseksual, bahwa ketertarikan mereka pada lawan jenis adalah hal yang alamiah, yang dibawa oleh gen dan kromosom induk, yang setelah lahir kemungkinannya ada dua: potensi homoseksualnya termanifestasi atau kedua potensi tersebut tertutupi, yang suatu saat dapat terpicu dengan keadaan lingkungan yang memungkinkan sifat tersebut aktif.

meski ilmu pengetahuan telah menjabarkan dengan syarat rasional dan logisnya, sistem sosial tak serta merta menerima semua nilai-nilai yang secara primitif telah mengakar dalam pranata-pranata moralis. Sama tak terbahasilnya kacang polong dan buah ercis memelekkan mata untuk sekedar mengakui bahwa fenomena genetis adalah suatu hal yang diluar kehendak individu terlahir tersebut.

sistem sosial kita telah terlanjur terpatron dengan jargon-jargon normatif ala idealis-intelektualis mengagungkan oposisi biner, salah-benar, utara-selatan, positif-negatif, satu-nol, hitam-putih, sosialis-kapitalis, dan tentunya laki-laki-perempuan. lagipula kebudayaan yang kita bangun, dalam wilayah konservatif, terlanjur terbiasa dan bahkan terhegomoni dengan budaya heteroseksual. akibatnya hal yang berada diluar dari wilayah tersebut otomatis tertolak. tentunya ini mustahil diperdebatkan pada wilayah-wilayah biologis milik mendell, darwin, morgan, atau herman muller. seperti daerah kantong-kantong massa partai a yang tiba-tiba mendadak dimasuki kampanye oleh partai b.

sistem sosial kita adalah hasil bentukan budaya. yang melahirkan kebudayaan dengan hanya berpegangan pada satu pengakuan sosial, heteroseksual, seks hanya milik pasangan yang jika dan hanya jika laki-laki dengan perempuan. dimana pun diseluruh dunia, hampir seluruh sistem sosial menolak kehidupan homoseksual, namun di beberapa negara terdapat beberapa fenomena yang unik. hukum melegalkan secara formal tentang kehidupan gay, namun ditolak oleh sistem sosial. atau sebaliknya, secara sosial sudah menjadi urusan yang privat dan tak perlu diributkan bahkan bentuk-bentuk pengakuan sosial tersebut dapat kita lihat seperti klub-klub gay, perkumpulan-perkumpulan khusus untuk kaum homoseksual, dimana hukum yang berlaku bersifat ‘sekuler’ terhadap urusan tersebut.

kalau ilmu pengetahuan tak berhasil meyakinkan bahwa ‘fenomena’ homoseksual adalah hal yang ilmiah, maka wajar saja vonis anomali bahkan abnormal masih ditujukan kepada kaum gay dan lesbi. lagipula, juru bicara penolakan tersebut adalah kebudayaan, komponen sejati sistem sosial tersebut. masalah yang paling riskan bukanlah ketidaktahuan atas fakta rasional yang ilmiah, atau terlanjur terikat dengan budaya yang menolak homoseksual. tetapi kebudayaan mainstream konservatif dimana tidak mengizinkan pengungkapan identitas dan ekspresi diri. sebuah pengekangan yang paling hakiki.

Kacang polong telah membawa manusia kepada upaya-upaya me-reshuffle sistem sosial yang diklaimnya didikan budaya curang, budaya dengan keseragaman patron yang justru menindas minoritas. Sama halnya seperti monyet yang telah menyuntikkan kesadaran kelas para proletariat di seluruh dunia dengan simbolisasi palu-arit, untuk menyulap dunia pada kehidupan yang lebih baik.

ketika dekade 60-an orang-orang di amerika mulai memproklamirkan secara terang-terangan kampanye persamaan terhadap kaum perempuan, kulit hitam dan bahkan homoseksual, maka masyarakat secara tegas merasa risih dan terusik dengan radikalisasi pengekspresian identitas. seperti ketika elijah muhammad dan malcom x menghimpun kulit hitam lalu mengkampanyekan perang untuk rasisme, para kulit putih yang terlanjur tercengkeram dalam hegemoni budaya yang secara prematur mengklaim para hitam adalah budak-budak buangan merasa terancam dengan persamaan yang didengung-dengungkan. Atau cultural politicalnya clamshell, mirip dengan generasi bunga yang diimpor dari inggris oleh para hippies. ada semacam ketidakrelaan atas masuknya isu-isu persamaan kaum gay, atau kulit hitam, atau pergerakan feminisme, ke dalam wilayah/teritori yang bisa mereka tolerir. yang terusik dan risih disitu kan bukan manusianya, tetapi budaya yang berkuasa, budaya kulit putih, budaya patriarki, budaya heteroseksual.

hal mustahil memaksakan seks (yang jauh lebih privat ketimbang agama) kepada individu-individu dengan penekanan sosial yang baku. seks antara wanita dan pria. apakah manusiawi melarang seorang lesbi menikmati seksnya dengan sesama perempuan, atau memaksanya melakukan seks dengan laki-laki? sesuatu yang tidak masuk akal bagi mereka. mungkin sama persis kepada mereka laki-laki penganut heteroseksual yang dipaksa masuk ke dalam aturan dimana dia harus having sex dengan sesamanya laki-laki. ini hal yang bodoh, seperti memaksa kerbau makan nasi.

pertentangan yang muncul, untunglah, selalu mengacu pada hak-hak individu. orang-orang mungkin secara perlahan mulai mengerti dan memahami, bahwa setiap manusia berhak mengatur kehidupan seksnya sendiri. perkembangan liberalisasi opini dan menyampaikan pendapat serta mengekspresikan diri membantu laju penekanan dan pengikisan patriarkis, rasialis, dan hegemoni heteroseksual.

tentunya diskriminasi seksual juga tak membuat para homoseks berubah, tak membuat mereka berubah secara genetis, secara psikologis dan fisiologis, tentang aktivitas-aktivitas seksualnya yang terlalu pribadi untuk dimasuki, bahkan oleh sistem sosial sekalipun. peraturan apapun, atau bahkan operasi medis apapun takkan sanggup membuat seorang lesbi terangsang kepada laki-laki. ini alamiah! sekaligus ilmiah!! menolak bentuk kehidupan seksual orang lain, apalagi sampai memaksa menuruti keinginan sistem sosial kita, juga sama dengan membunuh setengah dari tubuhnya. Sebuah pelanggaran hakikat! karena homoseksual itu fenomena yang alamiah sekaligus ilmiah!

ya...homoseks itu ilmiah!! hakiki! dan privat! bila kebetulan anda menyukai sesama jenis, katakan bahwa itu juga anugerah dari tuhan. katakan bahwa tak semua orang berkesempatan diberi perasaan tertarik kepada sesama laki atau perempuan, katakan bahwa tuhan tak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. itulah yang hak, bahwa kehidupan seks dan kesempatan ber-seks ria tidak boleh dikekang dengan memaksakan anda untuk berpasangan dengan lawan jenis, yang tak sedikitpun membuat anda bergairah, tak sedikitpun membuat anda terangsang.

kita bebas untuk menentukan setiap bentuk kehidupan seksual kita masing-masing : homo atau hetero, atau bahkan biseks! sebebas menentukan posisi dan gaya dalam melakukan seks itu !!

homoseks itu ilmiah!! anugerah!!

ipang (uravnilovka@lycos.com )

Goat swimming on the swamp
Masih suka nonton konser musik Underground, nggak? Pasti masih dong, yah! Nonton konser band-band HC/Punk lokal tuh emang pol banget, yah! (Maaf untuk tulisan yang ini saya cuma membahas gigs HC/Punk saja, buat gigs metal, brit pop,dll, nanti saja saya tulis yah!). Memang sih saya dulu suka banget dateng ke gig buat nonton band-band lokal manggung. Nggak peduli tempatnya dimana, kalo emang pas kebetulan band yang saya suka manggung, pasti saya bakalan datang. Nonton konser band yang saya suka tuh bener-bener bisa bikin saya puas secara sempurna. Gimana nggak puas coba? Melihat pertunjukan panggung mereka sambil mendengarkan lagu-lagu yang biasanya cuma saya dengar di kaset dinyanyikan secara live pas di depan hidung saya (sebenernya lebih cocok pas dibilang di depan mata sih bukan di depan hidung!Hihihi!) adalah suatu hal yang memberikan kebahagiaan sejati buat saya (Ciehh, bahagia sejati!). Apalagi kalo saya terus ikut-ikutan moshing, slam dancing, head banging atau cuma menganggukan kepala! Wah, kayaknya hati dan kuping saya terasa lagi di elus-elus sama musik yang saya suka banget itu tadi.

Biasanya acara konser itu diadakan pas hari Minggu, udah pasti dari malamnya saya menyiapkan kebutuhan saya buat nonton konser dong! Hmmm….oke, dari mulai milih-milih kaos yang mau di pake deh! Cari kaos yang cocok biar bisa di lirik sama riot grrrl dan scenester yang kebetulan nonton juga. Tentukan pilihan, mana yang lebih cocok, pake kaos item Rykers, apa kaos merah dengan tulisan Vitamin X di dada? Terus celananya pake celana jeans, atau celana pondok? Pake jaket hitam penerbang, jaket jeans belel atau pake sweater hood yang tulisannya Snapcase? Sepatunya udah jelas harus pake Converse hitam belel kebanggaan saya dong! Oh iya, pake celana dalem biasa atau pake Boxer Short (celana dalem yang modelnya celana pendek) warna item? Terus pake ikat pinggang Spike, apa nggak? Pokoknya, dulu hal-hal seperti itu yang selalu saya lakukan di malam sebelumnya! Hehehehe! Kalo kamu mau bilang saya gaya dan stylish sih silahkan aja! Itu anak-anak Punk yang rambutnya di mohawk tinggi-tinggi juga bergaya kok, makanya sekarang nggak cuma ada yang bikin mohawk satu di tengah, tapi ada yang mohawknya 3 di kanan, kiri dan di tengah. Lha kalo di mohawk bukan salah satu gaya, terus disebutnya apa dong? Jadi nggak ada salahnya kan kalo saya juga gaya milih pakaian yang pas dan nyaman buat di pake ke gigs (tapi sebenarnya Nozs emang stylish kok! Hehehe!)

Pas datang ke konser tuh enaknya bareng sama teman-teman yang memang pengen nonton juga. Tapi, berhubung saya lebih suka pergi sendirian, jadi ya udah deh saya jalan aja sendiri, terus di tempat konser langsung aja cari tempat yang strategis buat ngeliat band yang manggung. Oh iya, jangan lupa beli tiket sesuai harga tiket, jangan pake gaya-gayaan sok gak mau bayar tiket ya! Atau terus masuk secara paksa, kasihan yang bikin acara soalnya, kalo kebanyakan yang nggak beli tiket gimana scene underground disini bisa maju! Scene underground tuh bisa maju kalo para scenester-nya udah benar-benar sadar akan kebersamaan dalam membangun scene itu sendiri. Dari contoh kecil aja seperti beli tiket misalnya, kalo tiketnya kemahalan, nggak ada salahnya buat nawar harga di loketnya. Kalau nggak di kasih juga, ya udah pulang aja! Atau kalo mau sabar ya tunggu sampai waktunya udah boleh masuk gratis, paling resikonya nggak bisa ngeliat band-band yang manggung sebelumnya (biasanya band-band baru) Nah, padahal justru band-band baru itu biasanya yang akan jadi bibit-bibit yang nantinya bakalan bikin scene tambah semarak dan berwarna bagaikan bunga-bunga di taman yang indah dan asri (perumpaannya kepanjangan, Nozs! Hihihi!).

Lagipula apa susahnya sih cuma beli tiket doang! Paling mahal harga tiket paling-paling cuma 5000 perak, masak sih patungan beli minuman buat mabok bisa, tapi patungan beli tiket nggak bisa? Oh iya, ngomong-ngomong soal scenester yang suka atau masih mabok pas acara tuh kayanya udah biasa banget yah! Pasti di setiap gig ada aja scenester yang mabok, atau teler, muntah-muntah terus ketiduran (nggak tau ketiduran gara-gara ngantuk, apa gara-gara alkohol). Saya sih nggak mempermasalahkan tentang mabok atau telernya, tapi yang jadi masalah tuh kalo udah pmalak kesana, malak kesini! Mending kalo minta uang-nya bener, nah ini minta uangnya udah kaya preman nagih pungutan liar ke sopir bis! Kalo yang di palak terus ngasih sih masalah bisa langsung beres. Tapi kalo yang di palak nggak punya uang gimana? Udah pasti deh bakalan di pukul! Minimal di ludahin, maksimal di injak pake sepatu Doc Marten(padahal kan Doc Marten bukan buat nginjekin sesama scenester yah!). Terus kalo duit buat beli minuman udah ter kumpul, mulai deh si scenester itu rame-rame mabok bareng temen-temennya. Terus, kalo udah mabok biasanya terus ngapain? Nyoba untuk masuk ke dalem gig secara paksa dengan cara ngelawan plus membentak-bentak yang jaga pintu masuk. Kasihan yang jaga pintu masuk kan! Dia tuh cuma di kasih tugas buat mengkoordinir acara dengan diminta jaga pintu masuk, pasti dong dia akan mencoba tugasnya dengan baik. Tapi kalo dia diancam dengan cara kasar sama si scenester-preman-mabok itu apa dia nggak takut? Pasti dia takut, apalagi biasanya (walaupun nggak selalu) yang minta masuk secara paksa itu adalah mereka yang memang berasal dari komunitas punk yang terkenal biang rusuh, siapa yang nggak takut coba?! Saya sih nggak takut, cuma saya lebih baik menghindar untuk punya urusan sama orang-orang itu. Nggak mau lah saya di pukulin sama 4 orang sekaligus seperti dulu itu!

Okelah, kalau si scenester-preman-mabok itu udah terlanjur masuk ke dalam acara sih saya cuma berharap supaya nggak terjadi apa-apa. Tapi seringnya harapan saya itu nggak terpenuhi! Kok gitu? Iya, karena biasanya si scenester-preman-mabok itu langsung nongkrong di depan panggung dan ikut-ikutan moshing sambil bawa-bawa botol minuman! Saya nggak masalah sama moshingnya, tapi botol minumannya itu loh! Kalo botol minumannya itu jatuh dan pecah, udah pasti dong kalo ada scenester lain yang lagi moshing kan bisa kena pecahan botol minuman itu. Berdarah lah! Tapi kalau lukanya cukup dalam dan sampai harus di jahit segala, bagaimana? Kasihan kan! Kalo botolnya jatuh dan si scenester-preman-mabok itu nggak marah sih mungkin masih nggak ada apa-apa juga, tapi kalo terus dia marah? Waduh! Mimpi buruk banget deh jadinya! Pasti yang nyenggol dia tadi itu bakal dipukulin habis sama dia dan temen-temennya! Kalo cuman di pukulin bak-buk-bak-buk terus selesai sih nggak apa-apa, nah ini kalo sampe di injek-injek pake sepatu boot sama segitu banyak orang sekaligus, gimana? Minimal bonyok-bonyok, maksimal kepala bocor plus gegar otak!!

Eh, saya jadi ingat waktu kejadian dulu saya di pukulin! Waktu itu sebelum masuk ke dalam acara saya lagi jajan es campur. Nah, pas saya lagi asik-asiknya minum, tiba-tiba ada 4 orang anak Punk dateng dan mereka dengan sangarnya (lebih sangar dari polisi kalo nilang motor lho!) malak tukang es campur itu! Padahal tukang es campur itu udah bilang nggak ada uang, dan udah menawarkan kalo dikasih es campur aja, gimana? Tapi si 4 scenester-preman-mabok itu tetep maksa minta uang, sampai akhirnya mecahin beberapa botol minuman milik si tukang es campur itu! Karena kasihan sama tukang es campur itu, spontan saya langsung bangun dan bilang ke 4 orang scenester-preman-mabok itu, "Mas, katanya punk itu ada ideologi anti penindasan, tapi kok ini kamu berempat malak tukang es campur sih! Kalian tuh Punk apa, bukan? Apa kalian cuma preman?!"

Duaksss! Saya kaget pas tau-tau botol minuman yang udah pecah itu di hajar ke pelipis kiri saya…saya limbung, pusing dan langsung jatuh! Sempat sadar sebentar tapi langsung disusul sama injakan dan tendangan di tulang iga saya! Saya inget banget tulang kering saya di injak pake boot…saya sempet nutupin muka saya pake tas, tapi tas saya sempet di ambil dan di periksa ada uangnya apa nggak. Saya nggak ngelawan sama sekali waktu uang 30 ribu di dalam tas saya di ambil. Akhirnya setelah mereka puas mukulin saya yang sudah nggak kelihatan bentuk mukanya lagi ini, mereka langsung cabut meninggalkan saya yang lagi telentang menahan sakit di tanah. Si tukang es campur yang kasihan melihat saya, lalu menawarkan uang 20 ribu buat naik taksi...tapi saya tolak. Tukang es campur itu rasanya lebih butuh uang buat modal dia dagang deh! Ya udah, dengan langkah gontai mirip Van Damme di Bloodsport (tatiaan..) akhirnya saya pulang naik Metro Mini dan mampir di rumah sakit dulu. Disana dahi saya di jahit, dan waktu di tanya oleh ibu saya, saya bilang aja saya jatuh terpeleset pas turun dari Metro Mini (Hmmmm…Nozs ceritanya seru juga yah, teman teman!!).

Oke, jadi maksud dari tulisan ini sebenernya apa sih? Ya nggak ada apa-apa sih, saya cuma mau mencoba menyadarkan teman-teman yang masih suka berantem di konser atau gig untuk nggak bikin masalah yang buntut-buntutnya bakalan jadi berantem. Stop fighting in the gig! kata lagunya Anti Squad. Nggak cuma di gig aja kita mesti bisa menghindari dari yang namanya berantem, di tempat tongkrongan, di distro atau dimana pun juga kita harus bisa menghindari dari yang namanya berantem dalam bentuk apa saja. Baik berantem pukul-pukulan atau berantem omongan, kalo diskusi dan berdebat sih nggak apa-apa, asal jangan akhirnya berantem! Lagipula scene HC/Punk kan bukan scene yang isinya preman-preman yang suka berantem kan?!

Tulisan saya masih personal dan subjektif banget ya? Yah memang cara nulis saya yang paling keren begitu, mungkin nanti saya bakalan merubah cara nulis saya. Mungkin nanti ya, tapi kamu harus tau kalo saya tuh tetap keren...hahahaha!

-Buat mereka semua yang masih suka berantem di gig-

Nozs (kesakitan@yahoo.com)


SHEMALE FOREVA!!!!!
Ketika gue nulis pada saat ini dengan ditemani rokok Jarum Super plus kopi kental dan nyamuk-nyamuk nakal yang sukanya menggigit aku (seperti yang dialami Enno Lerian). Sambil berfikir, apa ya rasanya kalo gue dilahirin sebagai bencong?

Hmmm….gue juga gak tau deh, tapi yang pasti gue akan menunjukkan ke semua orang diri gue yang sebenarnya. Dan sangatlah total-bodoh-fuckin-konyol bila seseorang menyesali dirinya yang sudah dilahirkan.

Bencong? Yaaa… suatu masalah yang sangat kompleks dan tidaklah menjadi sangat kompleks bila dirinya menganggap semua ke-kompleks-an nya itu sangatlah tidak kompleks. Waahh… kok jadi ribet yaa! Hehehe! Maksud gue, tergantung sama individunya sendiri gimana dia mau ngeliat dirinya yang seperti itu, mau dia anggap jadi hal yang rumit atau sederhana. Begetu lhooo! (diucapkan dengan logat gaul)

Gue pernah kenalan dengan salah satu bencong di kawasan Taman Lawang-Jakarta, dan gue nggak mau nyebutin nama sebenernya. Kita kasih dia nama…Dadang? Wah! Kok jelek banget ya namanya? Enggak, enggak, kita kasih dia nama…Rojak! (nama samaran yang gue kasih kok “bagus-bagus banget“ ya? Hihihi!) Gimana kalo…Reni! (Nah, akhirnya nemu juga nama yang rada bagusan!).

Sekilas Reni terlihat seperti cewek pada umumnya, wajahnya sangat cantik dan kulitnya putih, tak heran kalo dia menjadi primadona di Taman Lawang.

Ketika gue main (bukan’”maen” tapi main!) ke rumahnya yang berukuran segede kamar gue tapi lebih gede sedikit itu (Sori ya! Gue awam soal ukur mengukur dan sori juga kalo lo gak tau ukuran kamar gue! Hehehe!) Nah, coba tebak apa yang gue liat di dalamnya? Banyaak banget piala-piala yang berjejer disitu! Dari mulai Juara I Lomba Gaun Malam Waria, Juara 1 Lomba Mirip Wanita se-Jakarta, sampai Juara 1 Smackdown sedunia, Juara 1 Lomba Gebukin Maling Sedunia dan Juara 1 Lomba Lari Kayang Jarak 100 juta belas km.(Hehehe! Yang 3 terakhir bohong ding! Abis gue lupa kategorinya, yang pasti banyak deh!). Nah kan? Itu semua buat gue menunjukkan bahwa mereka adalah makhluk unik yang sangat menakjubkan yang mempunyai tingkat kemampuan berdandan yang sangat tinggi yang bisa membuat dirinya menjadi sedemikian cantik dan menarik hingga bisa membuat para cewek-cewek iri! (perasaan tadi kata-kata ini udah ditulis deh..)

Nyokap (ibu) gue sendiri banyak temen-temennya yang bencong. Nyokap gue pernah bilang “Gue mah lebih seneng temenan ama bencong, soalnya mereka orangnya asik..”. Mereka lebih sensitif daripada cewek dan banyak yang bilang mereka adalah partner ngobrol yang paling enak apalagi kalo diajak curhat (curhat menyurat), mungkin karena mereka tau apa yang dirasakan cowok dan cewek.

Bagaimana dengan yang namanya operasi kelamin buat mereka ini? Banyak dari mereka yang menyuntikkan silikon sampai operasi kelamin dan banyak juga yang mempertahankan keorisinilan “suku cadangnya”, tergantung dari kenyamanan mereka sendiri.



Seperti yang dilakukan…siapa ya..(Aduh gue lupa namanya, apa perlu kita kasih nama samaran yang aneh-aneh lagi?).. pokoknya seseorang lah! Dia dari Bali, dia mengoperasi hampir semua bagian tubuhnya. Mulai dari hidung, dagu, pipi, dada, pinggul, kelamin dan melakukan sedot lemak. Waah, tadinya saya kira dia adalah Lola Amaria (cuman lebih seksi), tapi ternyata bukan! Maafkan saya yaa pemirsa..maaf yaa..maaf..saya akan coba lagi minggu depan, do’akan saya yaa…(diucapkan dengan logat acara TV-Takeshi Castle!). Sampai-sampai dia mensahkan dirinya menjadi seorang wanita di lembaga agama dan pemerintahan setempat!

Mereka kan pastinya juga ingin dianggap sama dengan yang lain, ingin diterima dan diperlakukan sebagaimana mestinya. Banyak juga dari mereka yang menunjukkan dirinya kepada masyarakat, dengan berprofesi seperti orang kebanyakan. Ada yang jadi Batman (Aduuh, kok gue jadi ngawur gini! Hehehe!), ada yang buka salon, jadi perancang busana, model, penari, pegawai bank, dan banyak profesi lainnya. Iya kan?

Seperti Dorce Gamalama misalnya, dia tetap menjalankan profesinya sebagai artis tanpa harus malu dan risau (risau dapur). Artinya, dia menunjukkan kepada masyarakat kalo dia tuh ada dengan keadaan dia yang apa adanya!

Poinnya adalah, mereka ingin hidup seperti orang lain! Berkeluarga, mempunyai rumah sendiri yang mungil dengan pekarangan kecil di depan rumahnya yang ditumbuhi bunga-bunga, serta melewatkan hari-hari indahnya bersama suami dan anak-anak (adopsi) yang selalu menemani dan mencintainya (hik..hik..hik..jadi terharu gue!)

Teruss, kalo ditanya apa gue mao pacaran atau nikah ama bencong? Hmmm..kalo gue mau emangnya kenapa!! Tapi yang pasti sekarang gue masih suka yang namanya cewek, dan gue negrasa gue hanyalah sebagai pengagum dan fans berat mereka saja (sampe-sampe kalo die pada manggung, gue akan selalu menjadi pogo-er utama yang selalu berada di garis depan).

Pokoknya, jangan pernah mengganggu atau mengusik keberadaan mereka selama mereka tidak mengganggu loe. Cobalah bersikap friendly, anggaplah mereka ada, bagaimanapun juga mereka adalah bagian dari kita.

Buang jauh-jauhlah rasa sinis dan antipati loe kepada mereka, karena loe gak jauh lebih baik dari mereka, karena lo gak tau apa yang sebenernya diinginkan dan dirasakan oleh mereka.Begitupun juga gue..iya kan?

Oke, sampe disini dulu yaa! Have a nice day! Tataah!

gofar (burn_burn_jakarta@yahoo.com)




RAKYAT YANG MANA? DAN APA KAITANNYA DENGAN SAYA?
(Sebuah Tanggapan Atas Artikel “Revolusi Untuk Rakyat” dari Pooser)

Halo Pooser.
“Aku cinta. Anda cinta. Buatan Eeeeeendonesyaaaaa. Ooooohhh Wowowowooooo.

Pilihanku hanya satu. Buatan Endonesyaaaaa.

”Saya jadi inget lagu penutupan acara Apresiasi Film Indonesia di TVRI waktu saya masih kecil dulu setelah baca artikel kamu yang memang saya nggak nyangka jaman neo-liberalisme ini masih ada yang pikirannya kayak kamu. Tapi gak masalah sih, namanya juga ide, bebas bebas aja sih, ya nggak? Tapi kan juga bebas-bebas aja sih buat orang lain nanggapinnya, ya nggak?

Mengkonsumsi barang buatan Indonesia secara buta? Yang penting itu buatan Indonesia, maka itulah yang kita konsumsi. Begitu? Maaf. Saya nggak bisa gitu. Menurut kamu, “...jangan pikirkan bahwa barang tersebut adalah barang dari industri kapitalisme Indonesia sendiri, pokoknya beli dulu.. tidak peduli itu hasil kapitalisme dalam negeri atau bukan. Itu kita pikirkan nanti!”. Saya nggak bisa kayak gitu. Saya nggak bisa ngeliat segalanya dibutain hanya karena ini produk lokal atau bukan. Buat saya, kapitalisme tetap kapitalisme, nggak peduli itu lokal atau bukan.

Apakah kalau saya membeli produk dalam negeri berarti saya udah menambah pendapatan rakyat sendiri? Siapa bilang? Rakyat yang mana yang saya tambah penghasilannya? Saya menambah pendapatan para pemodal yang memang terdaftar sebagai rakyat Indonesia, sementara pekerjanya tetap saja mengalami nasib yang sama dengan para pekerja yang berada di bawah korporasi asing. Apa bedanya? Kamu bilang itu untuk menambah devisa dalam negeri. Memangnya devisa dalam negeri nantinya digunakan untuk kepentingan siapa? Untuk kepentingan rakyat? Kalau gitu, saya tanya, rakyat yang mana saat subsidi-subsidi dipotong demi membiayai hutang dalam negeri yang dikorup para elit politik? Itu sih buat saya nggak ada faedahnya sama sekali. Mungkin maksud kamu para elit politik yang di KTPnya terdaftar sebagai rakyat Indonesia. Yeah. Mereka kan juga rakyat Indonesia. Para pemodal lokal juga rakyat Indonesia. Tentara yang melindungi kepentingan para pemodal entah itu lokal atau bukan, juga rakyat Indonesia. Bahkan Suharto yang dihujat-hujat sebagai diktator itu juga rakyat Indonesia. Kamu juga berkata “pokoknya berpikirlah sebelum membeli barang, misalnya 'kalau saya beli ini yang sejahtera siapa?'”. Saya jawab: “Para Pemodal dan BUKAN para pekerjanya”. Kecuali kalau saya beli dari usaha-usaha yang beroperasi dalam taraf survive, bukan taraf ekspansi.

Ya itu. Kalau kamu bilang kita sebaiknya membantu mereka yang menjalankan usaha dalam taraf survive dan bukan taraf ekspansi, oke. Saya masih bisa terima. Tapi kalau menyamaratakan semuanya asalkan itu diproduksi sama orang lokal alias orang Indonesia, nggak deh. Itu bukan revolusi saya.

Dengan artikel kamu seakan kamu bilang bahwa kamu juga nggak peduli sama para pekerja orang Indonesia yang TERPAKSA kerja sama perusahaan asing. Kamu lebih suka para pemodal lokal jadi tambah kaya dan menyepelekan para pekerja. Kamu lebih pro pada para pemodal, bukan pekerja. Jadi jelas buat saya, posisi kamu berseberangan dengan saya, jelas bahwa revolusi kamu hanya sejenis revolusi Sukarno yang tetap merupakan kediktatoran bagi saya. Anti kapitalisme asing? Yeah! Dan dukung para kapitalis lokal.

Ha. Memangnya kenapa dunia ini jadi kayak gini sistemnya? Akumulasi modal. Jadi kenapa nggak kita hajar aja dan tekankan titik sumber utamanya saja? Daripada hanya merekomendasikan sistem reformasi seperti yang kamu tulis dalam artikel kamu itu?

Benneton pabrik pembuatnya di Indonesia dan tidak ada pabriknya satupun di negara Dunia Pertama. Nike hanya dibuat dalam pabrik di Korea dan Indonesia, nggak ada yang di negara Amerika Serikat. Dibuat di Indonesia berarti produk Indonesia kan? Ha. Maksud kamu sama produk lokal itu apa? Kabur banget masalahnya kalau kamu bilang produk lokal tanpa jelasin lebih dulu definisi produk lokal kamu itu. Kamu juga nggak ngasih solusi konkrit seperti bila tak ada pabrik asing, para pekerja Indonesia makan darimana. Mereka belum tentu jadi miskin kata kamu asal kita semua mulai menggunakan produk lokal? Hahaha. Produk lokal yang dihasilkan dengan sistem akumulasi modal yang ekspansionis juga HARUS dibeli. Pakai apa para pekerja yang jadi nganggur akibat pabriknya ditutup itu bisa beli? Kan mereka juga mau beli produk lokal.

Kapitalisme kawan. Musuh kita bukan soal lokal atau bukan, tapi kapitalisme.

Saya nggak merekomendasikan untuk membeli produk asing atau lokal. Saya rekomendasikan:

MEMBELILAH SEDIKIT MUNGKIN! SEDIKIT MUNGKINLAH BERPARTISIPASI DALAM SISTEM AKUMULASI MODAL!

Mau itu produk lokal atau bukan, namanya jual beli, ya semuanya itu udah kontra-revolusi. Masalahnya, kita semua nggak bisa kan bener-bener lepas dari sistem ini? Jadi kenali aja akarnya, dan usahakan agar kita sesedikit mungkin terlibat dalam sistem ini. Membeli produk lokal dalam artian membantu teman kita yang punya usaha kecil untuk bertahan hidup, itu bagus. Membeli produk lokal dari seorang ibu tua dan miskin penjual surabi murah di pinggir jalan, itu bagus. Membeli produk lokal dari kenalan kita yang bikin usaha independen dan hasil jualnya untuk membiayai sekolahnya dia, itu bagus. TAPI MEMBELI “PRODUK LOKAL” SEPERTI TETUKO CN 235, MOBIL TIMOR, AYAM SUHARTI ATAU SARUNG CAP GAJAH DUDUK, ITU SAMA SEKALI NGGAK BIKIN SAYA, TEMEN-TEMEN SAYA YANG KESULITAN DANA DAN PARA PEKERJA YANG ENTAH ITU ORANG INDONESIA ATAU BUKAN JADI DAPAT BERUBAH KONDISINYA!!!

Hampir lupa… kalau kamu mengusulkan nasionalisme, kamu akan ngebuat negara ini nggak ada bedanya sama kediktatoran yang pernah Indonesia alami dimana Koes Ploes ditahan hanya karena mengapresiasikan dirinya dengan musik mereka. Sama seperti itu juga, atas dasar sosialisme nasionalis yang serupa, Hitler muncul jadi tokoh yang mengerikan di abad lampau. Atau yang kamu usulkan adalah nasionalisme ala Zapatista? Zapatista nggak menyuruh agar para indian Maya memboikot produk asing, wong mereka make senjata M-16 dan berbagai produk McDonnel Douglass, handycam Sony, laptop bersoftware Microsoft buat perang dan mempertahankan hak-hak hidup mereka kok. Lagian, di Chiapas kan penduduk yang terlibat dalam gerakan yang dikomandoin si Marcos masih lumayan homogen, indian Maya. Lah Indonesia? Itung berapa jumlah suku di Indonesia dan baca koran, lihat gimana antar suku aja disini saling bentrok. Mau ngikutin siapa hayo? Atau mau bikin teori soal nasionalisme kamu sendiri? Bagus kalau gitu, tapi kalau praktek nasionalisme kamu itu kayak yang kamu tulis di artikel kamu itu… waaaaahhh, nggak deh!!!

Yeah. Kamu telah mendukung revolusi, revolusi untuk orang kaya Indonesia tapi. Saya bukan orang kaya walaupun nggak juga bisa disebut miskin, tapi saya nggak suka sama ide kamu yang pro-orang kaya dan pro-konglomerat Indonesia. Selamat, kita telah berseberangan jalan. See ya on the battlefield karena saat terjadi kekosongan kekuasaan, orang-orang yang kamu dukung itulah yang jadi target penjarahan saya yang pertama.

Oh ya, pernah dengar sistem Neo-Liberalisme dimana para elit politik Indonesia yang notabene juga rakyat Indonesia ambil bagian di dalamnya? Saran: kamu ngomong kapitalisme tapi seakan kamu nggak ngerti soal apa itu kapitalisme, jadi pelajari lagilah soal apa itu kapitalisme dan bagaimana sistem itu bekerja, mungkin dengan gitu kamu akan ngerti kemana larinya duit yang digunain untuk membeli produk dalam negeri seperti kata kamu itu.Hidup Rakyat? No way!

Saya terlalu sibuk untuk merebut kembali hidup saya yang telah tercuri dari diri saya sendiri.

Prove me wrong. (Ups, musti bahasa Indonesia ya?).

IMAM MAHDI

NB: Tulisan berjudul Revolusi Untuk Rakyat ada di SETARAMata#2
Wawancanda maya bersama priskapricilia!
priskapricilia: ayoooo donk mulaaaaiiii donkkkk

viciousvagina: kenapa priska, kenapa anak kecil, kenapa ngotot anonimus!

priskapricilia: waaahhhh jangan cucah2 dulu donk awal2 peltanyaan mah kudu baca-baci gimana cih kamu gak tau adat ya???

viciousvagina: kenapa dulu priska nggak ada badannya terus di nomor tiga udah komplit wujudnya?

priskapricilia: kenapa nggak? kenapa kamu pengen tau cih???

viciousvagina: coalnya banyak orang yang kayaknya peduli banget kamu itu cewek apa cowok, hidup ama mati, dan tetek bengek lainnya hingga mereka nggak peduli lagi sebenernya isi zine kamu apa!

viciousvagina: yang kamu omongin apa!

viciousvagina: mereka cuman peduli

viciousvagina: KAMU ADA APA NGGAK ADA sih?

viciousvagina: :)

priskapricilia: Priska mah gak ada atuh?.....Priska tuh kayak hantu...tepatnya hantu kecil yg cantik...pelkala meleka mau peduli apa gak mah ulucan meleka......btw kamu ciapa cih???

viciousvagina: ngapain sih nanya nanya

viciousvagina: udah jawab pertanyaan aja lah!

viciousvagina: kamu sebenernya mau bilang apa sih di zine kamu itu?

priskapricilia: Priska bikin zine cupaya kelen donk...cupaya nge-TOP BGT!!!....cupaya cepet kaya....kan bikin zine tuh kelen

viciousvagina: iya sih!

viciousvagina: bikin zine itu KOOL

viciousvagina: iya kan?

viciousvagina: bikin orang terkagum kagum gituh ama kita yang bikin zine!

viciousvagina: hehehehe!

viciousvagina: terus? kamu selama ini paling seneng kalo dapet email kayak apa dari yang baca zine kamu?

priskapricilia: yup zine itu emang kelen lho...awalnya Priska emang buat zine dali catatan halian tapi lama-lama belkembang dan belkembang jadi gak keluan sampe kayak cekalang hi hi hi, kalo coal email dulu cuka ada cih...tapi udah gak ada lagi abis Priska jalang bales hi hi hi Priska kan gak peduli olang lain donk...

viciousvagina: zine kamu bentuknya cetak doang apa masih ada bentuk lainnya?

priskapricilia: banyak juga cih..ada yg dicetak pelunggu, kuningan tp ada juga yg dicetak lecin biaca....Priska jagoan nyetak lho...dulu Priska kan cuka bikin patung hi hi hi hi :-)

viciousvagina: hmmm....kamu yakin ya waktu bikin zine kamu kalo orang pasti baca dan suka zine kamu itu?

priskapricilia: iya donk...YAKIN!! kan Priska tuh lutu banget...ciapa cih yg gak bakal cuka ama Priska ????

viciousvagina: kamu pengennya yang baca zine kamu siapa aja? kayak apa orang orang yang kamu pengen baca zine kamu itu?

priskapricilia: olang-olang kelen yang punya pendilian donk...olang2 yang gak malu akan ciapa dilinya...yg bilang dengan bangga...gua kayak gini...cuka gak cuka gua begini....kalo gak cuka ke laut aja lo!!!...olang yang punya cikap donk...tapi itu kan maunya Priska...kenyataannya mah bebas aja...ciapa aja boleh baca donk...ciapa juga yg ngelalang-lalang???

viciousvagina: kalo anak kecil gimana? kamu punya banyak temen anak kecil nggak sejak bikin zine kamu ini? pendapat kamu tentang anak kecil dan sekolah gimana?

priskapricilia: adaaaaa, Priska juga bingung kok jadinya ada anak kecil yg cuka, lada aneh cih tp cenenk tuh....Priska tuh kan cebenelnya statement...jadi mungkin ada bagusnya ada anak kecil yg baca.....b

viciousvagina: benci mana, sekolah apa cowok?

priskapricilia: dua-duanya nyebelin...mendingan juga pelempuan ama belajal :-)

viciousvagina: belajar tentang perempuan?

priskapricilia: enaakkk tuhh..Priska lagi cenenk2nya ama pelempuan nih cekalang...woman is so fucking cool!!!

viciousvagina: kenapa? karena kamu juga perempuan ya?

priskapricilia: kalena dali dulu Priska cuka pelempuan...kamu tuh cok pengen tau aja Priska pelempuan apa laki2, baci banget cih peltanyaannya?? Priska mah Priska aja atuh

viciousvagina: abisnya banyak banget cowok cowok yang nanyain kamu! wek! ada pesen nggak buat cowok cowok penasaran itu?

priskapricilia: gimana kalo makan kontollo cendili aja anjing!!..kelen kan tuh he he he....cowok tuh baci banget cih....

viciousvagina: kamu pernah nulis di priska ketiga kalo kamu muak sama zine zine yang ada sekarang, iya kan? berarti kamu nggak punya zine favorit atau editor zine favorit ya?

priskapricilia: nggak donk...Priska mah favolitenya cekalang cuma ama pelempuan...catu pelempuan lebih tepatnya...hi hi hi hi

viciousvagina: ceritain dong tentang perempuan favorit kamu!

priskapricilia: ....itu mah no comment

viciousvagina: ih! kayak artis! selebritis banget! jawabannya gitu! ih!

viciousvagina: suka nonton film apa? buku apa? binatang apa?

priskapricilia: cuka nonton pilm kaltun tlus baca buku bokep....sex...ya Priska cuka banget ama sex!!!

viciousvagina: kalo pornografi? ada bedanya kan antara pornografi sama seks?

priskapricilia: polnoglapi tuh kan seks yg dimediain?? panjangtangannya sex ya polnoglapi itu....!!!

viciousvagina: kamu suka nggambar jorok? gambar kamu di priska ketiga bagus deh!

priskapricilia: cukaaaaaaaaa donk!! emang! gambal Priska emang bagus kok!!

viciousvagina: nggambar itu seni kan

viciousvagina: seni itu...

viciousvagina: isi titik titiknya.

priskapricilia: seni itu adalah catu cala yg dipake cistem saat ini untuk nunjukin value/nilai-nilai teltinggi...which is a fuckin crap, dali dulu udah ada aktivitas-aktivitas altelnatif celain ceni...telmacuk ngegambal. Ngegambal itu bukan ceni kok...ngegambal itu colat-colet dan cemua olang bica colat-colet

viciousvagina: seperti semua orang bisa bikin zine kan?

viciousvagina: seperti semua orang bisa menjadi orang lain di dalam zine-nya kan?

viciousvagina: seperti semua orang bisa mengkritik orang lain di dalam zinenya kan?

priskapricilia: yap..Priska tuh cebenelnya akumulaci cemua hal yg CEHALUSNYA bica dilakuin cemua olang, bahaca kelennya mah "Threat by example"...Priska tuh statement yg bilang: NIH ADA olang yg bilang apa yg dia mau bilang, ngomong apa yg mau dia omongin, ngelakuin apa yg dia mau lakuin...jadi gua juga BICA DONK!! kayak dia...

viciousvagina: pendapat kamu tentang anonimisitas?

priskapricilia: emmmm....apaan cih anonimitas tuh??? gak ngelti deh peltanyaannya...Priska mana ngelti bahaca cucah2 kayak gitu??

viciousvagina: hihihihihi! caya juga nggak
ngelti!

viciousvagina: hihihihi!

viciousvagina: priska udah baca evasion kan?

viciousvagina: kenapa suka buku itu sih?

priskapricilia: udaaaaahhhhhh donk! Priska cintaaaaaa bgt buku itu...abis buku itu nangkep "Spirit" cih...ada buku yg bagus tp gak punya "spirit" tp ada buku yg acakadul kaya evasion tp dibangun di atas "spirit"...Priska kan hobi banget "nangkep spirit"!! makanya Priska cintaaaaaaaa bgt ama buku itu....

viciousvagina: ceritain dong Spirit itu apa sih? dan kenapa penting banget buat kamu sesuatu ada spiritnya?

priskapricilia: Spirit itu yg bikin Priska kayak cekalang...kayak burning passion, kayak jatuh cinta...pokoknya pool bgt deh, Spirit itu penting buat Priska kalena dia yg ngedrive Priska...Priska jadi punya alacan untuk idup, cemua hal jadi make sense...Spirit Priska tuh cinta Priska.....Priska jatuh cinta ama dia pada pandangan peltama padahal Priska gak pelnah liat dia hi hi hi hi

viciousvagina: keren ya! terus buat kamu penting nggak sih orang menghargai sprit orang lain? kenapa?

priskapricilia: Priska gak peduli ama Spirit olang laen..kan Priska cinta ama spirit Priska....gak penting cih ngehalgain spirit olang apa nggak...yg penting tuh ngehalgain spirit cendili...kalo udah ngehalgain punya cendili PASTI ngehalgain spirit yg lain..iya gak cih???

viciousvagina: nggak, kan nggak semua orang ngerti pentingnya spirit itu tadi! wek! kalo buat orang laen spiritnya dia lebih penting, terus spirit orang laen tai kucing ya udah

viciousvagina: berarti dia ngeliat spirit orang itu nggak ada artinya lah dibandingin spiritnya dia!

viciousvagina: priska punya idola nggak?

priskapricilia: gak ah..gak peduli ama spirit olang lain gak belalti lebih tinggi ato lendah dali spirit Priska...Priska mah emang gak pengen tau aja spirit olang lain..itu mah ulucannya dia ama dilinya cendili...idola Priska tuh Emily the strange!...

viciousvagina: Emily The Strange? siapa tuh?

priskapricilia: temen priska....

viciousvagina: temen ama pacar bedanya apa buat Priska?

priskapricilia: ehhhmmm...pacal Priska ya temen Priska tlus temen Priska kadang jg emen Priska....gak jelas tuh....everything mix up crazily ....Priska juga bingung nih

viciousvagina: priska suka binatang kan? suka tanaman juga?

priskapricilia: yapppp....Priska love animals and plants...meski Priska juga makan binatang dan tumbuhan..it's kind of Love hate relaionship with them

viciousvagina: wah! menarik! kenapa begitu bentuknya?

priskapricilia: abis kalo gak priska bunuh dan makan meleka Priska gak bica hidup donk hi hi hi kadang idup tuh halus tega tau!!

viciousvagina: harus jahat ya maksudnya?

priskapricilia: iya donk!!!...kalo diculuh milih evil side ato angel side..gak mikil dua kali Priska mah ikut yg evil side

viciousvagina: kenapa?

priskapricilia: setan kan KELEEENNNN!!..he he he he.... jadi anak baek2 mah udah gak jaman

viciousvagina: iya ya

viciousvagina: tahun ini kayaknya lebih keren jadi jahat dan egois! setuju!

priskapricilia: hi hi hi hi Taun ini priska juga mati nih...

viciousvagina: waaah! acara pemakamannya kayak apa?

priskapricilia: biaca ajalah..gak ada apa2...priska kan cuma anak biaca..with or without me the world go on as usual...mati mah mati aja gak pake makam2-an..buang aja ke laut he he he he

viciousvagina: laut mana?

priskapricilia: Laut banda boleh, laut jawa boleh, laut merah APALAGI...boleh banget!!!

viciousvagina: waaah! kalo kamu dimakamin di laut merah keren tuh!

priskapricilia: nggak ah biaca aja...kamu kok aneh cih.....emang kamu mau ngebiayain? kamu kaya ya???

viciousvagina: kaya cinta

viciousvagina: mau cinta apa mobil priska?

priskapricilia: mau Sno-white!! hi hi hi hi....

viciousvagina: boleh!

viciousvagina: boleh malu!

viciousvagina: berani malu nggak Priska?

viciousvagina: berani tolol nggak Priska?

viciousvagina: berani buat BERANI nggak Priska?

priskapricilia: kadang BELANI kadang nggak..telgantung maunya apa...belani tuh yg gimana cih???...BELANI itu juga adalah tentang BELANI ngakuin kalo nggak BELANI.....dan Priska kadang ENGGAK BELANI...so fuckin what??...like it or not that's what i am

viciousvagina: oh, kamu penakut ya...gitu aja susah banget ngomongnya:)

viciousvagina: suka sama Lewis Carrol ya?

viciousvagina: suka olahraga nggak?

priskapricilia: cukaaaaaaa banget....cuka lewis caroll cinta mati ama dia.....olahlaga Priska ya sex....cuka banget kalo ama yang itu mah

viciousvagina: hebat dong!

viciousvagina: udah sering menang kejuaraaan dong!

viciousvagina: udah banyak dapet piala?

priskapricilia: Priska mah gak peduli ama "achievement"...Priska cuma cuka olahlaganya doank!!!

viciousvagina: sholat yuk Priska!

priskapricilia: gih....Priska dicini aja deh

viciousvagina: daaag!





















Seksploitasi,pilihan atau kutukan?
Kalau ada seorang perempuan ditanya apakah dia mau dieksploitasi untuk tampil menjadi seorang bintang iklan, masak iya dia nggak mau? Taruhan, sebagian besar perempuan pasti mau banget jadi bintang iklan! Tapi sekarang kalau pertanyaannya: mau nggak jadi bintang iklan yang mesti tampil dalam pakaian ketat atau mesti menunjukkan betapa indah payudara, paha atau kulit mereka? Nanti dulu! Jawabannya bisa iya, bisa tidak. Karena apakah ini berarti perempuan tadi dieksploitasi? Belum tentu juga, kan pilihannya ada pada perempuan itu sendiri. Kalau dia bilang iya, berarti dia memang mau mengeksploitasi tubuhnya karena dia mendapatkan imbalan dari sana, misalnya. Kalau dia bilang tidak, itu juga haknya dia. That’s merely her choices. Period.

Oke, sekarang kita melihat peran perempuan dalam iklan yang memang membutuhkan keindahan fisik mereka tadi. Jangan lupa kalau pada kenyataannya ada banyak pilihan peran perempuan di dalam iklan, selain hanya menjual keindahan fisik mereka,iya kan? Tapi khusus untuk peran peran yang mengharuskan mereka untuk menonjolkan keindahan tubuhnya, biasanya produknya juga bukan cuma untuk lelaki tapi juga perempuan. Lho! Kok bisa?

Ya, sekarang kalau kita mau jualan produk pelangsing tubuh buat perempuan, pernah nggak kita lihat iklan yang menggunakan perempuan bertubuh besar dan berpembawaan maskulin misalnya. Nggak pernah kan? Karena mereka mesti menampilkan perempuan-perempuan yang istilahnya bertubuh ideal tadi sebagai hasil akhir dari penggunaan produk tersebut. Lalu sekarang, salahnya siapa? Perempuan yang menjadi model iklan tersebut atau perempuan perempuan yang terobsesi memiliki tubuh seperti itu? Menurut saya sih, nggak ada yang salah! Mereka semua hanya menjadi dirinya sendiri! Tapi keinginan, kebutuhan akan produk tersebut serta perempuan perempuan yang menjadi sasaran iklan tadi memang memang DIBENTUK oleh masyarakat dan lingkungan kita sendiri yang mengagung-agungkan perempuan dengan bentuk tubuh seperti itu. Mengerti kan maksudku?

Nah, kalau untuk produk buat lelaki gimana? Kenapa perempuan yang dipilih juga biasanya yang istilahnya nggak ada matinya dalam arti fisik? Karena kalau kita mau menjual ‘kecantikan dalam’ atau inner beauty di dalam sebuah iklan, itu susahnya minta ampun! Ya iyalah, sekarang gimana caranya kita menggambarkan seorang perempuan yang berani, kreatif, sensitif, jujur dan keibuan misalnya. Kita sendiri semua tahu untuk mengetahui karakter dan sifat perempuan butuh waktu dan proses! Iya kan, Cinta? Sedangkan, untuk menilai seorang perempuan bertubuh sempurna menurut standar lelaki? Gampang! Pandangi saja dia selama lima menit. Cara berjalan, berbicara, melipat kaki…selesai.Perempuan ini amat sangat menarik fisiknya! Dalam kurung: seksi abis pol.

Makanya, untung juga sih iklan televisi di sini durasinya paling lama 30 detik, coba kalo bisa sejam! Gila! Udah kayak kita bisa nonton sebuah film pendek yang pada akhirnya cuman mau bikin kita beli dan beli terus kali! Plus kepercayaan kita akan figur figur buatan televisi dan iklan iklan untuk mendefinisikan siapa yang keren, jelek, seksi, gagah, pintar, funky dan lain sebagainya itu pasti jadi makin aneh aneh dan nggak masuk akal deh! Hihihihi!

Namun peran perempuan dengan keindahan fisik mereka memang sangat kuat pengaruhnya di masyarakat kita selain terhadap kaum lelaki itu sendiri. Hingga jangan takjub kalau kamu mungkin bahkan pernah melihat iklan sebuah produk yang sama sekali sebenarnya mungkin nggak ada hubungannya sama perempuan apalagi perempuan bertubuh indah luar biasa, namun keberadaan mereka terasa sekali kalau dipaksa dimasukkan disana. Bahkan mungkin malahan jadi merusak iklan itu sendiri!

Habisnya gimana? Menurut hasil riset pemasaran yang umumnya dibuat oleh badan-badan riset maupun oleh produsen-produsen besar itu, pembeli mereka memang paling tertarik dengan visual bergambar perempuan perempuan seperti itu, Cinta! Dibandingkan sama menggunakan humor atau gambar indah seperti alam, anak anak maupun binatang sekalipun, perempuan bertubuh indah tampaknya memang masih menempati posisi teratas untuk gambar yang paling menarik untuk ditampilkan di iklan. Ini berlaku untuk produk massal ya yang berarti memang untuk masyarakat umum, tidak hanya mereka yang istilahnya katanya memiliki tingkat pendidikan tinggi maupun tinggal di kota serta mempunyai gaya hidup modern saja.

Produsen-produsen tadi kan juga tidak bodoh untuk mau mengeluarkan banyak uang untuk membuat iklan yang tidak menarik pembeli apalagi sasaran pembelinya itu tadi. Iya kan? Money talking, Baby! Lebih baik mereka menggunakan uang mereka untuk sesuatu yang sudah pasti menguntungkan daripada memilih menggunakan sebuah gambar yang masih belum tentu menarik pembeli mereka atau tidak. Iya kan? Makanya jadi produsen dong sekali sekali, jangan jadi konsumen melulu!Heheheh!

Jadi, kembali ke topik kita tadi tentang seksploitasi..ternyata memang tidak sesederhana tentang menjadikan perempuan sebagai obyek karena kelebihan fisik mereka,Cinta! Ada banyak hal yang menjadikan hal ini terjadi karena semuanya memang berhubungan dalam iklan, pemasaran dan komunikasi. Nggak bisa hanya dengan menghancurkan billboard, atau merusak spanduk saja misalnya karena seksploitasi perempuan di iklan ternyata melibatkan banyak pihak untuk mau merubah itu! Kalau cuman salah satunya aja yang nggak mungkin jalan! Karena iklan adalah ilmu komunikasi menjual barang, ini berarti kita bicara bahasa yang dimengerti semua orang di bidang pemasaran kan?

Mau bikin sebuah cara berkomunikasi atau bahasa berbeda di dalam iklan selain paha mulus dan dada montok? Jangan beli produk yang menggunakan iklan dengan figur perempuan seperti itu kalau jelas jelas kamu tidak butuh produknya! Kedua, jangan Lagipula kamu kan tahu definisi perempuan seksi dan cantik bukanlah yang mereka buat, tapi definisi kamu sendiri untuk diri kamu. Bener, nggak?

Jangan senyum senyum aja dong! Jawab! Hahahaha!

V(antiani@yahoo.com)

This page is powered by Blogger. Isn't yours?