Friday, July 02, 2004

Merebut Ruang Representasi yang Terkomodifikasi

Pameran foto yang sedang Anda saksikan ini barangkali akan membuat Anda meragukan tempat di mana Anda berada. Bahkan, jika Anda gay atau lesbian sekalipun, saya berani bertaruh, sebagian dari Anda akan terbelalak lebar, berdecak-decak, tak percaya. Anda tak percaya ada fotografer yang menyatakan identitas seksualnya melalui karya-karya yang dipamerkan di bawah tajuk “pameran foto gay/lesbian”. Anda tak percaya dengan mata Anda sendiri yang menatap manusia dan benda-benda dalam foto-foto yang dipamerkan itu. Anda sendiri, jika gay/lesbian, mungkin datang ke pameran ini diam-diam, sembunyi-sembunyi, ibaratnya, “daun-daun kering di sepanjang trotoar pun jangan sampai tahu.” Terserah, atur sajalah. Tapi, tentu saja, Anda harus tetap percaya bahwa kaki Anda masih berpijak di bumi bernama Indonesia. Dan, seandainya Anda jadi saya, setelah atau di tengah Anda menyaksikan foto-foto di pameran ini, Anda akan mulai berpikir tentang sebuah, katakanlah, Indonesia Baru.

Seandainya Anda jadi saya, Anda akan membayangkan bahwa bersama-sama dengan Dian Sastro, pemilihan presidan langsung, Inul, UU Hak Cipta dan mungkin Nurcholish Madjid, homoseksualitas –yang menjadi tema pameran foto ini- telah menjadi ikon, apa yang tadi sudah disebut, Indonesia Baru. Berlebihan? Ya sudah. Tapi, setidaknya, kali ini tanpa harus menjadi saya, dari pameran ini Anda bisa membaca, bahwa ada yang telah berubah, mungkin untuk selamanya…

Saya kira belum pernah wacana homoseksual mendapat representasi yang begitu besar di media massa di Indonesia seperti terjadi dalam beberapa tahun belakangan ini. Tentu saja, tidak semua representasi itu merupakan perkembangan yang positif dan menggembirakan. Ada saja yang masih berputar-putar pada stereotip dan klise tertentu yang tak beranjak dari rumus komodifikasi media: homoseks itu “gaya hidup aneh”, sensasional, dan dengan demikian punya daya jual sebagai dagangan berita. Lihat saja, acara-acara laporan khusus dan talkshow televisi saat ini. Namanya bisa “Fenomena”, “Kupas Tuntas”, “Peristiwa”, atau bisa juga “Angin Malam”, “Miss Bantal”, “Kelambu”. Tapi, semuanya sama, menjadikan tema-tema homoseksual sebagai primadona, dalam berbagai variasi kemasannya. Dan, semuanya tak lebih hanya dagangan tontonan industri kapitalisme televisi yang licik. Tidak lebih, dan bahkan ujung-ujungnya hanya memicu kontroversi di tengah masyarakat. Lebih-lebih, jika “politik representasi” media tersebut tidak dibarengi dengan pemahaman yang proporsional dari para tenaga kreatif di belakangnya atas homoseksualitas.

Sebuah tabloid remaja yang baru terbit sebanyak 16 kali, dalam sebuah artikelnya menulis begini: …gay sekarang emang lagi marak. Udah go public malah. Gaya hidup impor yang aneh yang semula dianut oleh sekelompok laki-laki yang punya kelainan jiwa itu udah merebak bareng dengan arus modernisasi global. Duh, sedihnya, remaja di negeri ini mendapat bacaan dari tabloid yang dikelola oleh orang-orang yang otaknya masih tertinggal berpuluh tahun yang lalu.

Dalam konteks kekacauan epsitemologi semacam itulah, saya kira, letak arti paling penting, baik secara simbolik maupun konkret, dari pameran foto “Roman Homo(gen)” ini. Dengan kekuasaannya sendiri, karena memang mereprentasikan padangan dari kalangan homoseksual sendiri, foto-foto dalam pameran ini hadir untuk merebut ruang representasi bagi dirinya yang telah terkomodifikasi oleh otak kapitalistik industri media massa. Saya kira ini setara dengan sebuah kudeta, di mana foto-foto hasil karya 3 fotografer gay dan 3 fotografer lesbian ini –amatir atau profesional, pemula atau veteran, whatever-lah- menyimpan kekuatan perlawanan yang subversif. Terutama, tentu saja, perlawanan atas seksualitas yang dikodratkan, dibakukan, dilembagakan dan dikutubkan dalam biner yang dialamiahkan, dimapankan dan diresmkikan –bahkan oleh negara.

Sampai di sini, karena tulisan ini merupakan pengantar untuk sebuah pameran foto yang belum pernah digelar sebelumnya di negeri ini, saya kira saya harus mulai masuk ke wacana queer art, atau lebih konkretnya seni dan homoseksualitas. Ini bukan tema yang sederhana, lebih-lebih kalau harus ditarik ke dalam konteks Indonesia. Ini satu pokok bahasan yang berbahaya. Sensitif. Subversif. Tabu. Di negeri yang malas belajar ini, yang tak pernah benar-benar membuka diri dan selalu fobia dengan hal-hal baru yang sebenarnya tak benar-benar baru, yang tak henti-henti membanggakan diri sebagai penjunjung tinggi budaya Timur sejati, serta merasa lebih baik, lebih beradab dibandingkan dengan negara manapun di kolong langit, terutama mereka yang disebut Barat, apapun bisa menjadi kontroversi. Kondisi seperti itu membuat banyak hal “baru” tidak berkembang, termasuk salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah queer art.

Tanpa harus melakukan riset sampai suntuk, saya kira bohong belaka jika di Indonesia ini tidak ada pelukis, pematung, fotografer dan sastrawan gay atau lesbian. Tapi, hingga saat ini, tak pernah ada seniman yang maju ke depan dengan membusungkan dadanya sebagai seorang seniman gay/lesbian, dan mengibarkan karya-karya yang mewartakan aspirasi homoseksualitas. Aduh, belum apa-apa bisa mati berdiri dikecam sana-sini, sedangkan perempuan desa menyanyi dangdut dengan goyang bokong saja langsung dituduh merusak moral masyarakat. Hidup di negeri yang moralnya gampang rusak memang repot. Jadi, di mana kita mau menempatkan pameran foto yang tengah Anda saksikan ini, di tengah peta seni Indonesia yang tak -atau pakai saja kata 'belum', untuk sedikit menghibur diri- mengenal queer art?

Dalam hal ini, khasanah sastra kita selangkah lebih maju. Dalam 10 tahun terakhir, kita punya cukup banyak referensi karya yang mengolah wacana homoseksualitas, kendati sebagian baru menyentuh permukaannya saja. Yeah, tetap masih jauh panggang dari api untuk mengatakan bahwa gay literature mulai lahir di Indonesia. Tapi, setidaknya, ketika orang hendak bicara tentang sastra dan homosekualitas, ada satu-dua karya yang bisa disebut. Dari khasanah senirupa, saya belum pernah mendengar. Tapi, dari fotografi, salah satu fotografer yang tampil di pameran ini, John Badalu, pernah mengelar pameran foto bertajuk “Menscape” yang boleh jadi merupakan pameran foto pertama dari seorang fotografer yang terang-terangan mengaku gay dan tentu saja mengusung tema foto seputar homoseksualitas pula. Maka, tanpa ragu sedikit pun, saya berani menempatkan “Roman Homo)gen” sebagai pembuka jalan bagi lahirnya sebuah generasi baru fotografer Indonesia, yakni fotografer gay/lesbian. Kelak, para new generation photographer ini akan menggerakkan sebuah perkembangan baru pula dalam dunia fotografi di Tanah Air, yakni fotografi yang mengangkat tema-tema dari pengalaman kehidupan kaum homoseksual.

Jadi, kalau memang pameran foto ini harus menyampaikan pesan tertentu, maka saya kira yang terpenting bunyinya begini: Kami sudah memulai, kalian tunggu apa lagi?

(muji@staff.detik.com)

DIY bukan UG, dan UG bukan DIY

Kenapa judulnya mesti begitu, karena gue ngerasa orang masih sering rancu sama dua hal itu! Padahal sesuatu yang ada di Dunia Bawah Tanah atau Underground kenyataannya nggak selalu dilakukan dengan etos Do It Yourself, sama aja kayak segala sesuatu yang kita lakukan bisa aja tetap Do It Yourself tanpa mesti ada di dalam sebuah komunitas atau lingkungan apapun, termasuk komunitas HC/Punk itu sendiri.

Gue sendiri nggak pernah merasa segala sesuatu yang gue lakukan kalopun itu pake etos DIY misalnya,memang bukan karena banyak banget temen gue atau lingkungan gue (salah satu yang paling dekat) adalah komunitas Bawah Tanah atau HC/Punk itu tadi. Gue melakukan itu dengan cara Do It Yourself karena cara itulah yang paling masuk akal buat gue. Sekarang misalnya ya, kenapa gue mesti nunggu sampai gue bisa komputer grafis kalo gue mau bikin zine cetak? Gue bikin aja pake tangan lay outnya dan penggunaan komputer hanya sebatas yang gue bisa…dan Boom! Jadilah sebuah zine. Itu satu contoh. Contoh lainnya misalnya juga saat gue mesti mendistribusikan zine gue plus zine temen temen gue…ya gue melakukan dengan cara yang gue bisa dan mampu aja, sambil belajar juga sama yang udah duluan melakukannya. Gue tau gue bisa minta tolong temen-temen gue atau distro, tapi kenapa juga harus menunggu mereka kalau gue bisa melakukannya sendiri kalo gue mau? Dan jadilah gue melapak di konser-konser, distribusi langsung pas nongkrong maupun juga lewat kontak temen-temen gue sendiri di mana mana. Kenapa gue mesti melakukannya sendiri? Karena gue lebih percaya proses daripada hasil, karena gue percaya proses orang beda beda walaupun hasilnya bisa jadi sama. Karena juga gue memang pengen punya pengalaman gue sendiri saat melakukan itu semua yang bukan cuman hasil cerita orang lain doang. Begichu,cayang;)

Bukan, gue bukan bilang ini cara terbaik atau paling DIY, cuman gue pengen kasi tau kalo bentuk-bentuk DIY itu adalah yang seperti itu buat gue. Saat gue nggak perlu dan nggak mau menunggu untuk hal hal yang gue percaya bisa gue lakukan sendiri, maka gue akan menggunakan apapun yang gue miliki untuk bisa melakukan hal itu. Bukannya individualis juga, tapi gue lebih sering merasa apa yang gue inginkan dan caranya adalah sepenuhnya mestinya ada di tangan gue sendiri, bukan orang lain. Karena dengan begitu maka gue sendiri yang bisa bertanggung jawab, serta menikmati hasil serta kegagalannya. Terlalu idealis ya? Masak sih, bukannya memang cuma diri kita sendiri yang bisa tau persis apa yang kita mau? Bantuan dan dukungan sih boleh boleh aja, tapi selama itu tidak menganggu maksud dan tujuan gue sendiri…kenapa nggak? Toh hidup nggak sendirian:)

Tapi sekarang balik lagi ke etos DIY itu sendiri ya! Setiap orang pasti sering secara sadar maupun nggak sadar melakukannya, tapi kalo sekarang kita bicara hanya yang ada di komunitas HC/Punk atau Dunia Bawah Tanah disini aja kayaknya ini perlu dikembalikan dulu juga ke individunya deh! Sekarang misalnya mereka mau bikin konser yang isinya band-band temennya sendiri, dengan alat dan tempat yang juga dicari sendiri….bukankah berarti mereka semua MESTINYA punya etos DIY yang sama kuatnya? Karena ini juga tentang individu kan? Kalo individunya cukup keras kepala dan keras hati untuk melakukan semuanya SENDIRI, ya tentu saja etos DIY akan terasa banget juga di acara ini. Kalau nggak ya mereka akan mulai berkompromi dengan membiarkan pihak-pihak diluar mereka sendiri untuk ikut campur dan selain mendukung ternyata juga bisa menunggangi;) acara mereka ini tadi. Iya kan? Heheheeh!

Makanya itu juga selama individu-individunya sendiri bukan penganut etos DIY yang kadarnya kurang lebih sama, ya pastinya juga susah buat melakukan sesuatu dengan etos tersebut. Dan jujur saja, buat gue sendiri di Indonesia ini dari kecil kita nggak pernah dibentuk untuk jadi individu individu yang keras kepala dan keras hati dengan cara yang baik dan fair untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Kita lebih sering dibentuk sebagai pengikut ataupun sekedar anggota yang lebih suka menutup mulutnya kalau ada apa apa dalam komunitasnya sehingga susah buat jadi seorang penganut etos DIY ini tadi (apalagi jadi seorang DIY yang militan misalnya!) Hahahaha!

Jadi, kalo gue boleh meredefinisi ulang konsep atau etos DIY itu sendiri, gue akan bilang: Do It Yourself adalah saat kita nggak mau menunggu hanya untuk melakukan sesuatu. Titik. Kita nggak perlu menunggu bantuan, dukungan, ketrampilan, uang, bahkan waktu sekalipun kalau mau melakukan sesuatu yang kita ingin lakukan. Kalau loe maunya sekarang ya sekarang, kalau loe maunya nanti ya nanti. Semuanya ditangan loe sendiri. Wah, kok kayak slogannya Nike yang terkenal itu ya? Just Do It! Hehehe!Wudyathink, guys?

Oh tapi ada satu hal lagi yang gue selalu ngerasa bisa jadi menghancurkan semua usaha DIY yang kita lakukan, yaitu UANG. Iya, tuhan yang satu itu memang hebat. Dia bisa menghancurkan serta membangun plus mengaburkan apapun yang dilakukan manusia atas dasar apapun! Heheheh! Maksud gue gini, saat kita melakukan sesuatu dengan menggunakan niatan dan tenaga kita aja, tapi kita juga punya uang…maka uang adalah yang lebih sering jadi penentu hasil kerja kita di mata orang lain. Atau kebalikannya adalah, saat kita punya uang, kita juga bisa merasa yakin apapun yang kita ingin buat pasti tercapai. Lihat kan dua kekuatan uang yang berbeda disini?

Padahal buat gue sendiri, ada uang nggak ada uang selama kitanya sendiri yakin kita mesti berjalan dan melakukan sesuatu…mestinya kita akan tetap berjalan dan mencoba untuk melakukannnya (walaupun gagal sekalipun karena uang misalnya!). kenapa? Karena Do It Yourself bukan tentang nggak punya uang atau nggak pakai uang, tapi bagaimana kita tidak meletakkan uang (seperti faktor lainnya) jadi penentu langkah kita saat mau melakukan sesuatu itu tadi, Sayang! Jelas nggak maksud gue?

Eits, gue bukan mau bikin DIY yang baik dan benar disini ya! Gue cuman mau mbagi etos DIY ala gue doang, karena kalo ditanya DIY yang ideal itu seperti apa…mestinya balik ke individunya sendiri selain mestinya juga bisa memberi hasil yang baik buat lingkungan sekitarnya. Misalnya kalau kita bisa membuat sebuah proyek rilisan kompilasi yang betul-betul DIY dengan meminimalisasi campur tangan pihak luar termasuk uang, maka orang lain yang melihatnya pasti juga akan terinspirasi kan? Karena keyakinan mereka selama ini yang percaya kalau membuat sebuah rilisan itu butuh banyak uang misalnya, akan berubah saat kita bisa menunjukkan kalau sebenernya rilisan tersebut butuh lebih banyak waktu, tenaga, ketrampilan serta dukungan teman-teman kita sendiri. Uang memang penting, tapi membuat sampul kaset aja nggak mesti bisa komputer grafis dan ke percetakan kan? Bisa difotokopi dan di lay out sendiri, sama halnya seperti mengumpulkan band teman teman sendiri yang tertarik ikutan rilisan ini serta distribusinya juga antar teman-teman kita sendiri dulu sebelum ke lingkungan yang lebih luas lagi. Musiknya juga bukan yang sesuai dengan telinga banyak orang, selama kita yang bikin yakin semua musik bisa ikutan lalu kenapa nggak? Toh rilisan kita sendiri kan? Dan saat kita mendistribusikan rilisan tolong jangan pernah mengatasnamakan DIY juga buat memaksa orang lain atau teman sendiri beli rilisan itu karena itu sama aja dengan menggunakan istilah fuck work tapi kamu sendiri malakin orang! Ngerti dong ah maksudnya! Hihihi!

Makanya menurut gue, mengedukasi orang mengenai DIY perlu banget (nggak cuman di komunitas HC/Punk) supaya orang-orang bisa mulai memikirkan untuk MEMBUAT atau MELAKUKAN SEGALA SESUATUNYA SENDIRI daripada membeli dan membeli terus! Supaya uang nggak selalu jadi tuhan, supaya iklan-iklan jadi nggak mempan, supaya makin banyak pilihan cara dan barang serta kegiatan dari yang sudah ada sekarang serta tentu saja semua orang jadi makin HIDUP karena mereka mesti menciptakan semuanya sendiri dan tak hanya menerima dan menkonsumsi saja seperti hari ini. Wow! What a wonderful wonderful world!

Tapi berhubung gue orangnya nggak sabaran kayak udah gue bilang,makanya gue juga nggak butuh mesin waktu buat menciptakan sebuah komunitas beretos DIY. Gue bisa berusaha sesering mungkin dan berbagi sama orang orang supaya mereka juga bisa melihat kalau segala sesuatunya itu BISA DILAKUKAN SENDIRI. Pertanyaannya sebenarnya bukan BISA ATAU TIDAK, tapi MAU ATAU TIDAK? Karena gue percaya segala sesuatu itu bisa dipelajari selama kitanya sendiri mau belajar, kalau nggak tertarik ya susah untuk memulai karena pasti jadinya ada keterpaksaan. Males banget kan jadinya! So?

Dalam komunitas HC/Punk atau bukan, etos DIY mestinya bisa mulai dibiasakan dilakukan dari diri sendiri….bukan dari mereka, bukan dari dia ataupun orang lain yang kamu anggap hebat banget sekalipun:)

cyanide(@godisdead.com)
Untuk sebuah diskusi Media Indie di Malang bulan September lalu, aku membuat tulisan di bawah ini tentang zine yang kemudian aku kirimkan ke beberapa teman dan ada salah seorang teman yang memberikan opininya tentang tulisan aku itu. Bagus deh!

LEM, GUNTING, KERTAS DAN PINSIL
Cuma itu modal bikin zine setahu saya, dan rasanya nggak butuh lebih dari itu kecuali tambahan sejuta niatan dan sedikit uang untuk fotokopi.

Zine adalah non-komersial, non-profesional, majalah bersirkulasi kecil yang oleh pembuatnya dibuat, dicetak dan didistribusikan sendiri. Dibentuk oleh sejarah panjang media alternatif di Amerika, zine sebagai sebuah bentuk media lahir di tahun 1930-an. Pada waktu itu para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, melalui perkumpulan-perkumpulan yang mereka buat mulai membuat media yang mereka sebut fanzine sebagai cara untuk berbagi cerita-cerita fiksi ilmiah, opini serta berkomunikasi diantara mereka. Empat puluh tahun kemudian di pertengahan tahun 1970-an, pengaruh yang besar pada zine terjadi saat para fans musik punk rock dimana mereka jelas jelas tidak menghiraukan media media musik mainstream dengan mulai membuat zine tentang musik dan kultur mereka tersebut.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Sedangkan menurut saya sendiri, zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media diluar media yang ada selama ini. (Memang pada kenyataannya sekarang ada juga yang dinamakan e-zine atau elektronik zine, namun disini saya mau bicara tentang zine cetak aja ya Sayang ya!)

Tipikal isi zine diawali dengan personal editorial, kemudian artikel-artikel curhatan, kritik, opini, serta ulasan-ulasan mulai dari zine, buku, musik dan lain sebagainya. Diantara halaman-halamannya terdapat puisi, cerpen, potongan-potongan berita dari media massa plus komentar tentang berita tersebut, juga ilustrasi dan komik. Editor merupakan kontributor terbesar dari zinenya, namun dia biasanya juga akan mendapatkannya dari teman atau sesama pembuat zine lainnya. Cara yang lebih umum membuka penawaran untuk berkontribusi di dalam zinenya tadi. Isi juga bisa merupakan bajakan atau ‘pinjaman’ dari zine lainnya atau media mainstream sekalipun, bahkan terkadang diambil begitu saja tanpa ijin penulisnya. Dicetak diatas mesin fotokopi standar, direkatkan ditengah-tengah atau di pinggirnya, jumlah halamannya berkisar antara sepuluh hingga empat puluh halaman. Zine memang terlihat jadi seperti berada diantara surat personal dan majalah. Ada zine yang dicetak dalam jumlah besar seperti Slug & Lettuce, ada juga yang memiliki begitu banyak kontributor dan halaman seperti Maximum Rock’n Roll, namun zine kebanyakan memang dibuat dengan semangat Do It Yourself apapun bentuk dan isinya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Namun saya sendiri selalu menyukai bentuk-bentuk media yang diluar dari bentuk media yang sudah ada, termasuk zine itu sendiri. Semakin berbeda sebuah zine, maka akan semakin menarik buat saya, karena akan terlihat perayaan kebebasan berekspresi dalam zine tadi semakin maksimal tak hanya dalam topik dan disainnya, namun juga bentuk luarnya. Makin banyak juga kejutan dan makin inspiratif jadinya. Sayangnya lagi, disini masih terlalu banyak yang menggunakan ukuran standar A5 sebagai bentuk zinenya, dan masih terlalu sedikit yang mau bereksperimen dengan bentuk-bentuk lainnya. Bikin yang bentuknya misalnya siluet binatang atau logo lucu juga kayaknya ya? Heheeh!

Fanzines adalah kategori tertua dari zine sehingga mungkin saja banyak orang yang menganggap semua zine adalah fanzines. Secara sederhana fanzine adalah publikasi atau media untuk mendiskusikan nuansa berbagai macam kultur dalam sebuah media. Beberapa pengelompokan dalam fanzine ini adalah:

Zine fiksi ilmiah, musik,olahraga, televisi dan film,serta yang lainnya lagi diluar pengelompokan tadi.

Sedangkan zine politis lalu dibagi lagi dengan P besar dan P kecil, dimana di dalamnya terdapat personal zine personal atau perzine, zine scene, zine network, zine kultur horror dan luar angkasa, zine agama dan kepercayaan, zine seks, zine kesehatan, zine perjalanan, zine sastra, zine seni, serta banyak lagi pengelompokan zine yang lainnya.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)


Sementara buat saya sendiri pengkategorian zine seperti itu memang perlu untuk menjelaskan tentang isi sebuah zine, namun sama sekali tak perlu untuk para pembuat zine itu sendiri. Karena pada akhirnya kebebasan yang dirayakan dalam bentuk media seperti ini malah menciptakan sebuah batasan-batasan tak perlu. Sayangnya, disini zine-zine yang saya temui masih terlalu banyak yang berkisar pada tema yang itu itu saja! Musik, punk, politik, scene serta komik, sehingga belum banyak hal yang bisa dikomunikasikan oleh para pembuat, juga untuk para pembaca zine itu sendiri. Kenapa nggak membuat zine tentang mimpi misalnya, atau tentang tato, tentang emblem, tentang anak-anak, tentang tanaman, tentang menjahit, tentang obat, tentang zine itu sendiri mungkin, serta masih ada puluhan topik lainnya yang belum disentuh hingga saat ini. Iya kan?

Orang orang aneh, kutu buku, kuper serta mereka yang dikucilkan oleh lingkungannya adalah karakter orang-orang yang biasanya membuat zine di Amerika. Mereka merayakan kehidupan mereka yang menyedihkan serta membuat segala hal tentang diri mereka yang tak tampak tadi menjadi sebuah wujud yang begitu jelas di depan orang lewat zine-zine mereka. Karenanya zine pertama kali ada diantara para penggemar fiksi-fiksi ilmiah, dimana mereka memiliki kepandaian diatas rata-rata namun kemampuan untuk bersosialisasinya dibawah rata rata. Seperti halnya juga zine Punk yang pertama kali diterbitkan oleh Legs McNeill, yang di dalam zinenya menjelaskan Punk sebagai ‘apa yang sering dikatakan oleh guru-guru kita dari dulu…kalau kita tidak pernah cukup berharga untuk apapun di hidup ini’.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Dan disini walaupun memang awalnya adalah komunitas Dunia Bawah Tanah atau underground yang membuat media ini masuk ke dalam komunitas lainnya, sayangnya karena keterbatasan topik serta distribusi yang belum besar membuat zine seolah menjadi sebuah media eksklusif yang menuntut kualifikasi-kualifikasi tertentu untuk membuatnya. Padahal zine tidak pernah memiliki sebuah cara baku untuk membuatnya, isinya, apalagi pembuatnya. Semua orang bisa membuat zine karena zine adalah tentang semua orang. Punk bukan punk, anak underground atau bukan, anak kecil atau orang tua sekalipun, sendirian maupun beramai-ramai, zine bahkan tidak pernah menuntut pembuatnya untuk menjadi dirinya sendiri! Seseorang bisa saja menjadi seorang anak kecil, seorang perempuan Jepang, seekor anak beruang, bahkan sebuah topi di dalam zinenya tanpa seorangpun berhak menilainya penipu ataupun aneh, karena zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media cetak yang tak berbatas. Betul nggak?

Zine dinilai seharga biaya pos hingga beberapa dollar saja, namun barter atau saling bertukar zine adalah umum dilakukan dan merupakan bagian dari aturan yang sudah diketahui sesama para pembuat zine. Distribusi umumnya dilakukan dari satu orang ke orang lainnya melalui pos, dijual di toko-toko buku dan musik, dibagikan atau barter di konser-konser punk, pertemuan para penggila fiksi fiksi ilmiah dan sejenisnya.Mereka diiklankan melalui mulut-ke-mulut, melalui kolom ulasan zine di dalam zine lainnya, serta zine zine yang membahas mengenai zine itu sendiri seperti Factsheet Five, yang bertujuan memang untuk mengulas serta mempublikasi media media seperti ini.-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

Karenanya saya tidak pernah menyukai peletakkan zine di distro dalam arti dilihat sebagai produk, karena saya percaya zine adalah sesosok manusia dalam sebuah bentuk media cetak yang ingin sekali berkomunikasi dengan sebanyak-banyak orang di luar sana. Di dalam sebuah zine, khususnya zine-zine personal, akan terasa sekali istimewanya komunikasi serta pesan-pesan personal yang ingin disampaikan oleh para pembuatnya walaupun dalam bentuk tulisan saduran sekalipun serta cara mendisain yang mungkin secara umum mirip. Walaupun memang distro bisa jadi salah satu tempat distribusi, namun rasanya sedih juga melihat jajaran zine-zine yang berdebu di dalam sebuah distro seolah melihat seseorang atau sekumpulan orang yang berteriak-teriak ingin mengobrol tapi tak kunjung ada seorangpun yang mau mengajak mereka bicara. Ciee! Emosional banget ya? Hehehe! Tapi coba kita dengar apa kata Mike Gunderloy dari zine Fachsheet Five tentang zine,

Zine dibuat bukan untuk uang, namun untuk Cinta. Cinta untuk berekspresi, cinta untuk berbagi, cinta untuk berkomunikasi. Dan sebagai salah satu bentuk protes terhadap sebuah budaya dan lingkungan yang menawarkan terlalu sedikit penghargaan atas hal-hal tadi, zine juga dibuat dari sebuah…Kemarahan! .-( Notes from the underground-Stephen Duncombe)

So, kapan nih saya bisa liat zine kamu? Barter yuk! (V)


Halo Vi, maaf, setelah agak lama, baru kali ini aku sempat menanggapi materi diskusi yang pernah kamu kirim. Ini pun aku baru bisa nanggapi tulisanmu tentang zine (yang tentang gay mungkin lain waktu kutanggapi).

Ini ada beberapa poin dari tulisanmu yang ingin kutanggapi:

* Zine itu non-profesional --> Kupikir ini nggak benar, Vi. Mungkin yang dimaksud adalah non-pola mainstream. Dalam pemahamanku, profesional berarti mengerjakan sesuatu dengan penuh ketekunan, sehingga makin meningkat kualitasnya kalau dilihat sejak pertama kali dia mengerjakannya,
sampai yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Misalnya, untuk zine, pada edisi pertama zine kita masih ada banyak kesalahan ketik. Kemudian, pada pengerjaan edisi-edisi berikutnya kita memperbaiki kesalahan itu, sehingga makin lama kesalahan ketik makin sedikit, sampai pada edisi ke sekian sudah tidak ada kesalahan ketik sama sekali. Nah, dalam pemahamanku, ini berarti makin lama kita makin profesional dalam mengerjakan zine kita. Kalau pola mainstream (ini tidak sama dengan
profesional) memang tidak perlu kita ikuti. Bahkan, kalau pola mainstream media itu cenderung ingin membakukan/memapankan sesuatu yang menurut
kita buruk, ya salah satu fungsi zine justru adalah mendobraknya.

* Zine dibuat, dicetak & didistribusikan sendiri --> Mungkin ya,
tapi kalau dibuat, dicetak dan didistribusikan (saling-mendistribusikan) dengan cara bekerjasama dengan orang/komunitas lain khan juga nggak apa-apa, bahkan mungkin lebih baik. Kupikir semangat DIY itu penting
agar kita punya mental mandiri, tidak menggantung pada orang lain, tetapi bukan agar kita jadi tertutup (tidak bisa/mau bekerjasama dengan orang lain). Ekspresi personal memang penting, tetapi bekerjasama antar-individu/antar-komunitas juga penting, karena tidak ada seorang manusia pun yang bisa hidup tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya.

* Sedangkan menurut saya sendiri, zine adalah sebuah perayaan kebebasan berekspresi dalam sebuah media diluar media yang ada selama ini
--> Kupikir ini definisi yang lumayan bagus, Vi.

Nah, yang ini pendapatku:
Untuk zine individu, kalau muatannya terlalu subyektif/pribadi,
kupikir tidak perlu dibuat untuk dibagikan ke orang-orang lain, tetapi kalau ada yang melakukannya ya nggak apa-apa. Kalau nampaknya subyektif, tapi kenyataannya bisa saling dipertukarkan (share), berarti ini masih punya konteks sesuatu yang menjadi concern bersama (tidak terlalu subyektif).

Setiap orang punya filsafat dan kepentingannya sendiri, termasuk dalam kaitannya dg membuat zine. Juga kupikir ada kebutuhan yang mendasari seseorang/komunitas sampai merasa perlu untuk membuat zine. Kalau bukan kebutuhan, setidaknya keinginan (ini sebetulnya juga bisa disebut kebutuhan--kebutuhan untuk mewujudkan keinginan).

Mengenai sejarah zine yang disebutkan dimulai di Amerika pada era 1930-an dengan ciri-ciri tertentu, kupikir merujuk sejarah seperti itu memang penting, tapi bukan berarti harus terikat pada referensi itu. Mengapa tidak dimasukkan saja ke pengertian Media Alternatif-Independen secara luas (agar dengan demikian bulletin independen, newsletter independen, majalah independen, dll., juga bisa kita sebut zine)?

Oke Vi, ini dulu yang bisa kukomentari dari tulisanmu tentang zine.

Aku senang kalau bisa sering diskusi denganmu.

"A Better 'N More Human World Is Possible" :)

Binar Asa

This page is powered by Blogger. Isn't yours?